
“Siaaaallll, siaaalll, siaaaalllll” teriak Juna di dalam mobil.
“Gue nggak pernah semalu ini dan nggak pernah sesakit ini waktu di tolak cewek” teriaknya sambil meremas kuat rambutnya.
“Gue udah bilang dari awal, dia nggak mungkin nyuekin elo kalau nggak ada sebabnya. Lo nggak mau dengar gue kan dari awal” ucap Denis sambil menyetir.
“Gue bakalan buat perhitungan sama Arkana, gue nggak mau apa yang udah masuk ke hati gue dan udah gue targetin buat jadi pendamping gue harus di ambil orang lain. Apa lagi itu Arkana Wijaya” tandas Juna.
“Sadar Juna, lo yang orang ketiga. Mereka udah tunangan dan pasti mereka sudah saling mencintai cukup lama. Lo nggak lihat gimana selama ini Qania nggak nanggepin elo? Bukankah itu sudah cukup jelas gimana dia nggak suka sama lo dan setia sama Arkana Wijaya itu” bentak Denis, bagaimana pun ia tidak ingin sahabatnya berbuat hal-hal yang tidak diinginkan.
“Sepupu gue mati, sepupu gue di penjara dan calon gue juga nggak bisa gue dapetin dan hanya satu penyebabnya, keluarga Wijaya itu” geram Juna.
“Lo jangan macam-macam Juna, gue nggak mau lo sampai kenapa-napa” pinta Denis.
“Lo mending diam aja, diam bisa buat lo panjang umur Denis” ucap Juna sambil menatap nyalang pada Denis.
Denis mendesah frustasi melihat Juna, selama ia bersama Juna baru kali ini ia semarah ini kepada seorang perempuan dan itu karena baru kali ini ia di tolak mentah-mentah.
‘Lo lihat saja Arkana apa yang bakalan gue lakuin sama lo. Dan buat lo Qania, lo bakalan nyesel sudah nolak gue dan mempermalukan gue. Gue Arjuna nggak menerima kekalahan dan apa yang gue inginkan harus bisa gue dapatin. Jika gue nggak bisa dapatin lo, maka lebih baik lo nggak jadi milik siapa-siapa’ batin Juna, ia menyeringai membuat Denis yang tidak sengaja menatapnya bergidik ngeri.
*
*
Sementara itu di kediaman pak kadus Arkana membawa Qania ke dalam mobil dan mengajaknya untuk pergi tentu saja setelah meminta izin kepada teman-teman Qania dan pak kadus.
“Kita mau kemana sayang?” Tanya Qania ketika mobil sudah bergerak.
“Nangkap kunang-kunang” jawab Arkana terkekeh.
“Ih ngeselin deh” kesal Qania.
“Aku tahu kok dari tadi kamu mikirin Arjuna kan?” ucap Arkana membuat Qania menoleh padanya.
“Kelihatan banget ya?” lirih Qania sambil tersenyum kecut.
“Iya sayang” Arkana membelai rambut Qania.
“Menurut kamu apakah aku keterlaluan sayang?” Tanya Qania menatap lurus ke depan.
“Kalau aku ada di posisinya mungkin aku akan mengatakan iya kamu keterlaluan, tapi aku bukan berada di posisinya. Aku berada di posisi dimana aku sebagai pria yang melihat tunangannya di dekati pria lain tentu saja harus bertindak. Dia juga kalau di posisi aku pasti bakalan lakuin hal yang sama. Dan kamu, sebagai seorang yang sudah memiliki tunangan, aku mengakui kesetiaanmu” terang Arkana.
Qania hanya menganggukan kepalanya, ia tahu Arkana tidak akan marah padanya jika ia berterus terang. Bahkan tanpa ia katakana Arkana bisa membaca raut wajahnya.
“Sudah nggak usah mikirin itu, aku kesini datang jauh-jauh buat melepas rindu tahu” ucap Arkana mengalihkan.
“Sayaaaaang, aku rinduuuuu” teriak Qania membuat Arkana terkekeh.
“Aku juga merindukanmu my queen” balas Arkana sembari menghentikan mobilnya.
“Tiada hari yang ku lalui tanpa merindukanmu, aku selalu saja mengingatmu meski pun aku sudah menyibukkan diriku. Sayang, cepatlah selesaikan tugasmu ini, aku sungguh tidak bisa berjauhan denganmu” rengek Arkana.
“Kau pikir hanya dirimu yang merasakan hal seperti itu” ketus Qania.
