
Mencintai seseorang bukanlah sesuatu yang bisa kita rencanakan. Mungkin untuk memulai hubungan, kita melakukan kesepakatan. Tapi tidak ketika kita memendam sa, semua murni tanpa paksaan dan persetujuan. Yang diketahui oleh hati hanyalah dia menginginkanmu, bukan karena apa atau siapa, tapi karena itu keinginannya.
🍂
🍂
Syaquile baru saja sampai di rumah dan mendapati rumahnya itu sangat sepi. Ia mencoba memanggil mama, papa dan kakaknya tapi tidak mendapatkan jawaban.
"Ma..mamaa..",.
"Pa.. papa..",.
"Kakak..",.
"Lah pada kemana semuanya nih? Aku baru pulang dari kemah malah di rumah sepi amat" gumam Syaquile yang berjalan ke ruang makan untuk mengambil air.
"Eh den Syaquile sudah pulang, mau makan ya den?" Sapa bi Eti.
"Nggak bi, masih kenyang" tolak Syaquile.
"Semua orang pada kemana bi?" Tanya Syaquile setelah menegak segelas air sampai habis.
"Oh kalau non Qania udah berangkat KKN, bapak lagi perjalanan dinas dan ibu mungkin lagi di kamarnya den" jawab bi Eti.
"Oh iya makasih bi" ucap Syaquile kemudian menaiki anak tangga.
Tokk..
Tok..
Tok..
"Masuk",.
Ceklek..
"Mama" panggil Syaquile sambil berjalan mendekati mamanya yang sedang duduk di sofa.
"Kamu udah pulang ya sayang, gimana kemahnya?" Tanya mamanya sambil merangkul putranya itu.
__ADS_1
"Seru ma, benar kata kak Arkana kalau kita bergaul sama teman-teman pasti menyenangkan. Tapi kata kak Arkana juga nggak boleh sampai salah pergaulan ma" ucap Syaquile bersemangat.
"Benar, memang seperti itu kalau bergaul sayang. Jaga batasan, jangan sampai kamu terjerumus" timpal mamanya.
"Ma, kenapa mama dan papa sangat menyayangi kak Arkana?" Tanya Syaquile.
"Karena kami sudah menganggapnya sebagai anak kami sendiri, dia juga anak sahabat mama dan papa. Dia sangat menyayangi kakakmu dan kakakmu juga sangat menyayanginya. Dia bertanggung jawab dan apa adanya, dia tidak sombong dan menggemaskan. Selain itu dia juga sangat tampan" jawab mamanya panjang lebar.
"Tapi ma, aku lihat kalian terlalu berlebihan padanya membuatku kadang iri saja" ucap Syaquile berpura-pura merajuk.
"Uh anak mama, cup cup cup" mamanya membawa Syaquile kedalam pelukannya.
"Mama sama papa memperlakukan kalian sama, kalian semua anak kami. Kau tahu nak, Arkana itu amanat dari mamanya untuk mama. Dulu kami ingin merawatnya setelah mamanya meninggal tapi papanya membawanya pergi",.
"Waktu kakakmu masih bayi, dia pernah jatuh sakit dan harus di rawat di rumah sakit. Arkana yang berusia hampir satu tahun pun datang bersama kedua orang tuanya, dan saat Arkana di dekatkan dengan Qania, kakak kamu yang tengah rewel itu pun diam. Dan setelah pulang dari rumah sakit, setiap kali kakakmu rewel maka Arkana akan di bawa oleh kedua orang tuanya untuk datang ke rumah dan ajaibnya kakakmu itu langsung diam",.
"Dan saat mamanya sedang kritis, Arkana bisa tertidur lelap dalam pelukan papamu dan itu membuat papamu sangat menyayanginya. Papamu selalu mampu menenangkan Arkana yang masih bayi dan ia juga suka tidur di gendongan papamu karena papanya waktu itu sangat sibuk sebagai seorang pengacara yang namanya sedang melambung serta sedang membangun hotel, jadi mereka sering nginap disini",.
"Kalau Arkana lagi rewel dan susah tidur pasti papa kamu yang nina boboin. Waktu hari pertama kehilangan mamanya dia juga rewel, mama pingin ngasih ASI tapi dilarang karena mereka tidak akan bisa di jodohkan. Dan papa kamu lah yang sigap mengurusnya, makanya papa kamu itu sayang banget sama Arkana. Papa kamu bahkan sering melamun waktu Arkana udah dibawa pergi sama papanya, apalagi saat kami kehilangan kontak, papa kamu sangat sedih karena sudah terlanjur dekat dengannya",.
