Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Ada Perasaan Yang Harus Kita jaga


__ADS_3

Hari terus berlalu, tidak terasa waktu yang dihabiskan untuk melaksanakan kegiatan KKN pun akan segera berakhir, tepatnya besok. Dua bulan mereka lalui dengan membangun jalan, tempat mandi umum, pagar rumah dan beberapa papan nama jalan.


Hari ini di rumah yang mereka tempati sudah begitu ramai karena akan diadakan malam perpisahan. Mereka mengundang warga sekitar yang juga sudah diberi imbalan oleh Setya Wijaya untuk membantu mereka menyelesaikan pekerjaan KKN.


Memang begitu berbeda dengan suasan KKN Qania yang dulu, dimana ada banyak cerita yang sangat berkesan. Namun beda masa, beda orang, tentu saja beda cerita. Masing-masing memiliki kisahnya tersendiri dan tentu saja tidak akan pernah sama.


Susana rumah tersebut begitu gaduh. Para warga khususnya ibu-ibu sedang bergosip bersama Mae sambil menyiapkan makanan di atas meja yang mereka sediakan di teras rumah. Sementara bapak-bapak saling membantu dengan beberapa mahasiswa menata kursi di halaman.


Qania dan Vando bagian sound system. Qania dan Vando adalah musisi milik kelas Internasional mereka. Keduanya hobi bermusik dan juga sering menghibur mereka selama di kampus dan juga di lokasi KKN. Meskipun begitu, keduanya tidak terlibat cinta lokasi karena Vando memiliki kekasih yang saat ini masih duduk di bangku SMA.


"Masakannya enak ya. Baunya ini lho, wangi banget," ucap Bu Ike sambil menata makanan di atas meja.


"Iya Bu, tadi saya sempat nyicipin di dapur dan bawaannya pengen nambah, hehe," timpal Bu Ros.


"Emang ibu-ibu, masakan Qania dan Wita itu juaranya," ucap Mae menimpali.


Mereka pun asyik berbincang membahas masakan dan juga Mae yang menyanjung kedua koki milik kelasnya itu.


"Nah, kalau kamu sendiri bisanya apa?" tanya Bu Ros kepada Mae.


"Saya bisanya makan dan menghabiskan masakan Qania dan Wita, Bu," jawab Mae semangat.


"Oalah, cuma bisa makan doang senangnya minta ampun," ledek Bu Ike.


"Oh -- jangan salah ya, ibu-ibu. Justru bisanya saya ini yang paling penting dan paling berguna," sanggah Mae.


"Kenapa bisa gitu, Mae?" tanya Bu Ros.


"Gini ya Mae kasih tahu, orang yang suka makan dan menghabiskan makanan itu yang paling penting karena kalau nggak ada orang kayak aku ini, nggak bakalan ada yang mau makan hasil masakan para koki. Rugi dong mereka masak terus nggak ada yang makan dan ngabisin. Sia-sia kan, kerjaan mereka. Udah capek-capek masak, eh nggak ada yang mau makan. Jadi ya ibu-ibu, koki tanpa Mae mah kayak mie ayam tapi nggak ada ayamnya," ucap Mae panjang kali lebar kali tinggi membuat ibu-ibu jadi terbengang.


Mae menyeringai, bisa juga mulutnya yang hobi memakai lipstik tebal itu membuat ibu-ibu terbengang.


"Ada-ada saja sih," ucap Yusuf yang sedang menata kursi namun tetap memperhatikan Mae.


Yusuf memang menaruh perasaan lebih pada Mae, sehingga apapun yang Mae lakukan asalkan hal tersebut membuatnya resah maka ia akan menegur Mae namun caranya yang keliru sehingga Mae justru merasa kalau Yusuf selalu ikut campur urusannya. Dan jadilah Yusuf, mengagumi dalam diam. Apalagi selama dua bulan tinggal serumah, perasaan Yusuf semakin besar pada Mae, namun cueknya Mae padanya membuat ia enggan mengungkapkan perasaannya.


"Udah sih, nyatain aja," ledek Kenny yang sedang menata kursi bersama Yusuf.


