
Arkana menatap Lucky yang masih melamun.
“Sekarang giliranmu” ucap Arkana dengan lantang.
Lucky tersadar saat mendengar ucapan Arkana tersebut, ia langsung menatap Arkana dengan tatapan menghiba. Arkana melangkah mendekati Lucky yang sudah gemetar itu, ia berjongkok mensejajarkan posisinya dengan Lucky.
“T..tuan t..tolong..”
“Stttt.. diamlah, ini tidak sakit, hanya seperti digigit semut” ucap Arkana dengan pelan namun terdengar mengerikan di telinga Lucky.
Arkana mengarahkan pisaunya ke wajah Lucky, membawanya turun hingga ke tangan Lucky yang terikat. Sementara Lucky sudah gemetar ketakutan. Bayangan kematian menghantuinya, senyuman anak dan istrinya terlintas di pikirannya.
“Maafkan papa” lirih batinnya.
Arkana menusukkan ujung pisau di lengan Lucky, membuatnya semakin gemetar dan menutup kedua matanya membuat Arkana tersenyum melihat kepasrahan Lucky.
Dan….
“Hahahahaha”
Suara tawa menggema di ruangan itu, membuat Lucky semakin ketakutan.
“Apa itu suara malaikat pencabut nyawa?” gumamnya masih menutup mata.
Lagi “Hahahahahaha”
Lucky memberanikan diri membuka satu matanya dan..
“Eh?” Lucky mendapati Arkana tengah berdiri di depannya dengan memegang pisau tadi dan teman-temannya sudah berdiri di depannya juga.
“Ke..kenapa ka..kalian tertawa?” Tanya Lucky gemetar bercampur bingung.
“Hai lihatlah dia. Bahkan dia sangat gemetar sampai-sampai tidak menyadari bahwa ia sudah di lepaskan” ucap Fero sambil tertawa.
Lucky melihat ke bawah, “Eh?”
Lagi, kembali mereka menertawai kebodohan Lucky.
“Tuan melepaskan saya?” Tanya Lucky dongkol.
“Menurutmu?” Tanya Arkana.
Lucky langsung bersujud di kaki Arkana, mengucapkan terima kasih berkali-kali.
“Seret dia, kita akan membunuhnya di tempat lain” ucap Arkana dengan lantang, membuat Lucky berdiri dan kembali gemetar ketakutan.
“Ma..maksud tuan?”
“Fero, bawa dia keluar. Kalian urus mayat temannya ini, buang saja di jurang” perintah Arkana menakuti Lucky.
“Sini lo” Fero menyeret dengan kasar tubuh Lucky yang kurus itu.
“Thanks bro, kalian terbaik. Gue bangga punya teman seperti kalian” ucap Arkana lirih.
“Jangan pikirkan itu, fokuslah pada om Setya” ucap Ifan menepuk bahu Arkana memberi semangat.
“Terima kasih, kalian uruslah dia. Jika kalian ingin bermain dengannya silahkan. Tapi ingat jangan menghilangkan nyawanya, setelah kalian puas bawalah dia ke pihak berwajib. Nanti gue yang bakalan proses di sana” ucap Arkana sambil tersenyum getir.
“Baik bro, lo semangat dan jangan menyerah” ucap si A sambil merangkul Arkana.
“Gue pamit dulu, masih ada dua orang yang bersama Rizal harus gue urus” ucap Arkana kemudian tersenyum lalu melenggang pergi.
“Hati-hati bro” ucap mereka serempak, Arkana mengangguk tanpa berbalik kembali.
Di luar markas..
__ADS_1
“Kita buang kemana orang ini Ka?” Tanya Fero yang masih memegangi tangan Lucky yang di taruh ke belakang.
“Bentar, gue nelpon seseorang dulu” ucap Arkana sambil mengambil ponsel dari sakunya.
Menelepon..
“Hallo Ka, ada apa nak?”
