Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Obrolan Dua Pria


__ADS_3

Tristan POV


Bego, gue benar-benar bego. Kenapa mulut gue bisa sesadis itu mengatai Qania. Gue bahkan bisa melihat selama ini dia adalah wanita yang menjaga jarak dari pria. Tapi karena dibakar rasa cemburu dan setan yang sudah menguasai diri gue akhirnya gue lepas kontrol dan gue nggak nyangka dampaknya sampai seperti ini.


Arrggg ...


Bagaimana bisa gue gilang Qania itu wanita seperti itu sih? Mana mungkin wanita yang memiliki trauma dengan pelecehan dan kekerasan fisik bisa menjadi seperti yang gue tuduhkan. Hahh, picik banget otak gue.


Gue memang pantas mendapatkan pukulan dari Raka dan bahkan jika bisa gue bakal mukul diri gue sendiri saat ini. Namun itu nggak mungkin gue lakukan mengingat saat ini Qania tengah diperiksa oleh dokter.


Setelah Qania pingsan tadi, gue dan Raka langsung membawanya ke klinik terdekat. Sumpah perasaan gue nggak karuan melihat kondisi Qania yang nggak sadarkan diri. Gue soalah tertusuk ribuan belati. Dan fakta yang lebih menyakitkan adalah gue yang nyebabin itu semua.


"Gimana keadaannya, Dok?" Gue dengar Raka bertanya kepada dokter yang masih cantik meskipun gue yakin usianya udah kepala lima.


"Dia sepertinya sedang tertekan sehingga jatuh pingsan. Apakah ini sering terjadi?" tanya dokter itu dan gue menepuk dua kali dada gue yang terasa sesak, sambil terus mengumpati diri sendiri di dalam hati.


"Tidak Dok, ini baru pertama kalinya yang saya ketahui. Saya tidak tahu yang sebelum-sebelumnya. Namun kemungkinan Qania seperti ini karena teringat akan kasus yang hampir melecehkannya." Penjelasan Raka tersebut semakin membuat gue tersiksa.


"Kemungkinan terbesarnya pasien mengalamu trauma. Mungkin baru saat ini efek kejadian waktu itu di alami lagi kepada pasien. Saran saya, tolong hindari pasien dari hal-hal yang berbau pelecehan dan kekerasan fisik karena kedua hal tersebut akan membuat pasien merasa tertekan. Bisa saya katakan lagi, jika pasien sadar dan tatapannya kosong, maka kalian harus segera membawanya pada pskiater. Saya khawatir kejiwaannya akan terganggu. Karena tidak sedikit perempuan mengalami gangguan kejiwaan akibat kasus seperti ini. Dan jangan sampai ia melukai dirinya sendiri jika kembali merasa tertekan."


Sumpah, penjelasan dokter itu semakin menohok gue. Gue yang udah nyebabin Qania jadi seperti ini. Tapi satu hal, gue ngerasa degdegan sekaligus deja vu.


Gue nggak berani mendekati Qania, gue biarin Raka yang menemaninya ketika dokter selesai menjelaskan tentang keadaan Qania. Yang jelas jika trauma Qania berlanjut, gue yang bakalan bawa di berobat bahkan sampai ke luar negeri pun bakalan gue sanggupin demi kesembuhan Qania. Maafin gue Qania, ini semua juga diluar kehendak gue.


Gue yang nggak bisa nahan diri setiap berdekatan dengan lo. Sepertinya setiap kali kita bersama, setan selalu mendominasi diri gue. Susah banget nahannya, apalagi melihat lo bersama dengan pria lain dengan jarak yang dekat.


Jika membunuh orang bukanlah dosa dan nggak bakalan melanggar hukum negara, mungkin nyawa Raka sudah lama melayang di tangan gue. Gue keberatan melihat Qania berdekatan dengan pria lain. Gue nggak suka!


Tapi gue nggak berhak untuk marah ataupun melarang, mengingat gue dan Qania tidak memiliki ikatan apapun. Serba salah kan jadinya. Gue mau marah nggak ada hak, mau melarang apalagi. Yang ada malah Qania yang ngejauhin gue bahkan bisa lebih parah dari itu. Dia bisa kabur dari gue.


Tristan POV End ...


Raka mendekati Tristan yang sedang duduk di luar sambil melamun. Raka bisa melihat betapa kacaunya pria itu. Ia yakin sekali Tristan saat ini tengah merutuki kesalahannya. Ia pun duduk bersama Raka di kursi tunggu.


"Ah, bagaimana keadaan Qania?" tanya Tristan tanpa menoleh saat Raka sudah duduk di sampingnya.


"Tadi dia sempat sadar namun karena pengaruh obat sehingga saat ini Qania kembali tertidur.


"Maaf," cicit Tristan.


