
Setelah menjemput Marsya di restoran, Tristan kini membawanya ke kantor tuan Homar Lanzo. Kantor itu terdiri dari lima lantai dimana lantai pertama merupakan sebuah toko perhiasan serta berbagai aksesoris pria dan wanita. Sangat memanjakan mata begitu masuk ke kantor ini. Di lantai dua khusus untuk karyawan yang bertugas mengurus barang-barang pesanan. Lantai tiga untuk para staf, lantai mpat untuk ruangan tuan Lanzo dan lantai lima untuk gudang.
“Selamat datang,” sapa salah satu staf tuan Lanzo.
Marsya dan Tristan sama-sama membalas sapaan tersebut.
“Dengan nona Marsya?” tanya staf wanita yang sepertinya berusia sama dengan Marsya dan tak kalah cantiknya.
“Iya saya,” jawab Marsya.
“Tuan dan Nyonya Lanzo sudah menunggu di ruangannya,” ucapnya dengan ramah.
“Oh, kalau begitu ayo kita menemui mereka. Kau ikut kan Tris?” Marsya bertanya pada Tristan.
“Kau masuklah bersama dia. Aku masih harus mengecek pekerjaan yang aku tinggalkan. Tidak apa kan?” ucap Tristan menolak secara halus.
“Ya ampun aku sampai lupa jika kau juga memiliki tanggung jawab besar. Ya sudah aku masuk sendiri saja,” ucap Marsya merasa bersalah karena lupa jika Tristan pun memiliki pekerjaan lain yang sangat penting.
Staf itu hanya diam karena ia tak paham apa yang dibicarakan kedua orang di depannya ini, lagi pun ia tidak mengerti bahasa mereka. Mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris saja.
Begitu Marsya naik bersama staf tersebut, Tristan pun duduk di sofa yang sudah disediakan serta ia dijamu dengan makanan ringan serta minuman oleh salah satu karyawan yang sudah di perintah oleh staf yang membawa Marsya pergi.
Tristan duduk kemudian mengeluarkan ponselnya, mengecek laporan pekerjaannya dan setelah semua beres ia langsung mengirim pesan pada Qania hingga akhirnya mereka menyudahinya karena Qania sudah mengantuk.
Semua pekerjaan sudah di kontrol saatnya Tristan bersantai dan ia memilih untuk bermain game. Saat tengah asyik, tak sengaja indera pendengarannya menangkap pembahasan mereka yang mana ada turis datang ke toko itu untuk mencari sebuah cincin pernikahan. Mereka jauh-jauh datang hanya untuk mendapatkan design dari tuan Lanzo. Hal tersebut menarik minat Tristan untuk melihat-lihat koleksi perhiasan di toko ini sembari menunggu kedatangan Marsya.
Akan sangat baik jika gue menemukan sebuah hadiah untuk Qania, batin Tristan.
Cukup lama ia melihat-lihat akhirnya ia menemukan sebuah kalung yang sangat indah. Ia langsung membayangkan ketika ia menyematkan kalung itu di leher Qania.
“Saya ambil yang ini,” ucap Tristan pada karyawan yang sedang berjaga disana.
“Baik, silahkan menuju ke kasir,” ucapnya dengan menggunakan bahasa Inggris pula.
Dalam hati Tristan cukup mengagumi karyawan tuan Lanzo yang cakap dalam berbahasa Inggris mulai dari staf hingga karyawan biasa. Setelah membayarnya Tristan kembali duduk di tempatnya semula. Ia membuka kotaknya lalu memperhatikan kalung dengan buahnya berbentuk kupu-kupu.
“Lo itu bagaikan kupu-kupu, Qan. Sulit banget buat bisa gue tangkap. Gue mendekat justru lo lari. Dan ketika gue diam, lo yang datang menghampiri gue. Lo itu kupu-kupu gue dan teruslah begitu. Jangan hinggap pada yang datang mengejar elo karena lo udah punya gue,” gumam Tristan kemudian ia kembali memasukkan kotak kalung tersebut ke dalam saku celananya.
Satu jam lebih mereka berada disana akhirnya Marsya keluar dengan raut wajah bahagianya dan langsung mengajak Tristan pulang.
Di dalam mobil Marsya mengernyit, ia tahu jalan ini menuju ke hotel. “Tris, kita kembali ke hotel?” tanya Marsya.
“Ya, aku sudah lelah dan mengantuk,” jawab Tristan.
“Oh maaf ya,” cicit Marsya yang dijawab deheman saja oleh Tristan.
