Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Pertama kalinya


__ADS_3

Sinar mentari menusuk ke kulit Qania hingga ia perlahan membuka kedua matanya. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam, saat ia teringat bahwa ia tidur bersama Arkana, ia langsung berbalik ke samping namun tidak menemukan siapa-siapa.


"Kemana pria menyebalkan itu? Apakah semalam itu hanya mimpi atau..?" Qania bertanya pada dirinya sendiri.


Ia terus berusaha mengingat kejadian semalam, sambil memikirkan apakah yang sudah ia lakukan secara sadar maupun tidak sadar semalam bersama Arkana. Ponselnya berdering membuyarkan lamunannya.


"Bukankah ponselku semalam mati? Kenapa saat ini sudah aktif?" tanya Qania pada dirinya sendiri, membuat ia semakin bingung dengan apa yang terjadi saat ia tertidur.


Qania meraih ponsel yang ada di meja dekat tempat tidurnya, melihat siapa yang menghubunginya pagi itu.


"Assalamu'alaikum nak" salam papanya.


"Wa'alaikum salam pa, Qania akan segera bersiap" jawab Qania saat melirik jam dinding di kamar itu.


"Maaf Qan, papa lupa memberitahumu kalau papa sudah berangkat lebih awal" ucap papanya dari seberang telepon.


"Apaa..?" Qania tersentak, bagaimana bisa papanya meninggalkannya sendirian disana. "Tapi pa ini kan masih pagi, kok papa ninggalin Qania sih? Papa tega, hiksss. Qania pulang sama siapa, hikksss" tangis Qania.


"Hei sayang maafkan papa, papa nggak maksud ninggalin kamu. Papa juga tadi dapat kabarnya dadakan jadi segera berangkat. Kan disana ada Arkana, kamu pulang sama dia ya" bujuk papanya, ia tahu bahwa anak gadisnya itu merasa sedikit takut berada di tempat asing tanpa keluarganya.


"Iya deh pa, hmm" ucapnya lesu.


"Ya sudah, papa matikan dulu teleponnya. Kamu hati-hati ya" pesan papanya.


"Baik pa" jawabnya.

__ADS_1


Setelah meletakkan kembali ponselnya di atas meja itu, ia segera mandi. Sepuluh menit ia kemudian keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap yang sudah ia sisakan di luar kopernya. Baju kaos lengan pendek berwarna biru dengan celana jeans panjang yang ia pilih untuk di kenakan saat pulang ke rumah.


Qania sudah bersiap, ia baru saja akan meletakkan ponselnya ke dalam tasnya namun sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


"Baru mau disamperin udah nelepon" ucap Qania kemudian menjawab panggilan Arkana.


"Hallo" sapa Qania.


"Sayang kamu udah bangun ya?" tanya Arkana.


"Nggak, ini lagi mimpi" jawab Qania ketus.


"Aku serius" ucap Arkana.


"Udah tahu aku udah bangun dan bisa teleponan sama kamu, eh malah nanya apa aku udah bangun" cibir Qania.


"Sayang kamu nanti pulangnya sama papa kamu ya, tadinya aku mau ngajak kamu pulang bareng. Tapi aku udah sampai di rumah nih" ucap Arkana.


"Appaaa..?" Qania sangat terkejut.


"Maaf sayang, saat kamu tidur semalam aku dapat telepon kalau papa diserang seseorang, makanya aku langsung memutuskan untuk pulang saat itu juga. Aku juga mengisi daya hp kamu dan sengaja aku aktifin agar bisa hubungin kamu. Tapi nyatanya ponselku yang mati jadi baru bisa hubungin kamu sekarang. Maaf ya sayang" cerita Arkana.


"Tapi.." Qania mulai menahan isak tangisnya karena mengetahui bahwa saat ini ia sebatang kara di tempat itu.


"Hallo sayang?" panggil Arkana karena Qania tidak bersuara sedari tadi.

__ADS_1


"Sayang kamu nggak apa-apa?" tanya Arkana.


"Nggak kok, aku nggak apa-apa. Baiklah nggak masalah, aku bisa pulang sama papa" jawab Qania kemudian menggigit bibirnya agar tidak menangis.


"Apa kamu sakit sayang? Semalam kita hujan-hujanan" tanya Arkana memastikan.


"Nggak kok, aku baik. Ya sudah, aku mau ke kamar papa dulu. Kasihan papa kalau menunggu lama" ucap Qania mengalihkan.


"Baiklah, kamu hati-hati ya" pesan Arkana.


Tanpa menjawab lagi Qania langsung mematikan ponselnya. Ia jatuh terduduk diatas tempat tidur itu, rasanya ia sudah tidak memiliki daya lagi. Air matanya mulai menetes saat membayangkan nasibnya yang berada di tempat asing sendirian.


"Mama, Qania takut" isaknya.


"Aku bahkan tidak memiliki cukup uang untuk pulang. Dan aku juga tidak tahu bagaimana caranya pulang ke rumah, aku tidak tahu jalan dan aku terlalu takut untuk menaiki transportasi umum disini" tangis Qania.


Hampir sejam Qania menangisi nasibnya di dalam kamar, hingga ia memutuskan untuk menaiki bus saja sesuai keuangannya saat ini. Qania tidak seperti anak-anak kalangan menengah keatas lainnya yang memiliki uang jajan berlimpah, ia bahkan tidak memegang kartu kredit. Keluarganya terbiasa hidup sederhana dan ia juga tidak memiliki jatah bulanan karena ia tidak suka berbelanja yang bukan kebutuhan. Saat ia memiliki kebutuhan barulah ia meminta pada mama dan papanya.


"Baiklah, aku akan pulang naik bus. Uangku sepertinya bisa aku gunakan untuk naik ojek ke terminal dan sisanya ongkos naik bus" ucapnya menguatkan dirinya.


"Baiklah Qania, ini adalah sebuah tantangan baru dalam hidupmu. Ayo kita hadapi tantangan ini, bisa saja ini jadi pengalaman paling mengesankan seumur hidup" ucapnya meyakinkan dirinya dan menyemangati dirinya sendiri.


Qania menghela napas panjang, kemudian membaca basmalah, lalu berdiri dan berjalan keluar kamarnya.


"Baiklah, mari kita mulai petualangan hari ini" katanya saat ia sudah berada di luar penginapan.

__ADS_1


......


__ADS_2