
"Ada apa sebenarnya sayang hmm? Rekaman apa yang kau berikan pada Fero?" tanya Arkana penasaran.
"Rekaman masa depannya" jawab Qania asal.
"Masa iya?" tanya Rizal.
"Hmm".
"Aiss, sayang mah nggak seru ah main rahasia-rahasiaan" rengek Arkana.
"Lebay lo" ledek Qania.
"Woowww siapa dia, nyonya Arkana Wijaya ngomongblo gue pemirsa" pekik Arkana saat mendengar ucapan Qania, sementara Qania tersenyum geli melihat Arkana.
"Haha rasain lo Ka" ledek Rizal.
"Jadi gue lebay nih hmm?" Arkana menaik turunkan kedua alisnya.
"Gue rasa emang lo lebay, terus lo mau apa hah?" jawab Qania tekekeh.
"Aiihh dia nantangin gue pemirsa" Arkana berlagak seperti seorang komentator sepak bola.
"Gue on the way Geaaaa.." teriak Rizal frustasi melihat kedua orang yang tengah bermesraan dengan gaya mereka sendiri yaitu saling meledek.
"Gue mau lo teriak ARKANA WIJAYA AKU SAYANG KAMU, AKU CINTA" pinta Arkana sambil berteriak.
"Gue nggak mau, lo aja" tolak Qania mentah-mentah.
"Awas lo, gue nggak bakalas kasih jatah ranjang ntar" ancam Arkana.
"Enak aja, emang gue minta jatah ranjang gitu? Mimpi lo" cibir Qania.
"Sayang ayolah, gue kepengen nih, ya ya ya" bujuk Arkana.
"Bangsat keparat lo" umpat Qania tersulut emosi.
"Hahaha, sangat pedas guys pujiannya" ledek Rizal.
"Itu makian Bambang" gerutu Arkana sambil memukul lengan Rizal yang sedang tertawa.
"Nggak, gue muji lo Toib" celetuk Qania.
"Hahaha, kena lo bang Toib" Rizal tergelak mendengar ucapan Qania yang ternyata berada di pihaknya.
"Sayaaangg...." rengek Arkana dengan wajah memelas.
"Hadeh.." Qania memutar bola matanya jengah melihat wajah Arkana.
"Gitu ya lo Tukiyem nggak mau berpihak sama babang Toib" Arkana berpura-pura merajuk.
"Maaf bang Toib, Tukiyem maunya sama mas Bambang" timpal Rizal yang tak berhenti tertawa.
"T.U.K.I.Y.E.M?" Qania menekankan tiap kata dari nama panggilan yang baru saja diberikan oleh Arkana dengan tatapan tajam.
Glukkk...
Arkana dan Rizal menelan salivanya dengan susah payah seakan tercekik melihat aura yang dipancarkan oleh Qania.
"Mati kita" bisik Rizal yang diangguki oleh Arkana.
Keduanya menatap Qania dengan perasaan was-was.
"Hahaha, tidak begitu buruk" ucap Qania tertawa terbahak, selain merasa nama itu lucu Qania juga merasa senang berhasil mengerjai kedua pria di depannya itu.
Haahh...
Arkana dan Rizal bernapas lega saat melihat Qania tertawa.
"Olah raga jantung" gumam Arkana.
"Benar bro" sahut Rizal.
"Tapi bang Toib, lo nggak merasa bersalah gitu ngerubah nama cantik neng Tukiyem ini?" tanya Qania, ia sudah memiliki ide untuk mengerjai Arkana lagi.
"Buat apa babang Toib merasa bersalah neng Tukiyem sayang hmm?".
"Ya karena nama cantik Qania Salsabila itu adalah pemberian tante Ayumi, calon mertua aku" jawab Qania menahan tawanya melihat ekspresi terkejut dari Arkana dan Rizal.
Jleebb...
Seakan tertusuk pisau yang tajam di perutnya, Arkana baru teringat bahwa nama Qania adalah nama pemberian mendiang mamanya. Wajahnya yang tadi sedang bahagia langsung pias.
"Maafin Arka ma, sumpah ini cuma candaan doang. Arkana nggak bakalan ganti nama Qania dengan nama lain karena nama sudah cantik ma. Maaf ya ma" batin Arkana memohon.
"Sayang ayolah, aku cuma bercanda" bujuk Arkana.
"Hei jangan membujukku, bukan aku yang kau nistakan" elak Qania.
