
Sikap Tristan malam ini membuat Qania tak tega. Sebenarnya Qania tidak begitu marah dengan ucapan Tristan kemarin. Ia mewajarkan itu semua karena ia sadar betul ia yang salah dalam situasi ini. Marahnya Tristan tidak sebanding dengan apa yang sudah ia lakukan. Ia menyadari kejahatannya pada Tristan yang mengakibatkan pria itu sakit hati. Namun demi kebahagiaan Arqasa, Qania lebih baik dalam situasi ini saja.
Qania hanya bisa menghela napas mendapat runtutan pesan dari Tristan. Ia kasihan namun juga tidak ingin memberi harapan lebih. Besok setelah persidangan berakhir maka ia akan kembali dan memulai hidup baru bersama keluarga kecilnya.
Ya, Qania sudah bertekad ingin membangun dunianya bersama Arqasa dan tidak perlu memasukkan pria yang ingin menjadi pengganti Arkana mereka.
Akhirnya Qania memilih tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Di rumahnya Tristan tidak bisa menahan laju air matanya. Ia benar-benar menyesal sudah berkata demikian. Ia mengingat kembali kejadian kemarin. Ucapannya dan ucapan Qania terngiang-ngiang di telinganya.
Tristan terduduk dan bersandar di sandaran ranjangnya, menyeka air matanya. Wajahnya nampak berpikir.
“Tunggu dulu, apa maksud Qania? Mayat itu bukan Arkana? Jadi makam itu bukanlah makam Arkana? Itu berarti bisa jadi Arkana masih hidup dan atau sudah tiada namun entah dimana makamnya.”
Tristan menghembuskan napas frustrasi. Ia menjambak rambutnya sendiri.
“Jika benar, berarti alasan ini yang membuat Qania mencari tahu tentangku. Qania tidak sepenuhnya bersalah. Dia, dia hanya ingin kepastian. Oh Tristan, kenapa Lo gegabah banget sih?! Harusnya Lo kemarin tanya dan bicara baik-baik, bukan memaki.”
Tristan semakin frustrasi dan ia pun tidak tahu kenapa ia tidak bisa membendung air matanya. Mengingat besok Qania akan pulang dan entah kapan akan kembali lagi kesini membuat ia semakin menangis pilu.
“Gue nggak tahu kenapa, tapi rasanya sakit banget,” tangis Tristan. Ia seperti anak kecil yang menangis tersedu-sedu.
Pagi pun kembali hadir, hari yang paling ditunggu keluarga Pak Erlangga, Pak Herman dan Pak Jayadi. Terutama Aarav, karena jika terbukti tuan Alvindo dan Pak Handoko bersalah maka Pak Nizar akan dibebaskan dari segala tuntutan dan bisa kembali beraktivitas seperti dulu di alam bebas.
Pak Jayadi dan Aarav menikmati sarapan mereka di rumah Pak Erlangga dengan senang hati.
Pak Herman pun tengah sarapan dengan keluarganya dan ia memberitahukan berita ini kepada Ibu dan istrinya.
“Bu, Sezha, hari ini mari ikut ke pengadilan,” ucap Pak Herman kemudian menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Ibunya dan sang istri menoleh heran.
“Hari ini putusan sidang untuk pelaku pembunuhan Jorgi akan dilaksanakan. Mari kita lihat hukuman seperti apa yang akan diterima oleh mereka yang sudah membunuh adik kesayanganku itu,” ucap Pak Herman yang paham dengan raut wajah bingung kedua wanita yang paling ia sayang.
Sendok di tangan Ibunya terlepas bersamaan dengan bulir bening yang berhasil lolos dari kedua mata tuanya. Pak Herman tanggap dan segera berdiri lalu memeluk Ibunya dari belakang.
“Herman, adikmu ....”
