Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Surat Dari Marsya


__ADS_3

Qania memasang wajah cemberut setelah kembali ke kamar rawat Arkana. Arkana yang melihatnya mengangkat sebelah alisnya.


“Dasar kamu ya nyebelin banget. Aku tuh malu tahu sama Bu dokter. Mana ada pasien dengan luka cukup parah langsung minta keluar malam ini juga. Aku dapat teguran banyak tahu nggak dan itu semua karena ide gila kamu yang ingin cepat-cepat pulang!” ucap Qania kemudian ia melipat kedua tangannya di atas dada dengan wajah begitu jutek.


Wajah Arkana memerah menahan tawa. Qania yang menyadarinya langsung memicingkan matanya.


“Kamu ngetawain aku?!”


Arkana hanya menggeleng pelan.


“Kelihatan banget dari muka kamu. Malas ih kalau udah kayak gini. Mending aku nginap di hotel aja. Kamu tuh ya, emang suka banget bikin aku kesal!”


“Ya maaf,” ucap polos Arkana yang mana membuat Qania memelototkan matanya.


Sabar-sabar, harusnya aku bersyukur dia udah kembali. Ya, meskipun manisan sikapnya waktu jadi Tristan, nggak nyebelin kayak gini.


“Emang dokter bilang apa?” tanya Arkana melembutkan bicaranya.


Qania menarik napas kemudian menghembuskannya perlahan. “Katanya kamu masih harus dikontrol keadaannya karena tadi sempat kritis dan benturan di kepalamu itu cukup keras. Kalau mau pulang, lihat hasil pemeriksaan besok pagi. Kalau emang nggak mampu bayar kenapa memilih ruang rawat inap VVIP? Dan masih banyak lagi ocehannya. Aku tuh kesal kalau pembicaraannya udah menyangkut keuangan. Aku nggak suka pamer tapi ngeselin juga. Dia nggak tahu aja uangku itu banyak. Mertuaku saja sanggup kalau hanya untuk beli rumah sakit ini.”


“Kamu kan menantu Sultan,” ledek Arkana.


“Tahu aja kamu mertuaku sultan,” ucap Qania masih tak melihat tatapan jahil Arkana karena kadang ia masih merasa sedang bersama Tristan.


“Ya kan mertuamu itu Papaku,” ucap Arkana.


“Oh iya. Eh ....”


Arkana buru-buru menarik tangan Qania hingga Qania terduduk di ranjangnya. Arkana memeluknya dari belakang, meskipun masih kesal tapi hati Qania berasa bahagia. Ia sudah bisa bebas menyentuh pria ini sesuka hatinya sebab mereka terikat hubungan yang sah baik secara hukum maupun agama.


“Sayang, tidur bersamaku disini. Besok pagi kita akan keluar dari rumah sakit. Aku ingin membereskan semua urusan disini sebelum kita pulang ke rumah kita yang sebenarnya,” ucap Arkana masih memeluk Qania.


Qania menurut saja, kemudian ia berbalik dan saling berhadapan dengan Arkana.


“Ceritakan padaku kenapa bisa Arjuna yang ada di makam itu? Apa yang terjadi malam itu? Dan bagaimana kau bisa berada di kota ini?” cecar Qania.


Arkana sejenak diam, kemudian ia mulai menceritakan kejadiannya.


Malam itu, lima tahun yang lalu ....


Arkana pulang dari kafe dan langsung menuju ke rumahnya. Namun sepanjang jalan perasaannya menjadi tidak tenang karena ia merasa ada yang sedang mengawasinya.


Ia pun mencoba untuk mengambil jalan berbeda dari rumahnya, ia begitu penasaran dan pikirannya hanya tertuju pada satu orang. Benar saja, begitu ia mengambil jalan yang bukan arah ke rumahnya ia bisa melihat ada dua motor di belakangnya. Ia membawa mobilnya ke sembarang arah namun justru motor itu terus mengikutinya.


Awalnya Arkana pikir hanya kebetulan namun sudah sejauh ini justru mereka tetap berada di belakangnya. Arkana pun memutuskan untuk menghentikan mobilnya di jembatan dan yang membuatnya terkejut justru kedua motor itu berhenti namun di depan mobilnya seolah memblokir jalannya.


Karena perasaannya semakin tidak enak, ia memutuskan untuk menelepon Rizal. Belum juga teleponnya di jawab, pintu mobilnya diketuk dengan kuat hingga mau tidak mau Arkana membuka pintu sebelahnya.


“Lo harus mati Arkana Wijaya!”


