
πΊ Di Kantin mbak Pipit
Qania berjalan sempoyongan, ia berusaha terlihat lemah di hadapan teman-temannya. Ia ikut bergabung kemudian meletakkan tasnya sembarangan di atas bangku panjang di kantin tersebut. Teman-temannya menjadi sedih dan prihatin melihat Qania, mereka memilih diam sambil menunggu Qania mencurahkan isi hatinya.
"Gila benaar" gerutu Qania.
"Bu Lira bilang apa Qan?" tanya Yani penasaran.
"Ya dia nggak bisa bantu juga, karena bu Intan nggak ngasih pilihan sama sekali" jawab Qania pasrah.
"Hmm, gue turut prihatin Qan. Lo yang sabar ya" hibut Rey.
"Tapi gue nggak terima nih kalau bu Intan kayak gini. Nggak adil banget loh ini" ucap Baron kesal.
"Ya kita bisa apa" Qania menghembuskan napas panjang, ia begitu kesal dengan sikap bu Intan.
"Ke himpunan yuk, kita obrolin sama yang lain. Kali aja ada saran atau apa gitu" ajak Yani.
"Benar juga, yuk berangkat" sahut Rey.
"Bentar, aku mau bayar pesanan aku tadi" cegah Qania, kemudian ia bergegas menemui mbak Pipit.
Setelah Qania kembali, mereka bergegas meninggalkan kantin. Qania di bonceng oleh Baron sementara Yani dan Rey membawa motor mereka masing-masing.
Sepeninggalan Qania dan teman-temannya, Larasati yang masih betah di kantin merasa puas dengan apa yang ia lihat dan dengar.
π....
"Kerja bagus, nanti gue transfer"
...
Larasati menyeringai setelah menelepon seseorang.
"Ini baru permulaan Qania, lo akan tahu akibatnya karena mengusik kesenangan Larasati" gumamnya sambil tersenyum sinis.
πΊ Di Himpunan
Abdi sebagai ketua himpunan langsung mengajak keempat temannya itu masuk ke ruangan khusus untuk rapat kemahasiswaan. Meskipun tidak sekelas, mereka sangatlah akrab karena seangkatan dan dari awal masuk sudah di haruskan menjalin keakraban dan membina solidaritas yang tinggi. Ditambah lagi Qania merupakan wakil dari Abdi, sehingga hubungan mereka sangat erat.
"Kita tunggu Prayoga dulu, dia kan bagian kemahasiswaan" ucap Abdi setelah mereka berkumpul di ruangan prayoga.
"Oh ya Di, kita nggak lama lagi mau KKN. Kita harus adain rapat laporan pertanggungjawaban nih. Kita sudah di ujung tahun masa jabatan" ucap Qania yang teringat akan rencananya bersama Abdi seminggu yang lalu setelah ujian berakhir.
"Aduh gue hampir lupa Qan, untung lo ingatin. Jadi gimana Yan, laporan lo udah siap?" tanya Abdi pada Yani yang merupakan bendahara umum.
"Udah rampung kok Di, kita tinggal bentuk panitia MuBesnya aja" jawab Yani mantap.
"Kalian berdua laporan divisi kalian udah siap juga?" tanya Abdi ke Rey dan Baron.
"Kita udah buat kok pak ketua, lo tenang aja" jawab Baron sambil mengusap bahu Abdi.
"Syukurlah, semoga masa jabatan kita nggak ada yang bermasalah di MuBes nanti" harap Abdi.
"Semoga" ucap Rey, Qania, Yani dan Baron serempak.
"Sorry gue baru nyampe, tadi gue baru dapat kabar dari Abdi pas gue baru bangun tidur, hehe" Prayoga yang baru saja masuk ke ruangannya sendiri segera duduk bergabung.
Di ruangan minimalis itu terdapat sebuah meja bundar yang cukup lebar, dimana jika ada keluhan atau pembahasan yang bersangkutan dengan kemahasiswaan akan di bahas di meja tersebut dengan posisi duduk lesehan, agar lebih dekat dan akrab.
"Kebiasaan deh Yog" ledek Qania.
"Hehe, gue kan anak Teknik. Jadi kita bahas aja, lo ada masalah apa Qan?" tanya Yoga langsung ke intinya.
"Jadi aku tuh lagi ada masalah sama nilai aku yang DIKOSONGKAN sama bu Intan" cerita Qania kesal sambil menekankan kata dikosongkan itu.
"Kok bisa? Lo kan mahasiswi paling pintar di angkatan kita" tanya Prayoga tidak percaya.
"Yah nggak tahu, padahal aku loh ini yang paling awal ngumpulin kertas ujian. Nggak mungkin banget kalau nilai itu kosong" lanjut Qania.