__ADS_1
"Yah gayanya guys, kau nistakan" celetuk Rizal.
"Mama maaf ya ma, Arkana khilaf" ucap Arkana khawatir .
"Tapi aku suka loh kalau kamu manggil aku Tukiyem" Qania tersenyum devil.
"Jangan sayang, mama bisa marah nanti. Jangan Tukiyen yah, Qania aja" bujuk Arkana.
"Nggak, Tukiyem pokoknya" Qania ngotot.
"Selamat ya bro" ledek Rizal.
"Diam lo keparat" hardik Arkana.
"Hahaha, sudah sudah. Aku bercanda doang kok sayang" akhirnya Qania mengalah melihat kedua sahabat itu yang mulai bersitegang, ia tidak ingin perdebatan dua pria itu menjadi panjang kali lebar kali tinggi.
"Fyuhhh" Arkana bernapas lega, "gara-gara Tukiyem nih, sialan" gumam Arkana.
"Woww rame ya" ucap Fero yang tengah berjalan mendekati teman-temannya itu.
"Iyalah" sahut Rizal.
"Apa gue melewatkan sesuatu?" tanya Fero penasaran karena memang ia mendengar canda tawa sahabat-sahabatnya ini dari dalam mobil tadi.
"Nggak ada Sueb" ketus Arkana.
"Su-eb?" tanya Fero merasa dongkol.
"Napa lo, nggak terima gue bilang Sueb?" tanya Arkana dengan sorot mata membunuh.
"Lah jadi lo maksud nama gue Sueb gitu?".
"Menurut lo?"
"No Arkana Wijaya, nama gue keren Fero lo ganti Sueb, gue menolak bro" bantah Fero menatap balik Arkana dengan sengit.
"Kasih tahu tuh teman lo Bambang" perintah Arkana pada Rizal.
"Malas ah bang Toib, nggak ada faedahnya juga ngomong ke dia" tolak Rizal.
"Hahaha bang Toib? Bwahahaha" tawa Fero pecah saat mendengar ucapan Rizal.
"Kemarin gue nonton berita ada orang yang mati karena lidanya putus setelah banyak tertawa" ucap Arkana yang menyindir Fero yang menertawainya.
Glukk...
"Gimana Ro?" tanya Qania.
"Qan, boleh nggak gue meluk lo?" tanya Fero lirih.
"Ya nggak boleh lah" jawab Arkana cepat.
"Hmm, iya gue udah tahu kok kalau nggak boleh" gumam Fero.
"Jadi gimana sama imbalannya Ro?" tanya Qania tak menghiraukan Arkana.
"Gue sangat setuju sama keinginan lo" jawab Fero sambil tersenyum lebar.
"Besok ya Ro, aku tunggu loh".
"Appaa, be..besok?" tanya Fero tersentak.
"Iya, emang kenapa?" tanya Qania heran melihat ekspresi Fero.
"Ya ampun Qan, gue belum punya persiapan kali" dengus Fero.
"Ya ampuun Fero, aku tuh bukannya nyuruh kamu yang aneh-aneh. Besok kamu temui dulu orangnya, bukan langsung ke intinya, lagian emang harus ada persiapan gitu, ah gimana sih lo Sueb" ucap Qania menerangkan.
"Oh iya juga ya, hehehe" Fero menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Besok aku atur deh pertemuannya, gimana?".
"Yang benar Qan?".
"Tentu saja benar".
"Gue setuju, thanks Qan".
"No problem Ro, aku senang kalau kalian senang".
"Uww bisa nggak gue.."
"Nggak bisa" potong Arkana dengan tegas.
"Iya iya gue tahu" Fero pasrah.
Setelahnya tidak ada lagi suara yang terdengar, masing-masing dari mereka larut dalam pikirannya. Fero saat ini tengah memikirkan rencana manis untuk Cika, Qania pun sama seperti yang Fero pikirkan. Rizal diam namun dalam hati ia sangat penasaran dengan pembicaraan Qania dan Fero, begitu pun dengan Arkana yang memilih diam menanti saat Qania sendirilah yang akan bercerita kepadanya.
__ADS_1
"Eh Sueb pulang yuk" ajak Rizal setelah melirik jam sudh hampir pukul sepuluh malam, waktunya untuk ia menina bobokan Gea lewat telepon.
"Lo bego atau gimana Bambang, kita mau naik apa" gerutu Fero.
"Oh iya ya".
