
Triiinggg….
Bel pulang sekolah berbunyi, para siswa berhamburan keluar kelas. Nampak di depan pintu kelas sepuluh D ada seorang siswa yang berdiri, sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
“Hai Cik” sapanya.
“Ah Fero, kamu ngapain di depan kelas aku?” Tanya Cika.
“Nungguin kamu” jawab Fero.
“Eh…” pipi Cika merona saat Fero menjawab pertanyaannya itu
“Cik, ikut aku yuk” ajak Fero meraih tangan Cika.
Cika menatap tangannya yang digenggam oleh Fero dengan jantung yang degdegan.
“Kemana Ro?” Tanya Cika ketika mereka berjalan keluar sekolah.
“Ikut aja” jawab Fero.
“Iya deh” pasrah Cika.
Tak jauh dari sekolah mereka, terdapat bangunan sekolah taman kanak-kanan yang memiliki berbagai tempat bermain seperti ayunan, perosotan dan jungkat-jungkit.
“Lagi?” Tanya Cika menatap kearah jungkat-jungkit itu.
“Ayoo..” ajak Fero antusias.
Dengan pasrah Cika menuruti keinginan Fero yang sebenarnya adalah kesenangannya. Ya, sudah hampir sebulan ia dan Fero sering menghabiskan waktu pulang sekolah di TK tersebut sambil bermain jungkat-jungkit.
Awal pertemuan mereka terjadi di tempat ini dimana Fero tanpa sengaja melihat Cika tengah bermain ayunan sendiri sambil bersenandung. Fero yang tertarik dengan wajah imut itu pada pandangan pertama langsung saja mendekatinya.
🌻Flash back on..
“Hai” sapa Fero.
Cika menatapnya terkejut.
“Eh hai juga” balas Cika canggung.
“Kok main disini? Seragam kamu menandakan kamu anak SMA, tapi kamu main di sekolah TK” Fero bertanya kemudian ikut duduk di ayunan sebelah Cika.
“Hehehe, iya aku suka main ayunan. Masa kecilku kurang bahagia, hahahaha” Cika tertawa, namun Fero terpesona.
“Kenalin, aku Fero” Fero mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Cika.
“Aku Cika”.
“Kamu sepertinya suka banget ya main ayunan?” Tanya Fero.
“Aku lebih suka main itu, tapi nggak ada temannya” jawab Cika menunjuk jungkat-jungkit.
“Kan ada aku, yuk main” ajak Fero terlebih dahulu berjalan kearah yang ditunjuk Cika.
Dengan senang Cika menyambut ajakan Fero, sehingga keduanya bermain sambil berbincang-bincang. Dari situlah awal kedekatan mereka, setiap hari mereka menghabiskan waktu di tempat itu untuk bermain.
🌻Flash back off..
Kedua remaja yang berseragam SMA itu tengah asyik bermain, terdengar canda tawa mereka yang meramaikan bangunan yang sudah sepi itu karena semua penghuninya sudah pulang sejak pukul sepuluh pagi.
“Cika aku suka kamu, aku sayang kamu, kamu mau nggak jadi pacar aku?” ungkap Fero disela-sela tawa mereka.
Cika tercengang mendengar pengakuan Fero barusan, ia mematung dan untung saja Fero menahan jungkat-jungkit itu dengan kakinya sehingga Cika tidak terjatuh.
“A..apa kamu bilang tadi?” Tanya Cika tergagap.
“Aku bilang aku suka kamu, aku sayang kamu, kamu mau nggak jadi pacarnya aku?” ulang Fero menekan rasa gugupnya.
“Aku mau” jawab Cika malu-malu.
Saking bahagianya Fero tanpa sadar mengangkat kakinya dan hal tersebut membuat Cika terangkat ke atas.
“Roo…” teriak Cika kaget.
“Maaf sayang” cicit Fero kemudian menurunkan Cika.
Keduanya duduk di teras ruang kelas di TK tersebut.
“Jadi kita udah resmi pacaran nih?” Tanya Fero senyam-senyum.
“Iya” jawab Cika malu-malu.
“Makasih sayang”.
“Eh..”
“Hehehe”.
__ADS_1
Keduanya berbincang-bincang hingga akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan berbunga-bunga.
