Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Good job brother


__ADS_3

Arkana sampai di kantor papanya, ia sebelumnya telah memarkirkan motor agak jauh dari kantor sehingga tidak ada yang mencurigainya, terlebih lagi orang-orang yang mengikutinya.


"Fero berhasil" ucap Ifan dengan semangat.


"Good job brother, thanks pake banget" sahut Arkana.


"Gue on the way ke kantor bokap lo Ka" ucap Fero.


"Oke gue tunggu, tapi lo harus parkirin motor lo agak jauh dari kantor, jangan sampai ada yang membuntuti kita" saran Arkana.


"Sip, tungguin gue" Fero langsung melajukan motornya.


Sementara di depan kafe


Dua orang yang mengikuti Rizal masih setia menunggu tak jauh dari kafe, sedangkan Rizal saat ini sudah sampai di pintu belakang kafe.


Rizal membuka pintu mobil kemudian mengeluarkan satu per satu kedua orang yang ia bawa itu. Rizal membawa keduanya yang masih pingsan akibat pengaruh obat bius ke dalam gudang markas mereka. Setelah di pastikan keduanya sudah terikat kaki, tangan dan mulut di lakban, Rizal menutup kepala mereka dengan karung goni.


"Hah beres" ucap Rizal lalu menghela napas.


"Ifan, gimana disana?" tanya Rizal sambil mengunci gudang di dalam gudang itu.


"Aman, lo cepat kesini. Udah mau pagi, gue khawatir ntar warga ada yang lihat" jawab Ifan.


"Oke, gue otw nih" ucap Rizal memasuki mobil.


πŸ’ Di kantor


Fero melangkah dengan cepat menuju arah Arkana setelah memarkirkan motornya di dekat kafe tak jauh dari kantor.


"Ayo Ka kita masuk" ajak Fero saat sudah bersama Arkana.


"Kita harus hati-hati Ro, tetap waspada. Mungkin saja ada yang mengawasi kita"


"Lo benar Ka"


Keduanya berjalan masuk ke kantor, pertama yang mereka tuju adalah ruangan Setya Wijaya.


Kreekk....


Arkana mendorong pintu ruangan itu, yang pertama mereka lihat adalah ruangan yang berantakan dimana beberapa berkas berserakan di lantai.


"Oh shit, mereka rupanya datang mengacau disini" umpat Arkana sambil menjambak rambutnya.


"Kita harus cari petunjuk disini Ka" ucap Fero sambil memunguti berkas-berkas di lantai.


Fero merangkak untuk mengambil berkas yang ada di koling meja kerja Setya, namun..


"Arkaaaa" teriak Fero terkejut.


"Lo kenapa Ro?" tanya Arkana tak kalah terkejutnya.


"Ada orang Ka" jawab Fero saat melihat di bawah kolong meja ada perempuan dengan pakaian kantor yang tengah terikat dan mulutnya di lakban.


Arkana berjongkok di samping Fero kemudian menengok ke bawah kolong meja.


"Astaga tante Kinanti" jerit Arkana. "Bantuin gue Ro" Arkana dan Fero langsung mengeluarkan Kinanti dari kolong meja.


"Lo kenal Ka?"


"Sekretaris bokap"


Kinanti dibaringkan di atas sofa, kemudian Fero melepas ikatan di tubuhnya dan juga lakban di mulutnya, sementara Arkana mengambilkan air minum.


Fero dan Arkana menjipratkan air ke wajah Kinanti, beberapa detik kemudian Kinanti membuka matanya perlahan.


"Jangan.. jangan.. tolong.." jeritnya yang langsung duduk.


"Tante, tante tenang dulu. Ini Arka sama Fero teman Arka" Arkana ikut duduk di sebelah Kinanti sambil menenangkan.


"Arkana, papa kamu. Papa kamu Arkana" histeris Kinanti.


"Papa kenapa tante?" tanya Arkana ikutan panik.


"Papa kamu dibawa sama orang-orang suruhan Daren" Kinanti sangat gemetar.


"Daren? Daren Wilanata?" tanya Arkana sangat terkejut.


"Iya, dia. Dia yang membawa papa kamu" jawab Kinantin kembali menangis.


"Bagaimana bisa tante?" tanya Arkana geram.


#Flash back on..