“Oh jadi ini kerjaan elo. Banci ya Lo! Beraninya main keroyokan,” ejek Arkana.


Arjuna semakin geram, ia tidak suka Arkana meledeknya.


“Malam ini juga gue pastiin elo bakalan berhadapan dengan malaikat maut. Besok Lo nggak perlu nikah sama Qania karena gue yang bakalan gantiin elo, hahahaha.”


“Hahaha, jangan mimpi. Asal Lo tahu aja, malam itu waktu Lo naruh obat perangsang di minuman Qania, malam itu juga kami menikah dan Lo tahu, tentu aja gue berterima kasih sama Lo karena berkat Lo, gue dan Qania ngelewatin malam pertama yang sangat panas. Dan satu hal yang Lo mesti tahu, Qania sedang mengandung anak gue. Menikah dengan tidaknya gue dan Qania besok, kita juga udah sah secara hukum dan agama. Jadi Lo jangan suka bermimpi!”


“Kurang ajar! Lo harus mati. Gue nggak rela Qania menjadi istri Lo dan ngandung anak Lo! Kalian semua, bunuh dia!”


Begitu Arjuna memanggil, anak buahnya yang berjumlah tiga orang pun segera datang. Mereka menyeret paksa tubuh Arkana. Ketiga pria itu berbadan kekar hingga sulit bagi Arkana melawan mereka meskipun ia jago dalam berkelahi namun dihadapkan dengan tiga pria itu, ia tak sanggup sendirian.


Wajahnya sudah babak belur, tubuhnya sudah lemas karena beberapa kali memuntahkan darah segar.


“Hahaha, tamat riwayatmu Arkana Wijaya!” Arjuna tertawa kemudian menghampiri Arkana yang sudah terkulai lemah di atas aspal.


“Biar gue yang pakai cincin ini. Ini tuh lebih cocok di jari gue,” ucap Arjuna mengambil cincin tunangan Qania di jari Arkana dan Arkana sama sekali tidak bisa melakukan perlawanan.


“Kalian, buang dia ke sungai!” perintah Arjuna kemudian ia masuk ke dalam mobil Arkana dan duduk di balik kemudi.


Arkana masih belum pingsan hanya saja ia sudah tidak memiliki tenaga. Begitu ia akan di lempar ke sungai, ia mendengar ledakan keras dan satu anak buah Arjuna yang tidak memegangi tubuh Arkana berteriak dan mengatakan Arjuna kecelakaan.


Arkana sempat mengira mereka akan melepasnya namun justru mereka spontan melepasnya dan ia pun kehilangan kesadaran begitu tubuhnya tenggelam di sungai.


 


Saat ini ....


 

__ADS_1


Qania berderai air mata mendengar cerita tersebut, betapa malangnya nasib Arkana malam itu. Ia terus mengusap wajah yang sudah sangat ia rindukan itu. Arkana pun menghapus air mata di pipi Qania.


“Jangan nangis, aku sudah bersamamu dan aku berjanji tidak akan meninggalkanmu kecuali semua takdir Tuhan,” hibur Arkana.


Qania tak menjawab, ia hanya terus memandangi wajah Arkana seakan-akan jika ia berkedip maka Arkana akan menghilang.


Arkana ingin mencairkan suasana dengan membuat Qania kesal namun ia sadar ini bukan waktunya.


“Oh iya sayang, bagaimana bisa kalian mengiara Juna itu adalah aku? Wajah kami saja sangat berbeda,” tanya Arkana.


“Wajahnya rusak sayang. Dan satu-satunya yang kami kenali adalah cincin di jarinya. Rupanya dia mengambilnya darimu,” jawab Qania.


“Pantas saja. Lalu mengapa sampai terpikir untuk memeriksa mayatnya setelah lima tahun berlalu?”


“Ya aku nggak tahu juga. Aku tuh sering mimpi aneh. Setiap kali mimpi ada kamu, ada Juna. Ada juga Tristan Anggara yang asli. Kamu seolah-olah mengatakan bahwa kamu itu nggak meninggal dan dalam mimpiku justru Juna yang selalu datang meminta maaf. Dan yang menyarankan ini pun Dennis, sahabat Juna. Dia merasa aneh karena setelah kejadian itu pun Juna hilang bagai ditelan bumi. Papa dan Papa Setya sudah mencarinya namun tidak menemukan jejak. Akhirnya aku ketemu Dennis secara nggak sengaja dan dia minta aku buat melakukan tes pada mayat yang ada di makam itu,” cerita Qania.


