
Qania menatap pria yang sedang duduk di kursi ruang tamu kostnya yang sedang asyik bersama ponselnya. Ia baru saja keluar dari kamar setelah berganti pakaian dan Lala mengetuk pintu kamarnya karena katanya ada tamu.
“Ekhmmm …”,.
Qania berdehem dengan keras membuat pria itu terkejut dan menjatuhkan ponselnya, sementara Qania hanya cekikikan melihat raut wajah kesalnya.
“Salsabila, Lo ngeselin banget sih. Kan, kan gue nggak jadi savage” keluh Raka.
Qania memutar bola matanya jengah lalu berjalan mendekati Raka yang tengah menekan layar ponselnya.
“Lagian kamu sepagi ini ngapain disini?” tanya Qania begitu ia duduk di samping Raka.
Raka melepas ponselnya dan menyimpannya di atas meja kemudian menatap datar kepada Qania.
“Hei tuan putri, bisa-bisanya jam sebelas siang katamu pagi” omel Raka.
“Bagi anak teknik ini masih pagi” ujar Qania.
“Nggak salah? Bukannya situ anak Hukum ya sekarang?” ledek Raka.
“Ya tetap aja aku anak teknik, orang akunya sarjana Teknik” kekeuh Qania.
“Iya, iya deh. Debat sama putri kampus dan ratunya fakultas Teknik emang nggak pernah menang, gue ngerti kok” ucap Raka memasang tampang pasrah.
“Itu kamu tahu”,.
Qania pun tertawa, dan melihat pujaan hatinya tertawa membuat Raka pun ikut tertawa.
‘Gila, Qania masih secantik dulu. Hah, perasaan gue sampai sekarang nggak bisa berpaling dari Qania’,.
“Apa tatap-tatap, ntar jatuh cinta” sentak Qania.
“Dari dulu kan emang udah jatuh cinta Salsabila” sahut Raka.
Qania terdiam, ucapannya yang ingin mengerjai Raka justru berbalik padanya. Ia lupa bahwa pria di depannya ini adalah satu-satunya yang sampai saat ini masih menunggu jawaban cinta darinya disaat yang lainnya sudah pada mundur dan hilang entah kemana.
“Emang masih?” tanya Qania lirih dan hampir tidak terdengar oleh Raka yang kembali sibuk dengan ponselnya.
“Ya masih lah, kan gue nggak bakalan menyerah” sahut Raka.
Entah dari mana semburat merah mewarnai pipi Qania, hatinya menghangat mendengar pengakuan Raka. Timbul niat di hatinya untuk membuat Raka mengungkapkan isi hatinya.
“Ya ampun Ka, aku kan udah bilang ke kamu sebaiknya kamu cari saja gadis lain” ucap Qania memancing emosi Raka agar mengeluarkan isi hatinya.
“Qania, dari dulu sampai saat ini nggak ada seorang pun yang bisa buat gue berpaling dari Lo. Meskipun ribuan kali Lo nolak gue, maka jutaan kali gue bakalan balik ke elo lagi dan nungguin Lo sampai berkata iya, aku cinta sama kamu juga Raka. Please Qan, jangan larang gue buat jatuh cinta sama Lo, karena itu hak gue” ucap Raka dengan serius sambil menatap lekat netra Qania yang juga tengah menatapnya.
‘Pingin banget gue megang tangannya sambil ngungkapin perasaan gue. Tapi gue nggak berani',.
“Maaf Qania, tapi sungguh gue nggak bisa kalau Lo nyuruh gue buat nyari gadis lain. Gue nggak tahu kenapa hati gue cuma mau Lo yang nempatin. Gue mohon Lo jangan jauhin gue hanya karena gue masih memiliki rasa cinta ke elo Qan” lanjut Raka memohon.
Qania menghela napas, ia kembali dibuat bingung eh Raka dengan perasaannya yang baru saja ia ungkapkan.
__ADS_1
“Raka Saputra, kamu itu tampan sangat tampan malah, baik dan perhatian. Kamu itu paket sempurna, banyak gadis yang mengantre ingin menjadi kekasihmu bahkan istrimu Raka. Aku ini hanya wanita yang sudah memiliki anak dan tidak layak untukmu. Aku tidak melarangmu untuk jatuh cinta padaku karena memang benar itu adalah hakmu. Aku juga nggak akan ngejahuin kamu karena kita adalah teman bahkan dari kecil kita sudah berteman dan aku nyaman bersamamu. Tapi maaf aku sama sekali belum memikirkan untuk menggantikan Arkana di hatiku. Hanya gadis bodoh yang menolakmu Raka” ungkap Qania tanpa sadar menggenggam tangan Raka.
“Dan …” Raka belum melanjutkan ucapannya karena gugup tangannya di genggam oleh Qania.
“Dan akulah orang bodoh itu” gumam Qania lirih.
Entahlah saat ini Raka terharu sekaligus ingin tertawa karena Qania baru saja mengatai bahwa dirinya itu bodoh, hal yang tidak pernah ingin Qania akui selama ini.
Raka pun menggenggam tangan Qania sambil menatap lekat kedua netra Qania.
“Qania, kamu memang bodoh karena sudah menyia-nyiakan lelaki tampan sepertiku yang katamu paket sempurna. Tapi aku lebih bodoh karena terus menerus menunggumu yang nyatanya terus saja menolak ku. Kau tahu Qania, aku selalu berusaha menyadarkan diriku akan cinta yang tak berbalas ini, tapi itu hanya berlangsung sesaat karena aku kembali lagi jatuh cinta padamu. Tiap saat melihatmu, memikirkanmu, perasaan yang sudah ku relakan itu kembali lagi bahkan sangat dalam aku mencintaimu Qania”,.
“Raka aku …”,.
“Sttt … jangan menyela ku dulu Qania. Kamu diam saja dan jadilah pendengar yang baik” ucap Raka dan Qania pun mengangguk.
“Qania, aku nggak mau munafik kalau sampai saat ini aku masih nungguin jawaban iya dari kamu. Aku nggak mau berpura-pura menyerah dan memakai topeng persahabatan untuk mendekatimu dan tetap berada di sisimu. Kamu boleh marah sama aku tapi tolong jangan jauhin aku Qania. Kamu nggak tahu betapa tersiksanya aku saat berada jauh darimu. Dari dulu Qan, dari dulu gue udah mendam perasaan ini dan Lo tahu disini, di dalam hati gue udah tersimpan tempat buat elo yang gue nggak tahu kapan Lo bakalan datang dan tinggal di tempat yang udah gue siapin itu”,.
“Gue tahu rasa cinta Lo ke Arkana itu sangat besar dan tidak akan pernah tergantikan. Gue nggak bakalan maksain elo buat lupain Arkana karena gue tahu gimana sulitnya ngelupain orang yang kita sayang, seperti gue yang meskipun elo nolak gue Lo marah dan ngejauhin gue, gue nggak bisa lupain elo dan semakin hari justru rasa gue ke elo itu terus tumbuh dan nyiksa gue Qan”,.
“Gue rasanya ingin menyerah tapi nggak menyerah. Gue tahu gimana posisi Lo yang nggak bisa ngelupai Arkana begitu aja. Gue paham karena itu yang gue rasain ke elo. Gue cuma minta satu persen doang tempat buat gue di hati Lo. Lo berhak mencintai Arkana sesuka hati Lo karena dia adalah cinta pertama dan suami elo. Gue hanya berharap suatu saat tempat yang udah gue siapin ini bakalan Lo kunjungin dan harapan terbesar gue Lo bakalan tinggal dan menetap di sana”,.
Qania terdiam menunduk mendengarkan ungkapan hati Raka. Bohong kalau Qania mengatakan ia tidak tersentuh dengan ucapan Raka. Hanya saja ia bingung bagaimana menanggapinya.
“Raka, aku makasih banget sama kamu karena udah mencintai aku begitu besar hingga aku begitu malu karena nggak bisa balas perasaan kamu. Kau tahu Raka, jujur aku tersentuh dengan pengakuanmu. Tapi aku nggak bisa kasih kamu harapan apa-apa terlebih lagi aku ini adalah wanita yang memiliki anak …”,.
“Aku nggak peduli …”,.
“Sttt … jangan menyela ucapanku” ucap Qania lembut dan Raka pun mengangguk.
“Ku beri tahu satu hal yang membuatku tidak ingin membuka hati dan kesempatan untuk pria lain mendekatiku, itu karena aku tidak ingin nanti anakku tersisihkan. Aku lebih memilih menyendiri untuk agar kasih sayangku kepada anakku tidak pernah terbagi karena kau pun tahu dia sudah kehilangan kasih sayang dari sosok Ayahnya semenjak ia masih dalam kandungan. Aku takut ketika aku menikah dan memiliki anak lagi Arqasaku akan tersisihkan dan bukan tidak mungkin pria yang akan menjadi suamiku nanti akan lebih mencintai anak kandungnya sendiri. Aku takut anakku sedih dan merasa kehilangan kasih sayang. Aku hanya ingin melimpahkan kasih sayang kepada anakku agar ia tidak merasa kekurangan kasih sayang meskipun Ayahnya sudah tiada” ucap Qania panjang lebar diikuti dengan Isak tangisnya.
Raka tertegun dengan pengakuan Qania, ia tidak tahu kalau selama ini alasan kenapa Qania menutup diri adalah karena anaknya. Ketakutan akan kemungkinan anaknya akan tersisihkan dan tersakiti.
Raka yang duduk di samping Qania langsung membawanya ke dalam dekapannya, membiarkan Qania menumpahkan air matanya di dadanya.
“Aku sekarang paham dengan keadaanmu Qania. Mungkin saja benar perkiraanmu seperti itu karena jika aku di posisimu aku akan memprioritaskan kepentingan anakku yang sudah kehilangan salah satu orang tuanya. Kamu benar dengan mengantisipasi itu semua” hibur Raka sambil mengusap punggung Qania.
“Aku takut Raka, aku sangat takut membuat anakku bersedih apalagi sampai menangis karena hatinya tersakiti akibat tersisihkan. Mengertilah” Isak Qania kemudian melepaskan pelukannya dari Raka.
Raka menghapus air mata di pipi Qania kemudian ia tersenyum lebar.
“Qania, aku memang tidak bisa menjanjikan apa-apa kepadamu apalagi bersumpah tidak akan menyisihkan anakmu karena itu belum tentu bisa ku penuhi. Aku hanya ingin membantumu keluar dari kubangan kesedihanmu dan kesendirianmu. Aku ingin membawamu melihat masa depan dimana kamu masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang dan perlindungan dari seorang pria yang akan menjadi imammu. Aku tahu kau akan langsung menolakku tapi ku mohon pikirkanlah dulu permintaan dan ucapanku ini Qan”,.
“Aku nggak minta kamu jadi anak durhaka dan membuatmu merasa tidak tahu diri pada mertuamu. Tapi aku yakin mertuamu dan kedua orang tuamu menginginkan kebahagiaanmu” ucap Raka dengan penuh kesungguhan.
“Aku takut jika menerima perasaanmu tapi ternyata aku hanya menganggap mu sebagai pelampiasan saja Raka. Kau yang menyebalkan, kau yang suka bernyanyi untukku dan selalu membuatku kesal dan semua tentang kebiasaanmu itu justru mengingatkan aku pada sosok Arkana Wijayaku” lirih Qania.
“Jangan permasalahkan itu Qan, biarlah kau menganggap aku sebagai pelampiasan mu. Jangan khawatirkan aku, karena itu sudah ku pikirkan sejak lama dan aku tahu itu adalah resiko yang harus aku tanggung karena berani menginginkanmu. Aku yakin akan satu hal Qania, tidak selamanya awan mendung menyelimuti bumi karena matahari akan datang mengusirnya. Ingat Qan, ada pelangi setelah hujan” ucap Raka memantapkan hatinya.
Qania tersenyum, ia pun mengangguk.
__ADS_1
“Akan aku pikirkan, dan berdoalah semoga Tuhan membalikkan hatiku” ucap Qania seraya tersenyum manis.
Raka terbelalak mendengar penuturan Qania, ia tidak menyangka jawaban itu yang akan keluar dari mulut wanita yang dulunya selalu memberikan penolakan kepadanya.
“Aku akan berusaha Qan, akan terus berusaha merebut hatimu. Aku bahkan akan memaksa Tuhan untuk membalikkan hatimu” ucap Raka girang.
‘’Apakah keputusanku ini tidak akan menyakiti Arkana ku?,.
“Kau jangan senang dulu Raka, belum tentu Tuhan akan mengabulkan doamu” ledek Qania.
“Jika Tuhan tidak mau maka akan terus ku paksa dan ku rayu. Kalau perlu gue tikung Lo di sepertiga malam” kekeuh Raka.
Qania tergelak, ia tertawa dengan kegigihan Raka.
“Jangan tertawa seperti itu, kau selalu membuatku jatuh cinta berkali-kali setiap kali melihat kau tertawa. Tapi kau sampai saat ini tidak bertanggung jawab pada perasaanku” sindir Raka kemudian ia tertawa.
“Aku kan pernah bilang kalau aku tidak mau bertanggung jawab” sahut Qania masih diiringi tawa.
Raka mendengus, kemudian ia tersenyum manis pada Qania.
“Raka, jangan kecewa jika nanti keputusanku akan sama” ucap Qania dengan nada serius.
“Jika usaha dan doaku tidak membuahkan hasil aku pasti akan kecewa tapi aku tidak akan memaksamu. Mungkin memang Tuhan yang tidak berkehendak akan keinginanku” ucap Raka legowo.
“Terima kasih Raka Saputra” ucap Qania sembari tersenyum tulus.
Raka mengangguk sembari membalas senyuman Qania.
“Jalan yuk Qan” ajak Raka.
“Kemana?” tanya Qania kaget.
“Kemana aja putri kampus mau” jawab Raka asal.
“Ya udah ayo” ucap Qania langsung berdiri.
“Ayo, tapi Lala gimana?” tanya Raka yang dari tadi tidak melihat keberadaan Lala setelah membukakan pintu untuknya.
“Dia tadi kan langsung pergi. Dia sedang mengurus nilainya di kampus. Nanti aku bakalan kirim pesan ke dia kalau dia pulang dan cari aku. Ayo kita mengukur jalan” jawab Qania.
Raka dengan senang hati menuruti keinginan pemilik hatinya itu.
‘One step closer. Sebentar lagi Raka, sebentar lagi Lo bakalan mendapatkan tempat di hati Qania. Ya Tuhan, hamba mohon kerja samanya',.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗
Berteman yuk:
IG: Vvillya
__ADS_1
FB: Vicka Villya Ramahani
WA: 0823 5054 5747