
Setelah berdiskusi dan dibantu juga oleh Arkana untuk memberikan masukan serta alasan-alasan yang pas jika besok mereka ditanyai, akhirnya laporan itu selesai. Abdi yang paling bernapas lega karena itu adalah tugasnya untuk mempresentasikan hasil dari kerja mereka selama dua bulan.
“Terima kasih Ka, hampir saja gue mati mendadak” ucap Abdi sambil membaca laporan yang baru saja keluar dari mesin pencetak alias printer.
“Santai aja bro” sahut Arkana.
“Ya elah elo mati mendadak Cuma karena laporan doang Di? Elo kok mendadak cemen sih, mimpin demo berkali-kali aja lo berani bahkan melawan polisi nah ini Cuma laporan doang lo ciut” ejek Prayoga.
“Ya iyalah Yoga, ini masalah uang bro beda sama demo yang kita Cuma ngandelin omongan doang sama tenaga. Ini kita berbicara masalah uang, masalah yang paling riber diseluruh belahan dunia, kalau kita salah akibatnya sangat fatal” ujar Abdi dengan tampang seriusnya.
“Tahu nih si Yoga, kayak lo berani aja besok yang presentasi” celutuk Banyu.
“Ya gue nggak berani lah” kekehnya.
“Huh dasar” cibir mereka membuat Arkana tertawa.
Ponsel Arkana berdering, ia pun bergegas keluar karena melihat nama peneleponnya membuat Qania memicingkan matanya dan menatap penuh curiga pada kekasihnya hanya saja ia tidak ingin membuat yang lain beranggapan bahwa ia begitu posesif pada tunangannya itu meski pun itu memanglah benar adanya.
Saat ini mereka kembali sibuk mencetak satu per satu laporan individu mereka, makanya suasana sudah tidak segaduh tadi dan yang lainnya sibuk dengan ponsel mereka apalagi Raka yang dari semalam tak henti-hentinya bermain game.
“Silahkan masuk” ajak Arkana pada seseorang membuat Qania menoleh ke arah pintu.
Nampak dua pria di belakang Arkana datang dengan menenteng empat kantung plastik di tangan mereka.
“Letakkan di meja saja bro, terima kasih” ucap Arkana pada kedua pria itu sembari memberikan uang beberapa lebar termasuk bonusnya.
“Makasih Ka, sering-sering ya” ujar salah satunya.
Arkana hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, hal itu tidak luput dari penglihatan Manda yang masih mengagumi sosok Arkana, namun hanya sebatas kagum saja karena hatinya sudah seutuhnya untuk Banyu si gaya batu, eh salah dia sudah banyak gaya sekarang.
“Sayang itu apa?” Tanya Qania sambil menunjuk empat kantung plastik di meja.
“Oh itu ada burger, kebab, stik pisang, ayam geprek sama beberapa makanan ringan” jawab Arkana membuat teman-teman Qania yang tadi sedang sibuk dengan urusan masing-masing serentak menoleh ke arah kantung plastik itu dengan mata berbinar.
“Beneran Ka?” Tanya Baron.
“Iya, kalian makan saja, gue mau ke dapur buat minta bibi bikinin kalian minuman” jawabnya kemudian pergi.
Begitu Arkana pergi, mereka pun langsung bergegas berebut makanan di dalam kantung plastik itu.
“Semuanya tenang dulu, Arkana pasti sudah memesan sesuai jumlah kita. Nggak akan ada yang nggak dapat” lerai Baron.
“Kok lo bisa tahu sih?” Tanya Prayoga.
“Emang lo lupa, si Arkana kan biasa bawain kita makanan ke himpunan dan nggak pernah kurang malah lebih” jawab Baron sambil menjitak kepala Prayoga.
“Oh iya, benar juga lo” sahut Prayoga.
‘Jadi dari tadi kamu sibuk sama hp itu buat mesanin makanan buat kita, makasih ya sayang kamu paling mengerti’ batin Qania, ia sampai senyam senyum sendiri memikirkan kepekaan tunangannya itu.
