
Qania mengerjapkan kedua matanya, ia merasa tangannya keram namun ia tidak memperdulikannya. Ia langsung mengambil ponsel di sebelah bantalnya.
“Udah subuh, sebaiknya aku bangun dan sholat” ucapnya.
Qania meletakkan kembali ponselnya di tempat semula, namun saat ia berbalik ia dibuat terkejut bukan main. Rasanya ia ingin menjerit, namun begitu ia perhatikan sosok yang tengah tertidur di sebelahnya dengan posisi duduk itu adalah Arkana.
Qania menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.
‘Jadi semalam dia tidur disini?’ pikir Qania.
“Pantas aja tangan aku keram, rupanya pria ngeselin ini terus menggenggamnya” gumam Qania.
Qania tersenyum menatap kearah Arkana, perlahan ia membelai rambut kekasihnya itu namun pergerakan tangannya justru membuat Arkana terganggu.
“Sayang sudah bangun?” tanya Arkana dengan suara serak khas bangun tidur.
Arkana mengucak kedua matanya lalu duduk tegap.
“Kamu tidur disini dari semalam?” tanya Qania.
“Iya, aku jagain kamu” jawab Arkana.
“Emang aku bakalan diculik?” goda Qania.
“Iya, mereka bakalan culik kamu dari aku selama dua bulan” ucap Arkana memasang wajah memelas.
“Dasar” Qania memutar bola matanya jengah, kemudian turun dari tempat tidurnya.
“Mau kemana sayang?” tanya Arkana mencegat tangan Qania.
“Mau siap-siap shalat subuh, kamu turun gih pasti papa nungguin kamu. Kalian biar shalat di masjid saja” jawab Qania.
“Oke” Arkana mengacak rambuk Qania kemudian meninggalkan gadis yang tengah kesal itu.
🌺
🌺
Setelah melaksanakan kewajiban subuhnya Qania langsung mengambil ponselnya. Ia melihat sudah ada pesan di grup KKN.
“Saya sebagai dosen pendamping kalian meminta agar kalian hadir lebih awal, saya menunggu di depan ruang rektorat pukul delapan lewat tiga puluh” bu Lira.
“Siap bu” Abdi.
“Oke bu” Baron.
“Iya bu”,.
Ada enam orang yang juga sudah membalas pesan tersebut, Qania tidak mengetahuinya karena nomor mereka tidak terdaftar di kontaknya.
“Hadir bu 😊” Qania.
“Prayoga kemana?” bu Lira.
“Mungkin masih tidur bu” Abdi.
“Ya sudah ibu tunggu sesuai jam yang sudah ibu tentukan tadi” bu Lira.
Setelah membalas pesan dari bu Lira, Qania kemudian turun untuk mencari mamanya.
“Ma, mama” panggil Qania sambil menuruni anak tangga.
“Iya sayang, kenapa sih?” tanya mamanya yang berjalan dari arah dapur.
Saat Qania berjalan kearah dapur, ponselnya bergetar. Ia melihat pesan masuk di grup KKNnya.
“Teman KKN kalian yang bernama Santi dari Fakultas Keguruan bertukar dengan Felin yang juga dari Fakultas Keguruan” bu Lira.
“Cantik nggak bu?” Prayoga.
“Ya ampun si biang onar” Qania.
“Bu, kick aja si Prayoga bu” Qania.
“Enak aja kamu, mentang-mentang kesayangannya bu Lira” Prayoga.
“Haii” Felin.
__ADS_1
“Elin kita sekelompok 🥰” Qania.
“Iya Qan, senangnya 🤗” Felin.
“Aku ke rumah kamu sekarang” Qania.
“Oke aku tunggu” Felin.
“Kalian saling kenal?” Prayoga.
“…..”,.
Qania menyimpan ponselnya ke dalam saku celanyanya tanpa memperdulikan pertanyaan Prayoga.
“Kok mama udah di dapur?” tanya Qania sambil mendudukkan bokongnya di kursi meja makan.
“Mama sama bi Eti mau masak lah, kamu kan mau berangkat KKN” jawab mamanya ikutan duduk.
“Masih pagi juga kali ma” celetuk Qania.
“Oh iya sayang, nanti barang-barang kamu gimana?” tanya mamanya.