“Tentu saja, karena hanya aku yang begitu merindukanmu” ucap Arkana.
“Kau pikir aku tidak merindukanmu hah?” kesal Qania.
“Tentu saja tidak, secara disini ada Raka dan Juna. Kau pasti melupakanku” cibir Arkana.
“Nggak usah ngedrama deh” sindir Qania membuat Arkana Arkana kesal.
“Sayang harusnya kau sadar kalau aku tengah cemburu” gerutu Arkana.
“Aku tahu dan aku sengaja” kekeh Qania membuat Arkana menarik tengguk Qania dan melepaskan ciuman kilat di bibir Qania.
“Kau..”,.
“Itu balasan buat gadis yang membuatku kesal dan itu cicilan rinduku” ucap Arkana menyeringai puas.
“Dasar mesum, yadong, genit” umpat Qania membuat Arkana tertawa karena sudah membuat kekasihnya kesal.
“Kau tahu sayang, hariku sudah lengkap karena..”,.
“Harimu sudah lengkap kerena sudah membuatku kesal” potong Qania membuat Arkana tertawa.
“Udah pintar rupanya” kekeh Arkana.
__ADS_1
“Hmm” Qania mengerucutkan bibirnya membuat Arkana tergoda dan kembali mendaratkan ciumannya.
Keduanya berciuman dan saling memagut, terlena dengan ciuman yang sudah lama tidak mereka lakukan. Tanpa mempedulikan mobil yang melintas dari arah berbeda di depan mereka.
“Siaaaaaaaallll” teriak Juna di dalam mobil karena harus melihat adegan panas Qania dan Arkana yang sedang berciuman.
Juna tadi meninggalkan Denis di rumah dan langsung mengendarai mobilnya untuk mendatangi Arkana dan membuat perhitungan dengannya. Namun sayang adegan mesra di depannya semakin membuatnya terbakar cemburu, dadanya sesak namun ia urungkan untuk menghampiri keduanya. Ia hanya bisa melanjutkan mobilnya dan mengumpat di dalamnya. Ia tidak ingin memperlihatkan sisi buruknya di depan Qania.
Arkana dan Qania menyudahi ciuman mereka, keduanya saling pandang dan tersenyum membuat Qania tersipu malu dan kembali duduk tegak.
‘Maaf sayang aku tidak bermaksud menjadikan ciuman kita sebagai tontonan, hanya saja aku ingin memberi peringatan pada Arjuna bahwa kau adalah milikku’ batin Arkana.
Sebelum Arkana mencium Qania, ia melihat mobil dari arah berlawanan mendekati mereka saat Qania tengah kesal kepadanya dan membuat muka ke samping. Ia memicingkan matanya dan menyeringai saat tahu siapa pemilik mobil itu, Arkana sengaja membuka kaca jendelanya agar siapa pun yang ada di mobil itu entah Denis atau pun Arjuna akan melihat adegan mereka tengah berciuman.
“Pulang yuk” ajak Arkana.
“Lah, jalan-jalannya nggak jadi?” Tanya Qania bingung.
“Aku Cuma mau ambil jatah kok” jawab Arkana membuat Qania kesal.
“Sayang, kamu nanti tidur dimana?” Tanya Qania saat Arkana sudah menyalakan mesin mobilnya.
“Di ruang tamu bisa, di kamar kamu juga bisa” jawab Arkana membuat Qania mendengus.
“Tenang, aku udah biasa tidur di sembarang tempat meski pun aku anak orang kaya” ucap Arkana menyombongkan diri.
“Diihh”,.
“Kenapa? Mau ngajak aku tidur bareng? Atau kita nyari penginapan aja?” Tanya Arkana.
“Arkanaaaaa”,.
Arkana tertawa melihat Qania yang sudah mengaktifkan model kesalnya, sesuatu yang paling Arkana sukai.
‘Rasanya gue pengen egois buat mendampingi elo Qan seumur hidup gue. Gue nggak rela semua yang ada di diri elo dan semua yang jadi milik gue di ambil oleh orang lain. Gue egois Cuma mau menguasai elo sendirian, tapi memang pada dasarnya kita menikah dan mencintai satu orang saja seumur hidup. Gue nggak sanggup jika lo harus membagi senyuman lo atau pun kekesalan penuh cinta elo ke orang lain. Tapi saat gue lihat si Raka entah mengapa gue menemukan rival sesungguhnya dan gue ngerasa apa yang ada di dirinya bakalan gantiin gue di hati elo Qan, gue takut tapi gue nggak bisa ceritain ini sama elo karena gue juga masih bingung sama perasaan aneh ini’ rintih Arkana.