🌸
🌸
Fero menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah sampai di rumahnya. Ia kembali membayangkan kejadian tadi bersama Cika.
“Ah kenapa aku lupa nanyain rumah dan nomor ponselnya selama ini?” dengus Fero.
“Ah besok juga bakalan ketemu di sekolah, tiap hari bakalan ketemu” Fero tersenyum mengingat wajah Cika.
Sementara itu di rumah Cika, ia baru saja sampai.
“Assalamu’alaikum. Cika pulang” Cika langsung melangkah masuk.
“Loh kok..?” Cika kebingungan saat melihat beberapa perabotan yang ada di ruang tamu dan juga kursi yang sudah ditutupi kain putih.
“Baru pulang kamu gadis nakal, hmm” ibu Cika datang dari arah kamarnya.
“Iya bu, biasa main di TK” jawab Cika sambil mencium punggung tangan ibunya.
“Kebiasaan, ya sudah kamu mandi terus makan” ucap ibunya.
“Bu kok barang-barang kit..”
“Bapakmu dipindahkan. Dua jam lagikita kan berangkat naik kapal” potong ibunya.
“APPAAA?’
“Heh biasa aja dong, kamu nggak usah khawatir. Semua barang-barang kamu udah ibu siapkan dan sudah ibu sisakan pakaian buat berangkat. Bapakmu juga udah urus kok surat kepindahan kamu di sekolah” ibunya berlalu meninggalkan Cika yang terdiam mematung.
Bagai tersengat arus listrik, tubuh Cika gemetar. Ia berjalan ke kamarnya dengan sisa tenaga yang ia punya.
Cika melepas tas sekolahnya dan menyimpannya di ata tempat tidur, membuka sepatu dan kaos kakinya kemudian berbaring memejamkan matanya.
“Fero, maaf” cicitnya.
Memori bersama Fero terus berputar di kepalanya, tanpa ia sadari air matanya berhasi keluar membasahi wajahnya.
“Kenapa ya Tuhan..” rintinya.
Cika bangun dan berjalan ke kamar mandi, ia berniat mengguyur tubuhnya dengan air untuk mendinginkan kepanya dan juga untuk menenangkan perasaannya.
Bapak Cika merupakan seorang tentara sehingga sudah menjadi resiko bagi Cika dan keluarganya jika harus berpindah-pindah tempat.
Baru dua bulan tinggak di kota ini, kini Cika harus kembali pindah. Bukan hanya sekali, tetapi sejak kecil ia terbiasa berpindah tempat tinggal dan mereka tinggal di rumah yang disediakan Negara. Entah kapan mereka akan memiliki rumah sendiri, pikir Cika.
“Bagaimana, bagaimana aku akan mengabarinya? Aku tidak memiliki nomor ponselnya karena sering bertemu di sekolah, aku juga tidak tahu dimana rumahnya” lirihnya.
“Bagaimana reaksinya besok saat tidak mendapatiku di sekolah? Dia pasti terluka dan kecewa, dia juga pasti marah padaku, hikksss”.
Lama Cika merutuki nasibnya, terdengar suara ketukan di pintu kamar mandinya.
“Sayang jangan lama-lama, waktu kita nggak banyak” ucap ibunya kemudian pergi.
Dengan langkah gontai Cika keluar kamar dan langsung duduk untuk memakan makanannya yang sudah ibunya siapkan di meja makan.
Setengah jam berlalu, bapak Cika datang bersama dua orang teman seprofesinya untuk membantu membawa barang-barang mereka ke pelabuhan karena mereka akan pergi dengan kapal laut.
Cika menatap rumahnya sebelum masuk kedalam mobil. Saat mobil yang ia tumpangi melintas di depan TK tersebut, air matanya menetes. Ia seolah melihat bayangan dirinya dan Fero yang tengah asyik bermain di taman kanak-kanak itu. Cika yang duduk di dekat jendela itu langsung menghapus air matanya karena takut ketahuan kalau ia tengah bersedih.
Sesampainya di pelabuhan, teman-teman bapaknya langsung membantu membawa barang-barang mereka. Dengan langkah berat Cika memasuki kapal tersebut, sebelum masuk ia sempat berbalik untuk menatap kota tersebut dengan lekat, merekam semuanya di dalam memorinya sebelum ia meninggalkannya.
