
“Kau tidak ingin bertanya tentangku?” Tanya Tristan.
“Aku bukan orang yang suka mencari tahu tentang kehidupan orang lain, toh bukan urusanku juga, kan?” Jawab Qania menoleh pada Tristan kemudian kembali menatap lurus pada hamparan laut yang entah dimana ujungnya.
Tristan mencebikkan bibirnya. Ia kadang tidak bisa mengerti sikap Qania yang kadang begitu bersahabat, sangat manis dan manja, namun bisa juga menyebalkan, datar dan dingin di waktu yang bersamaan. Ia kesulitan menebak kepribadian Qania dan itu kadang membuatnya tersenyum dan tertohok disaat yang bersamaan.
Tidak terasa mereka sudah menghabiskan waktu beberapa jam di pantai, sinar mentari pun sudah tidak sepanas tadi serta pengunjung pantai pun semakin ramai karena hari sudah semakin sore. Saat keduanya tengah sibuk membahas masa-masa awal perkenalan mereka, datang pengamen kecil yang berusia sekitar dua belas tahun dengan membawa gitar kecil ke hadapan mereka.
“Permisi kakak-kakak, saya ingin bernyanyi,” ucapnya ramah.
“Gimana kalau kamu yang menyanyi buat aku, Tristan?” pinta Qania.
“Tentu. Apa aku boleh menyewa gitarmu ini?” Tanya Tristan pada pengamen kecil itu.
“Ta-tapi saya harus bekerja, Kak?” jawabnya lirih.
Tristan mengeluarkan dompetnya, kemudian memberikan uang pecahan seratus ribu beberapa lembar kepada pengamen kecil tersebut.
“Cukup, nggak?” Tanya Tristan menyodorkan uangnya.
“I-ini sangat banyak, Kak,” ucapnya gemetaran antara senang dan juga gugup.
“Untukmu. Kau boleh beristirahat sekarang, nanti aku akan mengembalikan gitarmu,” ucap Tristan.
“Terima kasih, Kak. Aku mau membantu temanku yang lainnya dulu, nanti gitarnya letakkan disini saja ya,” ucapnya kemudian berlari kegirangan.
Tristan dan Qania tertawa melihat anak tersebut yang sempat terjatuh karena berlari dengan tidak hati-hati sambil bersorak.
“Ekhhmm … tes-tes ….”
“Nggak usah ngetes suara juga kali, nyanyi mah ya tinggal nyanyi aja,” cibir Qania.
“Hehehe …. Aku nyanyi nih. La … lala … mau bilang cinta tapi takut salah, bilang tidak ya, bilang tidak ya. Mau bilang sayang tapi bukan pacar, tembak tidak ya, tembak tidak ya ….”
Tristan memetik gitar dengan menyanyikan sepenggal lagu tersebut sambil menatap menggoda pada Qania. Wajah Qania memerah, diperlakukan seperti itu oleh Tristan membuat Qania malu.
“Ciee … baper nggak, Qania?” Goda Tristan.
“Apa sih, nyanyinya yang serius dong,” ucap Qania berpura-pura kesal.
“Iya-iya, aku bakalan nyanyi dengan serius, seserius aku ke kamu,” ucap Tristan terus menggoda Qania, ia menyukai wajah Qania yang merona itu.
Jrengg …
Bidadari tak bersayap datang padaku
Dikirim Tuhan dalam wujud wajah kamu
Dikirim Tuhan dalam wujud diri kamu
Sungguh tenang ku rasa saat bersamamu
Sederhana namun indah kau mencintaiku
Sederhana namun indah kau mencintaiku
Sampai habis umurku, sampai habis usia
Maukah dirimu jadi teman hidupku
Kaulah satu di hati, kau yang teristimewa
Maukah dirimu hidup denganku
Katakan yes I do, jadi teman hidupku
Katakana yes I do, hiduplah denganku
Jadi teman hidupku
Tristan bernyanyi dengan terus menatap Qania dan sesekali tersenyum menatap Qania yang juga ikut bernyanyi bersamanya. Namun tanpa keduanya sadari, dibelakang mereka ada seseorang yang sedang menutup mulutnya dengan tangannya serta matanya yang sudah berkaca-kaca.