"Apa sih Lo, nggak jelas," elak Yusuf membuat Kenny terkikik.


"Iya, gue emang nggak jelas," sindir Kenny.


Yusuf pun tak menggubris, ia memilih meninggalkan Kenny yang sedang menertawainya. Tak lupa Yusuf menyenggol Mae yang juga akan masuk ke dalam rumah.


"Hati-hati dong," protes Mae.


Namun Yusuf hanya menatap datar padanya dan setelah ia sampai di kamar barulah ia mengeluh sambil mengacak-acak rambutnya.


"Huhh susah banget sih buat ngomong ke Mae," gerutunya.


.... . ....


Acara makan-makan pun dimulai sambil diiringi hiburan oleh Qania dan Vando. Mereka sampai lupa makan karena terlalu asyik bernyanyi bergantian mengutik gitar.


"Qan, Vando, kalian makan dulu dong," tegur Lina.


"Ntar, satu lagu lagi," sahut Qania.


Vando pun hanya mengiyakan, keduanya memang begitu suka bernyanyi makanya tidak mengenal lelah saat melakoni hobi mereka.


"Qan, gue ke belakang dulu. Sakit perut gue," ucap Vando meninggalkan Qania dan menitipkan gitarnya di


pangkuan Qania.


"Iya," ucap Qania sambil memetik tali gitar pelan.


Qania sibuk dengan gitarnya sampai tak sadar Vando sudah duduk di sebelahnya.


"Qan, Lo mau gue iringi lagi?"


"Boleh deh," jawab Qania sambil memberikan gitar pada Vando. Namun ia mengernyit begitu melihat Vando yang kini sudah memakai jaket hingga menutupi kepalanya.


"Vando, kamu kenapa? Lihat sini dong," ucap Qania heran.


"Lo nyanyi aja deh Qan, biar gue iringi. Tadi gue-- gue, akhh ... ntar gue ceritain. Sekarang Lo nyanyi, biar gue nggak kepikiran juga sama yang tadi gue lihat," ucap Vando gelisah.


Jangan-jangan tadi Vando lihat hantu lagi, batin Qania.


Setelah memberitahukan lagu yang ingin ia nyanyikan, Vando pun mulai memetik gitarnya.


Telah ku coba terus bertahan


Tentang cinta yang kurasa


Ku mencinta kau tak cinta


Tak sanggup ku terus bertahan


Sadarku tak berhak untuk terus memaksamu


Memaksamu mencintaiku sepenuh hati


Aku kan berusaha untuk melupakanmu


Tapi terimalah permintaan terakhirku


Genggam Tanganku sayang


Dekat denganku, peluk diriku


Berdiri tegak, di depan aku


Cium keningku tuk yang terakhir


Ku kan menghilang, jauh darimu


Tak terlihat sehelai rambut pun


Tapi di mana nanti kau terluka

__ADS_1


Cari aku, Ku ada untukmu


Ku tak membencimu


Ku harap kau pun begitu


*T**ak ingin kau jauh*


Tapi takdir menginginkan kita Tuk berpisah


Genggam Tanganku sayang


Dekat denganku, peluk diriku


Berdiri tegak, di depan aku


Cium keningku tuk yang terakhir


Ku kan menghilang, jauh darimu


Tak terlihat sehelai rambut pun


Tapi dimana nanti kau terluka


Cari aku, Ku ada untukmu


Genggam Tanganku sayang


Dekat denganku, peluk diriku


Berdiri tegak, di depan aku


Cium keningku tuk yang terakhir


Ku kan menghilang jauh darimu


Tak terlihat sehelai rambut pun


Tapi dimana nanti kau terluka


Cari aku, Ku ada untukmu


Tapi dimana nanti kau terluka


Cari aku Ku ada untukmu


Tapi dimana nanti kau terluka


Cari aku Ku ada untukmu


Qania menyanyikan lagu tersebut penuh


penghayatan. Bayangan dimana ia menghabiskan waktu bersama Tristan terus


terputar di benaknya hingga membuat air matanya tak kuasa terbendung.


dan Vando membuat teman-temannya tidak bisa melihat kalau ia sedang menangis. Teman-teman justru terhipnotis dengan suara merdu Qania dan penghayatan pada tiap liriknya membuat temannya terbuai dan terbawa suasana dengan lagu tersebut begitupun dengan para warga yang ada disana.