“Selamat tinggal kota indah, kota yang mempertemukan aku dengannya. Sahabat pertamaku yang menjadi pacar pertamaku sekaligus cinta pertamaku. Aku harap kamu tidak kecewa padaku dan aku doakan kamu bahagia, semoga suatu saat kita akan bertemu kembali. Aku Cika Anastasya Hermanto mencintai Fero Malik Gumilang saat ini, esok dan selamanya”.
Baru saja Cika mengikhlaskan kepergiannya, bapak dan ibunya buru-buru keluar lagi.
“Eh bu, mau kemana?” Tanya Cika bingung.
“Kita nggak jadi pindah nak, ayo cepat turun” ajak ibunya yang terlihat tergesah-gesah.
Untuk sesaat Cika terdiam, namun beberapa detik kemudian ia tersenyum bahagia dan mengejar ibunya yang turun dari kapal.
🌸
🌸
“Bu, pa, kenapa kita balik lagi?” Tanya Cika penasaran.
Saat ini mereka sudah berada di rumah mereka kembali.
“Jadi kepindahan bapakmu itu dimanipulasi, sepertinya ada oknum yang ingin menjatuhkan bapakmu atau memanfaatkan situasi ini. Jika bapakmu pindah mungkin mereka akan melakukan rencana mereka” jelas ibunya yang sedang menaruh kembali pakaian di lemarinya sementara Cika duduk di atas tempat tidur.
“Untung saja bapakmu dapat telepon sebelum kapal berangkat” sambungnya.
“Bapak pulangnya kapan bu?” Tanya Cika, tadi bapaknya langsung diantar ke markas.
__ADS_1
“Mungkin agak larut. Ibu mau masak dulu” jawab ibunya kemudian berlalu meninggalkan Cika.
“Alhamdulillah” Cika sangat bersyukur karena ia tidak jadi meninggalkan Fero.
🌸
🌸
Hari-hari berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah hampir sebulan Cika dan Fero berpacaran. Setiap hari yang mereka lalui selalu penuh keceriaan dan kebahagiaan. Hingga hari ini ibu Cika mendapat telepon jika sang mama di kampung sedang sakit, dan mengharuskan mereka untuk kembali.
“Gimana pa, apa yang harus kita lakukan?” Tanya ibu Cika ketika mereka berkumpul di ruang keluarga.
“Ya mau gimana lagi bu, ibu sama Cika pulang aja dulu. Bapak masih tugas disini” jawab sang suami.
“Tapi pa, Cika kan sekolah disini” tolak Cika, sebenarnya ia tidak ingin berpisah dengan Fero.
“Bapak akan urus surat pindahmu besok, pulang sekolah nanti kalian berangkat. Tugas bapak disini juga tinggal beberapa bulan lagi” ucap bapaknya memupuskan harapan Cika.
“Ya sudah, ayo berkemas” suruh ibunya.
Cika dengan lemas masuk ke kamarnya, ia akhirnya ada di situasi ini lagi.
“Hahh” Cika membuang napas berat.
“Besok aku akan bicarakan dan juga berpisah dengan Fero. Kali ini aku masih diberikan kesempatan untuk mengucapkan kata perpisahan” lirihnya.
Pagi kembali menyapa bumi, dan pagi yang berat untuk Cika melangkah ke sekolah. Ia semalaman sulit untuk tidur karena terus memikirkan Fero. Kalau saja dia diizinkan memakai ponsel oleh bapaknya. Sayangnya itu hanya tinggal harapan karena bapaknya yang seorang tentara angkatan darat itu melarang keras dirinya untuk memiliki ponsel.
Cika adalah anak satu-satunya sehingga bapaknya sangat protektif, ia hanya ingin agar Cika focus belajar. Jika ada yang harus dihubungi maka ia akan menggunakan ponsel ibunya. Pernah sekali Fero menawarkan untuk membelikannya ponsel, tapi dengan keras Cika menolak.
“Bapakku mampu membeli ponsel, tapi aku yang tidak diizinkan untuk memilikinya” begitulah jawaban Cika saat Fero ingin memberikannya ponsel.
Langkah Cika terhenti di depan gedung TK di dekat sekolahnya, kilas balik pertemuan hingga kebersamaan bersama Fero terpampang nyata di hadapannya.
