
Rencana Awal...
“Papa, sekali lagi maafin semua kata-kata kasar Arka tadi pa” Arkana memeluk Setya dengan erat, begitu pun dengan sang papa yang membalas pelukan itu tak kalah eratnya.
“Papa sudah memaafkanmu sayang, papa tahu kau memiliki maksud tersendiri meskipun papa sempat terkecoh dan mengatakan yang bukan-bukan padamu” lirih Setya sambil mengelus punggung Arkana dengan lembut penuh kasih.
Keduanya melepaskan pelukan, Rizal dan Fero mendekat.
“Lihat nih om, kita sampai babak belur gini untuk mengikuti rencana anak om” adu Fero.
“Hei jangan kira Cuma elo ya yang babak belur, lo nggak lihat muka gue juga lebam-lebam gini” prores Arkana.
Arkana dan Fero saling menatap sinis.
Bughhh...
Arkana memeluk Fero dengan erat dan meneteskan air mata.
“Thanks bro, gue nggak tahu kalau nggak ada kalian” isak Arkana.
“Kita kan best friends Ka, lo jangan kayak gini dong” hibur Fero sambil mengusap punggung Arkana.
“Emang Cuma kalian yang ingin berpelukan” protes Rizal kemudian menghabur ikut berpelukan.
“Teletubbies” ledek Setya sambil merangkul pak Anwar.
Mereka tertawa kemudian melepaskan pelukan sambil menyeka air mata haru yang tak sengaja keluar di sudut mata mereka.
“Eh kalian meluk gue? Bukannya kalian jijik sama sampah kayak gue?” sindir Arkana.
“Hahaha, kita kan mendalami peran Ka” Fero garuk-garuk kepala.
“Aduh gue lupa, harus mandi kembang tujuh rupa nih gue” ledek Rizal yang membuatnya mendapat sentil oleh Arkana.
“Ternyata kalian memiliki bakat terpendam untuk menjadi aktor.
“Sudah, sudah. Sebaiknya kita lanjutkan di mobil saja, kita tinggal berlima disini” ajak Setya.
“Oh iya, emang kita bawa mobil?” tanya Rizal.
“Ifan yang bawain mobil kesini tadi. Motor lo biar si A yang bawa, lo nyetirin kita” jawab Arkana sembari memerintah.
“Oke, oke” ucap Rizal pasrah.
Gelak tawa terdengar dari ruangan itu.
Di mobil...
“Jadi bagaimana ceritanya sampai kamu punya ide gila dan menjadi manusia sampah seperti itu?” tanya Setya pada Arkana.
“Pffttt...” Fero dan Rizal menahan tawa mendengar ucapan Setya yang mengatakan Arkana manusia sampah.
__ADS_1
“Ih papaa..” rengek Arkana.
“Hahaha, iya, iya. Sekarang coba ceritain ke papa” pinta Setya sambil merangkul penuh kasih pada Arkana.
Di mobil itu Rizal yang mengemudi, Fero duduk di sebelahnya. Sementar pak Anwar duduk sendiri di belakang dan Setya bersama Arkana duduk di kursi tengah.
“Jadi gini pa ceritanya...”
🌻 Flash back on.....
Arkana POV
Arkana dan Fero baru saja tiba di markas mereka yang berada di gudang kafe Arkana. Arkana masuk dan melihat dua orang yang duduk terikat di bangku dengan kepala ditutupi karung.
“Gue rasa harus menggunakan cara lain untuk mendapatkan papa kembali. Tapi apa?” pikir Arkana.
Gue ingin tahu seperti apa rupa dan watak dua orang ini sehingga gue langsung meminta Rizal untuk membuka karungnya.
“Ternyata dua orang yang ngikutin gue ini perawakannya sangar, tapi gue harus tahu juga keberaniannya”.
Benar saja, begitu lakban dilepas, gue langsung mendapat makian dan gue yakin dua orang ini tidak selemah Bobby dan Lucky.
“Apa gue bermain seolah gue seorang psikopat, pembunuh berdarah dingin, atau..? Ah gue tahu, gue mengenal Daren dan begitu pula dengannya. Gua akan coba mengajaknya bekerja sama dengan berpura-pura ingin papa mati. Gue tahu mereka gak bakalan langsung percaya, tapi berhubung disini juga ada Rizal dan Fero, gue bakalan pancing emosi mereka juga supaya kelihatan gue serius”.
Akhirnya gue nelpon Daren karena ponsel orang suruhannya ada di tangan gue. Gue mengarang berbagai cerita yang entah gue dapat cerita gila itu darimana dan ya gue berhasil mendapat kesempatan bertemu Daren dan juga berhasil menghasut pikiran dua sahabat gue itu.
Tapi gue nggak menyangka bahwa Daren memperdengarkan percakapan kami ke papa, dan membuat papa bingung sampai menyumpah serapahi gue. Hati gue bergetar saat dengan gamblangnya gue ngehina dan memaki bokap gue itu.
Setelah gue dan Daren memutuskan untuk bertemu, gue semakin memperkeruh suasana hati Fero dan Rizal dan gue berhasil.
Dua orang suruhan Daren masuk dalam jebakan gue dan kami tertawa namun gue melihat Fero dan Rizal menatap jijik ke gue.