“Qania … Tri-Tristan bisa nyanyi? Su-suaranya juga sangat merdu dan dia bisa bermain gitar. Lalu mengapa waktu aku memintanya untuk bernyanyi untukku dia bilang kalau dia nggak bisa nyanyi? Ak-aku harus bagaimana sekarang?”
Marsya, ia melihat semuanya dengan jelas bagaimana Tristan dan Qania dari tadi mengobrol dengan sangat akrab dan juga jika diperhatikan mereka terlihat seperti pasangan serasi dan mesra. Ia menepuk dadanya yang terasa begitu sesak, ia tadi sedang bersama teman-temannya dan tidak sengaja melihat Tristan sedang membeli dua buah ice cream, namun ia urungkan karena ingin tahu Tristan sedang bersama siapa dan akhirnya ia memilih diam menjadi penonton bagaimana dua insan tersebut begitu mesra.
“Kamu harus jelasin ini ke aku, Tris,” isak Marsya sambil terus menatap Tristan dan Qania yang sedang bernyanyi bersama.
Tristan menyudahi lagunya kemudian meletakkan gitar tersebut di sampingnya, lalu ia menatap Qania yang kini sedang menatapnya juga.
“Katakan yes I do,” ucap Tristan dengan tatapan penuh harap.
“Ini masih bagian dari lagu?” Tanya Qania bingung.
Tristan mengangguk kemudian menggeleng lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
‘Sial, kenapa gue jadi segugup ini ditatap oleh Qania.’
Qania mengernyit menatap Tristan yang menurutnya aneh, ia kemudian mengibaskan tangannya di depan Tristan, ia takut Tristan kerasukan karena hari mulai menjelang magrib dan warna jingga pun sudah memperindah langit.
“Tristan?”
“Eh … i-iya Qania, ada apa?”
“Nggak, aku mau minjam gitarnya. Aku mau nyanyi juga,” ucap Qania mengalihkan, dalam hati ia bersyukur karena pria di depannya ini ternyata tidak kerasukan.
__ADS_1
“Kamu yang nyanyi aku yang iringi, gimana?” Usul Tristan kemudian mengambil gitar dan meletakkannya di pangkuan.
“Boleh, aku mau nyanyi lagunya Sixpence None the Richer yang judulnya Kiss Me.”
Tristan mengangguk, kemudian mulai memetik gitarnya.
Kiss me, out of the bearded barley
Nightly, beside the green, green grass
Swing, swing, swing the spinning step
You wear those shoes and I will wear that dress
Oh, kiss me, beneath the milky twilight
Lead me out on the moonlit floor
Lift your open hand
Strike up the band and make the fireflies dance
Silver moon sparkling
So kiss me
Qania menyudahi lagunya kemudian menatap Tristan dengan tatapan penuh kerinduan, ia begitu merindukan Arkana. Biasanya ia akan menghabiskan waktu di pantai dengan Arkana yang selalu bernyanyi untuknya dan melakukan hal sederhana namun romantis hingga matahari terbenam. Biasanya ia akan duduk di depan Arkana dan Arkana akan memeluknya dari belakang.
Tristan yang melihat Qania terus menatapnya pun langsung meletakkan gitar di atas pasir. Ia melihat tatapan sendu Qania dengan mata berkaca-kaca. Ia pun merubah posisi duduknya mengahadap ke Qania. Ia tahu saat ini Qania pasti tengah merindukan Arkana. Tristan pun memegang kedua bahu Qania dan menggerakkan tubuh Qania agar duduk berhadapan dengannya. Ia kemudian membawa Qania masuk ke dalam pelukannya.
“Menangislah, jangan ditahan. Aku siap menjadi sandaranmu, Qania. Maafkan aku juga karena wajah ini sudah membuatmu kembali mengingat luka lamamu,” lirih Tristan.
Qania terisak di dada Tristan, ia memeluk erat tubuh Tristan menumpahkan segala perasaannya. Tristan pun memeluk erat tubuh Qania, ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh Qania. Dadanya begitu sesak melihat Qania menangis seperti ini.
