
“Naik!” Perintah Qania begitu ia dan Tristan keluar dari kafe.
Tristan mengernyit, ia merasa gagal paham dengan ucapan Qania barusan.
“Na-naik?”
“Iya, naik. Mau ikut bersamaku, kan?”
“Tapi bukannya harus kamu yang naik di belakang ya, Qania? Masa saya yang dibonceng sih. Nggak, saya nggak mau. Apa kata orang yang lihat nanti?” Tolak Tristan.
“Ck … ini motor siapa?” Tanya Qania dengan melipat kedua tangannya di atas dada, kakinya berjinjit untuk menahan agar motornya tidak oleng.
“Ya motor kamu lah,” jawab Tristan.
“Makanya yang bawa juga ya aku. Lagian ini baru beberapa jam yang lalu aku beli jadi nggak diizinin orang lain buat menyetir,” ucap Qania keukeuh.
Tristan mendengus, masa iya dia harus dibonceng oleh Qania. Mau di taruh dimana mukanya jika banyak yang melihat ia dibonceng seorang gadis. Namun, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
‘Tidak apa lah dibonceng Qania. Lagi pula ini juga menyenangkan. Mari kita nikmati kebersamaan ini, Tristan Anggara. Besok Qania harus kembali lagi ke lokasi KKN. Manfaatkan waktu sebaik mungkin.’
“Baiklah,” ucap Tristan mengalah. Ia pun langsung naik ke atas motor, dan Qania langsung melajukan motor tersebut menuju ke rumah Tristan.
Sepanjang perjalanan Qania terus tertawa, ia sengaja membuat motor tersebut berbelok-belok agar Tristan yang dibonceng itu ketakutan. Dan memang benar, Tristan tidak berhenti untuk meminta Qania berhenti dan memaksa dia yang menyetir. Namun semakin Tristan taku, semakin Qania bersemangat mengerjainya.
‘Hahaha … aku ini istri Arkana Wijaya, pembalap liar yang sangat tampan dan sialnya aku sangat cinta kepadanya.’
Betapa berkali-kali lipatnya rasa malu yang sedang dirasakan oleh Tristan. Pandangan mata para pejalan kaki, ejekan dari anak-anak berseragam putih abu-abu, serta senyum ejekan dari pengendara motor lainnya. Ditambah lagi wajah tampannya yang terpampang nyata tanpa mengenakan helm pengaman atau kacamata dan masker, jadilah ia bahan tertawaan orang-orang yang melihatnya. Wajah panik serta teriakannya itulah yang membuat orang-orang teralih pada mereka.
Sementara Qania, ia terus tertawa karena sudah berhasil membuat Tristan malu berkali-kali lipat. Ia bahkan tidak peduli Tristan yang terus mengumpat pada orang-orang yang mengejeknya.
‘Hahaha … perutku sakit jika terus seperti ini. Hahaha … betapa menyenangkannya menjadi orang yang menyebalkan. Dan aku belajar itu darimu, Arkana Wijayaku.’
Qania pun melajukan motor tersebut dengan kecepatan tinggi ketika lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna hijau karena ia sudah kasihan pada Tristan dan perutnya yang sudah sakit karena terus tertawa. Hampir saja Tristan terjatuh kalau tidak refleks memeluk Qania. Alhasil sampai di rumahnya pun Tristan terus memeluk Qania, dan ia menikmatinya.
Tristan dan Qania masuk ke dalam rumah, pak Yotar dan bi Ria yang melihat keduanya tertawa lepas membuat mereka ikut tersenyum. Tawa yang jarang mereka lihat dari majikan mereka yang selalu sibuk bekerja itu, dan tidak sama seperti bersama Marsya yang jarang menyapa mereka.
“Kamu tunggu disini, aku mau ganti baju dulu,” ucap Tristan meninggalkan Qania yang sedang duduk di ruang nonton tanpa menggubris ucapannya dan Tristan pun hanya bisa mendesah.
Mata Qania tertuju pada sebuah album foto yang terletak di meja, ia pun langsung mengambilnya. Ia tersenyum melihat foto-foto Tristan bersama Marsya yang nampak begitu mesra dan sangat serasi. Ia jadi teringat akan foto-fotonya bersama Arkana, dan juga ia kembali mengingat bagaimana ia begitu terkejut saat pertama kali masuk ke kamar Arkana dan mendapati fotonya yang begitu banyak.