“Memang itu pasti akan membuat Dennis merasa heran. Lalu aku kau tanya, kamu tahu siapa Tristan Anggara?” tanya Arkana penasaran.


“Aku tahu dan sangat tahu siapa dia. Aku yang mengurus kasusnya. Aku dan Papa Setya pun yang memenjarakan pembunuhnya,” jawab Qania.


“Maksudnya?”


“Jadi, Tristan Anggara itu seorang jurnalis. Tunangan Marsya. Saudara dari Pak Erlangga dan Bu Maharani. Aku udah lama dapat misi buat magang di kantor Pak Handoko buat nyelidikin kasus ini. Awalnya aku nggak tahu apa sebenarnya tujuannya. Namun waktu itu Pak Erlangga memanggilku ke ruangannya dan menceritakan tentang adiknya. Aku terenyuh dan yang membuat aku kaget adalah nama adiknya itu adalah Tristan Anggara namun mereka biasa memanggilnya Angga. Ya aku langsung tertarik. Aku mengaitkannya denganmu. Jika aku bisa memecahkan kasus itu maka aku bisa memecahkan pula tentang kamu itu siapa sebenarnya. Namun hasil tes DNA itu justru berbeda dari yang aku harapkan.”


“Kamu tenang aja sayang, hasilnya akurat kok. Aku sudah melihat hasilnya yang asli dan itu 98 persen kecocokannya. Kalau nggak percaya aku bisa buktiin kok kalau aku ini cowok dekil sok steril yang jaketnya minta di cuci sebanyak tujuh kali padahal itu cuma modus biar bisa ketemu lagi sama cewek ketus tapi sangat cantik dan langsung buat aku jatuh cinta pada pandangan pertama,” ucap Arkana yang membuat Qania tertawa.


Arkana pun turut tertawa, kemudian ia memeluk erat Qania. Membiarkan Qania berbaring dengan wajah menempel di dadanya. Ia membelai lembut rambut Qania hingga Qania terlelap dengan sendirinya.


“Qania, aku benar-benar beruntung memilikimu. Aku sebagai lelaki pun sangat bangga padamu. Disaat aku tidak berada bersamamu dan melupakanmu, kamu tetap setia padaku. Kau tetap menjadi anak Papaku dan juga kau tetap melahirkan anakku. Rasanya dikehidupan sebelumnya aku pernah melakukan suatu kebaikan hingga aku dihadiahi wanita sesempurna dirimu. Maafkan aku, setelah ini aku berjanji tidak akan melupakanmu dan meninggalkanmu lagi,” ucap Arkana sambil memandangi wajah Qania yang sedang terlelap.


 


.... . ....


 


“Seharusnya masih harus dirawat satu dua hari. Namun karena pasien memaksa untuk segera pulang, ya sudah kami izinkan asalkan tetap kontrol ke rumah sakit. Ini ada resep obat dan bisa di tebus di apotek rumah sakit, setelah itu baru boleh pulang. Saya permisi dulu, semoga lekas sembuh,” ucap dokter tersebut kemudian ia pergi bersama suster yang bersamanya.


Qania dan Arkana mengucapkan terima kasih kepada dokter tersebut. Karena tadi infus sudah di lepas maka ia bisa bergerak leluasa. Qania memintanya untuk mengganti pakaian sementara ia pergi ke apotek menebus obatnya.


“Oh ya, itu di nakas ada ponsel sama dompet kamu. Kemarin ada polisi yang nganterin ponselnya. Mobilnya juga ada di kantor polisi, katanya bisa di ambil nanti kalau kamu udah sehat,” ucap Qania yang sudah berada di ambang pintu.


“Arkanaaa!!”


“Haha, sarapan pagi sayang. Aku terbiasa mengawali hatiku dengan melihat wajah kesalmu itu dan kini hariku—“


“Ya, harimu sudah lengkap. Sudah sana ganti baju dan kalau aku nyampe sini kamu belum siap maka aku akan meninggalkanmu disini saja,” ucap ketus Qania.


Arkana hanya tertawa melihat Qania yang membanting pintu cukup keras.


“Ini aneh ya, mengapa aku suka sekali melihatnya kesal dan mudah sekali membuatnya kesal? Padahal dulu  waktu aku masih beridentitas sebagian Tristan, perasaan dia mulu deh yang bikin aku kesal,” gumam Arkana sambil berjalan masuk ke kamar mandi.


Arkana sudah keluar dengan memakai pakaian kasual. Ia duduk di ranjang sambil menunggu kedatangan Qania. Ada sedikit keanehan karena hari ini dan kemarin pun Marsya sama sekali tidak menghubunginya padahal yang ia tahu, Marsya sedang dalam keadaan terpuruk.


