
Acara pertunangan kini telah usai, menyisahkan anggota keluarga inti dan tak lupa kedua asisten rumah tangga yang dibawa oleh Tristan,, yaitu Pak Yotar dan Bi Ria. Mereka belum bisa pulang karena Tristan masih belum mengatakan apapun kepada mereka. Keduanya hanya duduk menunggu saja di tempat yang agak berjauhan dari perkumpulan keluarga Marsya dan juga ada Tristan disana.
“Bu, tadi benar non Qania, kan?” tanya Pak Yotar kepada istrinya.
“Iya Pak, memang benar non Qania. Sangat cantik ya. Kalau Ibu sih mendingan non Qania sama den Tristan. Mereka kelihatan cocok Pak,” jawab bi Ria dengan kembali mengemukakan pendapatnya.
“Hussh, jangan ngomong kayak gitu disini Bu. Ntar non Marsya dengar lagi,” tegur Pak Yotar.
“Maaf Pak, Ibu kecoplosan,” ucap Bi Ria memelankan suaranya, ia kemudian menatap Marsya yang tengah mengobrol dengan keluarganya dan juga Tristan.
“Makanya dilihat-lihat dulu Bu sebelum bicara. Jangan sampai kita mendapat masalah,” ucap Pak Yotar dan Bi Ria pun mengangguk pelan.
Sementara itu, Tristan yang sedang tertahan dengan keluarga Marsya pun tak bisa menyegerakan niatnya untuk mencari Qania. Ia sudah begitu gusar ingin segera menemui wanita yang sudah mengacaukan perasaannya terlebih malam ini.
Pantas saja dia mengirim pesan tadi seperti itu. Rupanya dia sedang berada disini juga. Huhh, gue udah pingin nyari atau hubungi dia tapi saat ini gue benar-benar dalam keadaan yang nggak bisa ngapain. Harus sabar dulu, batin Tristan.
Marsya diam-diam mencuri pandang kepada Tristan. Ia menyeringai tipis melihat gelagat Tristan yang benar-benar terlihat tidak tenang.
Aku nggak bakalan izinin kamu buat ketemu sama Qania, Tris. Karena mulai malam ini, kamu adalah milikku. Satu langkah lagi menuju jenjang itu. Dan aku pastikan dalam waktu dekat ini aku akan mendapatkan persetujuan Tristan untuk segera menikah. Apapun, apapun akan aku lakukan untuk sampai ke titik itu, batin Marsya.
Ia kemudian tersenyum tipis yang mana hanya ia yang tahu apa maksud dari senyumannya tersebut sebab keluarganya saat ini sedang mengobrol tanpa ada yang bercanda atau saling melempar senyuman.
“Oh ya, kalian akan menginap disini atau kita akan pulang?” goda tante Bendelina.
“Pulang.” Tristan dan Marsya kompak menjawab kemudian keduanya saling memandang.
Hal tersebut justru mengundang gelak tawa dari keluarga, mereka semakin menggoda pasangan yang baru saja bertunangan tersebut. Wajah Marsya kian merona tapi tidak dengan Tristan yang saat ini dalam benaknya hanya ada Qania, Qania dan Qania.
Dunianya saat ini hanya tentang Qania saja. Entah wanita itu sudah memberinya sihir atau memang dirinya yang sudah tersihir dengan sendirinya oleh pesona wanita yang selalu berkata pedas dan tak pernah lupa mengumpati dirinya.
“Ya sudah, sekarang sudah mulai larut. Sebaiknya kita pulang karena besok pagi juga kita akan ke bandara,” ucap tuan Alvindo.
__ADS_1
Mereka pun setuju dan langsung bergegas untuk pulang. Sesampainya di lobi hotel, Marsya masih setia menggandeng tangan Tristan. Ia tak ingin memberi cela sedikitpun untuk Tristan menjauh darinya.
“Tris, bisa tidak kamu mengantarku pulang?” tanya Marsya dengan suara manjanya.