Setelah cukup lama berada dalam pelukan Tristan, Qania pun melepaskan pelukannya dan menatap Tristan sambil menghapus air matanya.
“Maaf, aku sangat cengeng,” kekeh Qania namun air matanya tidak mau berhenti mengalir.
Tristan tersenyum getir, kemudian ia menarik tangan Qania yang sedang menyeka air matanya. Tangan Tristan terulur untuk menghapus air mata Qania dan Qania diam saja sambil menikmati wajah Tristan.
Keduanya pun terdiam, dan entah dorongan dari mana Tristan perlahan memajukan wajahnya mendekati wajah Qania dan dalam hitungan detik ia berhasil menempelkan bibirnya pada bibir Qania. Karena merasa tidak ada penolakan dari Qania, ia kemudian melanjutkan ciumannya menjadi ******* lembut dan Qania pun terbuai dengan ciuman lembut Tristan. Dengan ditemani matahari yang juga terbenam keduanya menikmati ciuman tersebut dengan pagutan yang begitu lembut dan hangat bahkan dalam durasi yang cukup lama.
Air mata tumpah membasahi pipi Marsya menyaksikan kekasihnya sedang berciuman dengan wanita lain di hadapannya dan pagutan tersebut begitu panas dan cukup membakar hatinya. Ia menutup mulutnya dengan tangan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena sudah tidak tahan lagi akhirnya Marsya memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut.
Qania memelototkan matanya disela-sela ciumannya bersama Tristan, kemudian ia mendorong dengan kuat tubuh Tristan saat bibir keduanya masih menempel.
“Ma-maaf Qania, maafkan aku,” mohon Tristan yang begitu panik ketika Qania mendorong tubuhnya.
“Qania, hei maafin aku. Sumpah aku nggak sengaja ….”
“Ayo kita pulang, aku harus bersiap untuk berangkat ke lokasi KKN lagi. Semoga kita bisa bertemu lagi setelah ini jika Tuhan mengizinkan,” ucap Qania dingin kemudian segera beranjak dari tempat mereka duduk meninggakan Tristan yang terdiam sambil menatap punggung Qania yang terus menjauh.
Tristan berdiri untuk menyusul Qania, ia bisa melihat dari bahu Qania yang naik turun itu menandakan bahwa saat ini Qania sedang menangis. Saat ia ingin berlari, ponselnya berbunyi dan itu adalah telepon dari Marsya.
“Hallo Sya.”
“Tris, kita bertemu malam ini di kafe kamu ya.’
“Iya, setengah jam lagi kita akan bertemu.”
“Oke, bye.”
Tristan menyimpan ponselnya ke dalam saku kemudian ia berlari menyusul Qania. Ia mendapati Qania yang sedang mengenakan helm. Tristan menjadi canggung terhadap Qania, namun ia terkejut karena Qania bahkan sudah tersenyum kepadanya seolah tidak terjadi sesuatu.
“Yuk pulang, aku udah gerah mau mandi,” ajak Qania dengan nada bicara yang begitu santai.
“Qania, aku ke kafe dulu. Kamu pulang saja ke rumahku, kita bertemu di rumahku nanti dan aku yang akan mengantarmu besok ke lokasi KKNmu,” ucap Tristan sambil memakai helmnya.
Qania hanya mengangguk, kemudian dengan cepat Tristan naik ke atas motor diikuti oleh Qania. Keduanya pun meninggalkan pantai tersebut.
. . .
Tristan memarkirkan motor di parkiran samping, ia turun bersama Qania. Ia menatap dari atas sampai bawah, kemudian menggelengkan kepalanya.
“Kamu nggak mungkin bawa motor dengan pakaian seperti ini Qania. Biar aku antar kamu dulu deh,” ucap Tristan merasa resah.
“Udah, aku bisa kok. Lagian aku tuh pakai celana juga. Kamu mendingan masuk dan siap-siap deh, kan mau bertemu orang,” ucap Qania meyakinkan Tristan.
Setelah dipaksa akhirnya Tristan pun menurut dan langsung masuk begitu Qania menyuruhnya.
Baru saja ia akan pergi, ponselnya berdering dan ia pun menjawab telepon dari Zakih.