Waktu kini sudah menunjukkan pukul dua siang, tepat setelah semua laporan tercetak dan tentu saja makanan mereka sudah habis. Semuanya kini tengah bersandar di sofa sambil merenggangkan otot-otot mereka serta merilekskan pikiran. Sementara Arkana, pria itu tengah sibuk bermain gitar di gazebo di samping rumah Qania bersama Syaquile yang sudah pulang dari sekolah.
Selama satu bulan ini Syaquile meminta Arkana mengajarinya bermain gitar dan dalam waktu singkat Syaquile sudah bisa.
“Qan kita pamit ya, sampai ketemu hari senin” ucap Manda yang sudah mengambil tasnya lebih dulu.
“Bilang aja mau pacaran” cibir Ikhlas.
“Yang jomblo jangan sirik” ejek Banyu membuat mereka tercengang dengan ucapan si gaya batu itu.
“Oh sudah pandai rupanya” cibir Raka.
“Emang elo, diam-diam berharap tapi nggak dianggap” balas Banyu membuat Raka tertohok.
“Bukannya itu kata-kata buat si Witno ya?” timpal Manda yang sukses membuat Witno menatap sengit kepadanya.
“Eits Witno kan udah nggak jomblo, ada dedek Cila yang menjadi pacar sekaligus calon sitrinya” ceplos Prayoga membuat mereka semua tertawa.
“Ah kalian pada rese deh, gue pamit duluan” ketus Witno.
“Eh beso kita nggak ngumpul nih?” Tanya Abdi.
“Nggak bisa, besok gue sibuk untuk acara nikahan kakak gue tiga hari lagi” sambar Elin.
“Wah kalau gitu gue juga sibuk dong” celetuk Prayoga membuat semua mata mengarah kepadanya.
“Kenapa pada lihatin gue?” Tanya Prayoga.
__ADS_1
“Sejak kapan lo sibuk, hah?” Tanya Baron.
“Lah kan kakak ipar gue mau nikah masa gue sebagai adik ipar nggak bantuin sih” jawab Prayoga dengan santainya membuat Elin mendengus kesal.
“Ya ampun Yoga jangan mulai deh” ucap Manda.
“Yuk kita balik, bisa stress gue kalau si Yoga kumat” ajak Abdi yang mulai merasa bosan jika Prayoga sudah terlihat bodoh.
“Iya, yuk bubar” ajak Ikhlas.
Prayoga hanya bisa pasrah, namun ia menatap Elin sendu dan memberikan senyuman manis nan lembut membuat Elin terpana dan tanpa sadar ikut tersenyum kepada Prayoga.
“Ekhmmm” Qania berdehem karena menyadari ada bunga-bunga cinta yang mulai bermekaran.
“Eh Qan, kita pamit ya” ucap Manda.
“Iya, hati-hati” sahut Qania.
“Beb kamu nggak mau pulang juga, biar aku anterin” ajak Prayoga.
“Rumah gue di depan mata woi” seru Elin.
“Hehe kali aja kamu lupa jalan pulang” kekeh Prayoga.
“Udah yuk balik ah, bisa gila gue” ajak Ikhlas.
“Arkana mana? Kita mau pamit nih sekalian ucapan terima kasih” Tanya Abdi sambil mengedarkan pandangannya.
“Biasa di secret kecil kita” jawab Qania yang tentu saja teman-temannya dari jurusan yang sama dengannya sudah tahu tempatnya dimana.
“Oke, bye Qania” ucap mereka semua kecuali Elin.
Qania mengantar mereka kepada Arkana yang tengah asyik bermain gitar bersama Syaquile.
“Sayang mereka mau pamitan” ucap Qania sambil berjalan dan mengacak-acak rambut Syaquile.
“Kakak, ketampanan gue bisa rusak gara-gara kakak acak rambut gue” ucap Syaquile kesal yang malah membuat Qania gemas.
“Sejak kapan adikku ini ngomongnya gue gue hah? Apa si brengsek itu yang mengajarimu?” Tanya Qania sambil melirik Arkana yang tengah cekikikan.
