Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
ORMIK


__ADS_3

Dua minggu sudah pasca ujian seleksi masuk perguruan tinggi dilaksanakan, dan hari ini adalah hari pengumumannya.  Qania dan Lala nampak sangat sibuk menyiapkan sarapan mereka dan setelahnya mereka kembali ke kamar masing-masing dan bersiap-siap untuk mandi. Untung saja kamar mandi di rumah nek Nilam ada dua sehingga mereka tidak perlu saling mengantre.


Tok..


Tok..


Tok..


“Masuk” seru Qania dari dalam kamarnya.


Pintu kamar Qania terbuka dan Lala langsung berjalan mendekati Qania yang tengah menyisir rambutnya itu.


“Ya ampun Qania, kamu itu Cuma pakai bedak baby? Nggak ada bedak mahal gitu atau make up?” pekik Lala ketika melihat barang-barang di atas meja rias Qania.


Qania hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya, kemudian berdiri karena ia sudah selesai menyisir rambutnya.


“Yuk jalan” ajak Qania.


Mereka pun berpamitan pa nek Nilam yang sedang menyiram tanaman di halaman depan kemudian berjalan keluar dari halaman rumah nek Nilam untuk berangkat ke kampus.


“Anak orang kayak ok bedaknya baby” kekeh Lala.


“Biarin, supaya muka aku tetap baby face” Qania ikutan tertawa.


“Yaiyalah mukamu baby face, pasti usiamu masih tujuh belas tahun kan?” terka Lala membuat Qania tertawa terbahak-bahak.


“Loh malah ketawa?” Lala mencebikkan bibirnya.


“Emang wajahku terlihat seperti gadis tujuh belas tahun?” goda Qania.


“Iya, aku sih delapan belas” sahut Lala.


“Kalau aku bilang aku udah dua puluh dua tahun kamu percaya nggak?” tanya Qania diiringi seringai.


“Ya enggak lah” sahut Lala cepat.


“Ya udah nggak jadi di traktir makan di kafe” ucap Qania membuat Lala berhenti tepat di depan kafe.


“Kok gitu sih Qan? Emang tebakan aku salah ya?” tanya Lala cemberut.


“Ya salah lah. Aku emang udah mau dua puluh dua tahun, beberapa bulan lagi” jawab Qania kemudian menarik paksa Lala untuk segera ke kampus.


“Tapi aku nggak percaya kalau tuaan kamu dari aku” sanggah Lala.


“Terserah kamu aja deh, nanti aku ceritain. Kamu sih sibuk kerja jadi nggak ada waktu buat kita cerita-cerita” ucap Qania.


“Namanya juga hidup sebatang kara, kalau mau makan ya harus kerja” ucap Lala lirih.


“Udah nggak usah berkecil hati. Sekarang kita lihat pengumuman dulu” ajak Qania.


Lala menurut saja saat diajak Qania menerobos orang-orang yang juga sedang melihat nama mereka di papan pengumuman. Lala yang merasa tidak akan lulus karena kadar kecerdasaannya pas-pasan.


Lala mendesah kecewa karena tidak menemukan namanya. Ia pun bergegas menjauh dan duduk di kursi di depan ruangan ujian mereka waktu itu.


Qania berjalan gontai mendekati Lala yang sedang sedih, ia pun ikut duduk bersama Lala dan memasang tampang sedih.


“Lah kamu kenapa Qan? Kok sedih? Mau ngejek aku yang nggak lulus?” tanya Lala heran.


“Hmm, namaku nggak ada juga” jawab Qania lirih.


“Ya ampun Qania, emang mata kamu bermasalah? Noh nama kamu ada di mading khusus sepuluh besar, tadi aku lihat nama kamu urutan ke lima” ucap Lala sambil menunjuk ke arah yang ia maksud dengan dagunya.


“Ah iya kah?” gumam Qania kemudian bergegas ke arah yang ditunjuk Lala.


Qania bernapas lega karena memang benar yang dikatakan oleh Lala. Ia pun kembali ke tempat dimana Lala duduk menunggunya, lebih tepat lagi tempat Lala merenungi nasibnya.


“Jangan sedih, kamu masih bisa daftar di jurusan lain yang belum ada seleksinya” hibur Qania.


“Seleksi udah semua Qan,d an aku mah maunya masuk di jurusan Hukum karena aku Cuma punya modal ngomong doang, debat doang. Aku nggak bisa hitung-hitungan apalagi bahasa asing” ucap Lala sedih.


“Noh ada di papan pengumuman juga kalau Fakultas Ekonomi masih membuka pendaftaran. Kamu daftar aja disana” ucap Qania.


Lala terdiam sesaat, kemudian ia menatap Qania.