“Itu dia ma yang lagi Qania pikirin, nggak muat kalau harus dibawa pakai motor. Kalau Cuma pakaian Qania, di ransel besar itu muat ma, tapi Qania kan harus bawa laptop dan juga kamera. Kalau menurut mama gimana?” Qania menjatuhkan dagunya perlahan di atas meja.
“Emm, emang kamu bawa baju dan celana berapa banyak?”,.
“Baju tidur tiga pasang, baju santai tiga pasang, pakaian dalam sama alat sholat ma. Oh iya Qania juga bawa beberapa pakaian yang bisa dipakai kalau ada acara” jawab Qania menjabarkan.
“Ranselnya muat?”,.
“Muat ma, Qania juga membawa perawatan tubuh. Qania Cuma pusing aja, laptop Qania besar mau taruh dimana sama kameranya” Qania mengerucutkan bibirnya, ia merasa bingung.
Sementara mamanya juga sedang berpikir sambil jari telunjukkan memukul-mukul pelan bibirnya.
“Haa, kamu pakai notebook papa saja sayang. Papa kan udah punya yang baru, kamu pakai itu aja. Itu kan kecil bahkan bisa muat di totebag. Kalau kameranya gantung aja di leher kamu, kan kamu bisa sepanjang jalan foto-fotoin pemandangan” usul mamanya.
“Mama benar, mama emang juara balap sepeda, mama terbike. Oh iya papa dimana?” Qania memeluk mamanya sayang.
“Belum pulang tadi pergi ke masjid sama Arkana. Mungkin lagi singgah di tempat lain” jawab mamanya.
“Sayang, jam berapa kamu berangkat nak?” tanya mamanya lagi.
“Ooh. Eh sayang sebaiknya kamu mandi dan kita akan sarapan” pinta mamanya.
“Aku mau ke depan dulu ma, sama Elin. Kita sekelompok KKNnya” ucap Qania lalu berdiri berpamitan dengan mamanya.
Qania yang terburu-buru keluar rumah tanpa sengaja bertabrakan dengan Arkana yang juga akan masuk.
“Awwwhh” ringis keduanya yang sama-sama memegang area yang sakit. Arkana memegangi dadanya, sementara Qania memegangi jidatnya.
“Sayang hati-hati dong” tegur Qania.
“Kamu kali yang hati-hati, papa lihat kamu buru-buru tadi keluarnya sampai tidak melihat Arkana yang segini besarnya” ceplos papanya, kemudian ia berjalan masuk ke dalam rumah.
Arkana menggulum senyum saat calon papa mertuanya itu justru membelanya bahkan sampai mengatai anaknya sendiri.
‘Senangnya punya mertua pengertian’ batin Arkana.
Qania yang melihat Arkana tengah senyum-senyum sendiri langsung meletakkan punggung tangannya di atas dahi Arkana.
“Kamu lagi sakit atau kekurangan obat?” tanya Qania dengan maskud mencibir.
“Apaan sih sayang, kamu kok tega ngatain calon suami kamu kayak gitu” protes Arkana, ia kemudian meraih tangan Qania yang berada di dahinya untuk ia ciumi.
‘Kan, jadi buat aku nggak bisa jauh-jauh. Sikap manisnya ini buat aku pengen nempel mulu. Bisa nggak ya aku isi Arkana di ransel aku, terus aku bawa ke lokasi KKN?’ pekik Qania dalam hati.
‘Sayang, aku sebenarnya pengen bilang kalau aku nggak ngizinin kamu pergi KKN. Tapi aku nggak seegois itu, aku nggak bakalan halangi perjuangan kamu meraih gelar’ batin Arkana.
“Sayang..” panggil keduanya bersamaan.
“Iya” jawab keduanya lagi secara bersamaan membuat mereka tertawa.
“Kamu tadi mau kemana?” tanya Arkana.
“Aku mau ke rumah Elin, soalnya dia sekelompok sama aku. Tadinya sih enggak, eh pas mau turun nyariin mama aku sempat lihat kalau Elin ditukar sama Santi yang aku nggak kenal” jawab Qania menerangkan.
“Oh iya sayang, aku juga mau masuk mau mandi” ucap Arkana kemudian mengelus lembut rambut Qania.
__ADS_1
Qania tersipu, kemudian berjalan cepat meninggalkan Arkana dan menuju ke rumah Elin.
🌺
🌺
Setelah pulang dari bergosip ria dengan Elin di depan rumah mereka, Qania bergegas masuk ke rumahnya dan menaiki tangga menuju ke kamarnya untuk mandi.