Hari ini Cika begitu malas bahkan tidak banyak bicara atau pun mengeluarkan pendapat saat belajar. Hingga tiba saatnya pulang sekolah, guru mata pelajaran terakhir meminta Cika untuk maju ke depan karena ia sudah tahu perihal kepindahan Cika, salah satu murid cerdas di kelas X. kebetulan guru yang mengajar di jam terakhir ini adalah wali kelas mereka bu Suci.
“Sebelum kita pulang, ibu mau minta Cika untuk maju ke depan” kata bu Suci.
Cika melangkah ke depan, sebelumnya bu Suci sudah berbicara dengan Cika di ruang guru tadi saat jam istirahat kedua.
“Teman-teman semua, Cika mau minta maaf jika selama ini Cika ada salah sama kalian. Cika juga sudah memaafkan semua kesalahan yang teman-teman pernah buat baik disengaja atau pun tidak. Terima kasih pernah menjadi bagian dari kehidupan Cika, besok Cika tidak lagi berada di ruang kelas ini. Besok Cika akan pindah sekolah, terima kasih semuanya” ucap Cika dengan sendu.
“Kenapa pindah Cik?”,.
“Gue nggak ada temannya duduk dong”,.
“Pindah kemana Cik?”,.
“Jangan pindah dong”.,
“Hilang deh murid pintar di kelas kita”,.
“Emang Cuma dia yang pintar”,.
Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan dari teman-temannya yang tidak mampu Cika jawab karena air matanya sudah mengalir begitu deras membasahi pipinya.
“Sudah anak-anak, kasihan Cika. Kalian boleh pulang” ucap bu Suci menghentikan kegaduhan di kelas tersebut.
Setelah berbicara seperti itu, bu Suci segera meninggalkan kelas dan para murid satu per satu berjalan ke depan untuk menyalami Qania. Fitri teman sebangkunya memberika Cika sebuah kotak pensil sebagai kenang-kenangan.
“Cuma ini yang aku punya Cik, aku harap kamu mau menerima dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan” ucap Fitri kemudian memeluk Cika.
“Makasih Fit, aku pasti bakalan nyimpan ini selamanya. Makasih kamu udah mau jadi teman aku selama aku sekolah disini. Semoga suatu saat nanti kita akan bertemu kembali” Cika memeluk Fitri erat.
Setelah berpelukan Fitri pamit pulang dan tinggallah Cika seorang diri di kelas. Bukan tanpa alasan, ia menantikan Fero yang biasanya akan menjemputnya di kelas. Sudah sepuluh menit Cika menunggu tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan Fero sehingga Cika memilih untuk pulang.
“Mungkin dia ada urusan, sebaiknya aku pulang. Besok juga dia bakalan tahu dengan sendirinya” Cika memutuskan untuk pulang saja dengan perasaan campur aduk.
Saat Cika melewati kelas Fero, samar-samar ia mendengar suara perempuan yang entah siapa dan suara laki-laki yang familiar baginya.
Braakkk….
“Fero..” pekik Cika tidak percaya dengan apa yang ia lihat, dimana tangan Fero sedang berpegangan dengan seorang gadis yang diketahui adalah kakak kelas mereka.
“Cika..” Fero tersentak.
“Aku benci kamu, kita putus” teriak Cika kemudian berlari meninggalkan Fero dengan air mata yang kembali membasahi pipinya.
“Cikaaaaaa..” teriak Fero berusaha mengejar Cika, namun ia tertahan oleh Angel si kakak kelas itu.
🌸
🌸
Fero bagai kebakaran jenggot begitu tahu kalau Cika pindah sekolah. Tadi ia sengaja berangkat pagi-pagi untuk memberi penjelasan pada Cika. Namun bukan Cika yang ia dapati melainkan hanya kabar kepindahannya yang membuat Fero hancur sehancur-hancurnya.
Fero berlari ke luar sekolah namun tidak ada hasilnya, akhirnya ia memutuskan untuk bolos sekolah.
__ADS_1
Hari-hari yang Fero lalui di sekolah terasa berat semenjak kepergian Cika, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pindah sekolah karena setiap tempat yang ia lalui selalu mengingatkan ia akan Cika.
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...