
“Akhirnya pekerjaan hari ini selesai juga” teriak Elin senang sambil membersihkan tangannya yang sudah di penuhi campuran semen itu di tempat wudhu.
Kesepuluh mahasiswa itu berjalan kembali ke rumah pak kadus dan kembali menemukan mobil di depan rumah pak kadus.
“Perasaan tadi bu Lira nggak pakai mobil ini deh” gumam Baron.
“Pak kadus mah tamunya orang berkelas semua ya” racau Elin.
Qania yang melihat mobil tersebut sudah bisa menebak siapa yang sedang berada di rumah pak kadus saat ini.
“Hallo Qania, kita bertemu lagi” sapa Juna dengan senyuman sejuta watt di bibirnya.
Namun lagi-lagi Qania hanya menatap datar ke arahnya dan itu membuat Denis menggulum senyum dan mengatai Juna dalam hati.
“Eh nak Juna sama nak Denis sudah datang, kebetulan baru tadi rumahnya di bersihkan. Mau langsung kesana?” Tanya pak kadus yang baru sampai di halaman rumahnya.
“Boleh pak kalau tidak merepotkan” ucap Denis dengan sopan.
“Tentu saja tidak” sahut pak kadus sambil berjalan masuk ke rumahnya untuk mengambil kunci sepeda motornya.
“Emang rumahnya dimana pak?” Tanya Abdi penasaran.
“Di ujung kampung nak Abdi, rumahnya udah kosong selama hampir sebulan” jawab pak kadus sambil berjalan ke arah motornya.
“Yang di ujung kampung rumah yang tersendiri itu ya pak?” Tanya Qania merasa kenal dengan rumah yang di maksud pak kadus.
“Lah nak Qania tahu?” Tanya pak kadus heran.
“Iya pak, semalam saya di sana sama Raka. Dan rumah itu sangat bersih serta saya juga bertemu dengan anak pemilik rumah yang masih belia itu, dia cantik hanya saja dia pendiam” cerita Qania.
Pak kadus menatap Qania dengan penuh selidik, bulu kuduknya merinding. Bagaimana mungkin, pikirnya.
“Lah semalam lo ketemu pemilik rumahnya Qan? Kok gue nggak lihat?” Tanya Raka yang memang tidak tahu.
“Gimana kamu mau lihat kalau kamu langsung tancap gas buat ngegame” ketus Qania.
Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia salah tingkah dibuat Qania dan pikirannya langsung terbayang bagaimana semalam Qania memegang tangannya membuat ia tersenyum.
“Gila lo Ka?” cibir Ikhlas melihat Raka senyam-senyum.
“Nggak” jawab Raka kemudian berjalan masuk ke rumah, tak lupa ia menabrak pelan tubuh Qania yang berada di depannya.
“Rakaaaaaaa” teriak Qania kesal, namun Raka langsung berlari masuk ke rumah sambil tertawa puas sudah membuat Qania kesal.
“Jelasin kenapa lo bisa pergi berdua dengan si gamers itu?” Baron menatap Qania penuh intimidasi membuat Qania gugup sendiri.
“Kita perlu bicara Qania” ucap Prayoga datar, tak biasanya ia yang selalu kocak itu terlihat datar begitu.
Qania menatap Abdi meminta pembelaan namun Abdi malah menatap tajam ke arahnya.
“Iya, ntar kita bicara” ucap Qania lemas.
Setelah yang lainnya masuk, terlihat Witno mengepalkan kedua tangannya dan menatap geram entah kepada siapa karena hanya ia sendiri yang berada di luar saat ini.
“Sial, gue kalah start sama si Raka” umpatnya.
*
*
“Jadi elo ikut Raka yang mau nyari sinyal buat main game dan lo video callan sama Arkana?” ulang Abdi setelah Qania menceritakan kejadian semalam, saat ini mereka tengah mengobrol di pos ronda agar tidak ada yang mendengar perbincangan mereka.
“Iya, aku nggak macam-macam kok sama dia. Bahkan dia seakan lupa kalau ada aku yang ikut sama dia saking seriusnya ngegame. Kalau aku nggak ngajak pulang kita bisa-bisa nggak balik semalam” tambah Qania.
