
Qania mengaktifkan ponselnya dan menemukan begitu banyak pesan dari Tristan serta panggilan tak terjawab. Qania tak berniat membalas. Sekarang pukul sepuluh di tempatnya dan itu berarti di tempat tristan masih sore. Qania masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan berganti pakaian tidur. Ketika ia kembali, ia melihat ponselnya sedang mendapatkan panggilan video dari Tristan.
Qania masih ragu untuk menjawabnya karena saat ini ia sedang menguji hatinya dan berniat memberikan semua waktu dan kasih sayangnya hanya untuk Arqasa saja. Saat ini bukan lagi perasaannya yang menjadi prioritas utama tetapi Arqasa lah pemilik semua itu.
Qania mencoba abai namun ponselnya terus menampilan panggilan video dari Tristan. Ingin marah dan mematikan ponsel namun ia berpikir Tristan pasti akan curiga dan bisa saja pria itu nekad untuk datang.
“Hmm,” ucap Qania begitu melihat wajah Tristan yang sedang tersenyum.
“Sumpah?! Apakah seperti itu ucapan yang baik untuk menyapa seseorang,” ucap Tristan meledek namun juga sedang menormalkan perasaannya yang kembali dibuat tak menentu karena deheman Qania dan wajah datar itu.
“Kalau tidak ada yang penting aku tutup dulu panggilannya,” ucap Qania.
“Eh jangan dong,” cegah Tristan. “Kamu apa kabar? Darimana saja? Sejak siang tadi kamu mengabaikan ku,” tanya Tristan dengan sedikit rengekan.
“Aku sibuk. Bukankah kamu juga sedang sibuk menjaga tunanganmu? Kenapa berani menghubungiku?”
Tristan tercekat.
“Qania tolonglah jangan berkata begitu. Biar aku ingatkan kalau yang menyuruh aku buat tunangan itu adalah kamu!” ucap kesal Tristan.
“Ya. Lalu apa ada yang penting? Di tempatku sudah pukul sepuluh malam dan aku harus tidur,” ucap Qania malas.
Eh? Bukankah harusnya baru pukul sembilan? Batin Tristan bertanya.
“Pertama-tama izinin aku buat ngungkapin rasa rindu aku yang begitu bes—“
“Nggak usah basa-basi, langsung ke inti saja,” potong Qania.
Tristan terdiam sesaat, ia berpikir keras apa ia berbuat salah sehingga wanita arogan itu malam ini bersifat tak bersahabat dengannya.
“Oh oke. Aku hanya ingin bertanya, apa Om Alvin terlibat kasus imyang yang sama dengan Pak Handoko? Apa kamu tahu sesuatu yang aku tidak ketahui?” tanya Tristan penuh harap Qania mau menjawab pertanyaannya.
Qania mengangkat sebelah alisnya.
“Soalnya gerak-gerik Om Alvin mencurigakan dan aku yakin ada sesuatu yang ia sembunyikan dan aku lebih yakin lagi kalau kamu pasti tahu sesuatu,” lanjut Tristan.
“Kenapa?” tanya Qania.
“Karena aku dan Marsya curiga kal—“
“Kenapa bertanya padaku? Apa kita sedekat itu sehingga aku harus menjawab pertanyaanmu?” ucap Qania dengan datar namun penuh penekanan.
Tristan terhenyak. Ia tidak percaya bahwa Qania berkata seperti itu padanya.
“Qania, kau?”
“Kau adalah pihak lawan yang tidak seharusnya aku beritahu apapun,” lanjut Qania masih dengan ekspresi datarnya.
__ADS_1
“Jangan salah sangka dulu, aku tentu saja berada di pihakmu. Lagi pula aku yang salah karena menanyakan yang tidak ada hubungannya denganmu. Masalahmu hanya dengan Pak Handoko saja. Jika pun tidak ingin memberitahu itu tidak jadi masalah,” ucap Tristan yang merasa bahwa Qania salah paham terhadapnya.
“Baiklah kalau kau mau tahu. Ya, aku yang melaporkan calon mertuamu itu. Aku yang sudah membuatnya tidak tenang bahkan untuk bernapas sekalipun. Semua bukti kejahatannya bersama Pak Handoko ada di tanganku dan sidang kemarin Pak Handoko sudah menerima hukumannya, tinggal menunggu sahabatnya saja.”
“Ap-apa maksudnya? Kau sudah sidang?” tanya Tristan.
“Ya sudah. Itu bukan menjadi urusanmu juga. Sekarang aku mengantuk dan ingin tidur. Kalau terus berbicara denganmu anakku akan terbangun. Selamat malam,” ucap Qania kemudian langsung mematikan panggilan video mereka.
Qania menyimpan ponselnya di atas nakas kemudian berbaring bersama Arqasa yang kini sudah berpetualang di alam mimpi. Ia mencoba menormalkan perasaannya.
Seperti ini saja Qania. Jangan terlalu dekat dan jangan juga terlalu menjauh darinya. Cukup bersikap biasa-biasa saja sampai nanti hasil tes DNA itu keluar. Jika memang dia Arkana maka akulah yang akan datang mendekatinya. Sekarang cukup fokus saja pada Ar dan penyusunan skripsi.
Tristan menatap tak percaya pada ponselnya yang kini menampilkan wallpaper wajah cantik Qania. Ia masih terdiam dengan ucapan dan tingkah Qania tadi.
“Apa ada yang salah?” gumamnya lirih.
“Tadi Qania menyebut anak? Apa itu artinya dia ada di rumahnya dan bukan berada di kontrakannya? Sidang. Sidang pun sudah berlangsung dan dia sama sekali tidak memberitahuku? Apa aku ini tidak berarti apapun baginya? Apa hanya karena wajah ini dia begitu mudah membuatku melayang dan juga sangat mudah menghempaskan aku? Semakin hari aku semakin tidak paham dengannya. Dia begitu sulit untuk sekadar dipahami.”
Tristan merenung, memikirkan apa yang salah dari dirinya atau apa Qania memang hanya memerlukannya saat merindukan wajahnya saja. Lama ia terdiam hingga ponselnya berdering menampilkan panggilan dari Marsya.
“Tris kamu dimana?”
“Aku di hotel, tadi ada sedikit pekerjaan. Kau butuh sesuatu?”
“Tidak. Aku hanya kesepian. Datanglah segera.”
“Baiklah.”
Sebelum masuk ke ruang rawat Marsya, Tristan beberapa kali menghela napas dan menormalkan ekspresi wajahnya.
“Tris, akhirnya kamu datang juga. Aku kesepian,” ucap Marsya sedikit manja dan Tristan hanya tersenyum sangat tipis padanya.
. . .
Setelah mengantar Arqasa ke sekolah, Qania melaju ke kantor Papa Setya dan sampai disana seperti biasa ia disambut dengan ramah. Qania pun segera menuju ke ruangan Papa Setya dan mendapati di atas meja di dekat sofa ada banyak buku yang sudah Papa Setya sediakan untuknya setelah ia memberitahu judul skripsinya kemarin.
“Kamu baca dulu, Papa tinggal sebentar karena ada urusan di bawah. Hanya sepuluh menit, oke,” ucap Papa Setya dan Qania hanya mengangguk sekaligus tersenyum senang menatap buku-buku yang ia yakin sedikit banyak akan membantunya.
Qania langsung berbaur dengan buku-buku tersebut. Ia membuka laptopnya kemudian melihat daftar isi dari buku-buku itu. Ada tiga buku yang ia ambil karena di dalam daftar isinya ada materi yang ia butuhkan. Saking seriusnya ia pun tidak menyadari kedatangan Papa Setya.
Qania terkekeh saat Papa Setya menegurnya terlalu serius hingga mengabaikannya. Mereka pun mulai membaca dan mencocokkan dengan batasan masalah dalam skripsi Qania. Papa Setya paling banyak membantu dan Qania hanya menerima penjelasan saja.
Satu keuntungan bagi Qania, ia memiliki mertua yang paham tentang hukum. Ia tidak perlu repot kesana-kemari mencari narasumber. Ia sudah disuguhkan di depan mata dan tak akan merasakan yang namanya lelah menunggu mendapat kesempatan mewawancarai atau menunggu kuisionernya mendapat respon.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum Mi, Kakek,” ucap Arqasa yang tiba-tiba muncul.
“Wa’alaikum salam. Ar sama siapa datang Nak? Maaf Mami lupa jemput Ar,” ucap Qania kemudian merentangkan tangannya dan Arqasa segera berlari ke pelukan Maminya.
“Tadi Papa minta Pak Anwar untuk menjemput Ar,” jawab Papa Setya mewakili.
“Oh gitu. Ar sudah makan? Kita pergi makan atau pesan makanan?” tanya Qania lagi.
“Papa juga udah pesanin. Sekarang kamu bantu Ar ganti baju. Anakmu pasti lelah dari sekolah. Ini dicukupkan dulu, nanti setelah makan siang baru di lanjut lagi,” ucap Papa Setya.
Qania mengangguk lalu mengajak Arqasa masuk ke dalam kamar pribadi Papa Setya. Ketika Qania dan Arqasa keluar, mereka melihat sudah ada banyak makanan di atas meja.
“Wah kakek, aku benar-benar sangat suka makanan ini,” ucap Arqasa senang.
“Kakek memang sengaja pesan ini buat cucu kakek yang tampan,” ucap Papa Setya.
“Makasih Kek,” ucap Ar kemudian menghambur memeluk kakeknya.
“Sama-sama sayangnya Kakek.”
Ketiganya pun duduk makan sambil bercerita. Lebih tepatnya mendengarkan Ar bercerita dengan lepas membagikan perasaan dan pengalamannya hari ini di sekolah.
“Pa, ini belum jam makan siang tapi makanannya udah habis,” ucap Qania setelah melihat makanan mereka tandas.
“Nanti bisa pesan lagi,” jawab enteng Papa Setya.
“Ya, ya, ya,” ucap Qania mencebik sementara Papa Setya dan Arqasa tertawa.
Qania pun tidak lagi melanjutkan mengerjakan skripsinya karena ia sudah berjanji untuk tidak mencampuri urusan lain jika sedang bersama Arqasa. Papa Setya pun pamit karena ada meeting yang akhirnya ia setujui karena Qania belum melanjutkan skripsinya.
Qania dan Arqasa bermain dengan mengelilingi gedung kantor Papa Setya. Mereka menyapa para karyawan, mengunjungi hampir semua ruangan lalu berakhir di kantin dengan banyak camilan di atas meja mereka.
Hampir dua jam Qania menemani Arqasa berkeliling akhirnya bocah itu kelelahan dan memilih tidur di kamar pribadi kakeknya. Hampir sejam Papa Setya baru datang dan mereka pun melanjutkan mengerjakan skripsi Qania dengan santai.
Pukul lima sore mereka baru beranjak dari kantor. Qania menyunggingkan senyuman karena kini skripsinya tinggal ia ketik seusia aturan dan mungkin dua hari kemudian ia akan kirimkan filenya pada Pak Erlangga dan Pak Agus untuk asistensi pada kedua dosen pembimbingnya itu.
Satu hal yang membuat Qania bisa tenang mengerjakan skripsinya, ia memblokir nomor telepon Tristan. Sadar tidak sadar, perbuatannya tersebut membuat seorang pria tampan dan mapan di negara berbeda tidak berhenti menggerutu dan juga merasa frustrasi karenanya.
“Qania, jika kamu marah ya tinggal bilang. Nggak harus blokir gue juga. Lo nggak tahu gimana rasanya rindu sama seseorang yang nggak bisa Lo sentuh. Jangankan sentuh, Lo nggak bisa mandang dia karena terhalang jarak yang sangat jauh,” keluh Tristan di dalam kamar hotelnya.
Ia terdiam sejenak.
“Oh gue salah, dia bahkan paling tahu bagaimana rasanya merindukan sosok yang meskipun ia berusaha sekuat tenaga ia tidak akan pernah bisa bertemu lagi kecuali lewat mimpi,” lirihnya.
Tristan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, ia benar-benar merasa sedih. Tanpa terasa bulir bening itu turun dari kedua sudut matanya. Entah apa, ia tak tahu tapi hatinya terasa begitu sakit saat tak bisa mendengar suara Qania.
“Kenapa? Kenapa gue jadi mellow gini sih karena wanita itu? Kenapa gue jadi kayak gini?” isaknya.
__ADS_1
Di tempat berbeda, Qania yang sedang menikmati makan malamnya mendadak tersedak karena merasa ada yang sesak di dadanya tapi entah apa. Ia pun buru-buru menegak air minumnya. Air matanya menetes karena tersedak tadi.
Tristan?