
Qania menatap malas kepada Tristan yang sedang berpangku dagu sambil menatap lurus ke depan. Sudah hampir sepuluh menit mereka duduk di teras namun belum juga saling membuka suara.
Qania memutar bola matanya jengah saat melihat Tristan yang tiba-tiba saja tersenyum.
“Hei tuan arogan, sebenarnya apa tujuanmu datang menemuiku? Apakah untuk memperlihatkan gigimu itu? Maaf ya, saya tidak beli gigi dan gigi saya masih lengkap,” ucap Qania dengat ketus.
Tristan langsung merasa tertohok dengan ucapan Qania barusan, namun sialnya ia sangat suka umpatan yang keluar dari mulut Qania untuknya.
“Apakah kau sudah gila?” Tanya Qania saat melihat Tristan yang malah tersenyum.
Tristan hanya menggeleng, tak berniat berucap sepatah kata pun.
“Mendadak bisu, hem?” ejek Qania yang sebenarnya sudah sangat jenuh menemani Tristan.
Tristan mengangguk.
“Ya sudah, saya mau masuk dan istirahat, Jika keperluanmu kemari hanya untuk menjual gigimu maka maaf saya tidak berminat. Selamat siang,” sarkas Qania, ia pun beranjak dari kursinya namun tangannya ditahan oleh Tristan.
“Mau kemana, hem?” Tanya Tristan sambil menatap Qania.
Qania pun kembali duduk, ia menatap ke arah tangannya yang masih digenggam oleh Tristan.
‘Dingin.’
Tristan yang mengerti arah pandang Qania pun langsung melepaskan pegangannya.
“Maaf,” cicitnya.
“Hmm … ya sudah, silahkan utarakan maksud kedatanganmu karena saya tidak memiliki banyak waktu apalagi untukmu,” tandas Qania.
‘Huuhh so badas,’ kekeh Tristan dalam hati.
“Oke, santai. Jadi kedatangan saya kesini adalah untuk mengajak kamu makan malam di kafe saya nanti malam,” jawab Tristan dengan santai dan percaya diri tinggi.
Qania membelalakkan matanya, ia cukup terkejut dengan ucapan Tristan.
“Hanya itu?” Tanya Qania yang sudah menormalkan kembali ekspresinya.
“Ya.”
“Saya menolak, selamat siang.”
‘Seandainya kamu adalah Arkana maka aku akan langsung berkata iya.’
“Hahahaha … jangan terlalu percaya diri dulu Qania. Saya sebenarnya ingin mengajakmu berbisnis,” ucap Tristan berusaha mencegah Qania yang ingin pergi.
“Bisnis?” Beo Qania.
“Ya, jadi saya ingin mengajak kamu untuk ….”
“Saya tidak tertarik!”
Tristan membungkam mulutnya, lagi-lagi ia mendapatkan penolakan dengan begitu angkuhnya dari Qania. Kalau saja Qania tahu dalam hati Tristan sedang bersorak karena kata-kata kasarnya itu, maka pasti saat ini Qania akan mengatai dirinya aneh.
“Oke, oke. Saya sebenarnya datang untuk meminta bantun darimu, Qania,” gumam Tristan.
“Apa? Apa tadi? Bisa diulang?” Ejek Qania.
“Saya ingin meminta bantuan kamu Qania, tolong ….”
“Kalau saya menolak?” Lagi-lagi Qania memotong ucapan Tristan.
“Tolong Qania, hanya kamu harapan saya. Please ....”
Qania mengangkat sebelah alisnya, ia menatap lekat kedua mata Tristan kemudian ia menghela napas.
“Bantuan apa?” Tanya Qania datar.
“Bantu aku menyelesaikan masalah proyek,” lirih Tristan.
__ADS_1
“Lho, bukannya saya sudah memberikan kamu contoh surat teguran?” Tanya Qania heran.
“Tapi saya kurang paham, Qania. Saya ini pebisnis kuliner, bukan bangunan,” aku Tristan.