Sementara itu, Tristan yang buru-buru masuk ke dalam ruangnya terperanjat kaget melihat Marsya yang sedang duduk di kursinya sambil menatap tajam kepadanya. Tristan pun berjalan mendekati Marsya yang kini sudah berdiri dan berjalan menuju ke sofa.
“Sya, kamu dari tadi disini?” Tanya Tristan saat mereka sudah duduk bersama.
Marsya tersenyum kecut, ia sudah tidak kuasa lagi menahan air matanya.
“Sudah. Bahkan sudah cukup lama menyaksikan bagaimana kau dan Qania beromatis ria di pantai,” teriak Marsya membuat Tristan membelalakkan matanya.
__ADS_1
“Ka-kau melihatnya?” Tanya Tristan panik.
“Ya, aku melihatnya. Aku melihat bagaimana kau bernyanyi untuknya dengan begitu romantis. Aku melihat bagaimana kau memeluknya dan aku juga melihat bagaimana kalian berciuman dengan begitu panas. Aku melihatnya TRISTAN,” teriak Marsya.
“Kau bahkan mengaku padaku kalau kau tidak pandai bernyanyi, hahahaha. Kau bahkan tidak pernah menciumku seperti itu. kau … kau selingkuh dariku, hiksss.”
“Sya, nggak gitu ceritanya, aku bisa jelasin,” bujuk Tristan sambil memegang bahu Marsya.
“Apa lagi yang ingin kau jelaskan Tris? Aku sudah melihatnya sendiri. Kau ingin meninggalkanku, iya?”
“Sya, dengerin dulu aku ngomong.”
Sementara itu, diluar Qania buru-buru masuk dengan ponsel yang masih menempel di tangannya.
“Iya Zak, urusannya udah kelar dan besok aku bakalan pulang,” ucap Qania.
“Nggak bisa besok, Qan. Tim Universitas bakalan datang survey kita. Kamu minta tolong ke Tristan buat nganterin kamu,” ucap Zakih.
“Iya-iya, ini aku mau ngomong ke dia.”
“Sya, aku itu nggak ada apa-apa sama Qania. Aku tuh mendekati dia hanya untuk memanfaatkannya saja. Kamu tahu kan masalah proyek itu, jadi yang tahu proyek itu bermasalah adalah Qania. Jadi mau tidak mau aku menyusun rencana agar aku bisa mendekati Qania dengan berpura-pura menyukainya. Dan sekarang aku berhasil, pekerjaanku aman dan Qania sepertinya mulai menyukaiku. Dia bahkan yang membereskan masalah tersebut tanpa aku bersusah payah untuk mengurusnya. Kamu harus percaya padaku Sya, aku hanya sayang dan cinta sama kamu,” ucap Tristan meyakinkan Marsya.
“Benar begitu?” Tanya Marsya memastikan.
“Tentu saja, aku cuma sayang dan cinta ke kamu Sya. Qania hanya alat untukku membereskan masalah ini. Toh dia juga besok bakalan balik lagi dan kita nggak akan bertemu lagi dengannya, kamu nggak usah khawatir lagi ya,” bujuk Tristan.
“Baiklah kalau gitu aku perca ….”
Braakk …
Nampan berisi makanan dan minuman yang dibawah oleh pelayan kafe tersebut terjatuh dan berserahkan di lantai saat Qania menabraknya. Qania menutup mulutnya, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
“Nggak, nggak mungkin Tristan hanya manfaatin aku doang,” ucap Qania kemudian berlari keluar.
Dengan berlinang air mata Qania berlari menuju motornya dan langsung naik setelah mengenakan helmnya.
Tristan keluar dari ruangannya untuk memeriksa sumber keributan tadi dan meminta Marsya untuk menunggunya di dalam. Ia pun melihat pelayan sedang membersihkan lantai.
“Kenapa bisa jatuh begini?” Tanya Tristan dengan wajah datarnya.
“Ma-maaf boss, tadi nona yang datang bersama anda tidak sengaja menabrak saya,” jawab pelayan wanita itu dengan takut-takut.
“Nona?” beo Tristan, namun beberapa saat kemudian ia langsung membelalakkan matanya.
