
Sekembalinya dari ruangan Pak Erlangga, Qania pun menghampiri Syaquile yang sedang asyik dengan ponselnya di parkiran. Ia bisa menebak bahwa adiknya itu sedang bermain game. Wajahnya sangat serius dan ada gumaman lucu yang terdengar darinya. Qania sampai terkikik melihat tingkah menggemaskan Syaquile. Ia pun menghampiri adiknya dan melihat apa yang sedang ia lakukan. Dan benar saja, sedang bermain game.
"Eh Kak, sudah?" tanya Syaquile namun tidak mengalihkan fokusnya.
"Iya. Kamu masih lama?"
"Dikit lagi. Nah, nah, udah aku udah menang. Yuk!"
Qania pun naik ke atas motor dan Syaquile langsung melajukan motornya. Keluar dari gerbang kampus mereka memasuki pelataran kafe yang membuat Syaquile terdiam melihatnya. Benar-benar sama seperti yang ada di kotanya. Ia sudah tahu namun tetap saja ia terus dibuat terpaku mengingat pemiliknya entah dia atau memang orang lain.
"Yuk masuk. Kakak udah lapar," ajak Qania menarik tangan Syaquile yang masih berdiri mematung di parkiran.
"Hmmm."
Mereka pun masuk dan langsung mengambil tempat. Qania berulang kali menegur adiknya yang terus berdecak kagum sekaligus tak percaya dengan kemiripan kafe ini.
"Dek, mau pesan apa?" tanya Qania sambil melirik adik dan pelayan kafe bergantian.
"Samain aja kayak pesanan Kakak," jawab Syaquile.
"Oke Mbak, saya pesan ini dua sama ini dua ya," ucap Qania sambil menunjuk buku menunya.
"Baik Mbak, silahkan ditunggu," ucap Pelayan tersebut kemudian pergi berlalu.
Sambil menunggu pesanan datang, Qania dan Syaquile membahas tentang ujian proposal Qania. Ia pun tak memberitahukan tentang misi magangnya. Menurut Qania, ia akan membahas ini dengan mertuanya saja karena tidak menutup kemungkinan bahwa kali ini bantuan mertuanya itu adalah hal yang paling ia butuhjan nanti.
"Kapan ujiannya Kak?" tanya Syaquile.
"Hari Kamis depan," jawab Qania.
"Semangat Kak, biar cepat jadi sarjana," ucap Syaquile.
"Doain."
"Pastilah."
"Kak, kafe ini benar-benar membuatku bingung sama kayak pemiliknya," ucap Syaquile sambil memijat pelipisnya.
"Udah nggak usah bahas kafe ini. Tuh kamu lihat, yang punya aja udah kayak orang stress," ucap Qania sambil menatap pria yang baru saja masuk sambil mengoceh tak jelas. Syaquile pun mengikuti arah pandang Qania.
"Tristan?" gumam Syaquile.
"Dia dari tadi teleponin Kakak cuma nggak Kakak gubris," lanjut Qania.
"Kenapa Kak?" tanya Syaquile.
"Malas aja sih," jawab Qania.
Gemas melihat tingkah Tristan membuat Qania pun mengalah dan memilih menegurnya. Ia tahu kalau Tristan seperti itu karena sedang kesal sebab ia mengabaikan telepon dari pria posesif itu.
"Tristan Anggara rupanya jadi tidak waras setelah bertunangan," ejek Qania.
Pria yang sedang mengoceh itu pun menghentikan langkahnya. Sesaat ia terdiam. Tak lama kemudian ia mengalihkan pandangannya dan kedua netranya bertemu dengan tatapan hangat Qania.
"Qania!!" Ia memekik begitu melihat wajah wanita yang membuatnya kesal sedari tadi dan rupanya wanita itu sedang berada di tempatnya.
Dengan langkah besar Tristan berjalan ke meja Qania dan Syaquile. Ia duduk di samping Qania tanpa melepaskan tatapannya. Ia takut kalau ia berkedip maka Qania akan hilang dari pandangannya.
"Kenapa mengabaikan teleponku?" tanya Tristan tanpa basa-basi.
"Karena ingin," jawab Qania singkat.
Tristan menarik napas berat, ia sudah tahu pasti akan mendapat jawaban yang tak akan sesuai dengan harapannya dari mulut Qania.
"Bertanya padanya tidak akan mendapatkan jawaban yang manis," gumam Tristan namun masih bisa di dengar oleh Qania dan Syaquile.