Qania diam. ‘Kasihan juga sih, sudah jauh-jauh datang mencariku’ batin Qania.
“Kan banyak ahli konstruksi yang bisa kamu pakai jasanya, kenapa harus jauh-jauh mencari saya sih. Nggak ada kerjaan banget,” gerutu Qania, ia mencoba mencari tahu alasan Tristan yang sebenarnya.
“Karena kamu yang pertama kali memberi tahu kepada saya tentang kejanggalan dalam proyek itu. Bahkan hanya dengan mengamati kamu sudah tahu, jadi saya memutuskan untuk meminta bantuanmu saja,” ungkap Tristan.
“Hmm … kalau saya menolak untuk membantumu?”
“Ayolah Qania, bantuin gue, please. Nggak kasihan apa, saya sudah jauh-jauh datang kesini masa harus mendapatkan penolakan,” bujuk Tristan.
“Itu urusanmu,” ucap Qania acuh.
‘Untung gue suka. Kalau enggak, udah gue lakban tuh mulut. Ketusnya ngeselin banget.’
“Tolong Qania. Sebagai gantinya kamu boleh minta apa saja dari saya meskipun itu organ tubuh saya,” rayunya.
Qania berusaha menahan tawanya, baru kali ini ada orang membujuk bahkan sampai menjaminkan organ tubuhnya. Apa kabar jika aku meminta matanya ya? Pikir Qania, dalam hati ia tertawa geli.
“Oke, deal.”
“Yes, deal.”
Keduanya pun berjabatan tangan. Qania yang baru pertama kali bersentuhan dengan Tristan tiba-tiba saja merasa kedinginan dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
‘Rasanya kenapa bisa sama seperti ini? Setelah sekian lama? Sayang, dia bukan Arkanaku. Mungkin hanya karena wajahnya saja yang sama sehingga aku terbawa suasana.’
“Ya sudah, ayo kita kerjakan sekarang. Saya tidak ingin membuang-buang waktu. Waktuku terlalu mahal jika dihabiskan bersamamu.”
‘Mulai lagi ketusnya.’
“Nggak disini Qania, saya datang untuk menjemputmu dan kita akan menyelesaikan masalahku di kota,” ucap Tristan.
“Gampang, saya bisa membayar orang untuk menggantikanmu disini untuk beberapa hari,” ujar Tristan enteng.
Qania berdecak, ia dibuat tidak bisa berkata apa-apa dengan pemikiran Tristan.
“Tidak bisa,” tolak Qania dengan lemas.
“Bisa Qania, bisa.”
“Jangan memaksaku, Tristan,” ucap Qania pelan, ia sudah tidak punya kekuatan untuk berdebat.
“Tolong lah Qania, saya berharap penuh kepadamu,” ucap Tristan memelas, ia langsung berlutut di kaki Qania.
“Tristan apa yang kamu lakukan?” pekik Qania yang terkejut dengan tindakan Tristan.
“Saya tidak akan bangun sampai kamu berkata iya,” keukeuh Tristan.
“Terserah,” ucap Qania pasrah sambil memijat pelipisnya.
Qania diam saja di kursi dan Tristan tetap pada posisinya berlutut di kaki Qania. Zakih dan Lina yang hendak keluar dari rumah pun dibuat terkejut.
“Ya ampun pak Tristan, Qania. Ini ada apa?” tanya Zakih terkejut.
“Iya Qania, ada apa? Jangan menyiksa kekasihmu seperti itu. Lo nggak kasihan dia terus berlutut seperti itu?” tegur Lina.
“What? Kekasih?” Pekik Qania.
“Tristan bangun,” pinta Qania dengan datar.
“Nggak sampai kamu mau maafin aku, sayang,” ucap Tristan yang langsung mendapat ide agar mendapat belas kasihan dari teman-teman Qania.
“Sayang? Maaf? Kamu ngaco ya?” gerutu Qania.
“Qan, udahlah. Semua bisa dibicarain baik-baik. Kamu nggak kasihan sama pacarmu?” Nasihat Lina.