“Sabar Ka, nanti mereka akan mengerti”.
Gue berjalan ke arah si botak dan gondrong yang masih tertawa, gue melangkah ke belakang mereka dan membungkukkan badan mengambil balok ukuran besar dan gue memukul leher mereka dengan kuat sampai mereka pingsan.
Fero dan Rizal menatap heran ke gue dan gue berjalan mendekati mereka.
“Kalian pasti memikirkan hal buruk ke gue, ayo ngaku” ejek Arkana.
“Jadi lo..?” Rizal belum menyelesaikan perkataannya namun Arkana sudah menyela.
“Hei gue darah daging Setya Wijaya dan gue juga cinta mati sama Qania, jangan berpikiran buruk. Gue sengaja, gue merencanakan ini agar Daren sendiri lah yang akan membawa gue ke bokap. Sebelum gue pergi menemui Daren, gue bakalan minta tolong papa Zafran buat meringkus orang-orang ini ke kantor polisi, mereka akan menerima laporan om Zafran apalagi dia adalah ketua DPRD kabupaten kita. Kalian sama Ifan bantu papa Zafran membawa mereka. Setelah itu kalian berdua susul gue ke kafe X dan buat keributan seolah kita bertengkar hebat supaya lebih meyakinkan. Oh iya, susul juga si Lucky ke rumah sakit untuk membantu kalian datang lebih dulu ke markas dan meringkus anak buahnya disana. Gue bakalan minta papa Zafran buat minta tolong beberapa intel, dan sebaiknya kita bertindak cepat” Arkana menjelaskan rencananya panjang lebar.
Prok..
Prok..
Prok..
Fero dan Rizal bertepuk tangan, kemudian memeluk Arkana.
__ADS_1
“Ide lo sangat keren bro” puji Fero.
“Gue tau, gue kan yang terbaik” Arkana memuji dirinya sendiri.
“Mulai deh lo” cibir Rizal melepas pelukannya.
“Haha, sebaiknya kita bersiap. Dan jangan lupa ke kafe X, buat semeyakinkan mungkin. Gue mau nelpon papa mertua dulu” Arkana meninggalkan mereka dan bergegas keluar untuk menunggu ojek.
Arkana menelepon Zafran begitu dia sampai lebih dulu di kafe, setengah jam lebih cepat dari yang di janjikan.
“Hallo”
“Hallo pa, Arka sudah mendapatkan orang yang menculik papaku dan aku ingin meminta bantuan papa. Tapi ini hanya antara kita pa, papa jawab perkataanku singkat-singkat saja, takut ada yang dengar”
“Pasti”
“Aku sudah menemukan orang suruhannya dan bolehkah papa mengurus ke kantor polisi. Aku menempatkan mereka di dua tempat dan teman-temanku sedang menjaganya dan aku akan memberikan alamatnya”
“Kirimi lewat pesan”
“Oke pa. Oh iya pa, apa papa bisa menggunakan kekuasaan papa dan meminta beberapa intel untuk datang lebih dulu ke markas bersama orang yang akan mengantar papa kesana? Arkana ingin mereka langsung meringkus anak buah penculik papaku dan mereka juga yang akan menyamar menggantikan anak buah penculik itu. Aku akan menahannya selama mungkin sampai papa dan para intel selesai melakukannya”
“Tentu saja”
“Terima kasih pa, sebaiknya papa bergegas sekarang, teman-temanku sudah menunggu papa”
“Ya”
Setelah mematikan telepon itu, gue memesan kopi sambil menunggu Daren datang. Tak lama berselang gue melihat dia datang bersama pesan dari Rizal yang juga masuk. Gue membalas pesan itu dan meminta mereka datang ke kafe X untuk melakukan peran mereka lagi.
Rencana gue berhasil, dan gue melihat senyum puas di wajah Daren namun gue mengepalkan tangan, ingin rasanya gue memberinya satu bogeman saja agar senyumnya terbenam.
Dan akhirnya disini lah kami, di tempat papa disekap. Gue melihat dengan perasaan perih ketika bokap kesayangan gue nggak bisa ngapa-ngapain dan wajahnya terlihat pucat.
Dan ya, tatapan kebencian papa membuat hati gue ngilu.
“Sebentar lagi pa, maaf Arka harus bermain peran dulu. Arka harap papa akan memaafkan kata-kata Arka ini”.
Gue melempar berkas itu dan sekilas gue lihat bibir papa berkedut, membuat perasaan gue lega. Gue juga senang karena papa bisa memainkan perannya dan menuruti keinginan hue untuk menampar gue sekeras mungkin.
Tapi bagi gue itu nggak ada apa-apanya dibandingkan perkataan gue yang menyakiti hatinya.
Setelah itu papa memeluk gue erat dan gue balas dong. Gue tertawa melihat wajah Daren yang begitu bingung, apalagi melihatnya marah saat anak buahnya juga ikut tertawa.
Dia mengancam gue, dan gue ikuti maunya bahkan gue sengaja mengejeknya sampai dia dibawa oleh para intel itu.
Setelah Daren di bawa pergi, gue nggak bisa nahan rasa sedih di hati gue, rasa sedih karena bokap gue sempat di pukul dengan meja dan rasa sedih karena gue mengatainya tadi.
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...
__ADS_1