__ADS_1
"Emang lo udah bicarakan sama bu Intan?" tanya Prayoga yang dijawab anggukan oleh Qania.
"Terus gimana tanggapannya?"
"Itu yang bikin aku naik darah Yog, dia nuduh aku yang nggak ngumpulin kertas ujian aku dan parahnya dia bersikeras dengan pendapatnya. Hah satu hal lagi, pas aku minta alternatif lain buat gantiin ujian itu eh dia malah nggak ngasih apapun dan katanya aku harus ngulang tahun depan" cerita Qania penuh emosi yang meluap-luap.
"Eh kok bisa Qan? Nggak mungkin banget, soalnya si Edo juga tadi katanya nilainya kosong karena dia nggak ikut ujian, tapi bu Intan langsung nyuruh dia ujian detik itu juga" cerita Abdi, ia merasa ada yang aneh dengan sikap bu Intan.
"Yang benar kamu Di?" tanya Qania terbelalak saking tidak percayanya.
"Benar, ini lo baca sendiri chatnya" jawab Abdi sembari menyodorkan ponselnya.
Qania langsung lemas setelah membaca chat Abdi dan Edo. Ia tidak habis pikir, kenapa bu Intan memperlakukannya seperti ini.
"Lo sebelumnya ada masalah sama bu Intan?" tanya Prayoga.
"Sama sekali enggak, bahkan dia selalu muji-muji aku loh di setiap mata kuliahnya" jawab Qania frustasi.
"Ini namanya diskriminasi" geram Baron tak terima.
"Gue setuju sama lo Yog" sahut Rey yang juga merasa kesal.
"Dosen wali lo tahu soal ini Qan?" tanya Abdi.
"Tahu, tapi ada yang aneh" gumam Qania.
"Aneh gimana?" tanya Abdi penasaran.
"Tadi waktu di ruangan bu Lira terkesan cuek dan juga marah sama aku, tapi begitu aku udah keluar ruangan eh dia tiba-tiba smsin aku dan bilang aku harus pura-pura sedih gitu. Katanya dia bakalan selidiki masalah ini, dia curiga kalau ada unsur kesengajaan. Kalian semua tahu kan gimana bu Lira kalau udah ngomong sesuatu" cerita Qania yang sebenarnya juga merasa bingung dengan pesan dari bu Lira tadi.
"Nah tuh kan, bu Lira aja udah curiga gitu. Pasti ada sesuatunya nih" ucap Yani sambil berpikir.
"Terus menurut lo kita harus gimana Qan?" tanya Prayoga.
"Kita demo" ucap Rey dan Baron kompak.
"Jangan.. kita tunggu kabar dari bu Lira dulu" cegah Qania.
Semuanya diam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
............
πΊ Bu Lira
"Sudah tahu asal muasal masalah Qania?" tanya bu Lira pada seorang pria yang ada di depannya.
"Sudah nyonya" jawabnya.
"Jelaskan" perintah bu Lira dingin.
"Jadi seorang mahasiswi yang bernama Larasati Devana Bramantio yang tidak lain adalah rektot dari kampus ini dan merupakan keponakan dari bu Intan lah yang menyebabkan Qania mendapatkan nilai kosong".
Bu Lira mengangkat sebelah alisnya.
"Lanjutkan"
"Dia meminta bu Intan untuk menjatuhkan Qania melalui nilainya. Tadi setelah Qania kembali ke kantin saya mendapati gadis itu juga berada disana. Setelah saya menyelidiki alasan kenapa dia membenci Qania, penyebabnya adalah karena Qania bertunangan dengan pria yang disukainya".
"Haha, sungguh memalukan" bu Lira tertawa getir, namun sedetik kemudian wajahnya kembali datar.
"Ada lagi nyonya, bu Intan menerima permintaan gadis itu karena ia diimingkan jabatan wakil rektor. Dan juga saat ini Qania tengah berada di himpunan mereka" lanjutnya.
"Hmm kerja bagus, kamu boleh kembali" ucap bu Lira, kemudian pria itu pergi.
"Tidak ada yang boleh mengusik anak didikku, apalagi Qania. Berani mengusiknya, sama saja mengusik ketenanganku. Kau lihat saja bu Intan, apa yang akan dilakukan oleh mereka setelah ini" ucapan bu Lira begitu penuh penekanan, smirk tergambar di wajahnya.
Bu Lira kemudian mengirimkan pesan singkat kepada Qania.
πΊ Kembali ke Himpunan
__ADS_1
Dikeheningan ruangan tersebut, tiba-tiba ponsel Qania berdering. Qania bergegas mengeluarkan ponsel dari ranselnya.