Baru saja memikirkannya, ponsel Tristan berdering dan itu panggilan dari nomor telepon rumah Marsya.


“Selamat pagi Den, saya Bi Ulmi. Saya mau kasih tahu kalau non Marsya nitip surat buat Den Tristan.”


“Surat?”


“Iya Den. Suratnya mau diambil sendiri atau di antar ke rumah Den?”


“Oh biar saya ambil sendiri Bi.”


“Baik Den.”


Setelah panggilan berakhir, Qania pun juga masuk ke kamar rawat Arkana dan mendapatinya sedang melamun.


“Kamu melamun? Mikirin Marsya ya?” goda Qania namun justru ia menjadi kicep karena Arkana mengangguk.


“Nggak seperti yang kamu pikirkan kok, sayang. Tadi aku baru nerima telepon dari asisten rumah tangganya Marsya. Katanya Marsya nitip surat buat aku. Ya aku kepikiran aja, ngapain dia nulis surat,” ucap Arkana menjelaskan.


“Ya udah nanti pulang kita kesana. Sekalian aku mau ngambil koper di rumah Mae. Jadwal penerbangan hari ini tuh pukul satu siang. Aku nggak mau ambil penerbangan malam ya. Aku mau pulang segera. Kalau kamu masih mau disini ya nggak apa-apa,” ucap Qania.


“Ya aku pulanglah. Ayo kita sekarang keluar dari rumah sakit. Aku udah pesan taksi onlien,” ajak Arkana.


Keduanya pun keluar dan naik ke dalam taksi. Tujuan pertama mereka adalah ke rumah Mae. Sayang sekali Mae sedang keluar sehingga hanya saudaranya saja yang mengantarkan koper Qania. Mereka pun berpamitan lalu menuju ke ruma Marsya.


Hampir setengah jam mereka sampai disana. Pak satpam membukakan pintu gerbang dan menyapa Arkana yang masih ia sebut dengan nama Tristan. Arkana pun turun dari mobil dan menghampiri Pak satpam.

__ADS_1


“Pak, Marsya ada?” tanya Arkana.


“Lho emang non Marsya nggak ngasih tahu kalau tadi dia berangkat ke Prancis?” tanya satpam itu.


“Hah? Kok dadakan ya Pak? Padahal saya ingin bicara dengannya,” jawab Arkana yang balik bertanya dengan kaget.


“Oalah, bapak pikir kamu udah tahu. Oh iya, ini ada titipan surat buat Den Tristan,” ucapnya mengeluarkan amplop putih dari saku celananya.


“Makasih ya Pak. Saya pamit dulu kalau begitu,” ucap Arkana kemudian ia kembali masuk ke dalam taksi.


Qania tidak bertanya lagi karena ia sudah mendengar percakapan antara Arkana dan pak satpam tadi. Ia pun hanya meminta sopir taksi untuk langsung menuju ke alamat rumah Arkana.


Karena rasa penasarannya, Arkana langsung membuka surat dari Marsya.


Dear kamu, yang selama lima tahun menemaniku.


Aku nggak tahu harus mulai darimana dan harus menulis apa untuk kata sambutan di surat ini, hehe. Yang pasti saat kamu baca surat ini, aku udah di perjalanan ninggalin negara ini.


Oh iya, aku sebenarnya nulis surat ini karena aku ingin membagi kisahku denganmu. Semoga kamu mau membacanya dengan baik dan sampai habis.


Dulu, aku punya seorang kekasih. Pacar pertamaku dan memang cuma satu-satunya pria yang dekat denganku. Namanya Tristan Anggara. Aku harap kamu nggak kaget ya.


Aku pacaran dengannya sejak aku masih mengenakan seragam abu-abu dan dia merupakan kakak kelasku.


Hubungan kami bertahun-tahun sangat awet dan semakin hari justru semakin membuat kami saling jatuh cinta berkali-kali. Sampai badai itu datang. Badai yang menghancurkan seluruh duniaku.


Malam itu aku begitu gelisah dan entah mengapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Terakhir aku mengiriminya pesan dan sempat teleponan. Aku nggak tahu kenapa dengar suara dia itu rasanya pengen nangis. Tapi dia terdengar baik-baik saja.


Tengah malam aku dapat pesan yang entah siapa pengirimnya. Ia mengatakan bahwa Tristan kecelakaan dan bukan hanya itu, Tristan sengaja di bunuh di kota T dan tubuhnya di lempar ke sungai.


