Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Hampir Saja


__ADS_3

Arkana menggenggam erat tangan Qania di dalam mobil, mereka baru saja pulang dari acara wisudahan Arkana. Hening, tidak ada kata yang terucap dari keduanya padahal mereka adalah dua orang yang berisik jika bertemu.


Arkana masih kesal pada dirinya sendiri karena kejadian tadi sementara Qania, gadis itu sedang menunggu Arkana membuka pembicaraan karena ia enggan memulai duluan.


Terbesit ide di benak Arkana untuk mencairkan suasana, ia sangat yakin ini akan membuat gadisnya bicara. Padahal ia saja yang tidak tahu bahwa gadisnya itu sedari tadi menunggunya bersuara.


“Sayang” panggil Arkana.


“Ya” Qania menjawab tanpa menoleh.


“Aku baru tahu kalau pacarku ini eh ralat, calon makmumku ini sangat posesif padaku” ucap Arkana sambil cekikikan.


Qania menoleh pada Arkana, tratapannya menunjukkan bahwa Arkana baru saja mengaktifkan mode kesalnya.


“Maksud kamu apa?” Tanya Qania penuh penekanan.


“Ya maksud aku itu kamu posesif juga sama kayak aku, aku baru tahu setelah kejadian tadi. Seandainya nggak ada kejadian tadi aku nggak bakalan tahu kalau tunanganku ini tidak suka aku disentuh-sentuh gadis lain” ledek Arkana.


Bukannya malu Qania malah menatap sinis pada Arkana.


“Oh jadi kalau aku nggak bilang gitu kamu jadi merasa bebas untuk disentuh-sentuh cewek-cewek hah? Good Arkana, aku yang selalu kamu larang bersentuhan dengan cowok malah kamu yang kegenitan dibelakang aku dan suka disentuh-sentuh cewek”  bentak Qania yang sudah tersulut emosi.


“Aku nggak ada ya bilang begitu” sanggah Arkana.


“Ah tahu ah, terserah kamu saja” Qania membuang muka, kini ia menghadap ke jendala dan lebih memilih untuk menatap ke samping.


“Sayang” panggil Arkana namun tidak mendapat jawaban dari Qania.


“Sayang hei”,.


“Qania”,.


“Qania Salsabila Wijaya” panggil Arkana dengan suara yang cukup lantang membuat Qania tersentak.


“Nggak harus berteriak juga kali” bentak Qania.


“Gimana aku nggak teriak kalau dari tadi aku manggil Cuma kamu cuekin” kesal Arkana.


Niatnya ingin membuat Qania kesal justru malah dirinya sendiri yang jadi kesal pada Qania.


“Ya kamu kan udah tahu kalau aku diam saja itu tandanya aku Cuma mau dengerin tanpa mau merespon. Kalau kamu mau ngomong ya tinggal ngomong aja nggak usah bertele-tele. Aku nggak tuli” ujar Qania kesal.


“Tapi setidaknya kamu respon aku, aku manggil-manggil kamu tapi kamu nggak nyahut-nyahut” Arkana langsung menepikan mobilnya.


“Ya kamu kalau mau ngomong kan kamu tinggal ngomong aja nggak perlu panggil-panggil karena Cuma ada aku sama kamu disini dan tentu saja Cuma ada aku yang akan dengerin kamu ngomong” Qania semakin tersulut emosi, ia bahkan  memberi tatapan membunuh pada Arkana.


“Kamu emang ya kalau udah dalam situasi kayak gini nggak pernah sekali pun kamu mau mengalah” protes Arkana, ia tersenyum sinis pada Qania.


“Kamu bilang aku nggak pernah mau ngalah? Aku udah ngalah ya sama kamu, apa kamu lupa waktu itu kamu di depanku sama Syeril. Aku udah sakit banget tapi aku ngalah buat tetap maafin kamu. Kamu tetap ikutan balapan meski aku larang tetap aku maafin, aku bahkan..”,.


