Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Cari Angin


__ADS_3

Raka yang gelisah karena sudah tiga hari ia tidak bisa bermain game pun akhirnya mendapat ide untuk mencari lokasi yang terdapat signal, jiwa gamersnya meronta-ronta saat tidak bisa memainkannya. Ia pun keluar dari kamar meninggalkan Banyu yang sudah terlelap.


Samar-samar Raka yang keluar dari ruang tengah mendengar orang bernyanyi sambil bermain gitar.


“Itu siapa? Kok ada yang lagi nyanyi, bukannya tadi Abdi sama yang lainnya udah pergi ngeronda?” Tanya Raka pada dirinya sendiri.


Raka memegang lehernya yang mulai bergidik ngeri mendengar suara wanita bernyanyi, ia sempat ingin balik lagi ke kamar namun keingnannya untuk bermain game sudah tidak bisa dicegah lagi. Ia pun memutuskan untuk pergi saja, mengabaikan suara itu.


Raka berjalan sambil komat-kamit, dalam hati ia berusaha untuk berani dan berjalan seolah tidak melihat sesuatu. Sementara Qania yang tengah bermain gitar itu menatap aneh pada Raka yang berjalan melewatinya sambil tutup mata dan mulutnya berkomat-kamit.


Qania tersenyum lucu melihat kelakuan Raka yang tiba-tiba jadi aneh seperti itu.


‘Apa dia sleeping walking?’ batin Qania.


“Raka” panggil Qania.


Raka yang mendengar namanya dipanggil langsung berhenti dan semakin merinding.


“Kenapa dia tahu nama gue?” gumamnya.


“Hei Raka, kamu mimpi ya?” Tanya Qania.


“Kok gue kayak kenal ya sama suara itu?” gumam Raka lagi.


“Ckckck, benar-benar sedang mimpi rupanya” decak Qania.


Qania pun meletakkan gitar di kursi teras dan menyandarkannya ke dinding kemudian ia berdiri dan berjalan beberapa langkah untuk menghampiri Raka.


“Kamu sleeping walking?” Tanya Qania yang kini sudah berdiri di depan Raka.


“Loh kok jadi Qania?” gumam Raka yang di dengar oleh Qania.


“Ya iyalah ini Qania, emang kamu maunya siapa, Manda?” dengus Qania.


“Eh hehe, rupanya ini benar Qania Salsabila” kekeh Raka salah tingkah.


“Hm, kamu mau kemana?” Tanya Qania.


“Mau cari angin sekalian cari tempat yang ada sinyalnya” jawab Raka.


“Aku ikut” ucap Qania dengan lantang.


“Kuy deh” ajak Raka.


“Oke aku ambil jaket dulu, kamu naik motor kan?” Tanya Qania.


“Iya Salsabila yang cantik jelita” jawab Raka sembari menggoda Qania, namun yang digoda hanya mendengus.


“Oke tunggu bentar, satu menit” Qania pun berlari masuk ke dalam rumah.


“Yes, bisa jalan berdua” ucap Raka kegirangan.


Tak lama kemudian Qania datang dengan memakai jaket dan langsung berlari ke arah Raka yang sudah duduk di atas motor.


“Oke jalan mang” ucap Qania sambil menepuk bahu Raka.


“Emang gue tukang ojek apa” ketus Raka.


“Bisa dibilang begitu” sahut Qania tanpa merasa bersalah.


Raka mendengus kesal kemudian ia menancap gas mencari lokasi yang memiliki sinyal. Mereka berjalan ke arah barat, Qania yang hanya dibonceng tidak banyak komentar, yang ia ingin hanyalah segera mendapat sinyal karena ia begitu rindu pada Arkana.


Benar saja, begitu mereka ke arah barat, di ujung jalan dusun perbatasan kabupaten ponsel Qania mulai bergetar banyak kali dan itu membuat hati Qania ingin berteriak saking senangnya.


“Raka disini aja” ucap Qania sambil memperhatikan sebuah rumah sederhana yang berjarak hampir seratus meter dari rumah yang lainnya.


“Emang disini ada Qan?” Tanya Raka sambil menghentikan laju kendaraannya namun belum mematikan mesin motornya.


“Iya, nih ponsel aku udah getar-getar, coba aku cek dulu” ucap Qania sambil mengambil ponselnya dari saku jaketnya.


Qania pun melihat ponselnya dan benar saja ada begitu banyak pesan masuk namun karena ia tidak ingin Raka menunggu lama, ia mencoba mengaktivkan data selulernya.


“Raka disini kamu bisa ngegame sampai puas, jaringannya sangat bagus” ucap Qania membuat Raka bersorak dan langsung mematikan mesin motornya.


Qania pun turun dan langsung duduk di teras di depan rumah yang sepi itu namun  lampu terasnya menyala.


“Permisi, maaf ya numpang sebentar” ucap Qania saat melihat pintu rumah terbuka dan seorang gadis belia mengintip dari balik pintu.


Gadis itu mengangguk dan kemudian masuk kembali ke rumah tersebut. Sementara Raka sudah tidak memperhatikan Qania karena ia bisa lupa apa pun jika sudah memulai gamenya.


Qania membuka satu per satu pesan yang masuk di ponselnya. Beberapa pesan dari operator, nomor tak dikenal yang menawarkan pinjaman, ada juga nomor tak dikenal yang sepertinya jablai alias jarang dibelai masuk ke ponsel Qania.

__ADS_1


Qania tersenyum saat melihat pesan dari Syaquile.


‘Kakak udah sampai?’,.


‘Apa kabar kak?’,.


‘Sunyi tahu nggak kalau nggak ada kakak’,.


setelah membaca pesan yang dikirim beberapa hari yang lalu dan juga ada pesan yang tadi pagi dari adiknya itu, Qania pun langsung membalasnya.


‘Kakak udah sampai dari hari minggu, kabar kakak baik-baik aja dan kamu tenang aja kakak perginya Cuma dua bulan kok. Oh iya di tempat kakak susah sinyal jadi nggak bisa selalu menghubungi kalian’ balas Qania.


Qania beralih ke pesan dari pujaan hatinya, Arkana Wijaya.


Sayang, rindu nih.


Lima puluh sembilan hari lagi.


Sayang, lagi ngapain? Kabar kamu gimana?.


Sayang aku lagi makan ayam bakar loh.


Lima puluh delapan hari lagi.


Sayang kamu baik-baik terus ya di sana, aku nggak bisa ada disana buat ngejagain kamu. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik buat kamu. Sayang aku sangat merindukanmu, cepatlah kembali.


I miss you, I need you, I love you.


Dan masih banyak lagi kata-kata yang membuat hati Qania terasa ngilu karena tidak bisa berbuat apa-apa.


“Aku sebaiknya hubungi mama dulu deh, biar bagaimana pun orang tua itu yang utama” ucap Qania kemudian mencari kontak mamanya dan langsung menghubunginya.


Selama hampir sepuluh menit Qania mengobrol dengan mama, papa dan adiknya akhirnya panggilan itu diakhiri, karena Qania juga mengatakan ingin mengubungi Arkana lagi.


Baru saja Qania ingin menelepon Arkana, ponselnya langsung menampilkan panggilan masuk dari orang yang sangat ingin ia dengar suaranya.


“Hallo sayang, gimana kabarmu? Udah makan, belum? Kamu nggak kecapean? Kamu masih ingat aku kan? Kamu nggak main hati kan? Kamu rindu aku kan?”,.


Banyaknya rentetan pertanyaan Arkana begitu Qania menjawab teleponnya membuat Qania mendengus.


“Jawab yang mana dulu nih?” Tanya Qania dengan nada ketus padahal dalam hati ia sangat senang akhirnya bisa mendengar suara orang yang sangat ia rindukan.


Benar saja, ponsel Qania kini menampilkan panggilan video dari Arkana, Qania menatap ke arah Raka yang sangat serius bermain gamenya kemudian mengangkat panggilan video tersebut.


“Uh kangennya” pekik Arkana sambil memperlihatkan wajahnya yang tengah tengkurap di atas bantal.


“Sama sayang, aku juga kangen, rindu, miss you, pake sangat pake banget” balas Qania sambil menatap sendu ke arah Arkana.