“Herman selama ini bekerja untuk menemukan pelaku pembunuhan Jorgi, Bu. Aku tidak menyangka akan datang juga hari ini, Bu. Ada keluarga yang mau membantu kita untuk mendapatkan keadilan. Mari kita lihat bersama, satu jam lagi sidangnya akan dilaksanakan,” ucap Pak Herman lirih.
“Mas, Jorgi ... dia, dia akan mendapatkan keadilan, Mas?” tanya Sezha terbata menahan isakannya.
“Iya, Zha. Mari kita pergi melihat. Sebelum itu habiskan sarapan ini dan setelahnya bersiap-siap,” ucap Pak Herman.
Sang Ibu masih dalam tangisnya. Ia tidak menyangka keadilan itu datang juga. Rasa sakitnya melihat putra bungsunya pulang dengan keadaan tak bernyawa dan begitu mengenaskan masih begitu terasa. Dadanya kini begitu sesak. Ia yang dulu berusaha ikhlas kini kembali membuka luka lama.
“Ibu akan makan dan bersiap. Ibu ingin melihat siapa dalang dari kematian Jorgi,” ucap Ibunya masih dengan sisa tangisnya mencoba menyantap makanan yang terasa begitu pahit untuk ditelan.
__ADS_1
Pak Herman mengusap punggung Ibunya kemudian ia kembali makan.
Di tempat lain, tak ada sarapan pagi, hanya sekeranjang bunga yang kini tengah ia taburi di atas makam. Sepagi ini asisten Revan datang berkunjung ke makam Kakaknya.
“Kak, hari ini akhirnya tiba juga. Aku berharap dia yang sudah membuatmu berada di tempat ini akan mendapatkan hasil yang setimpal. Aku harap setelah ini, baik aku maupun kakak bisa berbahagia di tempat kita masing-masing. Aku pamit Kak, aku akan segera ke pengadilan. Nanti aku akan kembali lagi untuk memberitahukan hasil persidangan,” ucap lirih asisten Revan, ia pun kembali ke mobilnya lalu ia menuju ke pengadilan yang jaraknya sangat jauh dari makam ini.
Tristan membasuh wajahnya di wastafel. Ia bisa melihat dari pantulan cermin matanya begitu sembab dan bengkak. Ia hampir saja lupa hari ini adalah sidang untuk tuan Alvindo dan Pak Handoko jika saya Marsya tidak meneleponnya berulang kali.
Tristan pun mandi dan tak lama kemudian ia keluar dan memakai pakaiannya. Waktu sarapan sudah terlewat namun Bi Ria tetap menyediakannya untuk Tristan. Ia bisa melihat majikannya ini tengah berada dalam kesedihan. Namun ia tak berani bertanya. Hanya diam dan mengamati dari dapur bagaimana makanan itu begitu sulit masuk ke dalam mulut Tristan.
Semoga beban hidup Den Tristan segera diangkat dan bisa menemukan kebahagiaannya, batin Bi Ria.
Marsya sudah gelisah menunggu kedatangan Tristan. Ia tidak ingin terkena macet dan terlambat datang ke pengadilan. Ia melirik jam tangannya, lalu melihat ponselnya lagi.
“Bagaimana ini, sekarang pasti sidangnya sudah dimulai. Sebaiknya aku datang sendiri saja dan biarkan Tristan menyusul,” ucap Marsya kemudian ia keluar dari kamarnya dan akan menyetir mobilnya sendiri.
Di pengadilan, hakim baru saja membuka sidang hari ini. Pihak penuntut terlihat tenang, berbeda dengan pihak yang dituntut, terutama Pak Handoko yang seperti tidak memiliki semangat hidup lagi. Istrinya pun berusaha tegar untuk tetap mendampinginya. Hanya anaknya saja yang tidak datang karena sedang bersekolah di kota berbeda dan tinggal bersama orang tua istrinya.
