Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Dia suami saya


__ADS_3

Qania berjalan dipapah oleh pria itu menuju ke sebuah angkutan kota yang bertujuan ke arah rumah Qania. Ia dengan hati-hati membawa Qania masuk dan mendudukkannya disebelahnya. Qania masih diam dengan air mata yang masih tersisa di pipinya.


"Tenang saja nona, anda sudah aman bersama saya. Maaf saya terlambat menolong anda, untuk biaya pulang ke rumah biar saya saja yang menanggungnya" ucap pria itu berusaha menghibur Qania.


Qania kembali menangis, ia memeluk tubuh pria asing di sampingnya itu, dan mencengkram erat jaket jeans pria yang bersamanya sedari tadi.


"Aku takut mas" isak Qania.


"Kamu aman sekarang, saya akan menjagamu dan mengantarmu sampai ke rumah" ucapnya menenangkan Qania.


Beberapa saat yang lalu...


Qania begitu kesal pada pria itu, sehingga ia berusaha untuk berjalan dan melupakan kejadian tadi.


"Toh dia hanya orang asing yang nggak sengaja ketemu sama aku disini. Atau anggap saja dia adalah malaikat penyelamat yang dikirim Tuhan untuk menemani perjalananku pulang ke rumah" ucap Qania sembari memasukkan ponselnya kedalam tasnya.


Namun tanpa Qania duga, dua motor dengan empat orang yang menaikinya langsung menarik paksa tasnya, membuat Qania ikut terseret karena tetap mempertahankan tasnya.


Qania terjatuh namun masih tetap berpegangan pada tali tasnya hingga ketika ia terduduk di jalan ia tetap ikut terseret dengan lutut bertumpu di aspal. Salah satu pria yang dibonceng langsung mengeluarkan pisau dan menggores tangan Qania hingga ia mengerang kesakitan dan dengan terpaksa melepaskan tasnya itu.


Kejadian tersebut hanya menjadi tontonan karena beberapa orang disana sudah mengetahui siapa ke empat pria sadis itu. Sementara pria yang bersama Qania tadi menjadi heran karena ada kerumunan dan samar-samar ia mendengar ada beberapa orang yang berbicara kasihan terhadap wanita itu.


Entah mengapa hatinya merasa gelisah dan teringat akan Qania, ia langsung menyelip diantara kerumunan itu dan mendapati Qania tengah duduk berlutut dan menangis. Ia berlari menghampiri Qania dengan perasaan begitu kasihan dan juga kesal.


"Kenapa kalian hanya melihatnya dan tidak menolongnya" teriak pria itu membentak mereka yang ada disekitar Qania.


Mereka hanya diam, tidak bisa berkata apa-apa karena memang mereka juga salah tidak bisa membantu gadis itu padahal jumlah mereka lebih banyak. Bahkan saat Qania sudah menangis dan perampok itu sudah pergi, tidak ada satu pun dari mereka yang menolong Qania.


"Kamu terluka, mari saya antar kamu pulang" ucapnya sambil memegangi bahu Qania.


"Sakit mas, lutut Qania sakit" tangis Qania.


"Biar saya bantu kamu pulang, mari ikut saya" pintanya.


Qania menurut dan membiarkan pria asing itu memapah tubuhnya yang gemetar ketakutan dan juga kesakitan. Saat berjalan menuju angkot yang tadi ia naiki, ia menatap horor pada orang-orang yang tadi ia bentak itu.


......

__ADS_1


Qania masih menangis dalam pelukannya, sehingga tanpa ia sadari tangannya mulai membelai rambut Qania, ia merasa iba dengan apa yang terjadi pada gadis kecil itu.


"Kamu tinggal dimana?" tanya pria itu disela tangis Qania.


Qania menyebut alamatnya namun enggan melepas pelukannya. Kemudian pria itu menyebutkan alamat yang dikatakan Qania ke supir angkot.


"Jalan saja pak, saya akan bayar semua ongkosnya. Anggap saja saya membooking angkot bapak hari ini" ucapnya, kemudian pak supir langsung melakukan perintahnya.


Qania mulai menghentikan tangisnya, kemudian ia melepas pelukannya dan menghapus air matanya. Qania menatap pria di depannya dengan tatapan sendu.


"Terima kasih untuk semua pertolongan kamu hari ini, saya tidak tahu bagaimana jadinya jika kamu tidak dikirim Tuhan untuk menemani perjalananku" ucap Qania masih sesenggukan.


Pria itu mengangkat sebelah alisnya, ia sedikit tidak paham dengan ucapan Qania.