Alisha menceritakan panjang lebar tentang alasan mengapa mereka dan terutama suaminya mengapa begitu sangat menyayangi Arkana. Syaquile begitu terharu, namun ia tidak merasa iri karena hal tersebut terjadi sebelum ada dirinya.
"Jadi papa sudah menganggap kak Arkana itu seperti anaknya sendiri ya ma" ucap Syaquile.
"Syukurlah akhirnya mereka bertemu lagi, aku turut senang ma. Oh iya aku mau ke kamar dulu, mau mandi juga" ucap Syaquile kemudian memeluk mamanya.
"Iya mandi sana, udah bau aceem kamu" ledek mamanya.
Syaquile mendengus kemudian berdiri dan berjalan keluar dari kamar mamanya.
🍂
🍂
Mentari pagi mulai menyinari bumi, kicauan burung terdengar sangat ramai namun tetap merdu. Embun pagi membasahi tanah dan tumbuhan yang masih memenuhi hampir di seluruh lokasi dusun Suka Asri. Tidak ada kebisingan kendaraan yang berlalu lalang, murni hanyalah suara kicauan burung yang bernyanyi merdu.
Gemericik air terdengar seolah sedang bernyanyi, menemani dua gadis yang tengah asyik bersantai di sungai yang dipenuhi dengan begitu banyak bebatuan besar dan juga batu-batu kali yang kecil, bersama seorang gadis kecil yang berumur sekitar sepuluh tahun. Air sungai yang begitu jernih membuat siapapun ingin masuk kedalamnya dan menikmati kesegarannya.
Kedua gadis itu tengah bercanda sambil duduk di atas batu besar, tawa mereka terdengar begitu renyah membuat anak kecil yang membawa mereka ke sungai itu pun ikut tertawa.
__ADS_1
"Qan, ada yang pingin aku bicarain" ucap Elin sambil menggoyang-goyangkan kakinya di dalam air.
"Ada apa Lin?" tanya Qania yang juga tengah melakukan hal yang sama dengan Elin.
"Itu loh Qan, kamu harus hati-hati sama si Manda" ucap Elin hati-hati sambil melirik kesegala arah.
"Emang dia kenapa?" tanya Qania sambil berbisik karena ia tahu Elin tengah waspada.
"Kamu nggak tahu sih kalau si Manda itu sahabatnya Larasati, musuh bebuyutan kamu" jawab Elin penuh penekanan.
"Larasati Devana Bramantio?",.
"Iya, orang itu sahabat Manda. Kamu jangan tanya kenapa aku tahu, karena jawabannya ialah aku sama mereka sejurusan cuma beda kelas" ucap Elin.
"Jadi maksud kamu..?",.
"Maksud aku, kamu harus hati-hati sama dia karena bisa jadi dia punya maksud tersendiri sama kamu. Aku udah curiga dari awal dia nyeret kamu dan nggak nungguin aku, ditambah lagi waktu dia dengan sengaja cegat kamu pakai kakinya, aku yakin emang dia itu sengaja" ujar Elin geram.
"Sebenarnya aku juga ngerasain ada sesuatu dari Manda, dan kamu juga harus tahu kalau aku sebenarnya tahu kalau dia itu sengaja kemarin. Hanya saja aku masih ingin melihat permainannya, kamu mau kan main sama aku?" Qania menaik turunkan kedua alisnya sambil menatap Elin.
"Of course my bestie" ucap Elin bersemangat.
"Good girl" puji Qania.
"Oh iya satu lagi Qan, dia itu mantannya Witno" ungkap Elin.
"Witno?" beo Qania.
"Hmm, dan aku juga semalam lihat dia natap Arkana dengan tatapan memuja. Kamu harus ekstra waspada Qan, dia sama aja kayak si Laras, nekad" Elin memperingatkan Qania sambil melempar kerikil ke sungai.
"Ya ampun, kalau begitu aku harus kerja keras nih buat jaga diri dan jaga tunanganku itu" seru Qania.
"Ya jelaslah. Ya udah ayo kita foto, masa udah bawa kamera kesini terus nggak ngambil gambar sih" ajak Elin sambil melirik kamera yang tergantung di leher Qania.
"Oh iya, aku sampai lupa" ucap Qania sambil menepuk dahinya.
"Kakak, Cici boleh pulang nggak, Cici mau sekolah soalnya" tanya Cici sambil berteriak, gadis kecil itu sudah selesai mandi rupanya.
"Iya, makasih ya" sahut Qania dan Elin bersamaan.
__ADS_1
Setelah Cici pergi, Qania dan Elin langsung sibuk mengambil gambar dengan berbagai macam pose di tempat-tempat berbeda di sekitaran sungai itu.
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...