“Paman, paman sedang berada di tempat kerja?” Tanya Arkana.
“Iya nak, ada apa? Apa kau sedang sakit?”
“Bukan aku paman, aku hanya ingin meminta bantuanmu. Sebentar lagi aku akan mengirim orang ke tempat kerjamu dan mengenai administrasinya paman bisa mengatasnamakan aku”.
“Oke, paman akan bersiap disini”
“Terima kasih paman, selamat pagi”
“Ya sama-sama, pagi nak”
Tut..
Tut..
Tut..
“Pak Lucky” panggil Arkana.
“Tuan tahu nama saya?” Tanya Lucky menoleh ke arah Arkana bingung.
“Saya tahu bapak, saya tahu bu Wati dan saya juga tahu Lula” jawab Arkana dengan santai, namun tidak dengan pak Lucky yang saat ini tercengang.
“Ba..bagaimana bisa?” Lucky tergagap, pikiran buruk menghantuinya.
“Tentu saja bisa” jawab Arkana sambil menyeringai.
“Pulang dan bawalah anakmu ke rumah sakit. Pamanku sudah menunggu disana, katakana saja pasien dokter Lisman. Saya sudah mengurus administrasinya” ucap Arkana dingin.
“T..t.tuan serius?” Tanya Lucky tidak percaya dengan pendengarannya.
“Tentu, saya mengenal anak dan istrimu dengan baik. Lain kali pilihlah pekerjaan yang baik karena kau berniat menyembuhkan anakmu. Dengan kau melakukan kejahatan, maka kau juga akan memperoleh dampaknya. Apa kau bisa bayangkan bagaimana perasaan anak dan istrimu jika mereka tahu kau mendapatkan uang dari kejahatan?”
“Terima kasih tuan, terima kasih banyak” ucapnya bersujud di kaki Arkana setelah Fero melepaskan tangannya tadi saat Arkana selesai menelepon pamannya.
“Jangan bersujud di kakiku, aku bukan Tuhan. Pergilah dan bawa Lula ke rumah sakit, jangan sampai kau terlambat” titah Arkana.
“Terima kasih tuan” Lucky bangkit dan segera berlari dengan air mata yang terus bercucuran.
Sepeninggalan Lucky.
“Kasihan Lucky, dia tidak berdaya dengan keadaan Lula” ucap Fero.
“Ya, kalau aku tidak melihatnya tadi mungkin dia sudah tersesat dan anak istrinya dalam bahaya” ucap Arkana masih menatap lurus ke arah Lucky berlari meski pun sudah tidak terlihat lagi.
“Ayo ke markas” ajak Fero yang diangguki oleh Arkana.
Di markas gudang dalam gudang…
Arkana, Fero dan Rizal menatap jengah pada dua orang yang terus bergerak ingin melepaskan diri namun tidak bisa melakukan apa-apa dengan tubuh terikat dan kepala ditutupi karung goni.
“Buka” ucap Arkana dingin.
“Bajingan lo” umpat yang gondrong.
“Teruslah mengumpat” ucap Arkana namun tatapannya sangat santai saat ini.
__ADS_1
“Kalian mau apa?” Tanya si gondrong.
“Ini adalah pertanyaan yang gue tunggu” ucap Arkana menyeringai.
“Katakan bangsat” maki si botak.
“Santai” ucap Arkana kemudian menarik bangku dan duduk berhadapan dengan dua orang itu.
“Lo menjebak kami” ucap si gondrong dengan tatapan penuh amarah.
“Kalau nggak gini kita nggak bakalan buat kesepakatan” Arkana melipat kedua tangannya di atas dada.
“Kesepakatan?”
“Ya. Sebelumnya gue mengucapkan terima kasih sama lo lo pada nih karena sudah menculik si Setya itu” ucap Arkana memperlihatkan senyum bahagia”.
“Maksud lo apa?” Tanya keduanya kompak dengan tatapan penuh selidik.
