
Acara ulang tahun telah usai, para tamu undangan pun sudah pulang dan kini tersisa keluarga besar Qania dan Arkana yang sedang duduk di dalam ruangan tersebut.
Papa Setya merasa seolah ini adalah mimpi namun Papa Zafran terus memberitahukan bahwa ini bukanlah mimpi. Doa dan harapan serta kebahagiaan Tuhan datangkan di hari yang spesial.
Papa Setya bahkan tak ingin sedikitpun beranjak dari dekat Arkana yang tengah memangku Arqasa.
“Ceritain sama Papa bagaimana kejadian malam itu dan bagaimana kalian bisa bertemu,” ucap Papa Zafran melirik Qania dan Arkana bergantian.
Arkana pun menceritakan kejadian malam itu dilanjutkan dengan cerita yang ada di surat Marysa. Cerita itu membuat mereka sedih, geram dan juga iba pada nasib Marsya.
“Lalu seperti apa kalian bertemu?” tanya Mama Alisha.
“Tante, kami bahkan sudah bertemu dengannya dan bahkan dia sudah bertamu ke rumah kalian walaupun nggak masuk. Iya kan Ka?” goda Rizal yang mengingat ketika Arkana datang namun dengan identitas sebagai Tristan.
“Hah? Bagaimana bisa?” tanya Mama Alisha.
“Karena waktu itu aku belum ingat semua, Ma. Yang aku tahu aku jatuh cinta sama Qania dan aku nekat menyusulnya hingga kemari. Hati emang nggak bisa bohong. Meskipun aku nggak ingat satupun tentang Qania, tapi hatiku merasa begitu dekat dengannya. Dengan pertemuan awal kami yang sangat jauh dari kata berkesan namun dari situ aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku padanya. Padahal kami sempat menjadi musuh dan sering saling menjatuhkan, tapi hatiku entah mengapa selalu saja ingin dekat dengan Qania. Ternyata meskipun aku lupa segalanya, hatiku tetap bisa mengenali pemiliknya,” ungkap Arkana yang membuat Qania tersenyum haru.
“Hati emang nggak bisa bohong. Lalu, sejak kapan kalian pertama kali bertemu?” tanya Papa Setya penasaran.
“Sejak aku baru beberapa bulan masuk kuliah Pa. Waktu itu aku sempat masuk rumah sakit. Kalian ingat kan waktu aku lagi ikut seminar terus aku pingsan dan dibawa ke rumah sakit? Itu karena aku syok ngeliat Arkana berdiri di hadapanku. Aku kaget sampai pingsan. Bahkan Arkana yang itu sangat galak dan mulutnya kurang ajar banget. Aku sering nyesek karena ucapannya. Tapi setelah itu aku balas bikin dia lebih nyesek dan bahkan dia sering kesal karena aku, hihihi,” cerita Qania, ia tertawa sendiri mengingat masa-masa dimana ia dan Arkana bagaikan tikus dan kucing.
“Tapi masih ada satu saksi perjalanan cinta aku dan Qania. Dia yang paling tahu semuanya tapi dia malah diam,” ucap Arkana sembari melirik Syaquile.
Syaquile yang paham dengan lirikan Arkana pun langsung menoleh ke arah lain namun semua mata sudah tertuju padanya.
“Ceritain Dek,” pinta Papa Zafran.
“Huh, oke-oke. Aku ngaku, aku orang yang menjadi perantara antara mereka, puas,” ucap Syaquile.
“Jadi selama ini kamu tahu dan kamu diam?” tanya Papa Zafran setengah mengintimidasi.
__ADS_1
“Ya semua karena Kakak lah. Aku cuma ngikutin aja pengaturan dari kakak,” ucap Syaquile tak mau disalahkan.
Akhirnya mereka saling melempar tuduhan dan juga saling berdebat namun terlihat sangat manis menjelang tengah malam.
“Jadi, apa kalian ingin melanjutkan pernikahan yang tertunda itu?” tanya Papa Setya.
“Aku tentu saja iya,” jawab Arkana.
“Wah akhirnya ada anak yang menyaksikan pernikahan orang tuanya,” ledek Fero.
Gelak tawa terdengar dari ruangan itu, mengisi kesunyian malam yang kini semakin larut hingga mereka pun memutuskan untuk kembali ke kamar mereka masing-masing. Fero memilih pulang karena harus menemani Chika.
Qania memilih untuk tidur sendiri. Ia meminta Arkana untuk tidur bersama Papa Setya da Arqasa karena kedua pria itu bagi Qania sangat teramat merindukan Arkana sementara ia sudah terlalu sering bertemu meskipun waktu itu bukan beridentitas sebagai Arkana.
