
💐 Ruang rapat rektorat
Dosen dari program studi teknik sipil dan rektor beserta jajarannya sudah memasuki ruangan tersebut, diikuti oleh Qania, Abdi, Prayoga, Baron, Rey dan Cika. Rektor, dekan, dan ketua prodi sudah duduk di depan menghadap ke dosen dan mahasiswa yang duduk di kursi peserta rapat.
"Silahkan di mulai pak Haris" pinta pak Bram.
Pak Haris mengangguk.
"Selamat siang saudara-saudara sekalian, yang terhormat rektor dan jajarannya, yang saya hormati rekan-rekan dosen sekalian dan mahasiswa yang saya banggakan....."
"Baiklah, langsung saja saya mempersilahkan mahasiswa kebanggaan saya, Qania Salsabila untuk menyampaikan aspirasinya, silahkan maju" ucap pak Haris panjang kali lebar.
Qania melangkah maju, kemudian dia mengawali dengan salam hormat pada rektor dan jajarannya sampai pada rekan sesama mahasiswa seperti yang di lakukan pak Haris sebelumnya.
"Terima kasih karena kami sudah diberikan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi. Saya tidak akan bisa berdiri disini tanpa dukungan dari saudara-saudara saya srsama mahasiswa, saya pula tidak ingin menyia-nyiakan usaha mereka untuk membela saya, meminta keadilan untuk saya dimana saya adalah korban dari tindak diskriminasi di kampus ini. Saya bukannya berbangga diri, tapi mengingat banyaknya prestasi yang saya terima dan berikan di kampus ini, saya merasa hal ini sangat mustahil jika saya tidak mengikuti ujian final atau pun tidak mengumpulkan kertas ujian saya seperti yang di katakan oleh bu Intan"
Jeda, Qania mengumpulkan oksigen sebanyak mungkin.
"Saya meminta keadilan untuk diri saya. Kita kesampingkan dulu audio tadi, yang menjadi alasan kami mengatakan ini adalah tindak diskriminasi karena saya sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk melakukan ujian susulan atau pun diberi alternatif lain, sama seki tidak. Sementara rekan saya Edo, dia mendapatkan kesempatan yang sama, ini tidak adil. Saya masuk membayar kuliah, saya duduk tenang mendengarkan dosen menjelaskan, saya mengerjakan tugas, saya aktif di perkuliahan, tapi kenapa saya mendapat perlakuan tidak adil seperti ini?" tanya Qania dengan suara lantang tanpa rasa takut sekalipun.
Semua diam..
"Bagus Qania, ini baru mahasiswa saya" batin bu Lira.
"Terima kasih Qania, kamu boleh duduk" ucap pak Haris, ia juga kaget mendengar pengakuan Qania, mahasiswa yang sangat dia banggakan itu sangat tidak masuk akal mendapat nilai C apalagi ini nilainya kosong.
Qania mengangguk kemudian kembali ke tempatnya semula.
"Sekarang jelaskan bu Intan, anda selaku dosen mata kuliah tersebut dan juga ketua prodi" pinta pak Haris, ia menatap tajam ke arah bu Intan, sehingga bu Intan seolah nyalinya menciut karena ditatap seperti itu.
"Atas dasar apa kamu menuduh ibu seperti ini Qania? Kamu punya dendam sama ibu?" bukannya menjelaskan, bu Intan malah mencoba memprovokasi.
"Bu Intan, bu Intan, apa kurang rekaman audio tadi?" kali ini bu Lira turut bersuara, ia sudah geram namun juga meledek rekan sesama dosennya ini.
“Maksud bu Lira apa? Apa hak anda menyuarakan Qania?” Tanya pak Bram.
“Hak saya adalah karena mahasiswa itu adalah asuhan saya, saya dosen walinya” jawab bu Lira dengan tegas.
“Baiklah kalau seperti itu, saya menganggap ibu adalah pembelanya dan ibu berhak mendampinginya” ucap pak Bram.
“Terima kasih pak” ucap bu Lira tanpa tersenyum.
“Sekarang kembali lagi ke bu Intan, silahkan bela diri anda” ucap pak Haris dengan nada mencibir.
__ADS_1
“Saya mau bilang apa lagi pak, saya tetap pada pendirian saya” ucap bu Intan enteng.
“Lalu bagaimana dengan rekaman audio tersebut, bisa ibu jelaskan?” Tanya pak Haris sembari tersenyum kecut.
“Itu bisa saja hanya editan mereka alias rekayasa, atau mungkin itu rekaman dari orang lain” elak bu Intan, ia benar-benar bisa menguasai dirinya meskipun begitu gugup.
“Rekaman editan ibu bilang? Mengatasnamakan Qania Salsabila, mungkin ada banyak di luar sana mahasiswa dengan nama tersebut. Lantas bagaimana dengan percakapan kenaikan jabatan di kampus, tante, papa, sementara kami sangat tahu hubungan anda dengan pak rector seperti apa” Qania dengan berani bertanya hal tersebut, membuat teman-temannya merasa salut padanya begitu pun dengan para dosen, terlebih lagi bu Lira.
“Saya setuju dengan Qania bu, tolong ibu jelaskan hal tersebut” sahut pak Bram.
“Apa yang harus saya jelaskan disini pak, saya tidak merasa melakukan hal tersebut” lagi-lagi bu Intan mengelak.