“Tentu,” jawab Tristan cepat. Yang benar saja ia akan menolak seperti apa yang baru saja dikatakan oleh hati dan pikirannya. Ia baru saja bertunangan dan mana mungkin menolak tunangannya tersebut terlebih lagi masih bersama keluarganya.
“Makasih,” ucap Marsya senang.
Setelah kamu mengantarku akan kupaksa untuk menginap. Aku jamin kau tidak akan menolak, batin Marsya.
“Tapi tunggu disini sebentar, aku hampir saja meninggalkan bi Ria dan pak Yotar,” ucap Tristan melepaskan paksa gandengan tangan Marsya.
“Hmm, ya sudah.” Wajah Marsya merengut, ia bahkan terabaikan oleh pembantu di rumah Tristan. Ia merasa bahwa dirinya masih kurang penting untuk Tristan.
Setelah perjuanganku selama ini, aku tidak akan mundur satu langkah pun. Aku sudah bersamamu sejak lama, Tris. Jangan membuatku marah dan juga sampai melakukan hal yang tak terduga jika kau membelot.
Tristan yang kembali masuk ke ruangan pertunangannya tadi bernapas lega karena masih menemukan kedua asisten rumah tangganya itu sedang membantu beberapa petugas yang membersihkan acara pertunangan tersebut. Ia pun berjalan dan menghampiri pasangan suami istri yang sedang membantu menyusun piring bekas makanan para tamu.
“Eh Den, kami hanya membantu sedikit. Lagi pula Bibi nggak enak lihat orang bekerja sementara Bibi hanya duduk memperhatikan,” ucap bi Ria kemudian memberikan setumpuk piring kepada seorang pria yang masih muda. Ia pun bersama Pak Yotar berjalan ke arah Tristan.
“Hmm, Bibi ada-ada aja. Ya sudah ayo kita pulang,” ucap Tristan kemudian berjalan lebih dulu diikuti oleh pasangan suami istri yang bekerja untuknya itu.
Bughhh…
Tristan sedikit meringis karena menabrak seseorang. Baru saja ia akan mengumpati orang tersebut, ucapan orang itu justru membuatnya terbungkam.
“Oh setelah gue nyerahin Qania ke elo, lo justru tunangan disini? Hahaha, gila. Katanya cinta, katanya sayang dan katanya lagi bakalan berjuang, kok malah tunangan sama orang lain. Lo munafik tahu nggak!”
Raka. Ia memang sengaja menunggu momen dimana ia bisa mencaci pria yang sedari tadi pagi membuatnya geram. Bagaimana tidak, ia mendengar kehebohan tentang pertunangan Tristan dan Marsya dari beberapa orang terdekatnya. Ia ingin tidak percaya namun langkah kakinya justru membawanya ke tempat ini. Dan disini ia menyaksikan sendiri bagaimana Tristan bertunangan. Tapi ia cukup terlambat datang dan tidak melihat adegan yang melibatkan Qania tadi.
“Cih, gue mungkin salah membiarkan Qania bersatu dengan lo. Lo itu udah menjadi miliknya Qania, Arkana Wijaya. Lo itu gimana sih? Mungkin lo lupa sama Qania, mungkin emang lo amnesia tapi lo nyadar dong kalau lo itu punya feeling sama Qania. Atau itu cuma perasaan lo yang bersifat semu aja ke Qania? Lo Cuma pengen permainin perasaannya Qania? Kalau itu emang tujuan elo, selamat bro lo udah berhasil. Dan lo bakalan berhadapan sama gue. Cinta atau tidak, Qania bakalan gue jadiin istri gue tak peduli sekeras apapun penolakan yang bakalan gue dapatin tapi gue bakalan jauhin elo dari Qania,” ucap Raka panjang lebar. Ia benar-benar sangat ingin memberikan sebuah pukulan di wajah pria di hadapannya ini.
__ADS_1
“Gue tunangan atas keinginan Qania. Dia yang nyuruh gue buat tunangan sama Marsya. Gue bahkan udah datang ke tempatnya dan gue udah mohon-mohon untuk dia minta gue buat batalin. Tapi apa, sampai tadi menjelang acara pertunangan saja bahkan dia ngancam gue kalau gue harus tunangan sama Marsya. Gue nggak mungkin nolak permintannya itu,” bentak Tristan. Ia pun tak terima jika Raka memojokkannya seperti ini.
“Hahaha … permintaan Qania konon. Lo nggak bisa lihat mana permintaan dan mana ujian cinta? Harusnya kalau Qania maksa elo gitu dan lo cinta sama Qania, lo nyadar dong kalau itu ujian dari Qania. Lo bakalan pertahanin perasaan lo ke dia atau lo tetap bertunangan dengan dalih keingin atau permintaan serta ancaman dari Qania. Mikir dong lo! Qania pasti sudah bisa melihat gimana keseriusan elo ke dia sekarang. Lo nggak bisa mertahanin kehendak lo. Lo nggak bisa bersikukuh sama perasaan lo. Lo payah! Dengan apa yang lo lakuin saat ini, itu udah jelas kelihatan bahwa cinta lo lemah. Kalau cinta lo kuat, meskipun seluruh dunia meminta lo buat tunangan sama Marsya dengan alasan keinginan Qania, lo harusnya nolak. Karena apa? Karena lo nggak akan mampu membagi perasaan lo sama yang lain. Orang nih ya, kalau udah cinta ke satu orang, nggak bakalan peduli apapun dan siapapun yang menentang. Bakalan maju dan berjuang sampai titik darah penghabisan. Payah!”
Setelah mengolok-olok Tristan, Raka langsung pergi meninggalkan Tristan yang kini terdiam mencoba mencerna perkataan Raka barusan.
Deggg …
Satu hal yang akhirnya ia sadari, ucapan Raka memang benar adanya. Jika memang ia mencintai Qania, ia tidak akan melakukan ini meskipun seluruh dunia mengancamnya.
“Arrrggggghhhh ….”
Suara Tristan menggema di lorong hotel tersebut, ia menjambak rambutnya dengan keras membuat Pak Yotar dan Bi Ria yang berada dibelakangnya yang juga turut serta mendengarkan percakapan majikannya dan pria asing itu merasa iba.
Mereka pun tak bisa menampik bahwa apa yang diucapkan teman Tristan itu ada benarnya. Namun yang paling penting kali ini, mereka harus membawa Tristan pulang dan menenangkannya disana.
“Payah! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Argggg … brengsek!” Tristan terus meninju tembok di sampingnya hingga tangannya mengeluarkan darah.
“Den, mari kita pulang Den. Jangan seperti ini,” ajak bi Ria yang kini sudah menangis melihat kekacauan dalam diri Tristan.
“Saya memang bodoh Bi, sangat payah.” Tristan tertawa lirih, namun Pak Yotar dengan sigap membantunya berjalan dengan memapahnya.
Di lobi hotel Marsya tersenyum melihat Tristan yang sedang berjalan dengan tatapan datar ke arahnya. Sebelum sampai di tempat itu, Bi Ria kembali menyadarkan Tristan bahwa masih ada keluarga Marsya disana. Dengan menguat-kuatkan hatinya, Tristan pun mencoba bersikap seolah tidak terjadi apapun meskipun itu sangat sulit.
“Pak Yotar, Anda yang menyetir. Bi Ria duduk di belakang bersama Marsya. Kita antar dia dulu baru kita pulang,” ucap Tristan dengan datarnya hingga membuat Marsya syok.
Akhirnya dengan perasaan sangat kesal Marsya pun menurut. Mau bagaimana lagi, tadi saja ia sudah menyuruh keluarganya untuk pulang lebih dulu. Ia pun masuk dan duduk bersama bi Ria dengan wajah merengut.
.... . . . . . . . ...
__ADS_1
Next Bab menyusul 😄😄