Arkana tersenyum melihat kedua pria yang berada di sampingnya sudah terlelap dan tengah berpetualang di alam mimpi mereka. Dengan perlahan Arkana turun dari tempat tidur dan mengendap-endap keluar lalu masuk ke kamar Qania.
Qania yang masih terjaga pun terkejut melihat kedatangan Arkana.
“Sayang, kenapa datang kesini?” tanya Qania yang kini sudah duduk bersandar di tempat tidur.
“Kenapa, hem? Apa kau takut?” tanya Arkana yang semakin dekat dengan ranjang Qania.
“Tt-tidak. Untuk apa juga aku harus takut. Kau itu bukan hantu dan juga bukan monster,” sahur Qania gugup.
“Oh ya?” tanya Arkana yang sudah duduk di ranjang bersama Qania. Ia membelai wajah Qania lalu berkata, “Tapi sebentar lagi aku akan berubah menjadi monster yang mengerikan ....” Arkana menjeda ucapannya kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telinga Qania. “Di ranjang ini,” bisiknya yang membuat bulu kuduk Qania berdiri.
“Arkanaaa!! Dasar mesum! Pria cabul! Jangan coba-coba melakukannya padaku atau aku akan mengadukannya pada Papa,” ancam Qania dengan pipi yang memerah bukan karena marah akan tetapi ia merasa malu.
“Tak apa, aku mesum pun hanya padamu, istriku.”
“Sayang, aku merindukanmu. Mau kah kau membantuku menebus rindu itu malam ini?” tanya Arkana dengan lembut dan mengunci tatapannya pada Qania.
__ADS_1
Seolah terhipnotis dengan ucapan lembut Arkana barusan, tanpa sadar Qania mengangguk membuat Arkana tersenyum tipis.
“Aku akan melakukannya dengan perlahan dan kelembutan,” bisik Arkana.
Qania pun pasrah dan menerima setiap sentuhan dan tindakan yang Arkana lakukan padanya.
Malam ini di kamar itu menjadi saksi penyatuan kembali dua insan yang sudah terpisah bertahun-tahun. Suara sunyi malam bergantian dengan desah*n serta erangan mereka yang saling menyerukan nama masing-masing. Penyatuan penuh cinta kasih serta menjadi obat atas kerinduan yang dirasakan oleh Qania bertahun-tahun lamanya.
Qania akhirnya tertidur dengan posisi menghadap ke samping dan Arkana yang terus mendekapnya.
“Terima kasih sayang. Aku sangat mencintaimu. Kau adalah hal terindah yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku bersumpah akan selalu mencintaimu dan tak akan pernah membuatmu kecewa padaku. Semoga setelah penyatuan kita malam ini, Tuhan langsung memberikan kira rezeki berupa anak yang akan tumbuh dalam rahimmu, Aamiin.”
. . .
“Ughhh, kepalaku sakit sekali,” ucap Marsya yang baru terbangun.
Marsya mengedarkan pandangannya dan mendapati tempat ia berada saat ini begitu asing dengannya.
“Aku dimana?” tanyanya pada diri sendiri.
Marsya mencoba bergerak namun pada saat ia akan menurunkan kakinya, organ intimnya terasa sakit. Dan barulah ia menengok ke bawah ternyata dirinya sama sekali tidak mengenakan pakaian.
Marsya menutup mulutnya dengan tangan saking syoknya. Ia melirik ke arah samping, ada seorang pria yang ternyata sedang tertidur pulas di sampingnya dan pria itu pun sama, sama-sama tidak memakai pakaian dan hanya ditutupi oleh selimut sampai pinggangnya.
“Di-dia? Apa dia yang sudah ....”
Marsya menangis tertahan, perlahan ia berusaha turun dan mencari pakaiannya yang ternyata sudah berhamburan di lantai. Dengan menangis tanpa suara Marsya memakai satu persatu pakaiannya hingga ia sudah tidak telanjang lagi.
__ADS_1
Aku bodoh sekali. Kenapa ini bisa sampai terjadi? Ak-aku sudah tidak suci lagi, hikss. Tangis Marsya dalam hatinya.
Marsya pun bergegas keluar sebelum pria itu terbangun. Ia menuju ke mobilnya dan barulah setelah ia duduk di balik kemudi, tangisnya pecah. Ia menangis sejadi-jadinya, merutuki kebodohannya malam tadi. Ia sedikit banyak tidak mengingat kejadian semalam.