“Gue sih udah tahu si Raka itu emang gamers sejati” celetuk Prayoga.
“Tapi ingat batasan Qan, kita udah jagain lo dari Witno bukan berarti lo bebas sama si Raka. Kita udah janji sama Arkana, tunangan lo itu buat jagain elo dan jauhkan elo dari laki-laki asing” tandas Baron.
__ADS_1
“Iya, aku nggak bakalan lupa itu. Dan makasih ya udah jagain aku dari Witno, aku tahu kok kalau dia berusaha deketin aku. Dan jangan sampai Arkana tahu hal ini, aku takut cemburu akutnya itu kumat” ujar Qania sambil tersenyum senang karena perhatian teman-temannya itu.
“Good girl” puji ketiganya bersamaan membuat Qania terkekeh.
*
*
Tak terasa sudah hampir dua minggu mereka berada di dusun Suka Asrih itu, selama itu juga Juna tak henti mendekati Qania dan juga Raka yang tiada kehabisan cara untuk membuat Qania kesal. Sementara Witno harus sabar karena sampai saat ini ia belum juga bisa mengobrol bebas dengan Qania. Dan Manda, gadis itu diam dengan rencana yang entah apa yang tengah ia susun saat ini.
Seperti saat ini, Juna datang dengan niat sholat ashar di masjid yang tengah mereka kerjakan itu. ia berusaha mencari perhatian dari Qania, sementara Qania semakin muak dengan tingkah Juna tersebut.
“Hallo Qania, apa kabar hari ini?” sapa Juna setelah mengambil air wudhu.
Qania hanya tersenyum tipis yang bahkan hampir tidak nampak setiap kali Juna menyapanya.
Raka yang mengetahui ketidaknyamanan Qania saat Juna mendekatinya pun langsung datang menghampiri Qania.
“Sayang kamu istirahat dulu deh, biar aku yang gantiin. Kasihan cewek gue yang imut ini kalau sampai kelelahan” ucap Raka yang tiba-tiba menyambar ember berisi campuran itu dari tangan Qania.
Qania terkejut dengan tindakan Raka, namun untuk sesaat kemudian ia mengerti maksud Raka agar si Juna itu tidak mengganggunya lagi. Benar saja, dengan wajah masam Juna langsung masuk ke masjid yang sedang dalam tahap renovasi itu. Qania pun bisa bernapas lega karena Juna tidak lagi merecokinya.
“Yang satu bisa diawasi eh muncul lagi satu yang tiap hari bikin pusing” keluh Baron yang selalu mengawasi gerak-gerik Juna.
“Hm, berkah dan musibah buat Qania yang punya pesona tiada tara” timpal Prayoga.
“Untung aja si gamers itu mengerti situasi, tapi gue tetap takut dia bakalan naksir beneran sama Qania” desah Abdi.
“Hm, itu juga yang lagi gue pikirin. Si balok es itu tiba-tiba saja menunjukkan kepeduliannya pada lawan jenis dan bahkan sampai bertingkah konyol, bukan sifat dia yang sebenarnya tuh” ceplos Ikhlas yang tidak sengaja mendengar ketiga temannya itu tengah membicarakan Qania dan Raka.
“Eh Ikhlas” sentak Baron, ia menjadi salah tingkah karena ketahuan tengah membicarakan orang.
“Santai aja bro, gue juga sama kayak kalian yang tengah mengkhawatirkan Qania. Tapi lebih tepatnya gue khawatirin sahabat gue si Raka, gue yakin dia mulai tertarik pada Qania karena selama ini dia itu nggak pernah bertingkah sekonyol ini dan bahkan sama makhluk yang namanya perempuan dia itu sangat menjaga jarak. Gue khawatir jika Raka sampai jatuh cinta dan cintanya bertepuk sebelah tangan, karena ini pertama kalinya untuk Raka” ungkap Ikhlas membuat Abdi, Baron dan Prayoga sedikit terkejut mendengar tentang kepribadian Raka.
“Tapi gue berharap ini Cuma karena dia lagi gabut aja, maklum nggak bisa ngegame” tambah Ikhlas.