Setelah melihat satu album, Qania kembali mengambil satu album lainnya dan ia tertawa karena itu adalah album foto Tristan dan Marsya mengenakan seragam abu-abu.
“Hahaha … wajahnya SMA dan sekarang sama saja, terlihat tua,” ejek Qania pada foto Tristan.
Lembar demi lembar album foto sudah Qania buka, namun ada yang mengganjal di benakknya. Ia mengernyit dan terus menatap foto tersebut berulang-ulang.
‘Sepertinya foto ini belum lama di ambil, tapi Tristan kan udah tiga puluh tahun dan pasti foto ini sudah lama dong. Atau perasaanku saja?’
Qania kembali menyimpan album foto tersebut kemudian ia naik ke lantai dua untuk mengganti pakaiannya karena Tristan sudah cukup lama berada di kamarnya, ia juga tadi sudah membeli dua pasang pakaian.
Yang tidak diketahui Qania adalah Tristan yang sebenarnya sedang bingung memilih pakaian yang akan ia kenakan. Tempat tidurnya bahkan sudah dipenuhi pakaian yang terus ia coba namun ia merasa tidak cocok.
Qania mengetuk pintu kamar Tristan. “Pakai kaos biasa aja, nggak usah formal-formal amat. Dan jangan lama dandannya, laki kok dandannya lama sih,” cibir Qania kemudian masuk ke kamar yang semalam ia tempati.
__ADS_1
Mendengar ucapan Qania membuat Tristan terkejut, kemudian ia tertawa sendiri melihat dirinya di depan cermin yang tidak mengenakan baju.
“Tristan, kau seperti remaja yang akan pergi untuk melakukan first date.”
Hampir sepuluh menit keduanya sama-sama keluar dari kamar dan saling memandang. Namun dengan cepat Qania memutus tatapan mereka tapi tidak dengan Tristan. Padahal Qania tidak berdandan sama sekali dan bergaya seadanya namun tetap saja Tristan terpesona pada wajah natural itu.
“Mau jalan atau mau disana saja?” Sindir Qania.
Tristan mengerjapkan matanya, ia tertawa sambil menggaruk belakang kepalanya. Qania menggelengkan kepalanya melihat kelakuan aneh Tristan dua hari ini. Keduanya pun sama-sama menuruni tangga.
Ketika sampai di depan rumah, bi Ria dan pak Yotar yang sedang berbincang di pos penjagaan terpana melihat keduanya yang terlihat seperti pasangan remaja dengan Tristan yang hanya mengenakan kaos serta celana jeans selutut dan Qania yang mengenakan dress di bawah lutut. Benar-benar definisi pasangan serasi, pikir mereka.
Qania menyodorkan kunci motor kepada Tristan. “Bawa aku keliling kota.”
Senyum mengembang di bibir Tristan, dengan cepat ia menyambar kunci motor tersebut.
“Dengan senang hati baby,” ucapnya kemudian naik ke atas motor dan memakai helm milik Qania.
Setelah motor dibelok oleh Tristan, Qania langsung mengikat rambutnya dan hal tersebut membuat Tristan terbengang. Qania lalu memakai masker dan kacamata hitam, kemudian ia naik ke atas motor.
Qania memukul pundak Tristan. “Ayo, jangan bengong aja.”
“Eh i-iya,” ucap Tristan terbata kemudian langsung menarik gas meninggalkan pak Yotar dan bi Ria yang terus berdecak kagum pada keduanya.
Tristan membawa motor tersebut dengan kecepatan sedang, ia ingin waktu bergerak lambat agar ia bisa terus merasakan kebahagiaan bersama Qania yang mungkin tidak akan sedekat ini lagi setelah masalah ini selesai dan Qania pun besok sudah harus kembali lagi ke lokasi KKN.
“Kan di atas kepala ini bulan, Tristan,” sahut Qania asal.
Tristan diam, namun beberapa saat ia tersadar. “Hahahaha … panas ya bulannya.”
“Iya, bulan jam satu siang itu sangat panas makanya aku harus melindungi wajahku,” sungut Qania.
