Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Bermain Sedikit


__ADS_3

Qania dan Baron ternyata tidak langsung pulang, mereka menunggu hingga Susan keluar dari kantor barulah mereka mengirimkan file yang dimaksud Qania yang tidak lain adalah video kebusukan Susan dan Syeril.


Setelah memastikan emailnya terkirim, Qania dan Baron langsung pergi meninggalkan kantor Setya Wijaya.


Sementara di ruangannya Setya Wijaya mengepalkan kedua tangannya setelah melihat video kiriman Qania.


“Kurang ajar, rupanya ini rencana mereka. Aku harus menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai” geram Setya.


“Terima kasih Qania, kamu memang calon menantuku. Usahamu tidak akan sia-sia” Setya tersenyum manis saat mengingat Qania.


“Halo Faris, batalkan semua meeting yang tersisa hari ini, aku ada urusan” ucap Setya di telepon pada asistennya.


Ia kemudian pergi meninggalkan kantornya dan segera pulang menemui Arkana.


Pemandangan yang sama lagi-lagi Setya dapati saat memasuki kamar anak satu-satunya itu. Kamar yang berserakan foto Qania dimana-mana dengan wajah kusutnya bagai tak terurus. Ia berjalan mendekati Arkana dan membelai rambut putranya yang sedang duduk menatap kosong ke arah jendela di atas sofa tempat terakhir Qania duduk bersamanya.


“Tadi papa ketemu Qania” ucap papanya sambil mendudukkan dirinya di samping Arkana.


Arkana langsung menoleh pada papanya dengan tatapan penuh rasa penasaran.


“Dia mendatangi papa di kantor, bersama temannya kalau tidak salah namanya Baron” lanjut papanya.


Arkana hanya terus menatap isyarat ia masih ingin mendengarkan cerita papanya.


“Dia menawarkan kerja sama dan papa bingung, apakah papa harus menyetujuinya atau tidak” pancing papanya.


“Kenapa papa bingung, bukankah dia gadis yang baik dan cerdas” itulah kata-kata yang akhirnya keluar dari mulut Arkana setelah hampir sebulan tak ingin bicara panjang lebar.


“Tapi nanti kamu harus mendampinginya, bagaimana dengan itu?” tanya papanya berusaha agar Arkana bicara terus.


“Itu akan menyenangkan pa, terima saja kerja samanya” ucap Arkana bersemangat.


“Besok kamu akan melihat kerja sama kami, Qania sudah mengirimkan papa filenya yang merupakan kinerjanya sendiri”..


“Tapi besok itu hari.. Argghhhh” Arkana frustasi saat mengingat hari esok.


“Nanti juga kamu akan lihat” ucap papanya kemudian meninggalkan Arkana.


Saat ini papa Arkana sedang berada di ruang kerjanya di rumah, ia menunggu kedatangan Rizal karena sebelum pulang ia sudah menghubunginya agar datang ke rumahnya.


Tak berselang lama Rizal sudah berada disana dan mereka duduk bersama, kemudian Setya menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan video kiriman Qania.


“Brengsek, jadi ini ulah dua wanita itu” geram Rizal.

__ADS_1


“Kita harus menyusun rencana agar usaha Qania tidak sia-sia” usul Setya.


“Tentu om, nanti Rizal akan atur semuanya.


“Terima kasih nak, jangan sampai rencana ini diketahui oleh siapa pun termasuk Arka


Biarkan ini jadi kejutan untuknya” ucap papa Arkana sambil tersenyum lebar.


“Iya om. Kalau begitu saya pamit dulu. Mau kontrol kafe” pamit Rizal, ia memang ditugas untuk mengurus kafe di dekat taman itu dan ia juga merupakan asisten di kafe itu yang diangkat oleh papa Arkana langsung.


“Baiklah, kamu hati-hati” pesan papa Arkana.


_____


Saat ini di kamarnya, Qania sedang dibujuk oleh Elin agar mau ikut ke acara ulang tahun Fadly yang diadakan di kafe.


“Ayo lah Qan, temani aku. Aku malu nih nggak ada teman kesana. Disana ada banyak teman dan keluarganya, nanti aku sama siapa?” bujuk Elin.


“Nggak bisa Lin, nanti aku ketemu sama Fandy disana. Malas ah” tolak Qania untuk kesekian kalinya.


“Please Qan, aku mohon” pinta Elin dengan memasang wajah imutnya.


“Huhh keras kepala banget sih. Oke oke tunggu disini” ucap Qania kemudian masuk ke kamar mandi dengan membawa pakaiannya untuk ganti baju.