__ADS_1
“Ya sudah aku maafin. Nggak usah ngedrama lagi. Semua teman-temanku juga tahu kalau aku tidak memiliki kekasih. Dan mereka pun tahu kalau kamu itu calon menantu di keluarga Alvindo,” ucap Qania sambil memutar bola matanya jengah.
Tristan tersenyum masam, kemudian ia duduk kembali bersama Zakih dan Lina yang sudah bergabung.
“Jadi lo itu pacarnya Marsya Alvindo. Maaf ya tadi gue lupa kalau lo datang nyariin Qania,” ucap Zakih.
“Santai aja, bro.”
“Gue pikir kemarin itu kalian bukan teman. Anda kan yang kemarin di pekerjaan jalan itu?” Selidik Lina yang dijawab anggukan oleh Tristan.
“Saya boleh nggak minta izin buat bawa Qania selama beberapa hari untuk membantu saya?” tanya Tristan.
“Tapi kami sedang KKN, gimana Zak?” tanya Lina pada Zakih.
“Sebenarnya nggak boleh sih, tapi kalau urusannya sangat penting ya silahkan saja,” jawab Zakih.
"Terima kasih. Qania boleh kita bicara berdua?" Tanya Tristan.
"Ya bicara saja. Sebaiknya kamu cepat, jangan mengulur-ulur waktu," jawab Qania.
"Ya sudah kita berdua jalan dulu," pamit Zakih yang diangguki oleh Qania dan Tristan.
"Jadi kamu mau bicara apa?" Tanya Qania, kali ini nada bicaranya melembut.
"Tolong saya Qania, kamu adalah harapan saya. Ini adalah proyek konstruksi pertama saya dan saya sungguh tidak paham masalah seperti ini. Tolong bantu saya," pinta Tristan, wajahnya begitu memelas.
"Baiklah. Tapi penuhi permintaanku," ucap Qania.
"Terima kasih Qania. Apapun permintaanmu akan aku penuhi," jawab Tristan lega.
"Baguslah. Jadi kapan kita mulai bekerja?"
"Hari ini juga, karena aku sudah mengundangnya untuk makan malam di kafe," jawab Tristan.
"What? Emang kamu ada rencana apa?" Pekik Qania.
"Ya aku mau langsung to the point aja kalau dia udah korupsi."
"Ya nggak gitu juga kali," ucap Qania memutar bola matanya jengah.
"Lalu?"
"Sebentar, biar aku pikirkan. Dan upah untuk buah pikiranku ini adalah sebuah motor. Aku mau membantumu tapi aku tidak ingin naik mobil bersamamu. Aku tidak biasa, jadi jika kau ingin mengajakku pergi maka datanglah bersama motormu," ucap Qania.
'Biarlah aku egois untuk kali ini. Aku sungguh merindukan Arkanaku. Maaf aku meminjam tubuhmu untuk mengenang Arkana.'
"Kenapa motor? Oh aku tahu ... kau pasti ingin bermesraan denganku, iya kan? Gila, kamu modus juga ya," ledek Tristan.
"Sebaiknya patuhi saja jika masih ingin aku membantumu," ucap Qania dingin.
"Ya, ya, ya."
"Mulai lagi juteknya," gumam Tristan namun tidak di dengar oleh Qania.
"Ya sudah, sekarang kamu pulang dan datang lagi dengan menaiki motor." Usir Qania halus.
"Baiklah-baiklah. Aku pamit. Hati-hati di jalan," ucap Tristan seraya berdiri dan berjalan meninggalkan Qania yang sedang menahan tawanya.
Tristan membunyikan klakson sebelum pergi meninggalkan Qania yang sedang duduk di tempatnya sedari tadi yang juga sedang menatap kepergian Tristan.
"Hahh ... andai kamu Arkana. Dasar pria pemaksa."
Qania pun berjalan masuk ke dalam rumah sambil memikirkan ide untuk membantu Tristan.
"Harus gitu ya, aku yang bantuin dia?"
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗
__ADS_1