Kinanti baru saja sampai di rumahnya, ia bermaksud untuk mandi namun ia merasa gelisah.


"Apa aku melewatkan sesuatu?" pikirnya.


Ia beradu dengan pikirannya beberapa menit.


"Astaga aku lupa, laporan itu aku tinggalkan di ruang kerja aku. Mati aku, besok libur dan besok pagi aku harus mengirimnya ke client" Kinanti menepuk jidatnya.


Tanpa pikir panjang, Kinanti langsung kembali keluar rumah dan mengendarai sepeda motornya masih dengan pakaian kantornya.


Sampai di kantor, ia merasa lega karena satpam belum mengunci pintunya dan entah kemana perginya si satpam itu, mungkin cari makan dulu, pikir Kinanti.


Dengan terburu-buru Kinanti menuju ke ruangannya di lantai tiga, karena kantor itu hanya berlantai tiga, maklum kantor berlantai tiga sudah dikatakan besar di kota kecil itu.


"Eh suara apa itu? Dari ruangan mas Setya, oh iya tadi aku masih melihat mobilnya" gumam Kinanti sambil berjalan mengendap-endap.


Di dalam ruangan Setya...


"Kalian mau apa hah?" bentak Setya.

__ADS_1


"Tuan Daren kami meminta anda ikut dengan kami sekarang" ucap seseorang yang bertubuh besar dengan lantang.


"Urusan saya apa dengannya? Dia sudah kalah dan semua sudah terbukti di pengadilan kalau adiknya meninggal karena murni kecelakaan, bukan ada unsur kesengajaan dari client saya" bantah Setya.


"Anda sudah membuat tuan kami marah. Ikut sekarang atau kami paksa" bentaknya.


"Tidak akan" jawab Setya tak gentar.


Kinanti yang gugup itu bingung harus melakukan apa, sehingga ia tak sengaja menjatuhkan vas bunga saking gemetarnya.


"Ada orang di luar, kalian periksa cepat" perintah orang yang bertubuh besar pada tiga anggotanya.


Dengan cepat ketiga orang itu keluar dan mendapati Kinanti yang tengah gugup.


"Seret dia masuk" teriak yang satunya.


"Lepaskan" teriak Kinanti memberontak, ia di lempar masuk ke ruangan Setya.


"Kinan? Kamu kenapa ada disini?" tanya Setya berusaha mendekati Kinanti.


"Lari mas, cepat" teriak Kinanti.


Dua buah tamparan mendarat di pipi Kinanti membuatnya jatuh tersungkur di bawah meja kerja Setya.


"Kinaaann" teriak Setya.


"Kalian brengsek" maki Setya sambil mendekati Kinanti.


Brukkk...


Orang yang bertubuh besar itu memukul punggung Setya dengan meja kecil di ruangan itu sehingga Setya pingsan.


Kinanti yang tahu akan situasi tidak aman juga berpura-pura pingsan.


Sementara pak Anwar yang baru saja keluar dari toilet langsung mencari Setya yang belum juga turun, ia sangat khawatir sehingga ia memutuskan untuk pergi ke ruangannya saja.


"Tuan Set.. Kalian siapa?" tanya pak Anwar gugup saat melihat dua orang mengangkat tubuh Setya yang tidak sadarkan diri itu.


"Kalian eksekusi orang ini, bawa dia bersama kita" perintah orang yang bertubuh besar itu.


"Kalian mau apa?" tanya pak Anwar lagi dengan berani.


"Bacot lu"


Brukk..


Kembali, mereka memukuli pak Anwar hingga pingsan.


"Gue bakalan bawa mereka dengan mobil Setya supaya tidak ada yang curiga. Kalian ikat saja wanita itu di bawah meja, besok libur. Dia juga pasti nanti akan ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa besoknya karena kehabisan tenaga. Setelah itu kalian pergi dan berikan surat peringatan pada anaknya Setya" perintah si pria bertubuh besar itu.


"Beres boss"


#Flash back off...


"Sialan, jadi dia tidak menerima keputusan pengadilan dan malah menuntut papa" umpat Arkana merasa geram.


"Baik tante, tunggulah sebentar. Rizal akan mengantar tante pulang, dia sedang di jalan kemari" ucap Arkana setelah membaca pesan dari Rizal.