“Lantas kenapa nilai saya di mata kuliah ibu itu kosong bu? Okelah saya tidak ikut ujian kata ibu, tapi kemana perginya, nilai kehadiran, keaktifan, tugas-tugas kecil dan tugas besar saya bu?” Tanya Qania, saat ini ia sudah tersulut emosi karena orang di depannya ini sama sekali tidak ingin mengakui perbuatannya.
“Kalau ibu masih mengelak, terpaksa saya akan mengeluarkan cara terakhir bu” batin Qania.
“Hah benar bu, apakah di penilaian ibu juga semuanya hilang?” Tanya pak Haris dengan nada mengejek.
“Kenapa saya merasa semua yang ada di ruangan ini seolah memojokkan saya ya?” alih bu Intan.
“Sepertinya ibu memang tidak ingin mengakuinya. Baiklah, ibu sendiri yang meminta kami melakukan ini pada ibu. Sebelumnya kami minta maaf, tapi sepertinya ibu sendirilah yang menginginkannya” ucap Abdi sudah berdiri, ia sudah sangat muak dengan bu Intan yang terus mengelak dan saat ini juga ia berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Lancang kamu, apa yang kamu ingin tunjukkan? Saya harap itu tidak akan membuat kalian malu” ejek bu Intan.
“Sudah Di, beri aja sekarang” ucap Baron sudah tidak sabar, ia sangat geram.
Abdi langsung berjalan, ia mendekati pak Haris.
“Permisi pak, mohon maaf sebelumnya. Saya ingin meminta izin agar bisa menggunakan infocus ini, apakah boleh?” Tanya Abdi dengan sopan.
“Oh tentu, silahkan” jawab pak Haris dengan cepat karena ia juga tidak sabar ingin melihat bukti mereka.
Abdi yang sudah memegang flash disk yang berisi video dari bu Lira langsung mencolokkannya ke laptop, tak lama kemudian di layar besar itu sudah terlihat video dimana bu Intan yang masuk ke ruangannya di ikuti oleh Larasati. Mengenai percakapannya, sama persis seperti rekaman audio yang tadi di putarkan oleh Qania di luar ruangan. Di sana juga terlihat bu Intan menyobek kertas ujian milik Qania sambil tertawa.
Semua dosen termasuk rector kampus itu terbelalak melihat video tersebut, apa lagi pak Bram yang merasa begitu malu dengan perbuatan anak dan adiknya itu.
“Masih mau mengelak bu?” Tanya pak Haris menyindir.
Bu Intan diam, ia tertunduk malu. Ia tidak menyangka kalau perbuatannya meninggalkan jejak yang akhirnya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
“Tidak bisa jawab bu?” sindir pak Haris, ia tersenyum kecut kea rah bu Intan yang diam membisu.
“Sudah, sudah. Bapak minta kalian tolong keluar dulu, saat ini kami akan mengadakan rapat untuk dosen. Nanti akan saya panggil kembali, silahkan kalian tunggu di luar" ucap pak Bram frustasi, namun ia mencoba untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Baik pak kami permisi dulu" ucap mereka kemudian keluar bersamaan.
............
💐 Di kafe
Arkana sedang kesal karena Qania sama sekali tidak menghubunginya dari tadi pagi. Ponselnya pun tidak aktif, seperti biasa, segala hal buruk pasti langsung terbayang di pikirannya.
Sementara Arkana sedang gelisah, Fero buru-buru datang ke ruangan Arkana.
"Kenapa lo, kayak orang di kejar setan?" tanya Arkana dengan ketus.
"Gue mau nunjukin lo ini" ucap Fero sambil menyodorkan ponselnya.
"Apaan nih?" tanya Arkana mengangkat sebelah alisnya.
"Nonton aja dulu, lagi live ini" ucap Fero ikut duduk bersama Arkana.
Arkana terbelalak, ia kaget melihat aksi Qania dan teman-temannya, mulai dari jalan sampai di kampus. Di tambah lagi Qania terlihat sangat keren, senyum tergambar di wajah Arkana.
"Jadi ini rapat mereka dari kemarin, pantas nggak ngasih tahu" gumam Arkana masih senyam-senyum melihat Qania yang tengah memimpin lagu Teknik Rap itu.
"Senang kan lo" sindir Fero.
"Iya iya, gue akuin lo nggak sia-sia ngasih gue ini" ucap Arkana sambil terus memandangi ponsel Fero.
"Udah belum?" tanya Fero.
"Nih udah, thanks bro" Arkana menyodorkan ponsel tersebut.
"Welcome" jawab Fero sambil meraih ponselnya itu.
"Dia gadis gue, banyak hal tak terduga darinya. Dan semua itu membuat gue semakin kagum padanya. Ternyata gue nggak salah mendaratkan hati gue ke dia" gumam Arkana, dia nampak begitu senang.
"Hah bucinnya kambuh" kata Fero meledek Arkana.
"Gue memang bucin. Makanya lo nyari pacar gih" Arkana balik meledek Fero.
"Hah tau ah, gue balik kerja dulu" ucap Fero kemudian pergi.
Arkana acuh saja, ia kembali memikirkan Qania sambil senyam-senyum seperti orang gila.
"Dia gadisku, milik Arkana Wijaya" gumamnya kemudian membaringkan tubuhnya di sofa lalu ia menutup matanya.
__ADS_1
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...