Kecuali pria yang berada di sebelah Qania, ia bisa melihat dengan jelas bahwa Qania tengah bersedih seperti dirinya saat ini.


"Tris-Tristan," lirih Qania membuat pria disebelahnya terkejut, ia pun tiba-tiba saja langsung menyanyikan sepenggal lagu yang tadi dinyanyikan oleh Qania.


Genggam Tanganku sayang


Dekat denganku, peluk diriku


Berdiri tegak, di depan aku


Cium keningku tuk yang terakhir


Ku kan menghilang jauh darimu


Tak terlihat sehelai rambut pun


Tapi dimana nanti kau terluka


Cari aku, Ku ada untukmu


Tapi dimana nanti kau terluka


Cari aku Ku ada untukmu


Tapi dimana nanti kau terluka


Cari aku Ku ada untukmu


Vando melepas gitarnya, kemudian ia


memegang bahu Qania dan membuat Qania berhadapan dengannya. Perlahan ia menghapus air mata Qania.


"Genggam tanganku, dekat denganku,


peluk diriku, berdiri tegak di depan aku, cium keningku," ucapnya lirih membuat Qania tersadar.


"Kamu," ucap Qania terkejut.


"Iya, ini aku. Tristan Anggara," ucapnya tegas.


"Ba-bagaimana bisa kau ada disini?" tanya Qania masih dalam mode terkejut.


"Aku sudah pernah bilang aku akan menemukanmu dimana pun kamu bersembunyi, Qania. Jadi jangan coba-coba


mengujiku," ucap Tristan penuh penekanan.


"Aku bahkan mendengar sendiri kau menyebut namaku barusan setelah menyanyikan lagu itu. Apakah kau mencintaiku, Qania?" tanya Tristan langsung.


"Ak-aku tidak," elak Qania.


“Jangan bohong Qania, nyatanya aku tadi mendengarmu menggumamkan namaku,” ucap Tristan membuat Qania tidak bisa lagi mengelak padanya.

__ADS_1


“Kenapa, hemm? Mendadak bisu kah?” sindir Tristan.


“Maaf,” lirih Qania.


“Aku memaafkanmu,” ucap Tristan cepat membuat Qania terbengang.


Tristan tersenyum, kemudian ia membawa Qania ke dalam dekapannya. Qania pun memeluk erat tubuh itu dan menumpahkan rasa rindu pada pria yang kali ini ia anggap


sebagai Tristan, bukan lagi Arkana Wijaya.


“Kenapa menjauhiku, hem? Kenapa bersembunyi seperti ini? Tahu tidak, aku sangat merindukanmu. Percya tidak, aku saat ini sangat ingin menculikmu dan membawamu


ke Kantor Urusan Agama,” ucap Tristan sambil menangkup kedua pipi Qania sehingga membuat Qania mendongak menatapnya.


“You are crazy!” umpat Qania membuat Tristan terkekeh.


“Jawab pertanyaanku, Qania,” ucap Tristan terdengar datar.


“Aku menjauhimu karena ada hati yang harus aku jaga,” jawab Qania tak kalah datarnya.


“Siapa? Suamimu kah? Atau temanmu yang di rumah sakit itu?” selidik Tristan.


Qania menggeleng. “Marysa.”


Mendadak Tristan tidak bisa berkata apa-apa lagi, tiba-tiba saja mulutnya beku dan lidahnya kelu. Benar, sangat benar apa yang dikatakan oleh Qania. Tristan maklum


karena Qania dan Marsya adalah sama-sama perempuan. Pasti Qania tidak ingin


menyakiti hati perempuan yang lainnya demi keegoisannya.


“Mendadak bisu, hem?” gantian Qania yang mengejek Tristan.


Tristan menatap lekat pada kedua netra Qania, sebelum ia bersuara.