Setelah dua orang yang mengikuti Fero dibawa oleh Ifan, sambungan telepon mereka diputuskan oleh Rizal.


"Tante Kinan?" panggil Rizal yang baru saja memasuki ruangan Setya.


Mereka menoleh ke arah Rizal, kemudian Rizal berjalan bergabung bersama mereka. Kinanti adalah tante Rizal, adik dari ibu Rizal dan sudah sangat dekat dengan keluarga Arkana.


"Zal, lo anterin tante Kinan pulang. Gue sama Fero harus mengurus rekaman cctv dulu" pinta Arkana.


"Oke, gue tunggu kalian di markas Ifan" jawab Rizal sambil memapah tantenya.


"Oh iya Arka, file tentang kasus adik Daren Wilanata ada di rumah tante nanti sekalian Rizal ambil. Kamu pelajari itu dan harus membantu papamu" ucap tante Kinanti kemudian pergi bersama Rizal.


Di ruangan cctv


"Bangsat, bangsat. Mereka mukulin bokap gue dengan meja" teriak Arkana mengumpat setelah melihat rekaman cctv.


"Udah gue copy Ka, lo sabar dulu, tenang dulu. Kita sebaiknya balik dulu ke markas Ifan" ucap Fero menenangkan Arkana.


Tanpa menjawab Arkana melangkah meninggalkan Fero yang masih duduk di depan komputer itu.


"Ka, tungguin" teriaknya berlari mengejar Arkana.


Keduanya berjalan menuju ke kafe yang tak jauh dari kantor Setya untuk mengambil mobilnya.


Drtttt...


Drttt...


"Hah, ponsel ini milik si penguntit itu" gumam Arkana saat mengambil ponsel di saku celananya.


"Goni? Ini pasti temannya"


Arkana menjawab telepon tersebut.


"Oii lo kemana aja? Udah dapat belum anaknya si Setya itu. Gue sama Tigor dari tadi nungguin temannya nggak keluar juga dari masjid, gue balik dulu ke rumah si Setya buat cari tahu jangan-jangan tu anak udah kabur kesana" ucap orang yang bernama Goni itu.


Arkana geram, namun ia juga merasa lucu.


"Jamuran deh lo nungguin si Rizal" Arkana tertawa dalam hati.


Arkana menutup ponsel itu dengan kain jaketnya.


"Lo nggak usah kesana, gue juga kehilangan jejak anaknya Arkana. Ntar malam kita pantauin lagi" jawab Arkana.


"Oke dah, gue sama Koko balik dulu" ucapnya kemudian memutus panggilan tersebut.

__ADS_1


"Siapa Ka?" tanya Fero sudah duduk di atas motornya.


"Anak buah Daren yang ngikutin Rizal, sampai sekarang mereka masih nungguin Rizal di depan masjid, hahahq ya kali orang shalat subuh sampai jam tujuh pagi" Arkana tergelak begitu juga dengan Fero.


"Bego juga ya, hahaha" ledek Fero.


"Ayo kita ke markas Ifan" ajak Arkana kemudian menaiki motornya.


Keduanya berdampingan menyusuri jalan yang masih agak sepi itu, karena hari libur maka aktivitas kantor atau pin sekolah tentu tidak ada.


.............


Qania baru saja selesai berganti pakaian setelah mandi pagi, ia bangun pagi karena ada janji bertemu Abdi dan Cika di rumahnya. Qania berjalan santai menuruni anak tangga untuk sarapan.


"Eh ada bi Ochi?" tanya Qania heran saat ia akan menyendok nasi, bi Ochi datang dari dapur membawakan lauk.


"Iya non, bibi nginap disini semalam" jawab bi Ochi sambil tersenyum ramah.


"Bi Ochi dititipin sama Arkana semalam, kamu sudah tidur" sambung papanya menjelaskan.


"Hah?"


"Iya, mertua kamu diculik dan rumah mereka diteror. Jadi, untuk keselamatan bi Ochi, Arkana menitipkannya disini" jelas papanya.


"Appaaa... papa Setya diculik?" Qania terkejut sama halnya dengan Syaquile.


"Iya sayang, Arkana sekarang sibuk nyari papanya dan kamu harus ngertiin dia ya" ucap mamanya yang sudah diberitahu Zafran semalam.