"Kalian pakai saja mobil gue, ntar gue sama bokap dianterin sama supir mertua gue" ucap Arkana kali ini dengan santai tidak ngegas seperti sebelumnya.
"Benar Ka?" tanya Rizal memastikan.
"Iya, gue sama bokap mah urusan gampang. Kalian pulang aja pakai mobil gue, gue tahu kalian capek udah sehari semalam nggak tidur demi nolongin gue. Gue mengucapkan terima kasih banyak ke kalian berdua, sahabat gue yang paling baik dan ngertiin gue banget. Thanks bro, kalau bukan karena kalian mungkin bokap gue belum ketemu sampai sekarang" lirih Arkana.
"Ka, kita ini udah sahabatan sejak dulu sekali jadi lo jangan sungkan gini dong. Kita kan selalu saling tolong menolong" ucap Rizal sambil menepuk bahu Arkana.
"Iya Ka, bagi gue lo dan Rizal itu bukan hanya teman tapi udah gue anggap saudara, jadi jangan pernah ragu buat minta tolong dan gue nggak suka terlalu banyak kata terima kasih, kita itu sahabat dan dalam persahabatan wajib hukumnya tolong menolong, oke" ujar Fero sambil tersenyum hangat pada Arkana.
"Iya, tapi gue tetap ngucapin makasih pada kalian" sahut Arkana.
"Iya iya, yaudah kita pamit dulu" pamit Rizal.
"Ayo" sambung Fero.
"Kalian hati-hati" pesan Arkana.
"Oke" jawab keduanya kompak.
"Sweet banget sih kalian" tutur Qania sambil tersenyum manis melihat ketiga pria itu.
"Jangan senyum seperti itu sayang, nanti mereka bisa jatuh cinta ke kamu" bisik Arkana membuat Qania menatap kesal ke aranya.
Semenit..
Dua menit...
Lima menit...
"Lah kok lo berdua masih duduk aja disini?" tanya Arkana heran.
"Hehe itu Ka, kunci mobil" kekeh Rizal.
"Ya ampun, gue lupa. Kan gue tuh tadi yang nyupirin kalian semua" ejek Arkana.
"Astaga, gue lupa, hehe. Kunci kan masih di gue" Rizal cekikikan sementara Fero menatapnya seakan ingin membunuhnya.
"Ayo Ro kita pulang" ajaknya.
"Kita pamit ya" ucap Fero sambil berdiri mengikuti Rizal yang sudah berjalan lebih dulu.
"Hati-hati" ucap Qania dan Arkana bersamaan dan dijawab anggukan oleh keduanya.
Setelah Fero dan Rizal pergi, tinggallah Qania dan Arkana yang masih betah berada di gazebo itu.
"Sayang sandaran di dada aku ya" pinta Arkana, Qania pun menurut saja, ia langsung duduk di depan Arkana dan menyandarkan belakang kepalanya di dada Arkana.
"Aku rindu" bisik Arkana kemudian mencium puncak kepala Qania.
"Aku juga rindu".
Arkana memeluk Qania dari belakang, meresapi aroma tubuh Qania yang selalu menjadi candu baginya.
"Sayang besok aku ada rapat di himpunan" ucap Qania memberitahu.
"Jam berapa sayang?".
"Jam delapan pagi, mungkin selesainya tengah malam atau subuh".
"Aku anterin ya".
"Nggak usah sayang, kamu istirahat dulu. Aku janji nanti aku bakalan hubungi kamu kalau aku mau pulang" tolak Qania mengingat Arkana yang belum mengistirahatkan tubuhnya sejak kemarin.
"Janji ya".
"Iya".
Arkana mengecup puncak kepala Qania lagi, ia rasanya ingin terus berlama-lama bersama Qania melepaskan rasa rindunya namun ia tidak bisa egois karena waktu sudah hampir tengah malam.
"Sayang masuk yuk, disini dingin aku nggak mau kamu kedinginan" ajak Arkana.
"Kan ada kamu yang menghangatkan" goda Qania.
"Woww pemirsa, nyonya Arkana mulai menggoda entah sejak kapan dia belajar menggoda" pekik Arkana kegirangan.
"Lebay lo Toib" ledek Qania kemudian bergegas turun dari Gazebo meninggalkan Arkana, Qania tertawa pelan samb berjalan.
"Woii Tukiyem tungguin abang Toib" teriak Arkana kemudian bergegas mengejar Qania.
Keduanya bergandengan tangan memasuki rumah Qania dengan senyuman yang terus terukir di wajah keduanya.
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...