Syaquile berdehem, berusaha menahan tawanya. Sementara Qania ia biasa-biasa saja. Tak lama kemudian pelayan datang membawakan makanan mereka. Ia dibuat gugup karena melihat keberadaan bosnya di meja tersebut namun yang ditatap itu hanya bersikap acuh saja.
"Bos ingin pesan apa?" tanyanya gugup.
"Tidak perlu," jawab Tristan singkat.
"Kalau begitu saya permisi, silahkan dinikmati," ucapnya kemudian bergegas pergi.
Tanpa menunggu persetujuan dari Qania, Tristan yang tengah haus akibat mencari dan mengumpati Qania pun tanpa ragu mengambil minuman milik Qania. Tak sempat Qania protes minuman itu sudah masuk ke dalam perut Tristan.
"Kau!!"
"Gratis buatmu. Tidak perlu marah, lagian masih ada sisanya kok. Nih minum," ucap Tristan tanpa merasa bersalah dan langsung menyodorkan gelas yang tersisa setengah jus jeruk itu.
"Aku tak ingin minum satu gelas denganmu. Enak saja, itu sama saja kita berciuman secara tidak langsung," dengus Qania.
"Bukankah kita sudah pernah berciuman?" bisik Tristan di telinga Qania.
Wajah Qania memerah, malu dan kesal pada pria yang sayangnya seperti tidak tahu malu membahas itu di temapt umum. Untung saja Syaquile tidak mendengarnya.
"Kau!!"
"Bahkan kau pun pernah menciumku lebih dulu," lanjut Tristan dengan berbisik.
Wajah Qania semakin memerah. Ia benar-benar malu dan kesal. Untung saja Syaquile tak memperhatikan interaksi mereka. Mungkin ia dengar namun memilih cuek saja.
"Aku kenyang," ucap Qania kemudian meletakkan sendik dengan kasar di atas piringnya.
Yang benar saja, baru sesuap itu sudah kenyang, pikir Syaquile.
Sementara pria yang baru saja merusak mood Qania hanya tertawa. Rupanya membuat Qania kesal itu sangat menyenangkan. Ia bahkan menyukai ekspresi kesal Qania ini. Mungkin ini akan menjadi kebiasaan barunya, pikir Tristan.
__ADS_1
"Kita pulang Dek," ajak Qania, suaranya begitu ketus.
"Aku masih makan Kak. Dan aku lapar. Kalian kalau ada masalah silahkan bicarakan di tempat lain. Jangan di depanku dan di depan makanan," ucap Syaquile datar, ia pun kembali melanjutkan makannya.
"Sangat pengertian," puji Tristan. "Qania, aku mencarimu karena ada hal yang ingin aku bicarakan. Kau mau kan berbicara empat mata denganku?" ajak Tristan.
"Tidak!"
"Sayangnya kali ini aku tidak menerima pelonakan," ucap Tristan kemudian menarik tangan Qania namun dengan lembut.
Qania mendengus namun tetap mengikuti ajakan Tristan.
"Kembalikan Kakakku ke hotel semalam. Aku akan menunggu disana. Ingat Kak, jam lima pesawat kita," ucap Syaquile namun tidak melirik keduanya.
"Sudah akan pulang?" tanya Tristan terkejut.
"Ya," jawab Qania singkat padat jelas.
Tristan nampak lesu namun ia pun tak bisa menahan. Qania tersenyum tipis melihat reaksi Tristan. Entah apa maksud senyumannya itu, mungkin ada niat jahat alias jahil di benaknya.
"Kita akan kemana?" tanya Qania yang sudah duduk di dalam mobil di samping Tristan.
"Diam dan nikmati saja perjalanan kita Qania. Aku pun sebenarnya tidak tahu mau kemana, aku hanya ingin berdua dan menghabiskan waktu denganmu," jawab Tristan jujur sambil mengemudikan mobilnya meninggalkan kafe.
Qania menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan. Dari wajah Tristan pun Qania bisa melihat bahwa pria itu memiliki banyak beban pikiran. Qania pun menurut saja, karena jujur ia pun merindukan sosok itu. Ah, entah sosok atau wajahnya yang ia rindukan. Qania pun tidak tahu.
.... . . . ...