“Kakak kenapa lo ngatain kak Arkana brengsek, dia itu calon kakak iparku yang paling tampan dan imut” sanggah Syaquile membuat Qania mendesah frustasi.
“Ya aku nggak mau tahu pokoknya kakak harus nikah sama Arkana, titik” tukas Syaquile membuat Qania tercengang sementara si biang keroknya sedang tertawa puas mendapat pendukung garis depan.
“Arkana Wijaya, kamu yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi sama adik polosku ini” gerutu Qania membuat Arkana mengedipkan sebelah matanya.
Sementara teman-teman Qania yang menyaksikan pertengkaran romantis itu menjadi ikut tertawa dan juga kagum dengan kedekatan pasangan tersebut.
“Qan itu Syaquile udah dikasih makan apa sama Arkana?” Tanya Elin terheran-heran.
“Ih kak Elin apaan sih, mau nyudutin kakak iparku lagi hah, sama seperti gadis yang nggak seberapa itu?” protes Syaquile membuat Qania tercengang karena dikatai tak sebera oleh adiknya sendiri.
“Aih, parah nih bocah. Hati-hati Qan, sepertinya mereka sudah dikubu yang sama” ucap Elin memperingati.
Bughhh…
Arkana meringis saat sandal Qania melayang dan menimpa jidatnya, ia mengelus-elus jidatnya yang sedikit sakit itu. Sementara teman-temannya tak bisa berkata-kata saat Qania dengan sadisnya melempari sandal ke wajah kekasihnya itu.
“Sayang kok gitu?” keluh Arkana.
“Balasan buat kamu” ucap Qania ketus.
“Untung gue sayang” ledek Arkana.
Qania hanya memutar bola matanya jengah.
“Qan, lo tega juga ya” ucap Witno yang masih syok dengan kelakuan Qania.
“Kenapa, kau mau juga?” Tanya Qania masih kesal.
“Sayang kamu jangan marah-marah dong, dari tadi pagi marah-marah mulu deh” tegur Arkana.
“Emang kamu dari tadi disini Ka? Kenapa Qania marah-marah dari pagi?” Tanya Elin.
“Iya, gue nggak sengaja meluk dia saat kita tidur bareng semalam. Gue kira guling tapi kok hangat dan nyaman banget, eh tau taunya” Arkana menyeringai saat menatap Qania yang tengah memelototinya.
“APPAAA? Kalian tidur bersama?” pekik teman-teman Qania.
“Nggak seperti yang kalian pikirkan kok” cepat-cepat Qania menyanggah.
__ADS_1
“Itu semua juga karena kakak yang nggak ngasih tahu kalau kakak udah pulang, jadinya kan kak Arkana nggak tahu kalau kakak ada di kamar. Dia kan selalu tidur di kamar kakak selama kakak pergi. Ah kalau tahu akan jadi seperti itu, kenapa semalam kakak nggak minta jatah sama kak Qania aja ya” ceplos Syaquile.
“Yaaakk kau adik lucnut, bisa-bisanya kau berbicara seperti itu pada kakakmu sendiri” Qania histeris, ia dibuat naik pitam oleh adiknya sendiri sementara Arkana hanya bersiul-siul karena memiliki pembela.
“Lagian kata kak Arkana kakak nggak pernah kasih jatah sama dia, kakak kok pelit sih?” lagi-lagi ucapan Syaquile membuat Qania naik darah, sementara teman-temannya tertawa sambil menutupi mulut mereka dengan tangan.
“Jatah, jatah kau pikir itu beras jatah hah. Tahu apa kamu soal jatah?” pancing Qania yang sebenarnya sudah sangat geram dengan ucapan-ucapan adiknya dan pastinya ia tahu siapa biangnya.
“Oh iya yah, emang jatah apa kakak ipar?” Syaquile balik bertanya kepada Arkana.
Mendapat pertanyaan seperti itu sontak membuat pipi Arkana memerah menahan malu, ia hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
‘Rasain kamu, siapa suruh kamu meracuni pikiran adik polosku. Meski pun dia sudah SMA tapi kan dia jarang bergaul dan lebih memilih bermain game’ batin Qania.