"Iya ma" jawab Qania lesu, kemudian mulai makan.


"Non Qania, di luar ada temannya namanya Cika" ucap bi Eti yang baru datang dari luar.


"Eh, kok kepagian ya?" gumam Qania yang akan menaiki tangga menuju ke kamarnya.


"Eh iya bi" jawab Qania memutar badan.


Qania berjalan ke arah ruang tamu dan benar saja disana sudah ada Cika yang duduk sendirian.


"Eh Cik, kamu pagi amat datangnya" sapa Qania yang okut duduk di depan Cika.


"Hehe, sengaja Qan" jawab Cika cekikikan.


"Oh aku tahu, ini pasti ada hubungannya sama Fero" tebak Qania.


Wajah Cika memerah malu, Qania sangat tepat menebaknya.


"Iya Qan, kamu tahu aja" jawab Cika malu-malu.


"Ke kamar aku yuk, kita ngobrol di dalam aja" ajak Qania.


"Oke".


🌻


"Jadi kamu sama Fero ada hubungan apa?" tanya Qania saat keduanya sudah duduk di sofa di dalam kamar Qania.


"Jadi dulu aku sama Fero itu pacaran" cicitnya.


"Appaaa..?"


"Hei nggak usah kaget gitu" tegur Cika yang sudah malu.


"Hehe, maaf. Aku pikir dia abnormal" jawab Qania terkekeh.


"Maksud kamu?"


"Ya jadi si Fero itu selama ini nggak pernah dekat sama cewek manapun. Aku dan Arkana mengira kalau dia nghak suka sama cewek alias ehhmm... kamu tahu sendirilah maksud aku" jawab Qania kemudian tertawa.


"Ya ampun Qan, kasihan banget sih si Fero. Kalian tega benar deh ngatain dia kayak gitu" protes Cika kemudian ikut tertawa.


"Terus hubungan kamu sama Fero gimana sekarang?" tanya Qania saat keduanya sudah berhenti tertawa.


"Gantung Qan, tapi sebenarnya aku masih belum melupakan dia. Bahkan sampai saat ini aku masih menganggap dia pacar aku, aku belum pernah dekat sama siapa pun, kamu kan juga tahu kita sibuk kuliah dan kegiatan himpunan" ungkap Cika dengan sendu.


"Aku paham sama perasaan kamu, cinta pertama memang sulit dilupakan dan itu juga terjadi sama aku. Kau tahu Cik, Arkana itu cinta pertamaku. Kita pernah putus dan tanpa jejak komunikasi, tapi aku tetap menyimpan rasa dan namanya di hatiku sampai ketika dia datang kembali ke kehidupanku. Aku juga kadang tidak mengerti dengan perasaanku yang berbeda padanya, bahkan aku sempat menjalin hubungan dengan pria lain setelah putus dengannya, tapi di hatiku tetap ada namanya dan dia tetap memiliki tempat khusus di hatiku" cerita Qania sambil senyum-senyum.


"Aku setuju, cinta pertama memang sulit dilupakan Qan, aku saja sampai sekarang masih menyimpan namanya di hatiku meskipun aku tidak yakin dia juga seperti itu" lirih Cika.


"Aku yakin kalau Fero juga masih memiliki perasaan yang sama denganmu" hibur Qania sambil mengusap bahu Cika.


"Aku harap begitu" cicit Cika.


Tok..


Tok..


Tok..


"Non, ini bi Eti".


"Ada apa bi?" teriak Qania dari dalam kamar.


"Di luar ada temannya, namanya Abdi" ucap bi Eti.


"Oh iya bi, Qania keluar sekarang. Makasih bi, oh iya tolong buatin minum sama cemilan ya bi" pinta Qania.


"Siap non" bi Eti meninggalkan kamar Qania.


"Aku duluan Qan" ucap Cika.


"Oke, aku nyusul" jawab Qania.


Setelah Cika keluar, Qania mengambil ponselnya yang ada di atas sofa sebelahnya.

__ADS_1


"Kena kamu Cik, aku bakalan tunjukin ini ke Fero. Aku harap hubungan kalian akan membaik" gumam Qania samb menyimpan kembali ponselnya yang ia gunakan untuk merekam pembicaraannya dengan Cika tadi.


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


__ADS_2