Waktu menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh ketika mereka selesai sarapan. Qania bergegas naik ke kamarnya untuk mengambil ranselnya, namun Arkana menggantikannya untuk menggendong ransel tersebut.
Keduanya turun menuju ke ruang tamu dimana keluarganya sedang menunggu mereka.
“Sayang ini masih satu jam lagi loh, kenapa sudah mau pergi aja?” tanya mamanya melirik pada jam dinding di ruang tamu.
“Maaf ma, Arka mau ajak Qania jalan sebentar” jawab Arkana mewakili Qania.
“Oh iya sayang, hati-hati” ucap mamanya tersenyum.
Qania memeluk dan mencium mamanya kemudian berpindah ke papanya, air matanya mengalir saat mengucapkan perpisahan dengan kedua orang tuanya itu.
“Kamu hati-hati di kampung orang ya nak, jaga dirimu. Jangan capek-capek, jangan stress dan jangan macam-macam. Jaga etika dan sopan santun kamu” pesan mamanya sambil menyeka air matanya.
“Iya ma, pasti” jawab Qania yang ada di pelukan papanya.
“Kamu hati-hati ya nak, seringlah memberi kabar jika lokasi kamu memiliki signal” tambah papanya.
“Iya pa, Qania pamit dulu ya” ucapnya.
“Hati-hati sayang” ucap papa dan mamanya bersamaan.
Qania dan Arkana bergantian mencium punggung tangan kedua orang tua Qania.
“Titip Qania ya Ka” ucap papa Qania yang dijawab anggukan oleh Arkana.
Keduanya pun naik ke atas motor Arkana, kemudian pergi meninggalkan halaman rumah Qania. Kedua orang tua Qania melambaikan tangan dengan sedih. Setelah Qania dan Arkana sudah tidak terlihat lagi, keduanya pun masuk ke dalam rumah.
🌺
🌺
“Arghhhh….”,.
Ia mengerjapkan kedua matanya yang masih agak kabur dengan kedua tangannya memegangi kepalanya yang sakit.
Matanya menyapu seluruh ruangan, mencari tahu dimana ia berada saat ini.
Ceklek..
Pintu ruangan itu terbuka, terlihat seorang pria paruh baya yang mengenakan jas putih yang tidak lain adalah seorang dokter. Di sebelahnya ia ditemani oleh seorang suster yang terlihat imut.
“Dok, pasien sadar” pekik suster itu saat melihat pasiennya tengah mencengkram rambutnya sendiri.
“Oh iya sus” kata dokter tersebut kemudian mempercepat langkahnya.
“Dok kepala saya sakit dok” rintihnya.
“Biar saya memeriksa keadaan mayor dulu” ucap dokter tersebut dengan lembut kemudian memeriksakan kondisi pasiennya itu.
Ya, dia adalah mayor Ghaisan Yudistira.
“Kepala anda sakit itu karena efek saat mayor jatuh ke jurang dan kemungkinan kepala mayor terbentur benda keras. Tapi selebihnya kondisi mayor juga sudah lebih baik, luka operasi saat mengeluarkan peluru di perut mayor juga sudah sembuh hanya menunggu kering saja” ucap dokter tersebut memberi penjelasan.
“Sudah berapa lama saya berada di rumah sakit dok?” tanya Ghaisan.
“Hampir dua minggu mayor. Sekarang mayor sudah dalam masa penyembuhan karena sudah sadar dari koma selama hampir dua minggu itu” jawab dokter.
“Dan jika mayor ada keperluan, mayor bisa menekan tombol di samping untuk memanggil suster Syifa, dia yang mengurus mayor selama hampir dua minggu ini” lanjutnya.
Ghaisan mengalihkan pandangan kepada suster berwajah imut yang bernama Syifa itu. Suster Syifa mengangguk kepadanya sembari tersenyum.
“Kalau begitu saya permisi dulu, nanti saat makan siang suster Syifa akan datang membantu mayor. Tapi jika saat ini mayor lapar maka suster Syifa akan mengurusnya sekarang juga” ucap dokter bername tag Indra Alfiandi itu.
“Baik dok, terima kasih. Nanti makan siang saja, saya masih ingin istirahat” jawab Ghaisan dengan suara parau.
Dokter dan suster tersebut kemudian pergi meninggalkan Ghaisan.
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...