Fandy mendekati Qania yang terlihat begitu menawan dengan balutan dress navy selutut dan rambut diikat dengan menyisakan anak rambutnya sebagian. Qania sudah menduga hal tersebut, ia lansung melancarkan aksinya mumpung Rizal tengah memperhatikannya.


“Kamu datang juga Qania” ucap Fandy, wajahnya begitu bahagia.


“Tentu, di undang masa nggak datang sih” jawab Qania asal.


“Yuk duduk di sana, sekalian pesan makanan dan minuman” ajak Fandy sambil menunjuk meja kosong.


“Boleh deh” turut Qania, sebenarnya ia malas, namun karena Rizal terus memperhatikannya maka ia menurut saja.


“Biar dia laporin tuh ke Arkana yang besok bakalan nikah. Aku tahu mungkin pernikahan itu akan gagal, dan Arkana pasti akan lepas dari frustasinya dan mencariku. Tapi bermain-main sedikit dengan Fandy nggak ada salahnya kan. Nanti bilang saja kalau aku lagi galau berat sehingga mencari pelampiasan, hehehe” Qania menyusun rencananya sambil mencuri pandang pada Rizal yang sibuk memperhatikan gerak-geriknya.


Fandy yang merasa memiliki kesempatan untuk mendekati Qania tidak menyia-nyiakan hal tersebut, ia terus bersikap manis dan memuji Qania. Qania meladeni seakan termakan oleh rayuan Fandy padahal di otaknya penuh dengan rencana pembalasan pada Arkana.


“Sial, bukankah laki-laki itu mantan Qania. Gue harus laporan nih sama Arkana. Tapi gimana ya, Arka pasti lagi uring-uringan nih. Jangan sampai dia membuat kekacauan. Lagian apa sih maksud Qania meladeni pria itu, bukannya dia sendiri yang tahu kebenaran tentang kasus Arkana” umpat Rizal, ia merutuki dirinya sendiri dan juga memaki Qania dalam hati.


Qania yang melihat ekspresi Rizal yang tengah kesal, tersenyum puas. Dalam hati ia begitu merasa senang telah membuat kesal sahabat Arkana sekaligus temannya itu.


“Qania, kamu dengerin aku dari tadi nggak sih?” tanya Fandy yang merasa Qania tengah bersamanya namun pikirannya di tempat lain.

__ADS_1


“Iya dengar” jawab Qania singkat, kemudian tersenyum semanis mungkin pada Fandy.


“Boleh minta nomor hp kamu nggak Qan?” tanya Fandy.


“Tentu” ucap Qania kemudian menyebutkan nomor ponselnya sementara Fandy mencatat di ponselnya.


“Thanks Qan” ucap Fandy tersenyum senang.


Qania hanya menjawab dengan senyumannya, lagi-lagi ia melirik Rizal yang masih memperhatikannya.


“Aku mau pulang nih, udah hampir jam sepuluh. Elin dimana sih” ucap Qania sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Elin.


“Biar aku yang antar” tawar Fandy sambil meraih tangan Qania yang berada di atas meja.


Sontak hal tersebut membuat Qania kaget begitu pun dengan Rizal. Ia sudah tidak bisa membiarkan Qania bersama Fandy sehingga ia memutuskan untuk menemui Qania.


“Qania” Sapa Rizal.


“Eh Rizal, apa kabar?” tanya Qania basa-basi. “Pasti nih anak udah kesal, hehe” Qania tertawa dalam hati.


“Baik, kamu ngapain di sini?” tanya Rizal basa-basi.


“Oh teman aku lagi ngerayain ulang tahunnya” jawab Qania masih memasang senyumnya.


“Kemari sama siapa?” selidik Rizal.


“Sama teman, tapi udah mau pulang juga nih. Tapi teman aku entah dimana” ucap Qania kembali mengedarkan pandangannya.


“Biar gue antar” ajak Rizal.


“Eh nggak bisa gitu dong, dia sama gue dari tadi” sela Fandy.


“Gue yang antar Qania” tegas Rizal.


“Aku pulang sama Elin saja” tolak Qania.


Tak lama Elin datang mendekati Qania, ia heran melihat ada dua pria yang seolah sedang bersitegang di antara Qania.


“Pulang yuk Qan, udah jam segini” ajak Elin, ia ingin bertanya namun ia urungkan karena ia sudah merasa mengantuk.


“Aku pulang sama Elin, lain kali aja ya. Daa” ucap Qania kemudian menggandeng tangan Elin.


Qania dan Elin segera meninggalkan tempat itu menaiki mobil papa Qania yang tadi mengantar mereka bersama supir Qania.

__ADS_1


__ADS_2