
"APA?" Arkana terkejut bukan main.
"Ya seperti yang lo dengar tadi" ucap Rizal.
"Jadi lo juga udah tahu?" tanya Arkana.
"Gue dan om yang rencanain hadiah pernikahan ini buat lo, gimana lo suka" tanya Rizal.
"Sialan, jadi gue di kerjain nih ceritanya hahh?" kesal Arkana sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa senang bahkan sangat berterima kasih pada papa dan temannya itu.
"Sekali-sekali lah" sahut papanya kemudian tertawa.
"Arrgghh awas ya kalian" geram Arkana.
"Tapi kamu suka kan?" ledek Fero.
Arkana mengangguk dan tersenyum hangat, senyuman yang lama hilang itu kembali terlukis di wajahya.
"Qania emang terbaik ya, dia berusaha untuk melindungi lo meskipun dia juga pasti masih sakit hati sama lo" ungkap Gea memuji Qania dan menyindir Arkana.
"Dia kan malaikat tak bersayap"ledek Fero.
Wajah Arkana merona, ia begitu malu dengan ucapan mereka hingga tidak tahu harus berkata apa.
"Sekarang sebaiknya lo temui dia sebelum di tikung orang" saran Rizal.
"Maksud lo?" tanya Arkana yang menatap tak suka pada Rizal.
"Semalam dia di kafe lagi pdkt sama mantannya itu" jawab Rizal.
"Yang mana?" tanya Arkana penasaran.
"Yang brengsek itu, yang lo ikutin tiap hari dulu" jelas Rizal.
"Kok bisa? Itu nggak boleh dibiarin" geram Arkana.
"Makanya buruan bersiap dan temui malaikat tak bersayap itu" sambung papanya.
__ADS_1
Arkana bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian sambil sersiul-siul.
Sementara di kamar tadi, mereka menginterogasi Susan dan mengancamnya agar tutup mulut dengan kejadian ini. Jika tidak, maka ia akan dimasukkan kedalam penjara.
____
Di rumah Qania baru saja bangun tidur, ia melirik jam yang menunjukkan pukul delapan pagi. Pikirannya langsung melayang ke Arkana.
"Apakah hari ini ia akan menikah dan menjadi milik orang lain?" gumamnya begitu lirih.
Setelah mandi dan berpakaian Qania turun untuk mencari sarapan, ia melihat mama dan papanya sedang duduk di ruang makan sepertinya mereka baru saja selesai makan. Ia menyapa kedua orang tuanya kemudian langsung mengambil nasi goreng.
"Kamu makan dulu ya nak, mama mau anterin papa" tutur mamanya.
"Papa mau kemana?" tanya Qania sambil mengunyah.
"Ke luar kota untuk beberapa hari, ada yang harus papa urusin" jawab papanya.
"Ikut dong pa" pinta Qania.
"Tumben mau ikut?" tanya papanya heran.
"Terus kalau pacar kamu nyariin gimana?" tanya mamanya.
Qania meletakkan sendoknya di piring kemudian menghela napas panjang.
"Ya kalau dia nyari biarin aja, mama bilangin aja ini balasan buat dia karena udah cuekin Qania dan sibuk ngurus usaha papanya. Mama jangan beritahu dia Qania dan papa perginya kemana. Biar dia juga tahu rasanya di cuekin dan rindu itu gimana" ungkap Qania, karena yang orang tuanya tahu bahwa Arkana tengah sibuk mengurusi usaha papanya.
"Nggak boleh gitu dong sayang, dia kan harus membantu papanya. Kamu sebagai pacarnya harus suport dong, bukan ngambek kayak gini" tegur papanya.
"Pokoknya Qania ikut papa, kalau nggak Qania nggak mau makan sampai papa pulang" ancam Qania.
"Ya ampun anak ini, ya sudah papa tunggu sepuluh menit dari sekarang" ucap papanya sambil geleng-geleng kepala.
***
Arkana memarkirkan motornya depan rumah Qania, di tangannya sudah ada serangkaian bunga mawar putih. Ia terlihat begitu bahagia dengan senyuman manisnya yang sedari tadi tergambar di wajah tampannya itu.
__ADS_1
Arkana mengetuk pintu rumah Qania sambil memandangi bunga yang di bawanya itu. Tak lama kemudian adik Qania datang untuk membuka pintu rumah.
"Eh kakak, silahkan masuk" ajak Syaquile.
"Iya" jawab Arkana kemudian mengikuti Syaquile.
Ia menemani calon kakak iparnya itu di ruang tamu, setelah mamanya datang barulah ia masuk kembali ke kamarnya.
"Maaf tante, siang begini saya bertamu" ucap Arkana saat mama Qania duduk di hadapannya.
"Iya nggak apa-apa" jawab Alisha dengan tersenyum ramah.
"Qania ada tante?" tanya Arkana.
"Yah Qanianya pergi ikut papanya ke luar kota" jawab Alisha.
"Hah kemana tante?" tanya Arkana lemas.
"Katanya nggak boleh bilang ke kamu, biar saja kamu merasakan rindu seperti yang dia rasakan, katanya" ucap Alisha tertawa.
Arkana menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena menjadi kikuk di hadapan mama Qania.
"Berapa lama tante?" tanya Arkana.
"Mungkin seminggu" jawab Alisha membohongi Arkana, karena mereka hanya pergi untuk tiga hari. Namun ia merasa ingin mengerjai pacar anaknya ini.
"Lama juga ya tante" Arkana menjadi lemas.
"Kamu sabar ya, maaf tante nggak bisa beri tahu" ucap Alisha menyemangati Arkana.
"Yah harus seperti itu tante, sabar. Ya sudah saya pamit dulu ya tante" ucap Arkana lesu.
"Iya, kamu hati-hati" ucap Alisha.
Keduanya berjalan menuju pintu keluar rumah, saat Arkana selesai mencium tangan mama Qania, ia membisikkan alamat tempat Qania dan papanya pergi.
Senyum mengembang di wajah Arkana, ia mengucap terima kasih kepada calon mertuanya itu dan bergegas pergi untuk menyusul Qania.
__ADS_1
"Haiih dasar anak muda, maunya nempel terusss" ucap mama Qania setelah menutup pintu rumah.
........