Arkana menatap penuh sayang pada Qania, kemudian membelai wajah kekasihnya itu. Arkana menghapalkan wajah kekasihnya dengan menutup matanya, wajah yang akan ia rindukan selama sebulan lagi dan sebulan itu terasa begitu lama.
‘Tuhan bolehkah Qania egois untuk menahannya disini? Bolehkah waktu berhenti saat ini juga? Atau bolehkah waktu di percepat agar aku tidak merasakan siksanya rindu padanya? Aku tidak kuat berjauhan dengan orang yang selalu membuatku bahagia ya Allah’ isak Qania dalam hati.
Arkana masih memejamkan matanya begitu pun dengan Qania, namun dari sudut mata keduanya mengalir cairan bening. Keduanya larut dalam belaian dan rintihan hati masing-masing, sehingga tidak bersuara sedikit pun, hanya hati mereka yang saling bersahut-sahutan.
“I love you too Arkana Wijaya” isak Qania kemudian menghamburkan dirinya memeluk Arkana, menumpahkan air mata sebagai wakil dari perasaan hatinya saat ini.
“Bersabarlah, aku akan selalu bersabar menunggumu kembali” ucap Arkana lirih sambil mempererat dekapannya.
“Terima kasih sudah bersabar, terima kasih sudah mencintaiku, terima kasih sudah menyayangiku dengan begitu besar hingga aku tidak bisa berpaling dan tidak tahu bagaimana caranya memandang pria lain selain dirimu” ungkap Qania dengan deraian air mata di dalam pelukan Arkana.
“Harusnya aku yang berterima kasih sayang, karena dirimu lah aku bisa seperti ini kepada seorang yang aku cintai. Aku beruntung memilikimu, aku sangat dan banyak mencintaimu” balas Arkana.
“Kembali kasih” Qania melepaskan pelukannya kemudian menangkup pipi Arkana dengan kedua tangannya, menciumi kedua pipi Arkana, kening, dagu dan menyatukan hidung mereka.
Qania merasa ragu, namun karena perasaannya yang begitu menggebu akhirnya ia memberanikan diri untuk mencium bibir Arkana, memagutnya dan hal tersebut tentu membuat Arkana terkejut namun bahagia tentu saja.
Setelah berciuman, kini giliran Arkana yang menangkup pipi Qania dan menciumi setiap inci di wajah Qania. Kemudian ia mengecup mesra dan begitu lama kening Qania.
“Pulang yuk” ajak Arkana dan di jawab anggukan oleh Qania.
Karena mesin mobil masih menyala, Arkana tinggal menginjal gas dan langsung meninggalkan tempat itu.
*
*
Arkana di bantu oleh Abdi dan Prayoga menurunkan kardus dari bagasi mobilnya, membuat kedua teman Qania itu bertanya-tanya apa isi dari kardus sedang yang lumayan berat itu.
“Ini apaan Ka? Semalam waktu gue nurunin karung jagung, gue juga lihat kardus ini?” Tanya Abdi sambil mengangkat kardus bersama Baron sementara Arkana menutup bagasi mobilnya dan ketiganya berjalan memasuki rumah pak kadus.
“Itu buku pelajaran dan alat tulis menulis buat besok kita bagiin di sekolah dasar” jawab Qania yang baru saja keluar dari kamar setelah mandi dan berganti pakaian.
“Wah, lo peduli banget Ka” puji Prayoga.
“Permintaan calon istri” kekeh Arkana membuat Qania merona dan Abdi dan Prayoga ikut tertawa.
“Memang ya anak anggota dewan itu memiliki jiwa social tinggi” ledek Baron yang keluar dari kamar.
“Ya elah” Qania memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
“Oke kalau ini udah, gue mau pamit pulang dulu” ucap Arkana sambil menatap Qania yang kini menjadi sendu.
“Kok udah mau pulang aja sih?” Tanya Elin yang juga baru keluar dari kamar.
“Besok harus masuk kerja, biasa lagi ngumpulin duit buat nikahan enam bulan lagi” jawab Arkana membuat Qania mencubit gemas lengannya.
“Oh my God, enam bulan lagi Qan?” pekik Elin.
“Iya lah” sahut Qania bangga.