__ADS_1


“Qan uang semesternya mahal nggak? Aku Cuma punya uang sejuta Qan, jujur” lirihnya.


“Tenang aja, kampus ini ada prosedur tersendiri soal uang semester. Kamu kan golongan UKT satu alias penghasilan lima ratus ribuan ya, kamu bisa bayar semesternya lima ratus ribu juga. Jangan kasih tahu gajimu di kafe berapa biar bisa masuk dan uang semester kamu nggak banyak” terang Qania membuat Lala tersenyum.


“Terus kalau kamu berapa biaya semesternya?” selidik Lala.


“Hmm aku UKT delapan, jadi sepuluh juta per semester” jawab Qania kemudian menggigit bibir bawahnya.


“APPAAA?” pekik Lala, matanya melotot mendengar ucapan Qania yang mengatakan sepuluh juta.


“Hmm diam aja. Mau nggak aku daftarin ke Fakultas Ekonomi?” alih Qania.


“Mau sih Qan, tapi kalau nggak lulus lagi gimana?” tanya Lala lirih.


“Nanti kita belajar dulu, tesnya kan masih tiga hari. Sebaiknya kamu temani aku ke dealer aku mau beli motor dan biar kita bisa kemana-mana bersama. Setelah itu kita ke toko buku buat beli beberapa buku ekonomi buat kamu pelajarin” ajak Qania.


“Enteng banget ya bilang sekarang mau beli motor” ledek Lala.


“Agh aku sebenarnya mau beli mobil aja sekalian tapi aku belum pandai menyetir” kekeh Qania.


“Orang kaya mah bebas” Lala mencebikkan bibirnya.


“Nggak usah bahas itu dulu, ayo kita ke Fakultas Ekonomi. Kita daftarin kamu” ajak Qania yang langsung menyeret tangan Lala.


Lala hanya mengikut saja, sementara Qania dalam hati ia bersorak.


‘Kan gini bagus, Lala masuk ke Fakultas Ekonomi berarti aku bisa belajar juga sama dia materi-materinya dan minta dia kasih info kalau ada semitar. Bahagianya punya otak cerdas, haha ngomong apa aku ini. Disini aja urutan ke lima, pasti empat orang diatasku jauh lebih cerdas. Hmm yang penting aku bisa lulus, tujuanku hanya itu. Biar bisa cepat kembali ke rumah dan memeluk Arqasa, ah aku jadi merindukannya. Sedang apa anakku itu sekarang ya’,.


 


*


 


Seperti yang sudah Qania janjikan akan membantu Lala, gadis itu lulus juga di Fakultas Ekonomi dan itu membuat Qania sangat senang terlebih Lala. Hari ini mereka akan berangkat ke kampus untuk melaksanakan ORMIK (Orientasi Mahasiswa Intra Kampus) dengan dandanan nyeleneh mereka.


“Pamit ya nek” ucap Qania menyalimi tangan nek Nilam diikuti oleh Lala.


Qania dan Lala mengangguk, kemudian mereka menaiki motor matic Qania yang berwarna merah hitam itu dan langsung menuju ke kampus.


“Woii matiin motor lo” teriak senior laki-laki yang berada di depan Lala dan Qania.


Dengan santai Qania menghentikan motornya lalu turun diikuti oleh Lala yang sudah ketakutan setengah mati.


“Selamat pagi senior” sapa Qania.


‘Aku udah pernah ORMIK sebelum ini jadi aku tahu sedikit banyak aturan saat ORMIK yang mana para panitia nggak mau dipanggil kakak melainkan Senior’,.


“Bagus, kamu mengerti dengan posisi kamu dan saya. Sekarang dorong motor kamu ke parkiran dan teman kamu ini tunggu saja disini, setelah itu kamu kembali lagi” ucapnya.


Qania menuruti permintaannya kemudian mendorong motornya ke parkiran yang sudah terisi banyak kendaraan roda dua dan roda empat itu. Ia pun kembali lagi dengan buru-buru hingga tanpa sengaja ia menabrak salah satu senior yang bertubuh bak model dengan wajah yang dihiasi make up, namun terlihat sangat cantik itu.


“Maaf senior” ucap Qania santai.


“Maaf lo bilang, lo harus dihukum” ucapnya dengan suara lantang sehingga membuat pandangan mata terarah ke mereka.


‘Aduh Qan, kamu dalam bahaya’ batin Lala yang menyaksikan Qania sedang dibentak oleh senior cantik itu.


Lapangan basket yang menjadi tempat dikumpulkannya calon mahasiswa baru itu menjadi sepi karena para senior dan calon mahasiswa baru beralih fokus pada Qania yang tengah menjadi bahan bullyan.


“Hukum saja senior, saya salah” ucap Qania pasrah.