“Dengan lo nyulik si Setya itu, gue dengan senang hati melepaskannya dan dengan mudah menguasai harta kekayaannya, hahaha” tawa Arkana menggelegar.
“Ka lo ngomong apa?” Tanya Rizal sangat terkejut.
“Iya Ka, lo sadar nggak sih dia itu bokap lo” timpal Fero yang merasa bingung juga geram.
“Pertama gue mau ngucapin terima kasih sama lo berdua karena sudah bantuin gue mengurus penguntit ini, karena niat gue sebenarnya Cuma ingin mengajak mereka bekerja sama. Kedua, gue malas harus bersikap seolah gue peduli sama si Setya itu, padahal nyatanya gue muak tahu nggak sih sama tuh orang. Gue pengen dia mati secepatnya” ungkap Arkana.
“Ka, elo..”
“Stttt.. diam Zal, gue belum selesai ngomong” Arkana meletakkan jari telunjuk di bibirnya, wajahnya terlihat seperti seorang psikopat.
“Sumpah gue nggak habis pikir sama lo Ka” Fero menatap sinis pada Arkana namun Arkana malah tersenyum setan kepadanya.
“Makanya lo diam dan jadilah anak yang manis” bentak Arkana.
Fero dan Rizal memilih diam namun tidak dengan hati dan pikiran mereka yang di penuhi tanda tanya.
“Kalau gue bilang ke lo berdua gue minta kalian buat nganterin gue ketemu si Setya dan bos kalian nggak bakalan percaya ke gue kan?” Tanya Arkana kembali menatap datar pada kedua orang di hadapannya itu.
“Langsung ke intinya saja” bentak si gondrong.
“Kalian mau dengar cerita tidak?” Tanya Arkana dengan wajah sedih.
“bicara lah yang jelas, jangan bertele-tele” bentak si botak.
“Oke, jadi dulu gue ini hanya anak pungut yang diambil si Setya karena gue nolongin dia saat kecelakaan. Gue dibesarin namun dengan penuh siksaan, dia selalu mengungkit asal-usul gue dan parahnya dulu gue selalu di siksa dan gak diberi makan. Sebenarnya dia sudah membunuh kedua orang tua gue, itu sebabnya gue berpura-pura nolong dia agar dia merasa berhutang budi sama gue. Dulu gue selalu menghalangi siapa pun orang yang dekat dengannya agar dia tidak menikah dan tidak memiliki keturunan supaya gue yang bakalan mewarisi hartanya. Namun beberapa bulan lalu gue mendengar bahwa dia bakalan alihin hartanya pada anak sahabatnya yaitu Qania yang tidak lain adalah mantan gue. Dengan segala cara gue mendekati si Qania agar dia jatuh cinta ke gue dan berhasil. Cinta dan hart ague dpatin, namun gue nggak puas jika belum membalaskan dendam kematian kedua orang tua gue” cerita Arkana panjang lebar dengan wajah sedih dan juga lega.
“Arkana lo ngomong apa sih” bentak Rizal.
“Lo sadar Ka” teriak Fero.
Bughhh…
Fero meringis memegangi petnya yang di tinju Arkana, ingin rasanya Fero membalas namun dicegah oleh Rizal yang memegangi tangannya dan menggeleng.
“Sekali lagi lo ngebentak gue, gue bakalan lakuin yang lebih dari ini” bentak Arkana.
“Sebaiknya kita diam” bisik Rizal.
“Terus kita harus percaya gitu sama cerita lo?” si botak mengejek Arkana.
“Terserah lo berdua. Oh ya, ini ponsel kalian bukan?” Tanya Arkana sambil mengangkat dua buah ponsel.
“Lo mau ngapain?” Tanya keduanya gelagapan.
“Menelepon Daren Wilanata” jawab Arkana dengan santai.
__ADS_1
“Appaaa..” Fero, Rizal dan dua tawanan mereka itu terkejut.
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...