"Dikirim Tuhan, maksudnya?" tanyanya heran.


Qania kemudian menceritakan kisahnya kenapa ia sampai bisa berada di bus sedetail mungkin. Namun ia tidak mengatakan bahwa Arkana adalah pacarnya, ia bukan tidak ingin namun hanya saja ia tidak mau ada anggapan buruk tentang Arkana dari orang lain, sehingga ia menyebut Arkana hanya sebagai temannya saja.


"Kasihan juga ya nasib kamu hari ini, teman kamu juga harusnya nggak ninggalin kamu gitu aja. Kalau saya jadi kamu, sudah saya marahi teman nggak guna kayak gitu, nggak bisa diandalkan" ucapnya sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Oh iya mas, apa mas nggak apa-apa nih nganterin saya. Jangan-jangan rumah mas udah lewat" tanya Qania mengalihkan.


"Kebetulan saya juga memang kearah yang sama dengan kamu" jawabnya tersenyum.


"Oh syukurlah. Oh iya dari tadi kita belum kenalan, nama saya Qania mas. Kamu siapa?" tanya Qania sambil menyodorkan tangannya untuk bersaliman.


"Nama saya Ghaisan" jawabnya sambil menyambut uluran tangan Qania.


Setelahnya mereka melepas jabatan tangan itu, awal perkenalan yang menarik untuk keduanya.


"Oh iya mas, mas disini mau ke sama saudara ya. Rumahnya disebelah mana mas?" tanya Qania sok akrab.


"Di dekat taman" jawab Ghaisan. "Oh iya, nggak usah panggil mas, panggil saja Ghaisan. Rasanya saya terlalu tua jika dipanggil seperti itu" pintanya sambil menyelipkan candaan.


"Ah nggak sopan" tolak Qania.


"Pokoknya Ghaisan atau kamu turun dari sini sekarang" ancamnya namun hanya main-main saja, ia sebenarnya tidak serius.

__ADS_1


"Baiklah Ghaisan, eh Ghai saja deh. Biar lebih mirip sama guru di serial kartun Naruto, hehe" ucap Qania kemudian tertawa.


"Ya terserah kamu saja lah" ucapnya pasrah.


"Gadis yang unik, begitu cepat ia menghilangkan rasa sakit dan takutnya. Justru saat ini ia sedang mengajakku bercanda, sungguh cerdas. Ia mampu membalikkan situasi dalam waktu singkat" puji Ghaisan dalam hatinya.


Qania langsung berteriak meminta supir angkot itu menghentikan mobilnya. Ia juga berhasil menyadarkan Ghaisan yang sedari tadi tengah melamunkan dirinya.


"Sudah sampai?" tanya Ghaisan.


"Iya. Mari Ghai turun dulu, mampir ke rumah" ajak Qania.


"Oke" jawab Ghaisan, kemudian ia memberikan beberapa lembar uang pada supir angkot itu.


Qania begitu antusias membawa Ghaisan ke rumahnya, ia tidak sabar ingin mengenalkan Ghaisan pada mamanya. Namun matanya melirik ke arah parkir mobil, disana ada mobil Arkana. Terbesit ide di benak Qania untuk membuat Arkana kesal.


Qania masuk ke rumahnya dengan dipapah oleh Ghaisan, kemudian memberi salam. Mama Qania yang hapal betul dengan suara anak gadisnya itu segera membuka pintu dan betapa terkejutnya Arkana dan mama Qania saat melihat kondisi Qania yang terdapat beberapa luka.


"Astagfirullah, apa yang terjadi padamu nak" teriak Alisha saat melihat putrinya itu.


"Maaf bu, sebaiknya Qania diajak masuk dulu" sela Ghaisan.


Alisha langsung membantuk Ghaisan memapah Qania untuk duduk di sofa ruang tamu bersama Arkana yang menatap Qania dengan sedih namun saat beralih menatap Ghaisan ia seolah mengintimidasi pria itu.


"Kamu siapa ya?" tanya Alisha, mama Qania.


"Saya Gha.."


"Dia Ghaisan, suami Qania ma" ucap Qania memotong ucapan Ghaisan.


"APPAAA" teriak mamanya dan Arkana bersamaan.


Qania dan Ghaisan saling bertatapan, dalam hati ia tersenyum puas melihat Arkana yang terkejut bukan main.


"Rasain kamu" batin Qania.


Sementara Ghaisan menjadi tak enak hati, karena ulah Qania ia menjadi ikut masuk dalam drama gadis itu. Entah apa yang ia rencanakan, pikir Ghaisan.

__ADS_1


__ADS_2