"Eh bu Lira kirim pesan" ucap Qania.
"Cepat baca" perintah Prayoga.
β Dosen Wali Aqoeee
"DEMO SECEPATNYA"
...
Qania tercengang membaca pesan tersebut, ia bahkan membuka lebar mulutnya saking tidak percayanya.
"Hei Qan ada apa? bu Lira bilang apa?" tanya Yani penasaran.
"Kalian baca sendiri" kata Qania masih syok sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
"Wah udah gue bilang tadi kita demo, bu Lira aja nyuruh. Tunggu apa lagi" ucap Baron sangat antusias.
"Benar tuh Ron, kita udah dapat lampu hijau dari bu Lira" sambung Rey.
"Ya sudah, sore ini juga kita adakan rapat untuk membahas rencana demo kita" tegas Abdi.
"Sekarang udah jam dua siang, kita adain rapat jam setengah empat sambil nungguin yang lainnya. Yani, kirim pesan ke Cika buat ngasih info rapat" perintah Prayoga.
"Sip Yog" jawab Yani kemudian langsung melakukan perintah Yoga.
"Gue nggak sabar buat demo" ucap Rey.
"Apalagi gue" sahut Prayoga.
"Jangan malu-maluin bu Lira" tegas Abdi.
"Tentu" ucap Baron.
"Tapi satu hal yang mengganjal dan masih belum aku tahu jawabannya" gumam Qania.
"Apa?" tanya semuanya serempak.
"Keputusan bu Lira. Aku penasaran kenapa dia bisa ngambil keputusan ini, dia kan wakil rektor. Nggak mungkin banget deh kalau dia mau ngambil keputusan ini, secara yang bakalan kita hadapi ya dia dia juga" kata Qania menjelaskan.
"Benar juga Qan, pasti ada alasan yang kuat" timpal Yani.
"Tapi bu Lira nggak pernah main-main sama keputusan yang dia ambil" kata Abdi.
"Gue yakin ada masalah besar dibalik ini semua" terka Rey.
"Gue sependapat sama kalian" sahut Prayoga.
Sementara mereka sibuk memikirkan bu Lira, orang yang mereka pikirkan kini tengah tersenyum puas melihat rekaman video yang dikirimkan oleh pria yang tadi bersamanya.
"Mencoba merebut jabatanku, heeh" cibirnya.
"Dasar gadis memalukan, mencoba menjatuhkan orang hanya karena sakit hati dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan, menjijikan" umpatnya.
"Saya akan terus melindungi kamu Qania, sebagaimana keluargamu dulu melindungi ibu saya" sebutir air mata berhasil lolos dari wanita yang dianggap dingin oleh semua mahasiswanya.
Bu Lira teringat akan kebaikan hati keluarga Zafran Sanjaya yang sudah berbaik hati menampung ibunya yang hilang selama delapan bulan, ibunya yang tua dan memiliki gangguan ingatan karena faktor usia membuatnya lupa jalan pulang ketika tanpa sepengetahuan mereka ia keluar rumah.
Disaat ia dan suami sudah putus asa mencari ibunya, tak sengaja mereka melihat sang ibu tengah bercanda bersama anak kecil dan juga dua orang dewasa yang tidak lain adalah orang tua Qania. Qania yang waktu itu masih berumur dua tahun tentu tidak mengingatnya, tetapi dia ingat senyum manis dari gadis kecil yang tengah bercanda dengan wanita tua dan tangisan karena harus melepaskan wanita tua yang tidak lain adalah ibu dari bu Lira.
"Ah gadis kecil itu sudah tumbuh dewasa dan sangat cerdas" gumam bu Lira, senyum terbit di wajahnya.
Raut wajah bu Lira kembali datar dan terkesan mencekam saat teringat akan video yang dikirimkan orang suruhannya. Ia memiliki mata-mata yang gesit dan cepat bekerja serta handal dalam hal meretas. Soal bagaimana ia mendapatkan video tersebut, ia meretas CCTV di ruangan bu Intan yang ternyata setelah bu Intan kembali dari kelas Qania usai ujian, disana terekam jelas bahwa Larasati tengah menyogoknya. Dan juga soal Larasati, ia mengetahuinya setelah mendengar isi dari percakapan di video tersebut yang mengatakan bahwa ia sangat menyukai Arkana sejak lama dan sialnya Arkana tak pernah melihatnya dan malah memilih Qania.
"Sungguh ironi" gumam bu Lira kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Kalian akan malu sendiri nantinya, tunggu saja" ucap bu Lira menyeringai.
__ADS_1
...πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ...