
Setelah pulang dari menjalankan misi untuk memantau keadaan dusun bagian barat dan selatan, mereka memutuskan untuk beristirahat dulu, setelah sholat dzuhur barulah mereka akan membahasnya kembali.
Di kamar saat ini Qania yang baru saja selesai mandi sedang mengeluarkan laptop yang ia pinjam dari papanya untuk menyalin foto-foto dari kameranya tersebut.
“Wah kalian foto-foto nggak ngajak Elin” rajuk Elin saat melihat foto-foto di laptop Qania.
“Gimana mau ngajak, kalian kan arahnya berbeda” sahut Qania sambil menekan tombol di keyboard laptopnya untuk melihat-lihat foto-foto tersebut.
“Iya sih, oh iya Qan foto kita di sungai tadi pagi mana?” Tanya Elin sambil menyandar di sandaran ranjang.
“Ada, udah aku pindahin juga” ucap Qania mebari memindahkan laptop ke atas kasur dari pangkuannya.
Kedua gadis tersebut kemudian melihat-lihat foto-foto mereka sambil berceloteh, sesekali terdengar tawa mereka da itu membuat Manda yang sedang mandi menjadi geram.
“Kita lihat saja Qania apakah elo masih bisa tertawa seperti itu saat Arkana jatuh ke pelukan gue” geram Manda kemudian mengguyur tubuhnya dengan air.
Setelah mandi dan berganti pakaian di dalam kamar mandi, Manda pun keluar dan langsung memasang senyum di bibirnya.
“Wah, wah, wah. Gu mendengar kalian ketawa-ketiwi dari dalam kamar mandi tadi, kalian lagi ngapain sih” ucap Manda sok akrab sambil berjalan dan kemudian ikut duduk di atas tempat tidur.
Qania menatap Manda kemudian tersenyum tipis lalu beralih fokus lagi pada laptop.
“Nggak kok, kita Cuma lagi lihat-lihat foto” jawab Qania tanpa melihat kearah Manda.
“Gue juga pengen lihat dong” pinta Manda kemudian membelokkan arah laptop padanya.
“Rese banget sih lo” kesal Elin.
Namun Manda cuek saja, baginya Elin hanyalah angin lalu yang tidak perlu ditanggapi keberadaannya.
Saat Elin tengah kesal, Qania bersikap tenang-tenang saja. Ia bukannya tidak tahu soal Manda, ia hanya ingin melihat sejauh mana gadis ini akan mengusiknya. Jika ia sudah merasa kalau Manda sudah melewati batasan maka ia akan bertindak. Qania hanya ingin memantau saja, diam dan tidak memberikan ruang bagi Manda untuk curiga padanya yang sudah mengetahui niatannya.
Tok..
Tok..
Tok..
“Cewek-cewek, keluar yuk udah waktunya kumpul” panggil Ikhlas.
“Oke” teriak ketiganya kompak.
__ADS_1
“Kita tunggu di teras” sambung Ikhlas kemudian pergi menyusul yang lainnya di teras.
“Kalian duluan aja, gue mau nyisir rambut dulu” ucap Manda sambil berjalan ke arah meja tempat ia meletakkan sisirnya.
“Oke” Qania pun bergegas mengklik tombol shut down di laptopnya lalu mengajak Elin untuk keluar lebih dulu.
Saat pintu sudah di tutup, Manda bergegas mengambil ponsel milik Qania yang ia letakkan begitu saja di atas ranjang.
“Gue harus menemukan nomor ponsel Arkana” ucap Manda kemudian menekan tombol on off ponsel itu.
“Sial, pake di kunci segala” umpat Manda saat melihat ponsel tersebut ternyata menggukan sandi.
“Apa-apaan wallpapernya ini, kalian itu nggak cocok banget sih” gerutunya saat melihat foto Qania dan Arkana yang begitu mesra.
Manda pun meletakkan kembali ponsel Qania di tempatnya semula dan bergegas keluar kamar agar tidak ada yang curiga kepadanya.
Setelah mereka semua berkumpul di teras, Abdi pun langsung membuka rapat mereka untuk membahas program kerja mereka selama dua bulan ke depan.
“Jadi gue mulai dari kelompok gue saja ya, di tempat kami tadi survey sepertinya kita bakalan membantu pembangunan masjid di dusun ini karena tadi yang kami lihat beberapa warga tengah berkumpul di sana untuk membahas rencana pembangunan masjid itu. Karena warga disini mayoritas petani dan nelayan maka tadi kami pun mengusulkan bahwa kita bersepuluh ini akan membantu mereka bekerja dan juga menyumbangkan dana kita untuk menutupi kekurangan dari dana mereka” ucap Abdi.
“Bagaimana, apakah kalian setuju?” Tanya Baron.
“Kalau gue sih setuju aja, malah bagus karena kita tidak perlu memikirkan untuk membangun apa di dusun ini sebagai program kerja KKN kita. Dengan adanya pembangunan masjid itu, selain kita terjun langsung membantu, kita juga bisa memasukkannya sebagai sasaran utama program KKN” ujar Qania.
“Gini, kita kan emang udah di beri tahu kalau uang pembangunan KKN itu per mahasiswa sebanyak satu juta lima ratus ribu rupiah, maka jika kita menggabungkan uang tersebut kita akan memperoleh sebanyak lima belas juta. Gue rasa itu sudah cukup untuk membantu mencukupi dana mereka” usul Witno yang tadi sekelompok dengan Abdi.
“Gue setuju, kita pakai uang itu saja. Kalau kurang ya kita tinggal tambahin” seru Manda.
“Gue setuju” sahut Banyu, Raka dan Ikhlas secara bersamaan.