Qania diam saja sambil sesekali melirik Tristan yang terus mengemudi entah kemana tujuannya membawa Qania pergi. Tristan pun sesekali melirik Qania, ia tersenyum samar saat netra mereka tak sengaja bertemu. Namun baik Tristan maupun Qania tak ada yang ingin memulai percakapan lebih dulu. Entahlah, keduanya sama-sama merasa nyan dan tenang dalam diam mereka. Perasaan keduanya sama-sama terasa damai karena berada di tempat yang sama dan menghirup udara yang sama. Tidak memerlukan kata-kata untuk mewakili isi hati mereka. Rasa nyaman saja sudah menunjukkan bahwa ada hal yang lebih dari sekadar kata pertemanan untuk mereka.
Sudah begitu jauh meninggalkan area perkotaan, Qania yang bahkan tak pernah melewati tempat ini meskipun sudah tiga tahun ia tinggal di kota ini.
Akhirnya ia mengalah dan memilih untuk bertanya kepada Tristan.
“Kita akan kemana ini?”
“Entahlah, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu,” jawab Tristan.
“Ambigu sekali. Aku ini belum makan dan sekarang sedang lapar. Turunkan aku, aku sudah tidak tahan lagi mendengar cacing di perutku sedang berdemo. Cukup aku saja yang pernah memimpin demo, mereka tidak usah,” ucap Qania ketus.
Tristan tergelak, sungguh ada-ada saja ucapan Qania ini. Ia pun menepikan mobilnya saat melihat ada warung makan di pinggir jalan. Mau mencari kafe atau restoran itu tidak mungkin karena ini sudah bukan di area perkotaan.
Tristan dan Qania pun masuk dan Tristan meminta Qania untuk menunggu biar dirinya saja yang memesankan makanan. Hanya ada makanan sederhana disana, menu sehari-hari di rumah perkampungan. Tristan memesankan Qania dan dirinya nasi uduk dan minumannya es teh manis. Ia pun berjalan dan ikut bergabung bersama Qania.
“Kau pernah ke tempat ini sebelumnya?” tanya Qania yang sedang memperhatikan sekeliling warung tersebut. Sangat sederhana namun begitu rapih. Membuat mata yang memandang merasa nyaman.
“Pertama kalinya,” jawab Tristan yang sedang berpangku dagu menikmati ciptaan Tuhan yang begitu indah di depannya.
“Baiklah. Berarti warung ini bisa jadi tempat kita bertemu. Secret. Bagaimana?” goda Qania.
Keduanya pun tersenyum. Tak sempat mereka melanjutkan perbincangan makanan pesanan Tristan sudah datang. Mereka pun memutuskan untuk makan terlebih dahulu kemudian melanjutkan perbincangan.
Qania dan Tristan saling memandang begitu mereka sudah menghabiskan makanan. Tristan tersenyum sementara Qania memasang wajah datar. Entahlah, dia sudah cukup banyak tersenyum pada pria itu hingga ia merasa bosan sendiri.
“Dasar, nggak ada manis-manisnya,” ucap Tristan mencebikkan bibirnya.
“Terserah!”
Qania melihat jam tangannya, “Kurang dari dua jam aku akan berangkat. Katanya ingin bicara empat mata, ya udah bicara aja.” Qania menatap jengah kepada Tristan yang tak tahu kenapa masih saja tersenyum kepadanya.
“Emang udah mau balik benaran?” tanya Tristan lesu.
Qania hanya menjawab dengan deheman.
“Ya udah, aku bayar dulu kamu tunggu di mobil,” ucap Tristan kemudian bersama-sama dengan Qania berjalan ke arah depan.
Sementara Tristan membayar, Qania pun lebih dulu masuk ke dalam mobil. Tak berselang lama Tristan pun datang dan tanpa basa-basi ia langsung melajukan mobilnya. Qania saja sampai dibuat heran dengan raut wajah Tristan yang tadinya ceria kini begitu datar.
Ingin, sangat ingin Qania bertanya dan meledeknya namun ia urungkan. Ia sadar mereka akan berpisah entah untuk berapa lama. Qania ingat bahwa Tristan pernah berkata ia akan pergi ke luar negeri untuk menemani Marsya yang entah berapa lama. Alhasil, Qania pun ikut terdiam dan menurut saja kemana Tristan akan membawanya.
Mobil sudah kembali masuk ke area perkotaan, Qania pun tahu ini jalan menuju kemana. Benar sekali, Tristan membawa Qania ke rumahnya.
“Tempat paling aman untuk berbicara adalah di rumah. Ayo turun,” ucap Tristan masih dalam mode datarnya.
Qania menaikkan sebelah sudut alisnya, namun ia tidak bersuara. Ia pun ikut turun dan mengekori Tristan masuk ke dalam rumah.