Witno yang tadinya ingin mengambil air wudhu tidak sengaja mendengar mereka sedang serius mengobrol, sehingga ia yang diam-diam menguping pembicaraan mereka di tempat wudhu itu langsung menyeringai, ia seperti mendapatkan sebuah ide yang sangat brilliant untuk menjauhkan Qania dari Arkana.
“Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui” gumam Witno dengan sebuah smirk di wajahnya.
*
*
Hari hari berlalu begitu cepat, tidak terasa mereka sudah hampir sebulan berada di dusun tersebut, Raka makin sering menjahili Qania, Prayoga yang tidak kehabisan ide untuk menggoda Elin, sementara Witno juga sering harus menelan kekecewaan karena tidak sekali pun memiliki cela untuk berduaan dengan Qania karena tiga bodyguardnya itu selalu pasang badan.
Banyu, si pendiam itu entah apa yang ia sedang pikirkan, dan Ikhlas, ia tiada hentinya untuk menyadarkan Raka dari perasaan yang tak seharusnya hinggap di hati sahabatnya itu.
Jangan tanyakan persoalan Manda, ia sudah malas untuk mencari masalah dengan hubungan Qania dan Arkana, karena toh Arkana juga tidak berada disini, pikirnya. Ia beralih menyukai si pendiam Banyu, entah lah tapi sikap diam Banyu membuatnya tertarik untuk mendekatinya.
“Diam-diam menghanyutkan dan mungkin diam-diam memabukkan” ucap Manda cekikikan setiap kali ia curi-curi pandang pada Banyu yang sedang serius bekerja itu.
Seperti malam ini, Ikhlas kembali menceramahi sahabatnya itu agar tidak terlalu jauh bermain dengan perasaan, karena ia khawatir Raka akan patah hati saat pertama kali mengenal perempuan lebih dekat.
“Gue tuh kesini mau ngegame As, bukan dengerin ceramah lo yang unfaedah itu, tahu nggak” ceplos Raka masih memainkan game di ponselnya.
“Gue gini karena gue peduli sama elo, sahabat gue satu-satunya Ka” gerutu Ikhlas.
“Gue bilang juga apa dari kemarin-kemarin, gue itu Cuma isengin dia aja. Dan juga sedikit melindungi dia dari si Juna itu. emang lo nggak ngelihat gelagatnya tuh orang yang setiap kali menatap Qania penuh dengan maksud” kali ini Raka serius bercerita kepada Ikhlas, dan ia menghentikan permainan gamenya.
“Eh elo nggak sadar kalau orang yang lo omongin itu tinggal di rumah itu?” ucap Ikhlas sambil melirik ke samping, rumah dimana Juna dan Denis tinggal selama di dusun ini.
“Balik yuk, ntar kita cari tempat buat bahas ini, sekalian ajak tiga bodyguardnya si Qania” ajak Raka yang hampir saja kecoplosan bercerita di halaman rumah itu.
Dengan cepat Ikhlas segera naik ke motor Raka dan mereka meninggalkan halaman rumah tersebut.
Setelah menempuh jarak dengan waktu hampir sepuluh menit, bukan karena jauhnya tetapi karena jalan yang rumit membuat mereka harus bersabar mengendarai kendaraan mereka, akhirnya mereka sampai di rumah pak kadus.
__ADS_1
Ikhlas dan Raka turun dari motor dan bergabung dengan teman-teman mereka yang tengah asyik mengobrol di teras, lebih tepatnya tengah asyik bermain sesuatu.
“Kalian dari mana?” Tanya Witno.
“Biasa dari rumah di ujung kampung, di sana sinyalnya oke punya” sahut Raka yang kemudian ikut duduk di lantai.
“Pasti ngegame lagi” sindir Qania yang sedang mengocok dadunya.
“Tau aja nih calonnya Raka” cengir Raka membuat Qania memelototinya.
“PD abiiisss” teriak Manda yang kini ingin berdamai dengan Qania, ia rasanya tidak memiliki masalah pribadi dengan Qania dan selama yang Manda kenal Qania adalah anak yang baik. Mungkin si Laras aja yang iri sama Qania, begitu lah yang disimpulkan Manda.