“Stop Qania, bisa nggak kamu itu kalau tiap bertengkar dengan aku ya nggak usah ungkit-ungkit masa lalu. Kalau aku mau ungkit gimana kamu memutuskan aku sepihak waktu itu tanpa mencari tahu kebenaran atau pun mendengarkan penjelasanku dulu. Dan dengan bodohnya aku masih terus menguntitmu, menjagamu dari jauh, bahkan melindungimu. Ini kan yang kau mau, kita saling mengungkit dan saling meninggikan ego, angkuh dan juga saling menjatuhkan. Ini kan yang kamu mau Qania” teriak Arkana membuat Qania meneteskan air matanya.


“Aku nggak..”,.


“Apa? Kamu mau bilang apa? Kamu mau mengelak? Emang kayak gini kan kamu tiap kita bertengkar, kamu paling suka mengungkit dan aku harus sabar dan mengalah. Oke fine, aku mengalah aku minta maaf” ucap Akana namun nadanya begitu menohok Qania.


“Arkana stop” teriak Qania dengan air mata yang sudah beranak pinak di wajahnya.


“Aku anterin kamu pulang” Arkana mengusap wajahnya dengan kasar kemudian menyalakan mesin mobilnya tanpa peduli tatapan penuh rasa bersalah Qania.


“Aku belum mau pulang” tolak Qania dengan suara lirih.


“Aku yang mau pulang, aku capek” ujar Arkana dingin.


“Pulang ke rumah aku aja, kita istirahat di rumahku” ajak Qania penuh permohonan.


“Aku masih punya rumah, terima kasih” tolak Arkana sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


“Arkana, sayang hei, maaf” isak Qania sambil menarik salah satu tangan Arkana yang sedang memegang setir.


Arkana membiarkan saja Qania menggenggam tangannya dan menciumi tangannya untuk meminta maaf. Bukannya Arkana tidak peduli dengan permohonan dan tangis Qania, ia hanya ingin membuat Qania jera karena terus mengungkit masa lalu tiap kali bertengkar. Arkana juga hanyalah pria biasa yang akan runtuh pertahanan kesabarannya jika terus diguncang.


“Arkana aku belum mau pulang” Qania menggeleng keras dan air matanya semakin deras membanjiri wajahnya yang sudah dibalut make up tersebut.


Arkana menghela napas kasar kemudian menepikan mobilnya di taman . Ia mengusap kasar wajahnya, jujur saja ia masih ingin bersama Qania namun ia juga tidak ingin terus bertengkar seperti ini.


Dengan Qania yang sering mengungkit-ungkit masa lalu membuat Arkana tidak bisa menahan emosinya, selama ini ia sudah cukup mengalah jika Qania menyinggung masa lalunya tapi tidak dengan hari ini.


“Sayang hei aku masih ingin bersamamu” rengek Qania yang masih menggenggam erat tangan Arkana.


Arkana menatap datar pada Qania, ia masih belum bisa mengontrol emosinya saat ini. Ia ingin sekali mendekap gadisnya itu dan membenamkan wajah Qania ke dadanya. Ia sangat ingin mengusap air mata yang membasahi wajah cantik tunangannya itu. ia ingin sekali mengatakan bahwa ia tidak ingin memperpanjang masalah. Tapi itu tidak bisa, ego menguasai dirinya.


“Arkana, hikss” Qania masih terus berusaha membujuk Arkana yang diam menatapnya.


“Apa lagi, hemm?” Tanya Arkana lalu mendesah frustasi.


“Aku, aku minta maaf sayang. Tolong maafkan aku, aku masih ingin bersamamu. Aku belum mau pulang, tolong” pinta Qania, air matanya semakin deras mengalir di pipinya.


‘Aku juga sayang, tapi entah mengapa sangat sulit untukku mengatakan itu semua’ batin Arkana.


“Sebaiknya kamu pulang dan istirahat saja, aku juga lelah” ucap Arkana datar membuat Qania langsung menggeleng dan kembali menciumi tangan Arkana.


“Nggak, kalau aku pulang ke rumah kamu juga harus ikut aku” tolak Qania.


“Aku akan ke rumahmu lagi tapi nanti” ujar Arkana sambil menghela napas panjang.


“Nanti? Nanti kapan?” Tanya Qania, sorot matanya memperlihatkan ketakutan.


“Nanti saat aku datang untuk membawa lamaran resmi untukmu” ucap Arkana lembut, ia berusaha melengkungkan bibirnya membentuk senyuman.


“Kapan?” Tanya Qania lirih.