Seketika duniaku berhenti berputar. Aku kacau dan aku langsung memesan tiket pesawat ke alamat tersebut dan aku tidak pikir panjang langsung berangkat malam itu juga dan sampai ketika waktu hampir subuh. Sebelumnya aku sudah memanggil beberapa orang yang mau ikut denganku untuk mencari Tristan.


Aku dikirimi lokasi dimana Tristan kecelakaan dan bertemu warga sekitar lalu bertanya tentang kemana arah aliran sungai ini.


Kami menyusuri sungai yang ternyata penuh dengan bebatuan yang besar-besar. Aku semakin histeris karena aku yakin dia nggak akan selamat.


Benar saja, pagi itu sekitar puku tujuh salah satu orangku menemukan Tristan namun dalam keadaan sudah tidak bernyawa.


Saat itu juga hidupku terasa hampa dan duniaku hancur seketika. Aku menangis memintanya untuk bangun namun sia-sia.


Saat aku sedang meratapi kepergian calon suamiku, salah satu orangku berteriak katanya ada satu mayat lagi. Mereka membawanya ke dekatku.


Aku tak begitu memperhatikan namun mereka berkata lagi bahwa pria itu masih hidup hanya sedang pingsan saja. Aku pun akhirnya meliriknya dan aku cukup terpana karena pria itu sangat tampan.


Aku seolah mendapat petunjuk bahwa dia adalah orang yang dikirimkan Tuhan untuk menggantikan Arkanaku.


Hari itu juga aku memutuskan untuk pulang ke kotaku dan membawa mayat kekasihku serta pria yang pingsan itu bagaimana pun caranya.


Aku memakamkan Tristan di tempat yang jauh yang tidak diketahui oleh siapapun karena aku takut penjahat yang membunuh Tristan ataupun keluarganya mencarinya.


Sebulan berlalu, pria itu akhirnya bangun dari komanya namun ia sama sekali tidak mengingat sesuatu. Bahkan ia tidak mengenal siapa dirinya. Aku yang kehilangan Tristan namun menemukannya pun akhirnya ku berikan dia nama Tristan Anggara.


Aku mengaku dia adalah calon suamiku dan dia mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah.


Setiap hari aku berkunjung dan menceritakan tentang kisahku dengan Tristan yang asli namun aku mengatakan jika itu dirinya. Selain itu aku juga bekerja keras untuk menghapus jejak Tristan yang telah tiada dan mengganti semua fotoku dengannya menjadi wajah pria itu.


Aku sudah terlanjur terpesona padanya hingga aku mendapat ide buruk dengan rutin memberinya obat pelemah ingatan. Hingga akhirnya dia sembuh dan aku mengajaknya ke rumah dan Papaku memberinya pekerjaan. Papa juga membantuku berpura-pura agar dia semakin yakin kalau aku dan dia adalah pasangan kekasih.


Kami menjalani hari berganti bulan dan berganti tahun namun aku tak pernah melihatnya menatapku dengan cinta. Namun ketika ia bertemu dengan wanita bernama Qania, meskipun ia marah namun aku bisa melihat di matanya ada cinta yang entah mengapa itu bisa ada.


Aku takut kehilangan lagi apalagi ketika Qania mengenali wajah itu. Aku takut dan akhirnya aku mendapat kesempatan itu. Aku tak sengaja mendengar percakapan suster di rumah sakit kalau Qania melakukan tes DNA terhadap Tristan dan aku langsung bergerak cepat menyogok petugas lab untuk mengubah isinya.


Awalnya aku merasa menang sampai akhirnya di persidangan aku ditampar oleh kenyataan bahwa yang membunuh kekasihku adalah Papaku sendiri. Duniaku hancur lagi.


Apalagi aku menemukan Tristan sudah kembali mendapatkan ingatannya di rumah sakit, aku semakin hancur dan tak memiliki tujuan hidup.


Semalaman aku berpikir dan akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Aku adalah wanita baik-baik dan terhormat. Aku tidak ingin menjadi perebut suami orang. Aku juga seorang wanita dan aku tidak mau jika itu sampai terjadi padaku. Seandainya saja masih sebatas pacaran maka aku akan tetap maju. Namun sayang mereka terikat hubungan yang sakral dan aku memilih mundur.


Arkana Wijaya, itu kan namamu?


Aku minta maaf dan sampaikan maafku pada Qania.


Huhh, ceritaku sangat panjang ya. Semoga kamu tidak bosan membacanya.


Aku pamit ya, semoga kalian selalu bahagia.


^^^Marsya.^^^


 

__ADS_1


 


__ADS_2