“Gue ngikut aja deh” ucap Elin.
“Gimana Qan?” Tanya Prayoga menatap Qania yang duduk si sebelah kanannya.
“Kalau aku sih setuju, bahkan setuju banget malah. Tapi kalian jangan langsung menyimpulkan bahwa uang pembangunan kita sepenuhnya digunakan untuk pembangunan masjid itu karena itu baru hasil pemantauan kalian. Kelompok kami belum kalian tanyakan apa hasilnya dan apa yang akan kita lakukan dengan hasil pemantauan kami. Kalau dana kita hanya digunakan untuk kelompok kalian, apa kabarnya dengan kami yang sibuk kesana-kemari menyusuri arah selatan” ujar Qania.
“Kesana kemari apanya, kita Cuma diajak foto-foto sama dia” gumam Prayoga namun tidak terdengar oleh siapa pun.
Sementara Banyu, Raka dan Ikhlas yang menatap ke arah Prayoga langsung paham dengan tatapan frustasinya pada Qania. Ketiga pria itu menahan tawa mereka agar tidak pecah saat melihat ekspresi Prayoga.
“Oh hehe, maaf gue sampai lupa. Jadi apa yang kalian dapatkan di arah selatan?” tanya Abdi.
“Oke jadi di arah selatan itu ada sekolah dasar yang gedungnya sudah banyak yang tidak layak pakai karena hanya berdinding papan. Rencananya setelah tadi kami melihat sekeliling sekolah itu, kita bisa membantu memperbaiki genteng yang bocor dan dinding yang sudah lapuk. Dan karena dinding sekolahnya menggunakan papan, maka kami berencana untuk mengganti papan itu dengan dinding beton kalau dana mencukupi tapi jika tidak ya kita kembali memakai papan tapi harus yang kualitas terbaik paling tidak kualitas nomor dua lah”,.
__ADS_1
“Selain itu, teman-teman dari jurusan keguruan bisa langsung praktek micr teaching kalau kalian ingin. Ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Setelah ini kalian bisa langsung menyusun untuk ujian, kan?” lanjut Qania menjabarkan.
Banyu, Ikhlas dan Raka ternganga mendengar ide brilliant yang entah sejak kapan ada di pikiran mereka. Bahkan tadi mereka belum berdiskusi sama sekali, dan Qania sudah mencetuskan ide yang katanya hasil dari diskusi kelompok mereka.
Lain halnya dengan Prayoga yang sudah hapal dengan kecerdasan otak Qania, jika Qania sudah memiliki idem aka ia akan bersenang-senang dan jika ia masih belum menemukan sesuatu maka Qania akan serius.
“Yog, emang kapan kita diskusi dengan Qania? Gue bahkan nggak tahu soal ide itu” bisik Raka pada Prayoga yang duduk di sebelah kirinya.
“Iya Yog, gue sampai tercengang dengan ide Qania yang bahkan tadi selama kita jalan dia nggak ngomong apa-apa” timpal Ikhlas.
Sementara Banyu hanya menunggu jawaban Prayoga karena pertanyaan kedua temannya sudah mewakili apa yang ingin ia tanyakan.
“Dia itu Qania Salsabila Sanjaya, ratunya Teknik dan putrinya kampus. Apa sih yang tidak ada di otak cerdasnya itu, kita sebagai teman sejurusan sudah hapal dengan gerak-geriknya. Jika dia diam dan terlihat gelisah dia sedang buntu ide, tapi kalau dia udah kayak tadi tuh nggak bisa diam dan bawelnya kelewatan berarti dia sudah punya ide atau sudah menemukan jawaban” jelas Prayoga.
“Good girl” puji Banyu, Raka dan Ikhlas secara bersamaan.
“Oke guys karena kita udah punya dua sasaran program KKN kita maka kita harus menyusun rencana apa dulu yang akan kita lakukan, membangun masjid atau sekolah dulu” ucap Abdi sambil mengedarkan pandangannya ke semua rekannya.
“Kalau menurut gue sebaiknya kita fokus dulu ke pembangunan masjid karena itu adalah tempat ibadah yang selalu digunakan. Kalau sekolah mungkin setelahnya karena juga merek ahanya bersekolah sampai pukul sebelas jadi tidak mengapa jika kita kerjakan masjid dulu” usul Baron.
“Gue sih setuju-setuju aja, gue ngikut aja” ucap Manda menimbrungi.
“Kalau aku sih iya aja, emm sekalian kan kalau nanti setelah masjid selesai saat kita ikut membangun sekolah itu paginya kita yang lainnya bisa membantu mengajar siswa sd” sahut Qania.
“Gimana sama yang lain?” Tanya Abdi.
Yang lainnya pun langsung mengangguk dan berteriak setuju sehingga mereka akhirnya memutuskan mulai besok mereka akan membantu pembangunan masjid lebih dulu.
Saat mereka tengah asyik mengobrol, sebuah mobil sedan berwarna hitam memasuki halaman rumah pak kadus tapi bukan merupakan mobil dari kerabat kesepuluh mahasiswa tersebut.
Pintu mobil terbuka, nampaklah dua orang pria yang berumur sekitaran dua puluh lima tahun dengan tampang keren dan juga wajah tampan melangkah menuju ke rumah pak kadus.
“Selamat siang, apa benar ini rumah pak kadus?” Tanya salah satu dari mereka.
“Siang, iya benar ini rumah pak Jaja, pak kadus desa Suka Asri” jawab Abdi ramah.
“Silahkan masuk” ajak Manda, matanya berbinar melihat kedua pria tampan itu.
Mereka pun masuk diikuti oleh Abdi dan Banyu yang memanggil pak kadus di kebun di belakang rumahnya.
***
__ADS_1