Pak Yotar yang membukakan pintu cukup terkejut karena wanita yang bersama Tristan bukanlah Marsya melainkan Qania. Begitu pun Bi Ria yang membukakan pintu sama terkejutnya.
“Selamat datang Den, Non,” sapa bi Ria.
Qania tersenyum dan Tristan hanya mengangguk. Bisa bi Ria saksikan bagaimana dengan cukup kasar Tristan menarik tangan Qania naik ke lantai dua menuju ke kamarnya. Bi Ria ingin bertanya namun Qania menggeleng. Ia dengan tatapannya mencoba mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Brakk ...
Tristan membanting pintu kamar cukup keras namun Qania yang masih berdiri itu tak terkejut dengan hal tersebut.
“Kenapa mendadak marah?” tanya Qania.
“Qania, aku bingung harus mulai darimana. Aku bingung!” teriak Tristan.
“Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Aku masih memiliki pendengaran yang cukup baik. Tidak perlu berteriak,” sindir Qania.
“Duduk!” Tristan menunjuk sofa di kamarnya dan meminta Qania untuk duduk.
Qania menurut saja dan Tristan pun ikut duduk bersamanya.
“Qania, sebenarnya maumu apa? Kenapa menyuruhku bertunangan untuk menjebakku?” Tristan menatap tajam pada Qania, sementara Qania semakin dibuat bingung olehnya.
__ADS_1
“Menjebak?” tanya Qania.
“Aku merasa terjebak Qania,” kilah Tristan, hampir saja ia kecoplosan bahwa ini semua karena Raka yang memberitahunya.
“Katakan dengan jelas,” ucap Qania datar.
“Maksudku, kau menyuruhku bertunangan bukankah untuk menguji apakah aku akan melakukan itu atau tidak, kan? Kau ingin melihat seberapa besar aku mencintaimu dan jika aku menolak dan lebih memilihmu itu berarti aku benar-benar lulus dari ujian yang kau berikan. Pertunangan itu hanya sebagai ujian, kan? Kau mengujiku apakah aku akan tetap bertunangan atau tidak demi dirimu. Aku salah menafsirkannya Qania, aku sudah salah.
“Harusnya yang sebenarnya itu aku tidak bertunangan, kan? Harusnya jika aku memang benar-benar cinta padamu maka aku akan melawan dan menentang apapun itu untuk memperjuangkan perasaanku, seperti itu kan?”
Dimana posisi Tristan saat mengungkapkan semuanya, ia berlutut di kaki Qania sambil menumpahkan seluruh perasaannya.
Qania tersenyum, rupanya ini yang menjadi alasan mengapa pria ini terlihat begitu kesal dan juga tak berdaya.
“Tristan, bangun. Duduk di sampingku,” ucap Qania lembut sambil membantu mengangkat bahu Tristan yang bergetar menahan tangis.
“Aku sangat bodoh dan payah,” lirihnya.
“Aku tidak berkata seperti itu. Jangan memprovokasi dirimu sendiri,” ucap Qania lembut.
Tristan pun menurut, ia duduk di samping Qania. Baru kali ini ia melihat tatapan lembut dari wanita itu dari jarak yang begitu dekat sehingga ia tak bisa mengalihkan pandangannya.
“Jangan terus menatapku. Wajahku tidak akan berubah meskipun kau terus menatapnya,” sindir Qania.
“Biar saja. Aku bahkan sangat ingin membingkai wajahmu disini.” Tunjuk Tristan ke dadanya sendiri.
“Lebay deh.”
“Qania,” panggil Tristan lirih.
“Ya.”
“Maaf,” cicitnya.
Qania yang duduk menghadap ke depan kini berbalik dan berhadapan dengan Tristan.
“Katakan darimana kau mendapat pikiran seperti itu?” ucap Qania dengan raut wajah yang serius.
“A-aku, aku terpikir sendiri,” jawab Tristan.
“Entah siapa yang sudah meracuni pikiranmu itu. Aku ini bukan tipe wanita yang suka bermain teka-teki,” dengus Qania.
Apa katanya? Bukan tipe wanita yang suka bermain teka-teki? Hei lalu selama ini yang kau lakukan padaku apa? Terang-terangan membuatku galau begitu?
Tristan hanya bisa mengumpat dalam hati tentu saja.
“Dengar baik-baik! Aku tidak pernah ada niat untuk menjebakmu. Kau pernah melihat tidak kalau yang aku katakan itu berbanding terbalik dengan yang sebenarnya aku inginkan? Bukankah aku selalu berkata sarkas padamu?” tanya Qania pelan-pelan.