“Aku bisa meninggalkannya untukmu. Jika kau meminta aku untuk meninggalkannya maka akan aku lakukan saat ini juga,” ucap Tristan mantap.


“Seperti itu ya. Lalu bagaimana jika posisinya dibalik, aku yang jadi Marsya dan Marsya


yang jadi aku. Apakah kau akan meninggalkanku saat ini juga jika Marsya yang memintanya?”


Tristan kaku, ia tidak bisa menjawab apa-apa. Jawaban spontannya tadi justru menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.


Qania kenapa sih kamu itu begitu kritis. Hahh, aku lupa sedang berbicara dengan siapa ini. Qania Salsabila Sarjana Teknik dan


calon Sarjana Hukum juga.


“Sudah lah Tristan. Aku ini seorang wanita dan pantang bagiku merebut milik orang lain


apalagi sampai merusak kebahagiaan wanita lain,” ucap Qania tegas. Kecuali kalau kamu adalah Arkana Wijayaku, maka sampai mati pun aku akan memperjuangkanmu, batin Qania.


“Tapi aku cinta kamu Qania,” cicit Tristan.


“Dan juga Marsya,” sambung Qania.


“Tidak, bukan seperti itu Qania. Please, percaya padaku kalau aku hanya cinta sama kamu. Aku tidak mencintai Marsya, aku bahkan ragu jika aku memiliki persaan lebih padanya. Qania, aku bersumpah demi kamu


kalau aku hanya cinta padamu,” ucap Tristan memohon.


“Musyrik. Jangan pernah bersumpah selain membawa nama Tuhan,” protes Qania.


“Lalu?”


“Pulanglah, Marsya menunggumu. Aku mencintaimu, tapi ada yang lebih berhak mendapatkanmu. Jika kita berjodoh, percayalah Tuhan akan mempertemukan kita lagi. Sekarang kamu sudah tahu perasaanku, aku mencintaimu. Tapi aku tidak bisa mengiyakan permintaanmu. Ada hati yang harus aku jaga. Ah, tidak. Bukan hanya aku, kita. Ada hati yang harus kita jaga, Tristan. Maaf,” ucap Qania berusaha legowo.


“Boleh aku memelukmu?” pinta Tristan menghiba.


Qania tersenyum kemudian mengangguk. Tristan pun langsung mendekap tubuh Qania seerat mungkin. Ia bahkan tidak peduli jika Qania merasa sesak. Setelah puas memeluk


Qania, ia pun melepaskannya.


“Ini adalah pertemuan terakhir kita. Setelah ini jadilah orang yang tidak pernah mengenalku, begitu pun dengan aku. Bersikap asing lah jika suatu saat kita berpapasan,” ucap Qania.


“Tapi Qania,” protes Tristan.


“Qania,” panggil Tristan lagi.


“Qaniaaaaa.”


“Iya Tristan,” sahut Qania terkejut.


Mae mengernyit. “Tristan? Gue Mae, Qania bukan Tristan,” ucap Mae heran.


Jadi tadi itu hanya khayalanku saja?


“Sorry Qan, lo pasti lama nungguinnya. Soalnya tadi gue sakit perut banget,” ucap Vando yang baru saja datang.


Benar-benar hanya ilusi.


“Sebaiknya kalian makan dulu, baru lanjut lagi menghibur kita,” ucap Mae.


“Iya, gue juga jadi lapar setelah menguras isi perut gue, hihihi,” ucap Vando kemudian meninggalkan Qania dan Mae.


“Kalau rindu jangan menyiksa diri, Qan. Cinta itu tidak pernah salah, hanya waktu


mungkin yang kurang tepat,” hibur Mae yang mengerti kesedihan Qania.


Qania mengangguk tersenyum, kemudian ia ikut bersama Mae untuk menikmati hidangan


yang ia masak sendiri.


Apa iya perasaan ini tidak salah? Waktu yang tidak tepat kah? Jika begitu, adakah waktu yang tepat untuk kami? Jika ada, aku


sangat menantikannya.


.... . . . ....


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


__ADS_2