“Kamu tahu apa aturan saat ORMIK? Kamu pasti tidak tahu kan” ucapnya dengan senyum mengejek.


“Pasal satu senior tidak pernah salah dan pasal dua jika senior salah kembali ke pasal satu yang bunyinya senior tidak pernah salah” ucap Qania lantang diiringi seringai tipis.


‘Ya kali aku nggak tahu’ kekeh Qania dalam hati.


Mulut senior yang sedang mempermalukan Qania itu terbuka lebar, begitu pun dengan senior dan calon mahasiswa baru di sana. Bagaimana tidak, aturan itu baru akan mereka sampaikan pada saat jam ORMIK dimulai namun ada calon mahasiswa baru yang sudah tahu.


“Oh mau sok pintar kamu” bentaknya tidak mau kalah.


“Kenyataan” ucap Qania, kemudian ia melihat seorang pria yang memakai PDH Teknik Sipil sedang tersenyum manis padanya, ia pun membalasnya.

__ADS_1


“Senyum sama siapa kamu hah? Baru jadi calon mahasiswa udah kegenitan” ejeknya.


“Saya senyum saja senior” jawab Qania, dalam hati ia bertekad untuk membuat senior naik darah padanya, ia juga ingin merasakan jadi junior yang menjengkelkan jangan Cuma senior saja karena ia sudah pernah melakukannya.


“Bang Calvien, enaknya nih orang dihukum apa ya?” tanyanya berusaha membuat Qania takut namun justru Qania hanya tersenyum tipis saja.


Seorang pria yang tadi dipanggil sebagai bang Calvien itu mendekat, kemudian ia tersenyum pada Qania yang menatap dengan tenang kepadanya.


“Kamu dari Fakultas apa?” tanya Calvien.


“Saya Fakultas Hukum” jawab Qania.


“Oh, kalau begitu Nayla kamu hukum dia suruh nyanyi TEKNIK RAP” ucap Calvien membuat Nayla si senior yang menghukum Qania itu menyeringai.


“Woi dia junior kami” teriak salah satu senior.


“Sekarang masih ORMIK Universitas jadi bebas” seru Calvien.


“Ayo lakukan, kalau tidak kamu harus lari keliling lapangan basket lima kali putaran” ancam Nayla.


“Kalau saya bisa, apakah senior bersedia menggantikan saya lari berputar lapangan sepuluh kali?” tantang Qania membuat mata Nayla melotot.


“Kamu nantangin senior? Oke fine” ucap Nayla.


“Jadi semua dengar, saya akan lari keliling lapangan ini sebanyak sepuluh putaran jika calon mahasiswa baru dari Fakultas Hukum ini bisa menjawab tantangan saya” teriak Nayla sangat percaya diri.


Qania menatap Calvien yang sedang tersenyum kepadanya, seringai terbit di wajah Qania.


“Ayo” bentak Nayla.


Qania tersenyum lalu mulai melakukan gerakan seperti saat dia memimpin demo waktu itu.


Harus nggak sih Author ulang lagunya? Hehe.


Sedikit bocoran Author emang mahasiswa dari Fakultas Teknik jurusan Teknik Sipil, jadi jangan heran kalau tahu lagu dan hal-hal yang berbau Teknik, hehe peace..


Mata Nayla dan para senior Teknik terbelalak dengan mulut yang terbuka lebar begitu Qania menyelesaikan tantangannya dengan sempurnah, kecuali Calvien.


“Bagaimana senior? Sudah siap untuk lari mengelilingi lapangan sepuluh kali?” sindir Qania.


“Tentu saja, saya ini anak Teknik pantang menarik kata-kata saya” ucap Nayla angkuh.


“ppffttt”,.


“Kenapa kamu? Ingin menertawakan saya?” sentak Nayla.


“Bukan senior, hanya saja apa kamu lupa dengan peraturan ORMIK? Bukannya senior tidak pernah salah?” tanya Qania menahan tawanya.


Wajah Nayla merah padam, ia mendengus kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan kemarahan dan juga rasa malu. Sementara Qania, ia hanya mengangkat kedua bahunya acuh.


“Selamat datang di kampus ini lagi senior” bisik Calvien membuat Qania tersenyum tipis.


“Jangan sampai ada yang tahu” balas Qania, Calvien pun mengangguk lalu keduanya sama-sama pergi ke arah yang berbeda.


  


 


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


Terima kasih sudah membaca 😊😊🤗🤗


Kalau boleh tinggalkan jejak, like, komen, rate. Tenang author nggak minta divote🤣🤣 Tapi kalau mau author sangat berterima kasih 😊😊😊


🥀Cari author di social media


_Fb : Vicka Villya Ramadhani


_IG : Vivillya


 


 

__ADS_1


__ADS_2