Tristan mengangguk, “Bahkan selalu begitu,” timpalnya.
“Kau pun tahu. Tristan, aku tidak akan menjebakmu. Justru apa yang aku minta padamu itu adalah ujian dariku jika aku memang ingin mengetahui seperti apa perasaanmu padaku. Bukan seperti itu, bukan seperti apa yang kau pikirkan itu. Justru dengan kau bertunangan aku malah merasa kau benar-benar mencintaiku,” ucap Qania dengan lembut sambil membelai wajah Tristan.
“Kenapa?” Tristan menahan tangan Qania yang akan menjauh dari pipinya, ia menempelkan tangan Qania di pipi kanannya dengan tangannya menahan tangan Qania.
“Karena kau bisa melakukan apa saja yang aku inginkan termasuk mengorbankan perasaanmu. Dengan kau bertunangan dan melakukan apa yang aku minta sudah terbukti bahwa perasaanmu padaku tidak main-main. Aku bahkan tidak ragu kau akan menuruti apapun keinginanku setelah melihat perjuanganmu kali ini. Coba katakan kenapa kau memilih untuk bertunangan dengan Marsya?”
“Karena kau yang menyuruh? Bukankah aku sudah bersikeras untuk menolaknya. Dan kau, malah menyuruh dan mengancamku untuk tetap bertunangan,” jawab Tristan.
“Kenapa kau tidak menolak saja? Bukankah kau tidak ingin bertunangan?” tanya Qania.
“Karena kau yang memintanya. Apapun akan aku lakukan demi dirimu meskipun harus menuruti keinginan gilamu itu. Karena kau, karena aku mencintaimu Qania Salsabila Wijaya,” tandas Tristan.
“Nah, bukankah itu adalah bukti bahwa kau benar-benar mencintaiku dan aku tidak perlu ragu lagi padamu. Hal besar seperti ini saja yang jelas nyata menyangkut perasaan bisa kau lakukan demi diriku, bagaimana kau tidak lulus ujian dan merasa payah. Dasar bodoh. Hanya wanita tak tahu diri saja yang melihat semua usahamu ini gagal dan seperti apa yang kau pikirkan. Aku tidak seperti itu,” ucap Qania penuh penekanan.
“Benar begitu?” tanya Tristan memastikan.
“Entahlah, aku ingin pulang,” jawab Qania merasa jengah.
“Baiklah aku percaya padamu. Emmm, boleh aku meminta hadiah untuk perjuanganku?” tanya Tristan dan Qania hanya mengangkat sebelah sudut alisnya.
“Bisakah aku memelukmu? Kita akan berpisah Qania. Dan mungkin dalam waktu yang cukup lama,” lirihnya.
Tristan terkejut saat ia masih dalam mode sedihnya, Qania sudah menghambur memeluknya. Mendapat serangan mendadak tentu saja Tristan begitu bahagia, ia pun membalas pelukan tersebut tak kalah eratnya. Beberapa menit mereka terdiam hingga akhirnya Qania melepaskan pelukan itu lebih dulu.
“Terima kasih,” ucap keduanya secara bersamaan.
Dengan perasaan tanpa ragu Qania menangkup kedua pipi Tristan dan mendaratkan satu kecupan yang cukup lama di kening Tristan.
Aku yakin ini kamu Ka. Aku yakin ini kamu. Kamu adalah Arkanaku, aku tidak pernah merasa seyakin ini sebelumnya. Tunggu aku Ka, tunggu aku membuktikan segalanya. Aku akan membawamu kembali. Hati aku tidak akan pernah salah merasai. Hati ini begitu yakin kamu adalah Arkanaku, tunggu aku Ka.
Tristan merasakan ada lelehan air mata yang membasahi wajahnya. Entahlah, ia pun merasa sedih tapi ia tidak tahu kenapa.
“Maaf,” cicit Qania setelah melepaskan ciumannya.
“Tidak bisa dimaafkan. Aku akan membalasnya. Kemarikan wajahmu,” ucap Tristan menyeringai.
Qania, ia hanya pasrah saja saat Tristan menghujani ciuman di wajahnya. Ia kali ini tidak merasa risih. Hatinya berkata bahwa pria di hadapannya yang sedang asyik menciumi wajahnya ini adalah suaminya, Arkana Wijaya.
.... . . . . . . . ...
Dua Bab dijadiin satu 😁
__ADS_1