“Jangan bilang kayak gitu atau aku bakalan datang sekarang dan menculikmu lalu ku bawa kau ke KUA dan ku kurung kau di kamar pengantin, mau?” tandas Arkana membuat Qania merona.


“Dasar alay” cibir Qania.


“Nggak apa-apa alay yang penting kamu sayang kan?” Tanya Arkana sambil menaik turunkan alisnya.


“Hmmm”,.


“Sayang kamu dimana dan kenapa bisa dapat sinyal?” Tanya Arkana, sebenarnya dari tadi ia ingin menanyakan hal tersebut namun ia lupa.


“Aku lagi di rumah salah satu warga yang berada di perbatasan, rumahnya adem banget, bersih dan tadi aku udah minta izin sama pemiliknya buat duduk disini” jawab Qania membuat Arkana mengernyitkan dahinya.


“Sama siapa kamu ke sana?” selidik Arkana.


“Sama Raka”,.


“Siapa Raka?” Tanya Arkana sedikit emosi, kecemburuan akutnya mulai kumat.


“Teman, kebetulan tadi dia ingin sekali mencari sinyal buat main game jadi aku ikut aja diboncengin sama dia. Dan kalau kamu Tanya tiga bodyguard ku itu, mereka lagi ngeronda” jawab Qania memperjelas.


“Hmm, tapi ingat jaga jarak dua jingkal di atas motor, oke” ucap Arkana memperingati.


‘Tuh kan kumat lagi’ batin Qania, ia pun menghela napas panjang.


“Iya, iya bawel deh”,.


Mereka pun mengobrol panjang lebar sambil bercanda dan juga Arkana tidak melewatkan kesempatan untuk membuat Qania kesal.


Hampir setengah jam Qania mengobrol dengan Arkana sampai akhirnya mereka mengakhiri panggilan tersebut dengan berbagai ungkapan cinta dan rindu mereka. Tak lupa Arkana juga tadi sempat dimintai oleh Qania untuk bernyanyi sambil memainkan gitar.


Qania menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya dan berjalan ke arah Raka yang masih asyik dengan ponselnya.


“Raka, masih lama?” Tanya Qania dengan suara lembutnya.

__ADS_1


“Dikit lagi ya Qan” ucapnya namun pandangannya masih tidak bergeming dari layar ponselnya.


Qania pun duduk di belakang Raka yang masih asyik bermain game, sambil memperhatikan pria tersebut.


‘Dia kalau di perhatiin lagi serius gini aura ketampanannya nampak jelas, tapi kalau udah bicara uh ngeselinnya bukan main, kayak si Arkana. Eh? Kok bisa-bisanya aku samain si ngeselin ini sama Arkanaku? Eh, kok aku malah nyebut dia si ngeselin sih, itu kan Cuma khusus untuk Arkana?’,.


‘Tapi dia kok bisa sama kayak Arkana sih? Kenapa juga mereka harus punya hobi yang sama ke aku, sama-sama paling suka buat aku kesal?’ Qania menjadi bingung sendiri.


Sementara Raka yang tadinya tengah asyik bermain game sekarang malah kehilangan konsentrasi karena ada gadis yang tanpa ia duga mulai mencuri hatinya itu duduk diam di belakangnya.


“Aghhhhh” pekik Raka membuat Qania tersentak.


“Kamu kenapa Raka, ada yang sakit?” Tanya Qania panic, buru-buru ia turun dari motor dan memeriksa tangan Raka karena ia mengira jari Raka kenapa-kenapa karena terlalu serius bermain game.


Deg..


Jantung Raka bagai sedang berdisko saat Qania memegangi tangannya dan dengan wajah paniknya tengah memeriksa jari-jari Raka.


‘Hati gue oooh Salsabila, jantung gue, jantung gue ajep-ajep Qania Salsabila’ teriak Raka namun hanya dalam hati.


“kamu sebenarnya kenapa?” Tanya Qania sambil menatap panik kepada Raka.


“Gue kalah Qan” jawab Raka membuat Qania menatap bengis padanya dan menghempaskan tangan Raka.


“Dasar, bikin panik aja. Gue kira elo kenapa-napa” gerutu Qania kemudian kembali naik ke atas motor.


“Tapi makasih loh karena udah perhatian” ucap Raka cengengesan.