Hakim mulai membacakan pengantar hasil keputusan mereka bersama berdasarkan laporan dan bukti yang ada. Terlihat jelas tuan Alvindo sangat tenang, lebih tepatnya terlihat begitu pasrah dengan keadaan.
Di jalan Tristan terus saja mengumpat karena ban mobilnya kempis dan ia tidak ada waktu lagi untuk mengganti bannya. Ia pun menelepon Marsya.
“Tris kamu dimana? Aku baru saja sampai.” Marsya baru saja sampai di parkiran dan melihat ponselnya berdering, ada panggilan dari Tristan.
“Sya, aku masih di jalan. Aku pikir kamu belum sampai, aku baru saja ingin memintamu menjemputmu. Ban mobilku kempis,” ucap Tristan setengah frustrasi.
“Kamu masuk saja dulu, aku akan mencari taksi atau ojek,” ucap Tristan sambil melirik ke kiri dan kanan.
“Baiklah. Aku masuk duluan,” ucap Marsya kemudian ia turun dari mobil.
. . .
“Mencocokkan dengan bukti dan fakta dilapangan, maka dengan ini kami menyatakan bahwa saudara Nizar tidak bersalah dan ia dibebaskan dari tuntutannya.”
Mendengar ucapan tersebut Pak Jayadi dan Aarav saling berpelukan dan menangis haru, begitu pun dengan Pak Nizar yang berada tak jauh dari mereka. Ia langsung bersujud syukur.
Di luar Marsya tengah membujuk penjaga agar mengizinkannya masuk.
“Pak, tolong izinin saya masuk. Saya Marsya Alvindo, anak tunggal Pak Alvindo. Saya ingin melihat Papa saya. Jika tidak percaya lihatlah KTP saya,” ucap Marsya membujuk penjaga lalu menunjukkan kartu identitasnya.
Penjaga itu menerima dan melihatnya sebentar lalu mempersilahkan Marsya untuk masuk.
Marsya begitu degdegan saat memasuki ruang sidang. Ia mengedarkan pandangan dan bisa melihat Papanya duduk di depan sementara hakim terus membacakan sidang putusannya.
__ADS_1
“Selanjutnya kasus pembunuhan saudara Jorgi dan saudara Sudirman pun menyesuaikan dengan bukti yang ada, maka tuntutan dari pihak korban kami terima dan akan menjatuhkan hukuman kepada pelaku.”
“Dan yang selanjutnya, kasus pengancaman, penganiayaan, hingga rencana pembunuhan untuk jurnalis yang bernama Angga alias saudara Tristan Anggara yang mana dari keseluruhan kejadian yang berujung pada kematian para korban dilakukan oleh saudara Alvindo dan Handoko, menurut bukti yang ada dan penyelidikan di lapangan maka dari itu kami memutuskan pelaku akan mendapatkan hukuman dua puluh tahun penjara.”
Begitu hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali, Marsya berdiri mematung dengan air mata yang tak bisa ia bendung. Ia mendapat kabar yang membuatnya seolah disambar petir.
“Ja-jadi ternyata Papa yang sudah bunuh Tristan Pa? Papa pelakunya? Papa yang sudah membunuh calon suamiku?”
Ucapan lirih itu membuat semua yang hadir di ruang sidang menoleh ke belakang. Tuan Alvindo begitu kaget mendapati putrinya berdiri sambil menatap penuh tanya padanya. Ia segera berlari dan berlutut di kaki putrinya itu.
“Maafkan Papa, Sya. Maaf,” Isak tuan Alvindo.
Marsya mundur, ia tak ingin disentuh oleh Papanya sendiri.
“Jadi benar Pa? Benar apa yang aku dengar ini? Papa lah orang yang sudah merencanakan pembunuhan terhadap Tristan? Papa tahu sendiri aku dan Tristan begitu saling mencintai sejak kami remaja, Pa. Papa begitu mendukung hubungan kami dan lima tahun lalu pun Tristan sudah melamar Marsya kepada Papa dan Papa menerimanya. Papa tahu aku sangat mencintai Tristan, hiks. Dan Papa sendiri yang melihat kehancuranku saat itu. Aku tidak menyangka kalau Papa lah dalang dari semuanya. Harusnya Papa bukan hanya dihukum dua puluh tahun penjara tapi bila perlu seumur hidup Papa.
