Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Arqasa Wijaya


__ADS_3

“Sudah tujuh bulan kita menyelidiki kasus kematian Arka tapi tidak menemui titik terang” desah Setya frustasi.


“Ya, aku mencurigai pelakunya adalah Arjuna Wilanata karena sebelum-sebelumnya dia sempat menyuruh orang untuk membunuh Arka tapi selalu gagal” ujar Zafran.


“Apaa? Jadi Arjuna dari dulu selalu ingin mencelakai Arka?” pekik Setya, ia sangat terkejut.


“Tapi sampai sekarang aku tidak menemukan keberadaan orang itu. Ini yang semakin membuatku curiga karena bisa jadi setelah mencelakai Arka dia bersembunyi di suatu tempat” terka Zafran.


“Kau mungkin benar Zaf, kenapa aku tidak berpikir sampai kesana” terlihat Setya begitu geram hingga ia mengepalkan kedua tangannya.


“Jadi belum ada titik terang tentang kasus ini?” tanya Alisha yang baru saja datang dengan membawa tiga cangkir kopi dan juga camilan.


Saat ini mereka sedang berada di rumah Zafran karena sudah memasuki bulan persalinan Qania. Mereka tidak ingin mengambil resiko jika Qania tiba-tiba saja akan melahirkan dan Setya tidak berada disana. Setya tidak keberatan dan bahkan sangat setuju dengan keputusan ini, karena bagaimana pun dia memang sering keluar kota dan tidak ingin menantu dan cucunya kenapa-napa.


“Masih belum ma, hmm tapi papa akan terus mengusut kasus ini. Papa tidak tenang sebelum orang yang membuat menantuku meninggal dan anakku menjadi janda serta cucuku menjadi yatim itu ditangkap dan dihukum” tegas Zafran ikut geram.


“Ya, kau benar. Aku sangat setuju denganmu, aku tidak akan melepaskan orang itu yang sudah membuatku kehilangan anakku satu-satunya” timpal Setya.


“Mamaaa…. Tolong maa…. Perut Qania sakitt maa…”,.


Zafran, Alisha dan Setya yang mendengar teriakan dari lantai atas saling berpandangan dan langsung tersadar ketika teriakan Qania lagi.


“Qania akan melahirkan pa” ucap Alisha panik yang langsung berdiri dan berlari ke kamar Qania diikuti oleh Setya.


Dengan cepat ketiga orang tua itu masuk ke kamar Qania dan melihat Qania yang tengah duduk di lantai sambil mengerang kesakitan. Setya yang tanggap langsung kembali turun dan menyiapkan mobil, Alisha langsung mengambil tas yang sudah berisi perlengkapan persalinan Qania dan Zafran yang menggendong anaknya dengan menahan napas karena Qania begitu berat.


“Sakit ma” ringis Qania selama mereka dalam perjalanan ke rumah sakit.


“Tahan ya nak, sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit” ucap Alisha menenangkan Qania padahal ia sendiri sudah gemetar.


Sementara Setya yang sedang mengemudikan mobil menjadi gelisah dan tidak fokus menyetir membuat Zafran terus memperingatkannya.


“Lu mau bunuh kita sama cucu lu yang belum lahir” umpat Zafran yang ikutan panik.


“Gue nggak maksud gitu, ya kali Zaf. Gue Cuma panik doang, eh bukan cuma tapi sangat panik gue” jawabnya membuat Zafran mendengus kesal.


Di mobil itu menjadi bising dengan suara erangan kesakitan Qania, Zafran dan Setya yang saling mengumpat dan Alisha yang terus membantu menenangkan Qania.


Tak lama kemudian mobil itu sampai di parkiran rumah sakit setelah melewati jalan dengan berbagai drama calon kakek nenek di dalamnya. Zafran menggendong Qania dengan cepat dan Setya berlari mengambil kursi roda.


“Tolong anak saya akan melahirkan” teriak Zafran ketar-ketir.


Beberapa suster datang dan langsung mengarahkan mereka ke ruang persalinan. Seorang dokter cantik dengan hijabnya yang sebaya dengan Alisha datang untuk membantu persalinan Qania.


“Suaminya dimana? Siapa yang akan menemani persalinannya?” tanya dokter bername tag Warnida.