“Eh tapi ini pertama kalinya gue dengar lo ngomong lo gue” ucap Raka sambil menoleh ke belakang.


“Gue kalau lagi kesal tingkat Negara ya gitu” jawab Qania ketus.


Raka menggulum senyum, kemudian ia menghidupkan mesin motor dan pergi meninggalkan tempat itu.


*


*


Kesepuluh mahasiswa itu baru saja pulang dari membantu pekerjaan di masjid untuk istirahat siang. Mereka mendapati satu mobil honda jazz berwarna merah terparkir di halaman rumah pak kadus. Siapa lagi tamu pak kadus kali ini, pikir mereka.


Saat mereka masuk ternyata yang ada di dalam ruang tamu pak kadus adalah bu Lira, dosen pendamping lapangan mereka yang tengah asyik berbincang dengan bu Karni.


“Ibuuuuu” pekik Qania, Abdi, Prayoga dan Baron bersamaan.


Bu Lira menoleh dan langsung tersenyum hangat menyambut kedatangan empat mahasiswa dari jurusannya dan enam mahasiswa tanggung jawabnya di mata kuliah KKN ini.


Bu Lira langsung mengajak mereka mengobrol sementara bu Karni masuk ke dalam untuk membuatkan pak kadus teh. Yang ada di ruangan itu hanya sepuluh mahasiswa dan bu Lira, karena pak kadus dan istrinya merasa bahwa saat ini mereka akan membicarakan perkuliahan mereka jadi tidak ada hubungannya dengan mereka.


“Oh jadi kalian ikut membangun masjid dan membagi dana kalian untuk masjid dan juga sekolah dasar itu?” Tanya bu Lira setelah Abdi menjabarkan program KKN mereka.


Semuanya mengangguk dan hal itu membuat bu Lira tersenyum.


“Ibu setuju saja, ibu juga Cuma datang untuk mengecek keadaan kalian karena seminggu sekali ibu akan datang kesini. Dan ibu setuju-setuju saja dengan program KKN kalian di dusun ini, tapi jangan lupa buat laporan harian untuk kalian presentasikan setelah penarikan nanti” ujar bu Lira membuat mereka tersentak dan gelisah.


“Aduh kenapa gue nggak tahu kalau ada presentasi?” Baron terlihat gusar.


“Gue bahkan belum buat laporan apa pun” timpal Raka.


“Gue juga sama” ucap Manda dan Elin bersamaan.


Bu Lira hanya tersenyum geli melihat gelagat mahasiswa bimbingannya yang tengah gelisah itu, kemudian ia beralih tatap kepada Qania yang tenang-tenang saja, membuat bu Lira langsung mengerti.


“Sudah, Qania pasti sudah membuat laporan harian untuk kelompok kalian, bukan begitu Qania?” Tanya bu Lira sambil melirik Qania dengan tatapan penuh maksud.


“Eh hehe, ibu ini selalu tahu deh tentang Qania” ucap Qania cekikikan.


Semuanya bernapas lega karena tanpa mereka ketahui Qania sudah mengamankan nasib mereka.


“Salsabila, lo the best, sumpah” puji Raka sambil memperlihatkan senyumannya yang paling manis.


“Gue sih udah tahu aja, jadi gue santai kayak di pantai” ucap Abdi sambil menggidikkan kedua bahunya.


“Tenang guys, selama ada Qania semua pasti aman terkendali. Dia bisa memikirkan hal-hal yang tidak kita pikirkan dan tentu saja dia selalu memiliki sifat antisipasi. Jadi kita tenang aja, jangan tegang ada Qania bersama kita, dia nggak bakalan lupa pada hal sekecil apapun termasuk siapa aja yang pernah tersenyum padanya” ucap Prayoga panjang lebar membuat Qania memutar bola matanya jengah.


Setelah mengobrol, bu Karni mengajak mereka untuk makan siang karena tadi juga bu Lira sudah membawa sekarung beras untuk mereka.


Setelah makan siang, bu Lira mengikuti mahasiswanya itu ke tempat pembangunan masjid dan mengambil dokumentasi. Setelah waktu menunjukkan pukul empat, bu Lira pamit untuk kembali ke kota lagi.


 


...***...

__ADS_1


__ADS_2