Padahal gue masih ingin menikmati waktu sore ke tempat romantis atau tempat wisata bersama Tristan. Tapi mungkin hari ini dia sangat lelah. Bisa besok saja. Hahh, sebenarnya pekerjaanku hampir rampung disini. Besok aku akan bertemu dengan tuan dan nyonya Benvolio untuk menandatangani berkas kerja sama. Butikku akan ramai dengan koleksi tas dari mereka. Hari minggu libur dan hari senin akan tanda tangan kontrak dengan tuan Lanzo. Maafin aku ya Tris, sebenarnya hanya sepuluh hari saja, tapi aku masih ingin liburan bersamamu karena jika kita kembali kau akan tidak punya waktu untuk jalan bersamaku.
__ADS_1
Marsya dan Tristan memasuki kamar mereka masing-masing. Jarak kamar mereka hanya berbeda satu kamar di antaranya. Jika Marsya berencana malam nanti akan mengajak Tristan jalan-jalan maka lain halnya dengan Tristan, malam ini ia akan menghabiskan waktu untuk tidur. Ia sudah sangat letih hari ini. Bukan pekerjaan yang berat namun karena menunggu yang terlalu lama serta lebih banyak diam dan juga berada di dalam ruangan tanpa orang yang ia cintai membuatnya lelah.
Tristan berbaring dengan kedua tangannya ia jadikan sebagai bantal kepalanya. Ia memandangi langit-langit kamar tersebut sambil membayangkan Qania dan Arqasa.
“Gue sadar sih kalau sebenarnya Qania itu masih menatap gue sebagai Arkana dan dia milih gue karena wajah ini mengingatkan dia akan Arkana. Mau dibilang sebuah kesialan tapi ini sangat membahagiakan. Pingin gue bilang ini sebuah kebahagiaan tapi semuanya itu semu karena gue bukanlah sumber dari kebahagiaannya itu. Gue hanya sebagai sarananya untuk melampiaskan rasa rindunya. Tapi gue udah terlanjur nyaman dan sayang banget sama dia. Gue juga bingung sejak kapan rasa ini datang, tapi yang gue tahu sekarang itu gue udah nggak bisa ngukur kadar cinta gue ke dia itu berapa saking nggak terhingganya.
“Nggak apalah jika sekarang masih pelampiasan. Gue bakalan nunggu sampai akhirnya pelampiasan itu benar-benar menjadi tempat sandaran. Sabar Tris, untuk mendapatkan yang terbaik lo itu harus sabar dan berjuang keras. Nggak ada yang instan. Mie instan aja masih harus di masak dulu. Gue yakin gue pasti bisa mendapatkan cinta Qanai seutuhnya bukan karena wajah gue. Gue harap begitu.”
Tristan sengaja memasang mode silent ponselnya agar ia tidak di ganggu oleh Marsya. Ia pun sengaja memesan makanan untuk di antar saja ke kamarnya. Ia masih terlalu malas untuk keluar. Ia tak menjawab panggilan Marsya namun ia membalas pesan Marsya yang mengatakan akan keluar bersama Monica malam ini.
Pergilah dan hati-hati. Segera hubungi jika terjadi sesuatu atau jika ada yang mengganggu dan mencurigakan.
Balas Tristan pada pesan yang dikirimkan Marsya.
Tentu.
Dan Tristan hanya membaca pesan tersebut tanpa berniat membalasnya. Ia memilih memejamkan matanya sambil menunggu makanannya datang.
. . .
Qania terbangun tengah malam karena merasa haus. Ia melirik jam yang ada di kamarnya dan saat ini sudah pukul dua dini hari. Ia segera mengambil air minum di dapur lalu kembali ke kamar. Ia mencoba memejamkan matanya namun tak kunjung kembali tertidur. Ia mengambil ponselnya, kemudian ia mencoba menonton video untuk memancing kantuknya namun bahkan hingga pukul tiga ia belum juga tertidur.
“Jika disini pukul tiga pagi maka disana pukul sembilan kayaknya,” gumam Qania kemudian tanpa ragu ia langsung menelepon Tristan.
Melihat nama yang tertera adalah nama Qania yang meneleponnya maka Tristan sontak langsung duduk dari baringnya.
“Hei ini disana pasti sudah dini hari,” gumam Tristan kemudian langsung menjawab telepon tersebut.
“Aku tidak bisa tidur,” ucap Qania langsung begitu Tristan menjawab panggilannya.
Jelas saja Tristan langsung tertawa, biasanya Qania memberi salam dulu namun ini sama sekali tidak.
“Jam segini tidak tidur?” tanya Tristan.
“Hmm, temani aku mengobrol,” jawab Qania.
“Baiklah,” ucap Tristan dengan senang hati.