“Su..suaminya” gagap Setya.


“Dokter saya mamanya dan saya yang akan menemani anak saya bersalin” serga Alisha tak ingin Qania sedih.


“Oh baiklah bu” ucapnya tersenyum miring.


“Jangan salah dokter, anak saya tidak hamil di luar nikah. Suaminya meninggal ketika usia kandungannya baru dua bulan” ujar Zafran tak suka dengan senyuman dokter tersebut.


“Maaf” cicitnya kemudian langsung memeriksa Qania yang sudah terbaring di atas brankar yang terus meringis kesakitan dengan peluh membasahi wajahnya.


“Bukaan tujuh, sebentar lagi ya bu” ucap dokter tersebut setelah memasukkan jarinya yang sudah mengenakan kaos tangan steril ke dalam ****** Qania.


Setelah dokter dan bidan muda di ruangan itu menyiapkan perlengkapan Qania, Setya dan Zafran keluar dan tinggallah Qania di dalam bersama mamanya dan petugas yang akan membantu persalinannya.


“Ma sakit ma, hikss aku ingin dioperasi saja” ringis Qania.


“Sabar sayang, setelah bayimu lahir sakitnya akan hilang. Teruslah beristigfar dan membaca doa ya sayang” ucap Alisha menguatkan Qania dengan mengelus-elus perut anaknya.


“Ma jangan dielus, rasanya semakin sakit” pekik Qania.


“Justru semakin sakit maka kamu akan segera melahirkan sayang, kalau tidak sakit ya nggak akan melahirkan” ucap dokter tersebut dengan tutur kata yang lembut.


“Tapi sakit dok” rengek Qania.


“Kamu pilih mana, sakit sedikit tapi lama dan berjam-jam atau sakit sekali dan proses melahirkannya cepat?” tanya dokter itu.

__ADS_1


“Nggak dua-duanya dok” jawab Qania dengan polosnya membuat dokter itu tertawa.


“Nah itu kan sakitnya hilang lagi, kalau sakitnya masih timbul tenggelam ya masih lama. Ayo mamanya kasih rangsangan, elus-elus perutnya biar proses melahirkannya cepat” ucap dokter tersebut.


“Jangan ma, rasanya sangat sakit” tolak Qania saat mamanya akan menyentuh perutnya.


“Sakit sebentar atau lama? Tapi saya lihat kamu nih masih cerewet aja ya, masih bawel berarti enggak sakit-sakit amat dong” ledek dokter tersebut kemudian terkekeh.


“Ya ampun dok ini nggak becanda dok ini sakit” bantah Qania kesal.


“Pasti sakitnya Cuma dua menit terus hilang lagi” tandas dokternya.


Qania diam, ia melirik jam dinding di depannya saat rasa sakit kembali menyerangnya dan benar saja hanya dua menit sakitnya kembali hilang. Dokter Warnida terkekeh melihat tingkah Qania.


“Benar kan” godanya.


“Benar dok” sahut Qania.


“Dok sepertinya sudah mau keluar dok, tolong cepat periksa dok” teriak Qania.


Dokter Warnida yang duduk di brankar kosong di sebelah Qania pun mendekat dan memeriksa jalan lahir.


“Masih bukaan tujuh” ucapnya.


“Tapi Qania nggak bohong dok, rasanya dia sudah akan keluar. Masa dari tadi bukaan tujuh terus” teriak Qania.


Dokter Warnida hanya tersenyum lalu membantu mengelus pusar Qania dan hal tersebut membuat Qania semakin kesakitan dari yang tadi. Rasa sakitnya semakin sering bahkan lebih dari dua menit. Qania mencengkram erat tangan mamanya saat rasa sakit itu menderanya.


“Dok Qania nggak bohong, kepalanya udah mau keluar dok” ucap Qania.


Dokter Warnida memeriksa kembali jalan lahir, kemudian ia melirik kepada dua bidan yang akan membantunya sehingga keduanya mendekat.


“Sebentar lagi waktunya mengejan ya bu, jangan mengeluarkan suara dan saat mengejan usahakan kekuatannya bertumpu di bawah ya bu jangan di leher nanti gondokan. Seperti buang air besar saja cara mengejannya. Ini tangannya disini ya bu” ucap dokter tersebut memberi arahan dan meletakkan kedua tangan Qania dibelakang pahanya.