"Gue nggak tahu lo udah apain Qania, tapi tolong jangan lo ulangi lagi. Dia punya trauma waktu kita di lokasi KKN. Ada pria bernama Juna yang ingin memperkosanya dan untung saja kakaknya si Felin datang kalau nggak, kita semua nggak akan tahu apa yang terjadi sama Qania. Dan terlebih lagi kita semua pasti bakal diamuk sama Arkana," tutur Raka.


"Apakah pria itu yang bernama Arjuna Wilanata?" tanya Tristan.


"Kok lo tahu?" tanya Raka terkejut.


"Qania pernah menyebut namanya," jawab Tristan.

__ADS_1


"Ya, bajingan itu yang hampir melecehkan Qania. Dia bahkan melakukan kekerasan fisik pada Qania, dan diduga pria itu juga yang berada dibalik kematian Arkana," jawab Raka geram pada Juna.


"Kok bisa?"


"Dari cerita adiknya Qania sih, si Juna itu selalu mengirim orang untuk membunuh Arkana namun selalu gagal. Dan tepat saat Arkana kecelakaan, Juna pun sampai detik ini tidak terlihat keberadaannya," jelas Raka.


Ada rasa geram di diri Tristan mendengar cerita tersebut. Wanita yang ia cintai harus mengalami nasib tragis karena ulah pria bernama Arjuna Wilanata.


"Hmm, semoga dia baik-baik saja," lirih Tristan.


"Dia wanita tangguh, nggak bakalan kenapa-napa," ucap Raka.


"Tapi tadi kata dokter ...."


"Lo nggak tahu seberapa hebatnya wanita yang udah bertahun-tahun lamanya gue kagumi bahkan gue pernah nyatain cinta ke dia saat dia masih berstatus tunangan Arkana," cerita Raka sambil terkekeh.


"Oh ya?" Tristan tiba-tiba merasa penasaran dengan sosok Qania di mata Raka.


"Ya, dan gue ditolak untuk pertama kalinya. Gue jatuh cinta dan patah hati untuk pertama kalinya waktu itu. Gue udah tahu sih kalau gue bakalan dapat penolakan mengingat betapa bucinnya Qania pada Arkana dan sebaliknya. Gue aja sampai iri sendiri melihat keharmonisan keduanya. Hanya saja waktu begitu singkat untuk mereka. Padahal gue udah prediksi kalau mereka itu pasangan yang bakalan abadi dunia akhirat. Bahkan gue udah berencana suatu saat bakalan ngejodohin anak gue sama anaknya Qania dan Arkana. Ya, tapi mungkin Tuhan memiliki rencana lain."


"Gue bisa melihat kok kalau cinta Qania pada suaminya itu sangat besar. Terus sebenarnya lo itu cinta sama Qania atau hanya sekedar kagum?" tanya Tristan, dalam hati ia berharap pria disampingnya ini hanya memiliki rasa kagum saja, tidak lebih.


Raka terkikik, dia bisa tahu kalau pria di sampingnya ini benar-benar berharap kalau dirinya tidak benar-benar mencintai Qania. Dia saja tidak tahu seberapa kerasnya Raka berjuang hingga bisa mendekati Qania.


"Awalnya gue kagum, coba lo pikir sendiri bagaimana lo nggak kagum sama gadis berparas cantik, berotak cerdas dan memiliki banyak bakat. Punya banyak prestasi, keunggulan kampus, putri kampus dan berliannya para mahasiswa Teknik. Dan lo pasti bakalan bertambah kagum kalau lo lihat sendiri seperti apa kerennya Qania saat memimpin demo di kampus waktu itu," cerita Raka mengenang kisah mereka saat sama-sama di kampus dulu meskipun berbeda jurusan dan kenal pun nanti di lokasi KKN.


"Me-memimpin demo?" beo Tristan.


"Ya, memimpin demo. Demo karena Qania merasa tidak terima karena nilai mata kuliahnya dikosongkan sementara dia adalah mahasiswi tercerdas di kampus kami," jawan Raka.


"Hebat," gumam Tristan.


"Makanya gue bilang dia itu nggak bakal kenapa-napa, yakin deh. Kalau lo nunjukin kekhawatiran lo, lo justru bakalan dengar kata-kata ini 'Aku ini Qania Salsabila Sanjaya, tunangannya Arkana Wijaya, pembalap liar nomor satu seprovinsi. Putri kampus sekaligus wakil ketua HMTS, dan juga anak ketua dewan. Masalah seperti ini nggak ada apa-apanya buat Qania Salsabila' gitu pasti dia ngomongnya," kekeh Raka membuat Tristan pun ikut tertawa.


"Hahaha, dia memang sangat percaya diri," kekeh Tristan.


"Sangat. Katanya kepercayaandiri itu sangat dibutuhkan. Dan jangan lupa, dia itu selalu membawa embel-embel Arkananya itu. Itu nggak akan pernah alpa dari ucapannya," timpal Raka.