Ada banyak hal yang mereka bahas, mulai dari kegiatan Qania, kegiatan Tristan, serta hubungan mereka. Kadang keduanya terlibat perbedaan pendapat namun dengan cepat Tristan mengalah hingga tak terasa sudah hampir pukul empat pagi. Qania beberapa kali menguap dan itu terdengar oleh Tristan.
“Udah ngantuk?”
“Hu’um.”
__ADS_1
“Ya udah bobo dulu dan jangan lupa nanti bangun buat sholat subuh,” ucap Tristan dengan lembut dan terdengar penuh kasih.
“Nyanyiin,” rengek Qania.
“Hahaha, manja banget ya.”
“Emang nggak boleh?” dengus Qania.
“Boleh kok, aku suka malahan. Ya udah aku nyanyiin deh biar kamu bobo,” ucap Tristan.
Qania tak menjawab, ia hanya meletakkan ponselnya di atas telinga sambil berbaring menyamping.
Tristan pun mulai memikirkan sebuah lagu pengantar tidur untuk kekasihnya tersebut. Terbesit ide untuk menjawab lagu yang Qania kirimkan padanya itu.
Sejak jumpa kita pertama ku langsung jatuh cinta
Walau ku tahu kau ada pemiliknya
Tapi ku tak dapat membohongi hati nurani
Ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini
Maka izinkanlah aku mencintaimu
Atau bolehkanlah ku sekadar sayang padamu
Maafkan jika ku mencintaimu
Lalu biarkanku mengharap kau sayang padaku
Qania sengaja tidak bersuara sambil mendengarkan suara Tristan bernyanyi, air matanya menetes karena kembali teringat dan merindukan Arkana. Suara dan teknik bernyanyi yang sama, semua hal yang ada pada Tristan begitu sama persis dengan Arkananya.
“Qania?” panggil Tristan dengan suara yang lembut begitu menyudahi lagunya.
Qania menutup mulutnya menahan isakan tangisnya. Ia mencoba mengatur napasnya agar terdengar seperti orang yang sudah tidur.
“Oh sudah tertidur, hehe. Selamat tidur kesayanganku, mimpi indah. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Tunggu aku pulang, aku ingin kau membayar semua rinduku saat nanti kita bertemu. I love you Qania Salsabila.”
Tristan menutup sambungan teleponnya seraya bergumam, "Ah aku baru tahu dia semanja ini. Sepertinya aku salah memberimu julukan. Harusnya ku namai Bunglon karena sikapmu yang mudah berubah itu. Kadang kau bersikap dingin. Kadang pula bersikap ketus dan setiap ucapannya itu seperti pisau yang menyayat hati. Tatapan mengintimidasi serta tak mudah ditaklukkan. Aku baru tahu ternyata sisimu yang lain begitu manja. Aku menyukaimu Bunglonku."
Sementara Tristan sedang bahagia hingga ia bawa ke alam mimpinya, di tempat berbeda Qania sedang meringkuk.
Ucapan manis Tristan semakin membuat deras aliran air mata Qania. Untung saja Tristan sudah mematikan panggilannya saat suara isakan tak mampu lagi Qania tahan untuk keluar dari mulutnya. Qania semakin meradang, merindukan seseorang yang hanya bisa ia ingat tanpa bisa ia lihat dan juga sentuh. Memukul dadanya yang terasa sesak karena lagi kembali ia menangis pilu merindukan sosok itu. Sosok yang bagi Qania tiada gantinya hingga saat ini.
“Arkana, kenapa kau begitu jahat padaku? Kau menyiksaku dengan rasa rindu ini. Kau tahu, aku sangat ingin memelukmu erat. Menyalurkan semua rinduku ini, tapi kau dimana? Kau tak bisa ku sentuh bahkan untuk sekadar aku melihatmu tersenyum di hadapanku. Aku sakit Arkana, aku sakit. Kau pikir mudah menjalani hari seperti ini, hem? Hidup dalam bayang-bayangmu. Aku juga ingin sembuh dari luka ini namun hatiku enggan untuk mengeringkan luka ini. Aku tahu aku bodoh tapi aku tidak bisa mengontrol perasaanku. Aku tidak bisa memikirkan pria lain selain dirimu. Mengapa memberi kasih seindah itu lalu meninggalkan luka sesakit ini?” isak Qania masih memukuli dadanya karena terasa sesak.
Bukannya tertidur setelah meminta Tristan untuk bernyanyi justru malah membuat ia semakin tidak bisa tidur karena tersiksa oleh rindu. Bahkan hingga adzan subuh Qania tetap tidak bisa tidur. Dengan masih berderai air mata dan bibirnya masih terus terisak ia berusaha untuk melaksanakan sholat dengan khusyuk bahkan bulir-bulir air mata itu terus menetes saat ia sedang sholat.
__ADS_1