Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Rombongan Sapi


__ADS_3

Setelah mengemas barang-barang yang akan ia bawa KKN, Qania pun menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia kembali teringat akan kejadian tadi dimana ia berlaku tidak sopan dan terkesan sangat kasar kepada Marsya.


"Hahh, aku udah keterlaluan kali ya sama Marsya. Tapi dia juga ngeselin. Dan semua perubahan di diriku ini akibat udah terkontaminasi sama anak-anak IC yang awal kepindahan aku kira mereka akan terlihat cupu dan kutu buku, eh nyatanya sebelas dua belas aja sama anak Teknik" kekeh Qania teringat akan tingkah teman-teman yang sudah dua tahun bersamanya.


Berkat teman-teman sekelasnya juga lah ia bisa membungkam mulut Rosa yang selalu mencari hal dengannya dan itu hanya dalam hitungan sebulan setelah kepindahan Qania ke IC.


Waktu itu Rosa yang tidak terima kalau Qania dekat dengan Yusuf sekaligus terus di kejar-kejar oleh Julius pun menghampiri Qania di kantin.


"Ini nih pelakor sekaligus munafik. Maruk Lo, udah buat Julius ngejar-ngejar Lo eh sekarang Lo ngasih harapan juga ke Yusuf. Dasar janda kegatalan" cibir Rosa di kantin.


Qania diam menahan amarahnya, ingin sekali ia membungkam mulut Rosa namun ia tidak ingin menambah masalahnya lagi.


"Emang kenapa kalau Qania dekat sama gue, mau protes Lo? Emang Lo siapa?" sarkas Yusuf.


"Gue emang bukan siapa-siapa tapi gue cuma nggak mau Lo jadi korban tebar pesonanya si janda ini" jawab Rosa menahan malu karena ucapan Yusuf tadi.


"Emang Qania penuh pesona kok" timpal Mae.


Rosa mengepalkan kedua tangannya setelah mendengar ucapan Mae.


"Gue nggak ngomong sama Lo Maemunah" ucap Rosa penuh penekanan saat menyebut nama Mae.


"Gue juga nggak ngomong sama Lo Rombongan Sapi" balas Mae tak mau kalah.


"Siapa yang Lo bilang rombongan sapi hah?" bentak Rosa.


"Ya elo lah, nama Lo kan Rosa dan itu singkatan dari rombongan sapi, hahahaha" ejek Mae kemudian ia tertawa.


Qania menggulum senyum, sementara Zakih dan Yusuf yang sedang berad di meja yang sama bersama Qania dan Mae sudah tidak bisa menahan tawa mereka.


"Sialan Lo Maemunah, awas aja lo" geram Rosa kemudian ia pergi meninggalkan kantin tersebut bersama Evi dan Vera dengan menghentak-hentakkan kakinya.


"Hahahaha hebat juga Lo Mae, sampai kesal tuh anak karena ucapan Lo" ucap Zakih masih tertawa.


"Maemunah gitu loh" ucapnya menyombongkan diri.


"Iya deh, yang udah musuhan dari SMA" sindir Yusuf.


"Jadi kalian udah kenal dari SMA?" tanya Qania.


"Hmm, dia emang kayak gitu orangnya. Rasa iri hati udah mendarah daging di tubuhnya. Besok-besok elo harus balas tuh si Rosa kalau ngatain elo macam-macam" ujar Mae kemudian menyendok kan makanannya ke dalam mulut.


"Iya Qan, pokoknya Lo harus lawan tuh si Rosa. Gue tahu Lo pernah buat dia malu tapi kan anaknya nggak kapok-kapok" timpal Zakih.


"Kayaknya emang dia nggak bisa dibungkam hanya dengan hukuman deh Qan, Lo harus galakin tuh si rombongan sapi biar dia kalau lihat elo dari jarak lima meter aja dia udah lari terbirit-birit" sambung Yusuf.


"Gue setuju sama yang dibilang sama Yusuf" ucap Mar.


"Iya Qan, sebaiknya emang kayak gitu" seru Zakih.

__ADS_1


"Hmm, ya bisa dicoba" ucap Qania, sebuah smirk terbit di bibir Qania.


Beberapa hari kemudian, seperti dugaan mereka kalau Rosa pasti akan kembali mengatai Qania yang bukan-bukan. Rosa, Evi dan Vera menghadang jalan Qania yang akan menuju ke perpustakaan kampus bersama Mae.


"Maemunah dan janda terlihat akrab banget ya, emang cocok terlihat jika bersama. Yang satu norak dan yang satu sok tebar pesona" ucap Rosa menyinyiri kedua mahasiswi itu.


Banyak pasang mata yang melirik ke arah Rosa cs dan Qania bersama Mae, meskipun itu agak jauh dari fakultas Hukum, tetapi mereka yang berasal dari fakultas berbeda cukup kenal dengan Rosa dan Qania.


"Terus kalau saya janda yang suka tebar pesona kamu mau apa?" pancing Qania.


"Ya gue nggak suka aja" sahut Rosa, ia tidak tahu harus menjawab apa sebenarnya karena memang ia tidak memiliki alasan yang kuat untuk melarang Qania tebar pesona.


"Ya kalau kamu nggak suka ya nggak usah lihatin saya. Sebenarnya saya curiga kalau sebenarnya kamu itu fans garis depan saya karena dimana ada saya disitu ada kamu juga. Oh ya, akui saja kalau sebenarnya kamu itu paling care sama saya, dari awal masuk kampus kamu selalu perhatikan kehidupan saya dan nggak suka saya ngelakuin ini itu. Atau jangan-jangan kamu itu suka ya sama saya?" ujar Qania mencoba memanas-manasi Rosa.


"Apa Lo bilang, gue suka sama Lo? Lo pikir gue lesbian hah?" bentak Rosa geram.