“Gue bakalan botakin nih kepala gue kalau lo Raka, bisa nikah sama Qania” seru Banyu, si pria dengan gaya batunya alias pendiam itu tiba-tiba berkoar.
“Sumpah, itu si Banyu kan?” pekik Elin sambil menatap tak percaya pada Banyu yang sedang menunggu gilirannya mengocok dadu.
“Biasa aja dong beb” tegur Prayoga.
“Bab, beb, bab, bep, emang lo siapa sih? Kenal juga enggak” hardik Elin yang tentu saja tidak ditanggapi Yoga.
“Sadar diri itu penting buat kalian berdua” ujar Ikhlas.
“Berdua?” beo Elin.
“Buat Raka dan Yoga” jawab Ikhlas dan hal itu membuat semuanya tertawa termasuk Witno.
Tidak ada yang tahu bahwa saat tadi Raka mengatakan Qania calonnya, ada yang berdetak cepat di dada Qania. Dan lagi ucapan Banyu membuat Qania merasa resah untuk sesaat.
‘Tidak, Qania Cuma buat Arkana. Nggak ada Raka atau yang lainnya’ elak Qania.
“Udah yuk, lanjutin” ajak Qania mengalihkan obrolan yang membuatnya merasa resah untuk sesaat.
Saat ini mereka tengah bermain monopoly yang sempat di beli Qania waktu mengunjungi pasar di pusat desa tadi pagi, entah mengapa ia tertarik dan merasa permainan ini akan membuat mereka mendapatkan keakraban.
“Katanya mau ngajak trio bodyguard itu?” bisik Raka pada Ikhlas yang tengah asyik menonton permainan monopoly oleh kedelapan temannya itu.
“Emang lo nggak lihat situasi lagi kayak gini, otak lo kemana sih” cibir Ikhlas namun dengan mode berbisik tanpa melepas pandangannya dari permainan itu.
Raka terdiam, dalam hati ia membenarkan ucapan Ikhlas barusan. Mungkin pengaruh main game atau kah karena ia begitu pedulinya dengan Qania yang katanya Cuma iseng itu? Hanya Raka dan authorlah yang tahu 😁
Setelah hampir dua jam akhirnya permainan berakhir dengan menangnya Banyu dan Witno, sementara Baron, Abdi, Prayoga, Elin, Manda dan Qania yang jatuh bangkrut.
“Gue bilang juga apa tadi, kalian nggak bisa ngalahin gue main monopoly. Ini mainan gue masih SD” ucap Witno dengan bangganya.
“Ya elah Wit, lo mah menang karena nggak ada gue main. Gue kan gamer sejati dan pasti bakalan menang, kalian nggak bilang-bilang mau main biar gue nggak pergi jauh-jauh nyari sinyal” celetuk Raka, si gamer sejati itu.
“Alah, buktiin dong” tantang Banyu.
“Ayok” ajak Raka bersemangat.
“Kalian aja, aku capek dan ngantuk. Udah berjam-jam main, aku pamit istirahat” ucap Qania seraya berdiri dan merenggangkan persendian tubuhnya.
“Gue ikutttt” teriak Elin dan Manda bersamaan saat melihat Qania sudah masuk ke dalam rumah.
“Gimana masih mau main nggak?” Tanya Raka tak sabar.
“Besok aja deh, gue juga capek dan ngantuk” jawab Witno yang diangguki oleh Banyu.
“Payah lo pada” ejek Raka saat melihat keduanya sudah berjalan masuk ke rumah.
“Besok deh Rak, gue jabanin lo sampai pagi” ucap Witno kemudian menguap namun ia tutup dengan tangannya, orang keren nggak boleh menguap sembarangan, pikirnya.
Setelah di teras hanya ada Raka, Ikhlas, Abdi, Baron dan Prayoga, kini dua sahabat yang dari tadi sudah menunggu momen ini pun langsung mengajak mengobrol trio bodyguard itu untuk membahas kecurigaan mereka kepada Juna.
...***...
__ADS_1