“Tosan harus gerak cepat nih” ceplos Elin membuat Qania menatap nanar padanya.
“Lin” lirih Qania.
Elin yang baru saja tersadar dengan ucapannya langsung berjalan menghampiri Qania dan memeluk sahabatnya itu.
“Dia udah tenang Lin, aku tahu kok kamu juga sama kayak aku yang belum bisa melupakan sahabat kita itu” lirih Qania.
Elin menghapus air matanya yang tanpa sengaja keluar dari sudut matanya itu kemudian berusaha tersenyum.
“Aku hanya terlalu merindukannya Qan” ucap Elin sembari melepas pelukannya dan memperlihatkan senyuman termanisnya.
‘Maaf karena gue kalian harus kehilangan sahabat kalian’ isak Arkana dalam hati.
“Tenang, ada banyak yang bakalan bantuin kok. Nanti kalau kalian udah balik kita bakalan ngunjungin makam Tosan” lerai Arkana.
“Janji ya Ka” pinta Elin dan Arkana mengangguk pasti.
“Ya udah semua gue balik ya. Tadi gue juga udah pamit sama yang lain sama pak kadus juga setelah sarapan tadi” ucap Arkana sembari tersenyum.
“Hati-hati bro” ucap Abdi.
Mereka berkumpul untuk mengantar Arkana ke mobilnya dengan tangan Qania yang salig bergenggaman dengan tangan Arkana. Teman-teman Qania saling bersalaman dengan Arkana dan mengatakan hati-hati.
“Aku balik dulu ya calon makmum, jaga diri dan rindukan aku selalu” ucap Arkana sembari mengecup kening Qania lalu puncak kepala Qania.
“Unnccchh so sweet”,.
“Hati-hati calon imam, rindukan aku juga” balas Qania kemudian mengecup kedua pipi Arkana secara bergantian.
“Ya pemirsa ternyata Qania Salsabila si putri kampus dan ratunya teknik bisa agresif juga” ucap Prayoga yang tiba-tiba saja menjadi komentator.
“Apaan sih lo, nggak jelas banget dan ngerusak suasana” hardik Elin.
“Bebep Felin juga mau digituin sama bang Yoga?” goda Prayoga.
“Ih dasar yadong, mesum” umpat Elin.
“Yang penting tulus beb” sambung Prayoga membuat Elin kesal namun dalam hati senang.
“Sikat bro” ujar Arkana membuat Prayoga tertawa dan mengacungkan jempolnya.
“Doain” sahut Prayoga.
“Aamiin” ucap Qania membuat Elin dan Prayoga langsung menatap kepadanya.
“Lah kok pada kompak ngelihatin aku sih?” Tanya Qania yang tentu saja tahu maksud dari tatapan Elin.
“Ya udah gue pamit. Sayang aku pamit ya, hati-hati. Gue titip Qania ya Di, Ron, Yoga” ucap Arkana.
“Pasti bro, lo tenang aja” jawab ketiganya kompak.
Arkana masuk ke dalam mobilnya kemudian membuka kaca jendela mobilnya dan melambaikan tangan. Setelah mobil Arkana sudah tidak terlihat lagi, Qania menarik napas panjang dan membuangnya dengan kasar kemudian masuk ke dalam kamar bersama Elin.
“Bagus, dia sudah pergi. Sekarang tunggu gue bakalan ngasih kenang-kenangan buat lo Qania, dan itu bakalan bikin lo jadi milik gue seutuhnya atau bakalan bikin lo mengemis cinta ke gue” gumam Juna yang tengah memperhatikan mobil Arkana yang sudah menjauh.
“Kalau lo nggak bisa jadi milik gue, setidaknya gue bisa buat lo nggak bisa ngelupain gue. Jangan salahkan tindakan gue nanti, karena itu elo yang minta. Dan setelah elo Qania, tunggu aja giliran tunangan brengsek lo itu. Kalian berdua bakalan hancur di tangan gue” imbuhnya lagi dengan tatapan penuh kebencian.
Juna membelokkan mobilnya dan meninggalkan tempat itu dengan dendam yang begitu besar, ia tidak henti-hentinya mengumpat dan menggerutu di dalam mobil. Sesekali ia tertawa, terlihat seperti seorang psikopat.
“Gue bakalan hancurin kalian berdua”,.
“Kalian berdua tunggu aja hari itu akan segera tiba dan kalian nggak bisa menghindar”,.
“Hahahaha”,.
__ADS_1
...****...