"Menurut lo? Udah akuin aja Lo suka kan sama gue" sambung Qania.


"Semuanya dengerin gue please! Ini nih si Rosa yang cantik ini ternyata suka loh sama gue, jadi buat kalian yang cowok-cowok hati-hati sama Rosa. Wajahnya aja cantik tapi ternyata dia punya kelainan" teriak Qania.


Rosa memelototkan matanya mendengar teriakan Qania yang sedang menghina dirinya.


"Qaniaaa" teriak Rosa geram, mata Rosa memerah menahan amarahnya.


Sementara Qania, ia hanya tersenyum kecut melihat amarah Rosa begitu pun dengan Mae yang sedang menahan tawanya.


"Yuk Mae, aku nggak bisa lama-lama disini. Takut sama Rosa, biarpun janda tapi aku masih normal kok" ucap Qania berpura-pura merasa ngeri.


Sepeninggal Qania dan Mae, Rosa mengepalkan kedua tangannya dan jika bisa dilihat di kepala Rosa sudah muncul dua tanduk dan asap sudah keluar dari telinganya.


"Nggak nyangka gue ternyata si cantik Rosa itu suka sama Qania" ucap salah satu Mahasiswa.


"Ah iya, pantas saja banyak yang nembak dia tapi nggak dia terima. Ternyata dia sukanya sama Qania" timpal yang lainnya.


"Ah kalian jangan asal bicara, bisa aja kan itu cuma hoax dari Qania" sanggah yang lainnya.


"Gue juga nggak percaya sih kalau Rosa itu suka sejenis",.


"Tapi ya kalau dilihat-lihat dia emang selalu ada dimana Qania ada. Ah gue jadi ngeri sendiri kalau jadi Qania yang disukai sama Rosa. Mendingan gue jomblo daripada harus sama yang sejenis" ucap mereka bergidik ngeri.


Antara geram dan malu, itulah yang tengah dirasakan oleh Rosa. Ia ingin marah namun tidak punya tenaga lagi setelah mendengar nyinyiran dari anak-anak kampus.


'Bangsat Lo Qania, awas aja gue bakalan balas Lo nanti',.


Rosa pun meninggalkan tempat tersebut bersama Evi dan Vera dengan perasaan tak menentu.


....................


Marsya membanting apa saja yang berada di kamarnya, sedari kembalinya dari mall bersama Tristan ia langsung menghancurkan barang-barang yang ada di dalam kamarnya.

__ADS_1


"Arrrggggggg.....",.


"Brengsek, sialan Lo Qania",.


"Gue bakalan bikin perhitungan sama Lo. Beraninya Lo mempermalukan seorang Marsya Alvindo" teriak Marsya sambil menjambak rambutnya sendiri.


Marsya yang tadinya sedang bersandar di dekat lemari pun berjalan ke meja rias dan duduk menghadap cermin.


"Tapi emang benar yang dikatakan Qania kalau gue sama Tristan emang belum bertunangan" lirihnya.


Ditengah kekesalannya, tiba-tiba Marysa menyeringai.


"Akan gue buat pertunangan itu ada" ucapnya menyeringai.


Di luar kamar Marsya, sang papa sedang kalut karena tidak mendapat jawaban dari Marsya. Tadinya ia sangat panik ketika mendengar barang-barang yang pecah dari dalam kamar anaknya itu. Namun kini malah hening seperti tak berpenghuni.


"Marsya sayang, nak ada apa?" panggil papanya dari luar sambil mengetuk pintu kamar putrinya itu.


Tak ada jawaban, hal tersebut semakin membuat papanya resah.


Baru saja tuan Alvindo akan pergi, pintu kamar Marsya terbuka dan terlihat Marsya yang begitu anggun.


"Nak apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau menghancurkan barang-barang di kamarmu?" tanya tuan Alvindo cemas.


Marsya tersenyum manis, penampilannya memang sudah" ia benahi sebelum keluar menemui sang papa.


"Pa, Marsya mau bicara sama papa" ucapnya lembut sembari menarik tangan papanya menuju ke sofa yang ada di dekat kamarnya.


Keduanya pun duduk, Marsya menatap lembut sang papa namun dalam hati rasanya ia ingin menjerit.


"Pa, aku ingin bertunangan dengan Tristan pa" ucap Marsya tiba-tiba.


"Bertunangan? Tapi mengapa tiba-tiba seperti ini?" selidik tuan Alvindo.


"Sebenarnya sudah lama Marsya ingin bertunangan Pa, hanya saja Tristan selalu sibuk. Aku takut ada yang akan mengambilnya dariku" ucap Marsya berpura-pura merajuk.


"Ya sudah, kamu bicarakan saja dengan Tristan. Papa setuju-setuju saja kok. Lagian kalian sudah lama menjalin hubungan, langsung menikah pun papa tidak masalah" ujar tuan Alvindo.


Marsya langsung memeluk sayang papanya.


"Makasih Pa, papa yang terbaik" ucap Marsya girang.


'Benar juga, sebaiknya aku mendesak Tristan agar mau menikah denganku. Membiarkan dia berlama-lama menggantung hubungan ini justru akan memberikan kesempatan pihak ketiga masuk ke kehidupan kami. Aku tidak akan membiarkan Qania Qania yang lain bermunculan dan masuk ke hubunganku dengan Tristan. Aku sudah menjaganya bertahun-tahun',.


...................


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗


Nanti author usahain up lagi ya, author masih sibuk dan doain juga ya urusan author cepat selesai biar cerita Qania up minimal tiga episode per harinya.

__ADS_1


Terima kasih sudah setia menunggu kelanjutan kisah kehidupan Qania.


Love you all 🤗🤗🤗


__ADS_2