“Jatah yang dia maksud itu adalah berhubungan suami istri, kamu kan udah SMA pasti kamu tahu maksud kakak” ucap Elin mengambil alih.
“Wah sialan lo kakak ipar, bisa-bisanya lo mau mengajak kakak gue berbuat mesum. Gue laporin bokap lo biar dipecat jadi calon mantu” umpat Syaquile membuat Arkana gelagapan sementara Qania kini tengah cekikikan.
“Rasain tuh balasan dari adik ipar” ledek Baron.
“Kak Baron, apa kabar?” sapa Syaquile.
“Baik dek, kok kamu nggak main ke rumah lagi?” Tanya Baron.
“Kan udah gede kak, kakak juga sibuk. Mama Diva sama papa Radi kabarnya gimana?” Tanya Syaquile lagi.
“Mereka baik kok” jawab Baron.
“Syukurlah, salamin ya kak. Bilang dapat salam dari keponakan yang paling tampan dan unyu-unyu” ucapnya narsis membuat semua yang ada disana tertawa.
“Kakak ipar elo nggak diizinin tertawa, lo masih berhutang penjelasan ke gue” tukasnya sambil menatap sengit pada Arkana.
“Kakak nggak ada niat kok berbuat mesum sama kakakmu. Makanya kamu paksa kakakmu biar bisa menikah besok sama kakak, kan udah halal jadi biar tidur bareng lagi dan hilaf udah nggak masalah” celetuk Arkana.
“Wah benar juga, kalau begitu kak Qania besok nikah aja sama kak Arkana” ceplos Syaquile membuat Qania mendengus kesal.
“Arkana, pernah lihat pembalap makan sandal nggak?” Tanya Qania penuh penekanan.
“Peace sayang, hehe” kekeh Arkana sambil mengangkat dua jarinya.
‘Mereka sangat serasi dan sudah mendapat restu dari semua keluarga. Gue jadi makin ciut’ batin Raka
‘Hah bahagianya jadi mereka, pertengkaran pun terlihat sangat romantis. Andai saja si bocah imut itu ada disini. Eh apa? Kenapa gue mendadak ingat dia? Ah gue pasti udah gila’ Witno berusaha menekan isi hatinya.
Bunyi notifikasi di ponsel Syaquile membuat mereka kembali terdiam.
“Wah udah waktunya war nih, gue harus menang lagi kali ini” ucapnya sambil menekan-nekan layar ponselnya.
Beberapa detik kemudian ponsel Raka juga berbunyi.
“Eh tunggu, kamu main game apa?” Tanya Raka.
“ML kak, kenapa?” Tanya Syaquile beralih menatap Raka.
“Kamu SQS?” Tanya Raka.
“Iya, itu singkatan namaku Syaquile Sanjaya” jawabnya.
“Berarti kamu dong yang selalu war bareng kakak” ucap Raka terkejut.
“Emang nama kakak apa?” Tanya Syaquile penasaran.
“RK” jawab Raka.
“Wah welcome bro, ayo cepat masuk, aku udah masuk nih” ajak Syaquile dengan begitu girang.
Keduanya berjalan ke teras dan langsung memasang mode serius sambil fokus menatap layar ponsel mereka masing-masing.
“Raja game akhirnya bertemu” gumam Qania sambil senyam-senyum menatap adiknya itu.
‘Lagi-lagi gue merasa sesak melihat Raka, apalagi saat ini dia sudah berhasil merebut perhatian adik ipar gue. Siapa sebenarnya si Raka ini, perasaan gue selalu takut saat berdekatan dengannya’ batin Arkana.
“Ya udah kita balik dulu ya, bye” ucap mereka.
“Nah si Raka gimana?” Tanya Elin.
“Tinggalin aja, dia kalau udah main game pasti lupa segalanya. Tapi tenang, dia tetap ingat jalan pulang kok” canda Ikhlas membuat yang lainnya tergelak.
...☘☘☘☘☘☘...
__ADS_1