Qania mengangguk, dokter Warnida sudah bersiap di posisinya sementara dua bidan itu berada di sisi kiri dan kanan Qania untuk membantu merangsang bayi keluar.


“Iya Qania sayang, pintar ya itu kepala bayinya sudah kelihatan, tarik napas dan keluarkan melalui mulut dan jangan mengeluarkan suara” ucap dokter Warnida menyemangati Qania.


“Aku sudah tidak kuat” lirih Qania.


“Qania ayo sayang sebentar lagi sayang ayo nak” ucap dokter Warnida.


“Udah nggak kuat dok, sepertinya aku bakalan nyusulin Arkana” cicit Qania.


"Sayang jangan ngomong kayak gitu" ucap Alisha sedih bercampur khawatir.


“Qania ayo kamu mau bunuh anak kamu dengan membiarkan lehernya tertahan di pintu hah? Kamu tidak sayang bayi kamu?” bentak dokter Warnida, sebenarnya ia bukan marah tapi ingin menyadarkan Qania dengan mengatakan keadaan dan posisi bayinya agar Qania kembali mengejan dan mengumpulkan kekuatannya.


Qania baru saja akan menutup matanya namun sebuah bisikan terdengar di telinganya hingga kekuatannya tiba-tiba saja kembali.


“Sayang berjuanglah untuk anak kita, aku yakin kamu bisa sayang. Tolong anak kita, dia kesakitan karena kamu tidak ingin membiarkannya keluar sayang, ayo sayang. Hanya dia satu-satunya yang bisa aku berikan untukmu dan hanya dia yang akan menghiburmu dan mengobati rindumu padaku”,.


Qania langsung membuka matanya dan kembali mengejan setelah mendengar bisikan yang ia yakini adalah suara Arkana. Dengan sekali tarikan napas, bayi itu berhasil keluar sampai terlihat bahunya sehingga dokter Warnida langsung menariknya dibantu oleh satu bidan yang mendorong dari perut Qania sementara yang satunya baru saja selesai menyuntikkan obat ke paha Qania.


“oeaa…oeaa…”,.


Suara tangisan bayi menggema di ruangan persalinan, dokter Warnida segera membersihkan bayi Qania sementara dua bidan itu mengurusi Qania untuk mengeluarkan plasentanya dan juga membersihkan jalan lahir Qania serta bagian tubuh Qania yang kotor lalu memakaikan pembalut pada Qania.


“Selamat nak, Alhamdulillah” ucap Alisha kemudian mengecup kening Qania dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Rasa sakit perlahan menghilang dan berganti dengan tangis haru saat bayi mungil itu diletakkan di dadanya.  Qania berusaha mengelus kepala bayinya yang mulutnya sedang terbuka tertutup itu seolah sedang mencari makan.


“Selamat ya Qania anak kamu laki-laki dan sangat tampan serta sehat. Beratnya tiga ribu enam ratus gram dan tingginya lima puluh sentimeter” ucap dokter Warnida setelah meletakkan bayi Qania tengkuran di atas dada Qania.


“Terima kasih dok” ucap Qania tersenyum haru.


“Ayo Qania lakukan IMD” ucap dokter Warnida lagi.


“IMD?” beo Qania.


“Inisiasi Menyusui Dini” jawab dokter Warnida tesenyum.

__ADS_1


Qania membalas dengan senyumannya, kemudian membuka kancing daster yang ia gunakan dan mengarahkan bayinya untuk menyusu. Ada rasa tak percaya kini ia sudah menjadi seorang ibu padahal rasanya baru kemarin ia bermain di pangkuan mama dan papanya dan kini ia sudah menyandang predikat yang sama dengan mamanya.


ASI Qania belum keluar, sehingga bayi itu diambil kembali dan diletakkan di box bayi di dekat Qania.


“Sabar ya bu, nanti juga ASInya keluar yang penting selalu melakukan stimulasi seperti tadi” ucap bidan yang tadi meletakkan bayi Qania ke dalam box.


“Iya” jawab Qania pelan.


Alisha yang sempat keluar untuk memanggil keluarganya pun masuk bersama Zafran, Setya dan Syaquile yang sudah menyusul ke rumah sakit setelah pulang sekolah.