“Setelah uangku terkumpul, mungkin enam bulan atau bahkan setahun lagi” jawab Arkana.


“Kau mengerjaiku sayang? Ini tidak lucu” Qania tertawa ironi.


“Aku serius, aku ingn fokus bekerja. Demi kebaikanmu dan kebaikanku dan juga untuk masa depan kita nantinya. Aku harap kamu mengerti. Kamu juga harus fokus pada ujian skripsimu. Bukannya kamu juga kan turun lapangan untuk mata kuliah Kerja Praktek? Kamu bisa memanfaatkan waktukmu dengan bebas sebelum aku mengikatmu” tukas Arkana membuat Qania membuang muka sambil menyeka air matanya yang sedari tadi tidak mau berhenti menetes.


“Sayang, ini demi kebaikan kita” ucap Arkana sambil mengelus rambut Qania sayang.


“Ini terlalu lama. Aku baru saja terpisah denganmu selama dua bulan dan kau dengan mudahnya mengatakan enam bahkan setahun lagi. Kau sungguh keterlaluan Arkana Wijaya” bentak Qania.


Arkana kini sudah tidak tega  lagi, ia langsung membawa Qania kedalam dekapannya dan menghujani puncak kepala Qania dengan ciumannya.


“Pasti bisa sayang. Maaf aku tidak memberitahukanmu sebelumnya kalau besok aku akan berangkat ke kota M untuk pengembangan bisnis hotelku. Dan aku akan berada disana selama dua minggu” ucap Arkana sambil terus mengusapn punggung Qania dan kembali menciumi puncak kepala Qania.


“Appaa? Hikss, kau mau meninggalkanku lagi, begitu? Baru lima hari kita bersama dank au akan meninggalkanku lagi selama dua minggu? Tega” Qania tersenyum kecut namun dalam hati ia menangis tersedu-sedu.


Arkana menangkup pipi Qania dengan kedua tangannya, kemudian ia mencium kening Qania begitu lama. Kemudian ia mencium kedua mata Qania, lalu kedua pipi Qania. Qania hanya diam saja menerima perlakuan Arkana. Perlahan Arkana mendekatkan bibirnya ke bibir Qania lalu ia mencium dengan lembut. Tak hanya sampai disitu, Arkana kembali mencium bibir Qania dan ciuman itu berubah jadi lum@tan dan permainan lidah keduanya yang saat ini tengah menikmati ciuman panas mereka.


Arkana melepaskan pagutannyan ketika keduanya kehabisan pasokan udara. Arkana pun kembali membawa Qania kedalam dekapannya, menciumi puncak kepala Qania berkali-kali.


“Aku sayang kamu, I love you Qania” bisik Arkana.


“I love you too” balas Qania, air mata haru kembali menetes dari matanya.


‘Aku tahu kau tidak akan marah lama padaku’ batin Qania.


Qania menarik kepalanya dari dada Arkana, kemudian ia menangkup pipi Arkana dengan kedua tangannya, mencium kening Arkana, kedua mata dan pipi Arkana lalu ia dengan berani mencium bibir Arkana. Hilanglah sudah rasa canggungnya pada Arkana. Melihat Arkana yang tersenyum padanya dengan senyuman yang membuatnya mabuk kepayang, dengan rakus Qania langsung *****@* bibir Arkana dan mulai memainkan lidahnya di dalam mulut Arkana.


Menyadari kekasihnya sedang terbuai dalam ciumannya Arkana pun langsung ikut bermain bersama kekasihnya. Saling *****@* dan menghisap, di dalam mobil itu hanya terdengar suara decapan dari permainan lidah mereka.


Arkana yang sudah terbakar birahi langsung saja melepas ciumannya dan beralih mencium leher putih mulus Qania membuat Qania merasa geli namun nikmat. Tanpa sadar tangan Arkana kini sudah menyusup di balik gaun Qania dan tengah meremas dua gundukan milik Qania.


“Uuugghhhh” Qania melenguh, membuat Arkana semakin terbakar birahi.

__ADS_1


Ia merem@s gundukan kenyal milik Qania dan tangan satunya sedang mengelus punggung Qania. Qania tidak bisa menolak dan hanya menikmati permainan Arkana. Beberapa kali desahan kenikmatan keluar dari mulut Qania dan itu semakin membuat Arkana bernafsu.