"Dan lo nggak cemburu?" tanya Tristan.


"Enggak sih, emang kenyataannya gitu, kan. Gue aja kagum sama cinta Qania ke Arkana begitu pun sebaliknya. Kalau saja Arkana masih ada dan ngelihat elo mendekati wanitanya, sumpah gue yakin lo bakalan gematar hanya karena ditatap oleh Arkana," ucap Raka sambil bergidik ngeri mengingat bagaimana dulu Arkana menatapnya.


"Oh ya? Lo pernah gitu ditatap sama Arkana?" tanya Tristan penasaran.


"Jangan ditanya lagi, sering gue. Dia bahkan bisa tahu siapa aja yang suka sama Qania. Wih, lirikan matanya bikin jantung berhenti berdetak, untung dia cakep. Syukurnya lagi gue ini cowok jadi bisa nahan biar nggak jerit waktu ditatap penuh permusuhan sama dia, hehehe."


"Sadis amat ya, gue nggak ngebayangin kalau gue ada diposisi ini disaat Arkana itu masih hidup," ucap Tristan.

__ADS_1


"Ya, jangankan lo ngedekatin Qania. Memiliki perasaan suka ke Qania aja lo bakalan abis sama si Arkana. Dia nggak ngelukain elo secara fisik, tapi mental bro. Dia bakalan sengaja manas-manasin lo dengan memamerkan kemesraannya bersama Qania dan lo jangan harap kalau Qania nggak ngebantu si Arkana itu dalam hal memamerkan kemesraan. Lo salah besar kalau mikir Qania bakalan iba sama nasib lo. Gue aja sampai ciut melihat mereka," cerita Raka.


"Benar-benar cara yang ampuh untuk memukul mundur lawan," kekeh Tristan. "Lalu, apakah kekaguman lo itu berubah jadi rasa cinta?"


"Tentu saja. Gue dan Qania bahkan sudah menjalin pertemanan sejak kelas satu SD," jawab Raka.


Meskipun sedikit kecewa, Tristan bisa menerima perasaan Raka terhadap Qania. Pria bodoh saja yang berdekatan dengannya namun tidak menaruh hati.


"Lalu, bagaimana dengan dirimu?" tanya Raka.


"Gue?"


"Ya, gimana perasaan lo sama Qania?"


"Gue udah lama suka sama dia. Menyukai dari jauh dan berharap Qania bisa melihat gue yang sebenarnya jatuh cinta sama dia sejak pandangan pertama beberapa tahun yang lalu. Namun cara gue untuk mendekatinya memang salah. Gue buat dia selalu kesal dan marah hanya karena gue ingin dia terus mengingat gue meskipun dia hanya ingat kalau gue ini orang yang menyebalkan. Lo tahu sendiri kan, kalau cinta dan benci itu perbedaannya sangat tipis. Ya, gue akui gue jatuh cinta sama Qania. Itu yang gue rasain sekarang," jawab Tristan.


"Gue benci mengatakan ini, tapi mau gimana lagi ya kita harus bersaing. Meskipun lo memiliki wajah yang sama dengan Arkana, gue nggak bakalan mundur. Kecuali ...."


"Kecuali apa?" tanya Tristan.


"Kecuali lo adalah Arkana, maka gue sendiri yang bakalan mundur teratur buat lo," ucap Raka mematahkan harapan Tristan.


Raka terkekeh pelan saat mendengar helaan napas kecewa dari Tristan.


"Jika gue adalah Arkana, maka lo akan apa?" tanya Tristan penasaran, tiba-tiba saja ia berharap menjadi Arkana Wijaya.


"Hahahaha ... ada yang berharap jadi Arkana Wijaya nih," ledek Raka.


"Jawab saja," ketus Tristan.


"Seperti yang gue bilang tadi, kalau lo adalah Arkana maka gue dengan berat hati bakalan mundur teratur buat lo. Gue bakalan ngerelain kalian melangsungkan pernikahan kedua kalian yang sempat tertunda. Jika lo memang Arkana," jawab Raka sambil tersenyum padahal dalam hati ia terus menekan perasaannya.


"Thanks," ucap Tristan sambil tersenyum dan itu membuat Raka heran.


"Sebaiknya lo pulang dan biarin gue jagain Qania disini. Gue takut nanti dia sadar dan ngelihat lo dia malah teringat kejadian tadi," pinta Raka.


"Meskipun enggan tapi ya gue harus balik. Tolong jagain Qania," pamit Tristan.


Raka mengangguk kemudian menatap Tristan yang sudah menaiki mobilnya hingga mobil itu hilang dari pandangannya.


Yakin nggak yakin tapi gue ngerasa dia itu Arkana, batin Raka.


.... . . ....


Terima kasih sudah membaca 🤎🤎🤎🤎


...❣❣❣❣❣❣...

__ADS_1


__ADS_2