“Wah cucuku sangat tampan” ucap Setya dan Zafran berbarengan yang sama-sama berebut ingin menggendongnya.


“Diadzanin dulu pa” ucap Qania tersenyum melihat tingkah dua pria yang kini menyandang status sebagai seorang kakek.


“Biar papa yang adzanin” ucap Zafran.


“Nggak bisa, anak gue udah nggak ada dan biar gue yang gantiin dia buat adzanin cucu gue” protes Setya.


“Gue, Qania anak gue”,.


“Gue, itu bayi pewaris gue dia satu-satunya yang bakalan menyandang nama gue dibelakang namanya. Pokoknya gue”,.


Pertengkaran tersebut membuat Alisha mendengus kesal sementara Qania terkekeh begitupun dengan dokter Warnida dan dua bidan muda yang membantunya.


Saat kedua kakek tersebut sedang bersitegang, tiba-tiba saja terdengar suara adzan membuat fokus mereka semua beralih ke asal suara.


“Syaquileeeee” pekik Zafran dan Setya bersamaan.


Syaquile yang entah belajar darimana cara menggendong bayi itu dengan khusyuk mengumandangkan adzan di telinga keponakannya. Setelah selesai ia kembali meletakkan bayi itu ke boxnya.


“Lagian dari tadi berantem ya aku ambil aja, lagian papa sama om pasti belum wudhu” ucap Syaquile santai lalu duduk di dekat Qania.


Zafran dan Setya mendesah pasrah karena ucapan Syaquile yang memang benar.


“Kamu udah benar dek” kekeh Alisha kemudian mendekat ke box bayi Qania itu.


“Jadi siapa namanya kak?” tanya Syaquile.


“Arqasa Wijaya” jawab Qania tersenyum sambil melirik bayinya.


“Arqasa Wijaya?” beo mereka.


“Arkana Qania Salsabila Wijaya” ucap Qania lagi yang mengerti maksud tatapan penuh tanya padanya.


“Woah kakak sangat pandai memberi nama. Hallo baby Arqasa ini paman Syaquile paman satu-satunya yang kau punya karena almarhum daddymu anak tunggal. Tenang kau juga akan tumbuh menjadi lelaki tampan seperti paman dan daddymu” ucap Syaquile sambil menoel-noel pipi tembem bayi tampan itu yang tengah terlelap.


Semua yang ada di ruangan itu tertawa mendengar ucapan Syaquile tersebut.


‘Sungguh kasihan kamu Qania, diusia yang sangat muda kamu harus menjadi single parent dan juga kasihan kamu nak kamu tidak sempat bertemu ayahmu karena dia sudah lebih dulu menghadap sang pencipta’,.


Dokter Warnida tersenyum melihat kehangatan keluarga tersebut sambil mengisi buku KIA milik Qania, ia menghapus air mata yang baru saja keluar dari matanya.


‘Arkana, aku sudah berhasil melahirkan anak kita. Aku harap kamu bisa melihatnya dari sana dan doakan kami juga. Aku akan berusaha menjadi orang tua yang baik bahkan terbaik untuk anak kita. Aku tidak akan membiarkannya kekurangan apapun meskipun aku tahu suatu saat nanti ia akan merasa kekurangan kasih sayang dari sosok ayah tapi aku tidak akan membuatnya sedih. Tunggu kami berdua di alam keabadian sayang, aku harap kau belum menemukan bidadari disana. Aku harap kau selalu setia menungguku seperti janjimu kau akan selamanya setia dan selamanya cinta padaku’,.


Qania menghapus air matanya dan menerbitkan senyumnya saat melihat keluarganya yang sedang berebut ingin menggendong bayinya. Ia sangat senang, ia yakin bayinya tidak akan kekurangan kasih sayang karena semua keluarganya akan selalu menjaga dan menyayangi anaknya.


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


Terima kasih sudah membaca 😊😊🤗🤗


Kalau boleh tinggalkan jejak, like, komen, rate. Tenang author nggak minta divote🤣🤣 Tapi kalau mau author sangat berterima kasih 😊😊😊


🥀Cari author di social media


_Fb : Vicka Villya Ramadhani


_IG : Vivillya


 


 

__ADS_1


__ADS_2