“Maksud kamu Qania?” Tanya Tristan panik.
“I-iya tuan,” jawabnya.
Tristan mengusap kasar wajahnya, ia khawatir kalau Qania mendengar obrolannya bersama Marsya.
Sementara itu, Qania yang sedang dikuasai oleh rasa sakit hatinya tanpa melihat situasi jalan langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, hingga saat ia keluar dari halaman kafe ia tidak melihat ada truck yang datang dari arah berlawanan dengannya dan ia tidak sempat mengerem hingga terjadilah tabrakan yang mengakibatkan Qania terlempar dari motornya hingga ke depan gerbang kampus. Bahkan ponselnya yang menempel di telinganya ikut terlempar dan hancur dilindas oleh ban truck tersebut yang akhirnya menabrak pohon.
Suara tabrakan tersebut hingga mengejutkan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya bahkan pengunjung kafe tanpa terkecuali Tristan yang sedang panik pun ikut terkejut.
Beberapa mahasiswa yang keluar dari halaman kampus pun mendekati tubuh Qania yang terkapar dengan darah yang sudah mengalir di aspal. Salah satu dari mereka memberanikan diri untuk membuka helm Qania dan begitu helmnya terbuka ia langsung terkejut karena melihat wajah Qania yang sudah dipenuhi darah.
“Qania, i-ini Qania. To-tolong bantu aku membawanya ke mobilku,” ucap Julius panik, dengan cepat ia mengangkat tubuh Qania dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
Air mata Julius terus menetes saat menyetir, ia sesekali melihat keadaan Qania yang sangat parah. Ia mengumpat saat harus terjebak lampu merah. Ia pun mengambil kesempatan untuk menelepon Lala untuk memberitahukan kabar Qania.
“Ha-hallo La, lo dimana?” Tanya Julius begitu Lala menjawab telepon darinya.
“Gue di kost, ada apa?”
“Cepat lo datang ke rumah sakit kota, Qania kecelakaan di depan kampus dan sekarang gue dalam perjalanan buat ngantar dia ke sana.”
“Appaaa? Ta-tapi kak Qania lagi di lokasi KKN.”
“Gue serius dan sekarang lo kesana, gue bentar lagi nyampe.”
Tanpa menunggu jawaban Lala, Julius pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil sesekali melirik ke belakang dimana ia membaringkan tubuh Qania.
“Gue mohon bertahan Qan, lo pasti kuat.”
Tristan berlari keluar saat mendengar suara tabrakan, perasaannya tiba-tiba jadi tidak enak. Ia pun melihat motor yang sangat ia hapal siapa pemiliknya tergeletak di jalan dengan kondisi yang hancur parah. Perasaan Tristan semakin tidak karuan, ia pun memutuskan untuk bertanya.
“Si-siapa yang kecelakaan?” Tanya Tristan pada mahasiswa yang masih berdiri di depan gerbang kampus.
“Qania Salsabila, mahasiswi fakultas Hukum,” jawab salah satu dari mereka.
Jantung Tristan seolah berhenti berdetak begitu mendengar nama Qania disebut.
“La-lalu dimana dia sekarang?”
“Sudah dibawa temannya yang bernama Julius ke rumah sakit, tapi kita nggak tahu rumah sakit mana.”
Tristan segera berlari ke kafenya, ia berpapasan dengan Marsya yang juga akan pulang.
“Kamu dari mana?” Tanya Marsya sedikit curiga.
“Aku mencari tahu siapa yang kecelakaan tadi, tapi katanya mereka nggak kenal,” ucap Tristan berbohong.
“Oh, ya udah aku balik ya, Tris,” pamit Marsya dengan secepat kilat ia mengecup bibir Tristan membuat Tristan memelototkan matanya.
Marsya dengan cepat masuk ke mobilnya, meninggalkan Tristan yang tengah mengepalkan kedua tangannya. Tatapannya kali ini sangat sulit untuk diartikan.
“Hanya Qania Salsabila yang aku izinkan untuk menyentuh bibirku,” ucapnya geram kemudian menghapus bekas ciuman Marsya di bibirnya dengan kasar.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗😊