
Malam ini rumah pak kadus sangat ramai bahkan hampir sama seperti acara kondangan, hanya saja tidak ada band atau music yang mengiringi acara perpisahan tersebut. Hanya Abdi dan Raka lah yang bergantian memainkan gitar untuk menghibur tamu mereka itu.
Sudah pukul sembilan malam, namun masih banyak warga yang tetap berada di rumah itu, terutama bapak-bapak yang sering meronda bersama mereka. Sebuah mobil yang sangat mereka kenali memasuki pekarangan rumah pak kadus, yang tidak lain adalah mobil milik bu Lira.
Mereka semua berbaris menyambut kedatangan dosen pendamping lapangan mereka itu, bu Lira tersenyum ramah saat anak-anak dampingannya begitu antusias menyambutnya.
“Mari bu, ibu pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh” ajak Abdi.
“Kau manis sekali Puntung” ucap bu Lira sembari tersenyum ramah kepada Abdi.
Puntung adalah nama lapangan Abdi yang dicetuskan saat orientasi pengenalan himpunan. Kebetulan pada saat itu mereka yang tengah di pelonco di pantai di haruskan memakai celana olah raga, namun Abdi yang saat itu memaki celana kependekan sebab ia salah membawa celana karena yang ia bawa adalah celana milik adiknya sehingga celana tersebut terlihat seperti celana puntung. Dari situ lah para senior dan dosen kerap kali memanggilnya Puntung.
“Ibu menjatuhkan harga diri Abdi bu” ledek Qania.
Bu Lira hanya tersenyum meledek mendengar ucapan Qania, kemudian ia masuk setelah menyapa para warga
dan juga pemilik rumah.
*
*
“Malam ini ibu akan menginap disini dan besok pagi kita akan kembali ke kota” ucap bu Lira saat mereka tengah berkumpul di ruang tamu setelah acara selesai dan saat ini waktu menunjukkan pukul sebelas malam.
“Akhirnya pulang juga” seru Banyu dan Ikhlas bersamaan.
“Dih senang sekali kalian mau pulang ya, emang laporan individu dan laporan pertanggung jawaban kalian udah siap?” Tanya bu Lira dengan penuh penekanan membuat para mahasiswa itu gelagapan.
“Ya ampun apakah ada laporan individu?” pekik Raka yang mulai panik.
“Makanya waktu pembekalan jangan Cuma main game, jadi nggak tahu kan” sindir Qania.
“Hehehe, kamu tahu aja Qan” kekeh Raka.
“Terus gimana dong bu, kita belum buat laporannya?” Tanya Qania setengah merengek, namun disela-sela itu ia dan bu Lira saling memberi kode agar menambah kepanikan teman-temannya.
“Ya ampun Qania, kamu pun sama?” suara lantang bu Lira semakin membuat aura ruangan itu terasa mencekam.
"Kalau Qania aja belum buat, gimana nasib kita?" Elin menjadi semakin panik.
“Saya hanya fokus sama laporan kelompok bu dan juga saya nggak tahu soal laporan pertanggung jawaban, itu kan tugasnya ketua” ucap Qania gugup, kemudian ia melihat ke arah Abdi yang tengah syok.
“Qan, emang itu tugas ketua?” Tanya Abdi dengan tatapan memelas.
“Iya itu tugas kamu sebagai ketua, masa kamu tidak tahu” sindir bu Lira.
__ADS_1
“Jadi gimana nasib kita bu?” Tanya Baron yang sudah sangat panik.
“Mana ibu tahu, bukannya ibu sudah peringatkan dari awal kalau kalian harus membuat catatan tentang kegiatan apa saja yang kalian lakukan setiap hari. Dan ibu juga tidak mau tahu ya lusa kalian harus sudah siapkan semuanya saat laporan pertanggung jawaban, kalau tidak nilai kalian semuanya error” ancam bu Lira.
Qania dan bu Lira sangat menikmati wajah panik mereka tanpa mereka sadari dua orang itu sama-sama tersenyum meledek mereka.
“Kalian sebaiknya istirahat karena besok kita akan pulang dan melakukan perjalanan jauh” ucap bu Lira.
“Nggak bisa kayaknya bu. Boleh nggak pulangnya di tunda dulu sampai laporannya jadi?” Tanya Prayoga dongkol.
“Iya bu” timpal yang lainnya.
“Ya sudah, tahun depan kalian ikut KKN saja lagi” ujar bu Lira membuat mereka mengerang frustasi.
“Nggak ada cara lain bu?” Tanya Witno frustasi.
“Ya sudah buat sekarang! Punya buku sama pulpen kan?” ucap bu Lira dan mereka semua bergegas ke kamar untuk mengambil buku dan pulpen yang bu Lira minta mereka bawa saat akan berangkat KKN.
Dengan cepat semuanya kembali dan kini sudah duduk di ruang tamu dengan alat tulis menulisnya masing-masing tak terkecuali dengan Qania yang juga melakukan hal yang sama.
“Kenapa diam?” Tanya bu Lira.
“Kita nggak tahu bu mau mulai darimana” ucap Elin gugup.
“Masa gitu aja harus ibu ajarin sih, kalian kan tinggal tulis hari pertama KKN apa saja yang kalian lakukan dan seterusnya sampai hari terakhir” tukas bu Lira.
lakukan.
“Bu, kita nggak semuanya melakukan hal yang sama. Masa Raka nyontek bu” keluh Witno.
“Bu, kalau nyuci baju, mandi, buang air, dan kegiatan pribadi di tulis juga bu?” Tanya Manda.
“Tulis saja semuanya” jawab bu Lira singkat membuat bibir Qania berkedut.
Kegaduhan memenuhi ruangan tersebut dan kini sudah pukul sebelas lewat tiga puluh menit malam, mereka masih sibuk dengan ingatan mereka.
Braakk…
Qania membanting buku dan pulpennya di atas meja membuat semua teman-temannya menghentikan aktivitas mereka dan beralih menatap Qania.
“Qan kalau panik nggak kayak gini juga” tegur Banyu si gaya batu.
Qania menatap Banyu datar kemudian menatap bu Lira yang juga tengah menatap padanya. Saat bu Lira mengangguk, keduanya beralih menatap sembilan orang itu.
“Hahahahahahaha”
__ADS_1
Tawa Qania dan bu Lira pecah memenuhi ruangan itu, namun justru membuat teman-temannya kebingungan.
“Kalian sangat lucu, sumpah” ucap Qania disela tawanya.
Abdi membanting bukunya di atas buku Qania.
“Fix, kita dikerjain” ucap Abdi kesal.
Bu Lira dan Qania kembali tertawa melihat ekspresi melongo teman-temannya dan juga ekspresi kesal Abdi yang lebih cepat tanggap.
“Jadi kita dikerjain?” Tanya Witno masih syok.
“Ya iyalah kita dikerjain, gue tahu Qania. Dia mana mungkin lupa hal-hal kecil termasuk elo yang terus saja mendekatinya namun tidak memiliki kesempatan karena dia terus menghindar” ucap Abdi.
“Tapi nggak usah bawa-bawa gue kali” ketus Witno.
“Qan lo tega sumpah, kita udah panik banget nih” ucap Baron sambil menetralkan perasaannya.
“Kalian udah berapa lama dengan aku hah? Emang aku pernah melakukan kecerobohan yang menyangkut nilai, kalian lupa kita bahkan sampai berdemo karena masalah nilaiku waktu itu. ck,ck,ck” Qania berdecak sambil geleng-geleng kepala melihat teman-temannya.
“Lagian raut muka lo meyakinkan Qan” seru Prayoga.
Qania hanya menatap datar kepada Prayoga, kemudian ia bersandar di kursi yang ia duduki bersama Abdi dan bu Lira.
“Kalian tenang aja, semua udah beres dan mengenai laporan individu juga udah aku buat tinggal kita print aja, oke. Aku nggak mungkin lah bikin kalian kehilangan nilai, iya kan bu” ucap Qania sembari tersenyum ramah kemudian menatap pada bu Lira yang duduk di tengah-tengah.
“Iya, ibu juga nggak akan mempersulit kalian kok. Laporan individu Cuma sebagai bukti saja dan juga salah satu syarat untuk mendapatkan nilai, jadi kalian bekerja sama saja. Oh iya mengenai laporan pertanggung jawaban ibu rasa Qania tentu sudah menyelesaikannya beserta laporan kelompok, bukan begitu Qania?”,.
“Iya bu, semua aman terkendali” jawab Qania sambil berpose memberi hormat.
“Bagus, kalau begitu silahkan kalian istirahat. Buat yang perempuan besok kalau mau ikut dengan ibu pulang, boleh saja” lanjut bu Lira.
“Kalau Qania naik motor sama teman-teman saja bu, sekalian kebersamaan terakhir sebelum balik ke kesibukan masing-masing” ucap Qania, tiba-tiba hatinya terasa sesak karena teringat kebersamaan mereka yang sudah terjalin selama dua bulan ini.
“Iya bu, saya juga” seru Elin.
“Saya juga bu” ucap Manda tak mau kalah.
'Ya kali gue pulang nggak bareng pacarku itu, kan sekalian bisa jalan berdua meski pun rame. tapi kan lama, bisa duduk berdua dan dekat dengannya berjam-jam, uuuwwwuuuww',.
“Ya sudah mari kita istirahat” ajak bu Lira.
Semuanya pun bergegas ke kamar mereka, sementara bu Lira masuk bersama para wanita karena ia sudah membawa kasur angin yang sudah di rapihkan oleh Abdi dan Baron tadi.
Qania melirik semua yang ada di kamarnya ternyata sudah tertidur pulas dengan dengkuran halus mereka yang meramaikan suasana malam sepi itu. Qania meraih ponselnya untuk mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Arkana menggunakan headset sambil melihat foto-foto mereka di galeri. Ia tersenyum sangat manis saat memandangi foto tunangannya yang tampan itu.
__ADS_1
‘Aku bahagia karena akulah pemilik hatimu dan aku bahagia karena kau yang menjaga hatiku. Tunggu aku sayang, aku akan segera datang. Tolong persiapkan hadiah penebus rinduku, aku harap kau tidak mengecewakanku’,.
Qania pun perlahan-lahan mulai tertidur masih dengan iringan lagu pengantar tidur dari kekasihnya, Arkana Wijaya.