“Hahaha, aku merasa menjadi anak paling bodoh di dunia. Papaku yang kupikir lelaki terbaik justru ternyata kamu lah yang membunuhku. Kau tahu seperti apa cintaku pada Tristan dan kau, kau merenggutnya dariku. Kau tega, kau kejam, kau bukan manusia Pa. Kau begitu jahat pada anakmu sendiri. Aku membencimu!!”
Marsya berlari keluar dari ruang sidang, tak peduli Papanya terus memanggil namanya dengan semua penyesalan dan rasa bersalahnya.
“Marsya, maafin Papa, Nak. Semua diluar kendali Papa,” tangis tuan Alvindo yang masih berlutut meneriaki nama anaknya.
Disisi lain, ada keluarga yang menangis haru karena kembali berkumpul dengan keluarganya. Ada yang lega karena keadilan akhirnya datang pada mereka. Pun Bu Maharani kembali terisak pilu melihat kehancuran Marsya yang ternyata merupakan kekasih Angga dan selama ini ia dibodohi oleh Papanya sendiri.
Papa Setya hanya bisa melihat dan turut merasakan kebahagiaan para korban yang sudah ia bantu. Ia mendekat asisten Revan yang datang hanya seorang diri.
“Apa rencanamu setelah ini?” tanya Papa Setya.
“Saya belum tahu, Pak,” jawab asisten Revan pelan.
“Ini kartu namaku. Kau bisa menghubungiku jika kau membutuhkan pekerjaan. Saya memiliki banyak bidang usaha dan hampir di seluruh pulau Sulawesi. Saya pun tidak memiliki banyak orang kepercayaan yang membantuku. Jika kau ingin, maka saya sangat berharap kau bisa bergabung denganku,” ucap Papa Setya sambil memberi kartu namanya.
Asisten Revan menerimanya, kemudian ia berkata, “Terima kasih banyak, Pak. Saya pasti akan segera menghubungi Anda setelah urusan saya disini selesai. Lagi pula saya sebatang kara dan tujuan saya bekerja pada Pak Handoko hanya untuk mencari tahu tentang kematian kakak saya. Dan ini sudah selesai. Saya pasti akan segera menghubungi Anda.”
Papa Setya tersenyum kemudian ia menepuk pundak asisten Revan.
Di sisi lain pun Qania masih syok dengan apa yang ia dengar barusan. Meskipun tahu jika nama Pak Angga itu adalah Tristan Anggara dan itu adalah alasan mengapa ia mau menerima misi ini, tetap saja ia kaget karena Pak Angga ternyata adalah calon suami Marsya. Lalu Tristan yang sekarang itu siapa?
Beribu tanda tanya memenuhi otak Qania.
“Bapak sudah bilang, setelah semua itu terkuak maka kau akan menemukan jawabanmu. Pergilah, jemput kebahagiaanmu,” ucap Pak Erlangga yang membuat Qania kaget.
“Emm, tapi Pak, dia pun bukan Arkana. Saya sudah melakukan tes DNA dan hasilnya tidak cocok,” lirih Qania.
Pak Erlangga kini yang terkejut. “Tidak mungkin. Apa kau sudah memastikan hasilnya itu akurat?”
“Sudah Pak. Mungkin pria itu hanya mirip saja,” ucap Qania lesu.
Pak Erlangga menepuk pundak Qania. “Percaya pada Tuhan, Dia lah yang paling tahu segalanya.”
__ADS_1
Qania hanya mengangguk pasrah namun dalam hati dan pikirannya saat ini tengah sibuk menerka.