Kini entah bagaimana kedua tangan Arkana sudah berhasil menyusup masuk ke dalam gaun Qania, dan itu tentu saja membuatnya menggila. Ia menciumi bibir Qania dengan rakus hingga bibir Qania membengkak.


Entah mengapa saat keduanya sedang menikmati dosa mereka itu tiba-tiba saja kejadian bersama Juna terlintas di benak Qania.


“Tolooonggg”,.


“Jangan, jangan sakiti aku”,.


Arkana tersentak dan langsung tersadar dari nafsu yang tengah menyelimutinya. Ia menatap heran pada Qania yang raut wajahnya menunjukkan ketakutan. Saat ia berusaha memegang kedua lengan Qania, Qania langsung menghindar dan punggungnya membentur pintu mobil.


“Jangaaan, jangan mendakitku. Jangan ku mohon” teriak Qania histeris.


“Sayang hei, kau kenapa?” Tanya Arkana ikutan panic.


“Tolng jangan dekati aku, ku mohon. Jangan sentuh aku, jangan perkosa aku. Tolong jangan lakukan itu padaku Juna ku mohon” histeris Qania.


Bagai tersambar petir di siang bolong, Arkana terkejut setelah mendengar nama yang di ucapkan Qania. Pikiran Arkana berkecamuk, tangannya terkepal kuat dengan matanya yang mulai memerah.


“Junaaaa apa yang sudah kau lakukan pada Qania” teriak Arkana geram.


Qania terus saja menutup telinga dengan kedua tangannya, ia terus menggelengkan kepalanya dan meracau membuat Arkana semakin tersulut emosi.


“Jangan dekati aku”,.


“Ku mohon jangan dekati aku”,.


Air mata Arkana menetes melihat kondisi Qania saat ini, ia tidak tahu harus berbuat apa. Rasanya saat ini ia ingin menghancurkan kepala orang yang bernama Juna itu.


“ARKANAAA TOLONG AKUUUU” teriak Qania membuat Arkana tersentak.


Dengan paksa Arkana menarik Qania kedalam pelukannya, mengunci tubuh Qania dalam dekapannya. Ia sangat frustasi melihat kekasihnya yang sepertinya sedang mengalami trauma.


“Jangan, ku mohon jangan” isak Qania.


“Sayang hei ini aku Arkana” bisik Arkana lirih.


“Arkana Wijaya?” Tanya Qania lirih, perlahan tangisnya mulai mereda.


“Iya sayang ini aku. Aku ada disini untuk menolongmu” ucap Arkana lagi, air matanya kini semakin deras mengalir di pipinya.


“Akhirnya kau datang menolongku, aku sangat takut” Qania memeluk erat tubuh Arkana.


“Jangan takut sayang, aku disini” ucap Arkana kemudian mengeratkan pelukannya.


‘Sebenarnya ap yang sudah bajingan itu lakukan pada Qania. Bangsat! Apa ini yang dimaksud Ghaisan’ umpat Arkana dalam hati.


“Aku takut sayang, dia, dia ingin memperkosaku. Dia, dia merobek pakaianku” ,.


Degggg….


Jantung Arkana seakan berhenti berdetak mendengar penuturan Qania. Tubuhnya menegang, tangannya yang mendekap tubuh Qania kini terkepal kuat. Sorot matanya seperti elang yang tengah menatap mangsanya.


“Bajingan! Aku akan membuat perhitungan denganmu Arjuna Wilanata” teriak Arkana geram.


Kini Arkana tahu apa yang menyebabkan Qania histeris seperti tadi. Dalam hati ia merutuki kebodohannya karena tidak mempertimbangkan resiko itu lebih awal padahal ia sudah tahu sedikit banyak sepak terjang seorang Arjuna Wilanata.


“Ini kesalahanku, aku yang sudah membuat Qania berada di dalam bahaya karena memancing amarah Arjuna. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu sayang, hikss maafkan aku” isak Arkana, ia mendekap erat tubuh Qania.


“Bagaimana pun kondisimu saat ini aku tidak akan melepaskanmu meski pun bajingan itu telah merenggut kehormatanmu” gumam Arkana, air matanya terus menetes membasahi pipinya.


 


 


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🥰😊😊


__ADS_2