“Kita beli helm dulu, gimana?” Usul Tristan.
“Boleh deh, setelah itu kita ke toko bangunan,” ucap Qania menyetujui.
Tristan pun langsung melajukan motor tersebut dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba saja terlintas ide di benaknya dan ia langsung mengerem motor tersebut secara mendadak hingga akhirnya tubuh Qania terdorong ke depan dan menempel di punggung Tristan dengan tangan yang refleks memeluk Tristan.
“Tristaaaannn ….”
“Maaf Qania, tadi ada kucing nyebrang,” ucap Tristan menahan tawa.
“Kucing dari mana yang tiba-tiba muncul di jalan raya begini dan siang bolong kayak gini? Cari mati dia?” Sungut Qania.
Terdengar kekehan dari depan, Qania langsung paham dengan apa yang dilakukan Tristan.
“Oh, kamu modusin aku ya ….”
Tristan menarik tangan Qania yang akan melepaskan pelukannya. “Biar aja tangannya disini, biar lebih romantis.”
__ADS_1
“Jangan kayak gini, Tristan. Aku nggak mau jadiin kamu pelampiasan rinduku pada Arkana. Seandainya kamu itu adalah dia maka tanpa kamu suruh pun aku akan memelukmu di atas motor ini,” lirih Qania.
“Kalau gitu untuk saat ini anggap aja gue ini adalah suami elo. Kan kata lo wajah kami mirip,” ucap Tristan dengan lembut.
“Tapi ….”
“Nggak ada tapi-tapian, gue sama sekali nggak keberatan,” ucap Tristan kembali melingkarkan tangan Qania di perutnya dengan satu tangannya menggenggam tangan Qania kemudian melajukan motor tersebut dengan kecepatan sedang.
Qania rasanya ingin menjerit, satu lagi kebiasaan Arkana saat mereka berada di atas motor, tangannya yang selalu menggenggam tangan Qania yang berada di atas perutnya. Qania sangat ingin menyandarkan kepadanya di punggung Tristan, namun ia menahannya agar ia tidak larut dalam kebersamaan mereka dan agar Tristan tidak jatuh terlalu jauh dalam kekagumannya pada Qania. Qania tidak ingin bermain-main dengan perasaan seperti yang diinginkan oleh bu Maharani. Sebisa mungkin ia akan mencoba agar Tristan tidak jatuh cinta kepadanya.
Qania juga memikirkan perasaan Marsya jika tahu Tristan mengecewakannya. Bagaimana pun itu Qania sangat tahu rasanya melihat kekasihnya bersama wanita lain. Dua kali, dua kali Qania harus merasakan sakit karena hadirnya wanita lain dalam hubungannya dengan Arkana. Ia belum lupa bagaimana rasa sakitnya saat melihat Arkana dan Syeril, serta Arkana yang hampir menikah dengan Susan. Ia tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan Tristan dan Marsya. Seandainya Tristan adalah Arkana, maka tanpa disuruh pun Qania akan berusaha keras merebutnya dari Marsya. Tapi sayang, kenyataan tidak lah seperti yang diharapkan Qania.
“Yuk turun,” ajak Tristan saat mereka sampai di depan toko yang menjual helm.
Qania yang tadinya sedang melamun pun tersentak, namun dengan cepat ia menormalkan ekspresinya kemudian turun dari motor dan langsung melenggang masuk ke dalam toko.
Tristan memilihkan helm untuk Qania dan langsung memasangkannya di kepala Qania. Qania mendongakkan kepalanya sehingga keduanya saling bertatapan.
‘Ya Tuhan, sepertinya aku harus menyediakan jantung cadangan kalau terus seperti ini. Waktu, tolong cepatlah berlalu. Aku tidak ingin terjebak seperti ini dengannya. Ini seperti kisah cinta di lagu Justin Bieber yang judulnya Stuck In The Moment. Hahhh ….’
‘Qania, gue benar-benar suka dan jatuh cinta sama lo. Perasaan ini beda dengan apa yang gue rasain ke Marsya. Gue harus secepatnya meluruskan ini semua.’
Qania berdehem untuk menyadarkan Tristan yang masih terus menatapnya, kemudian ia meninggalkan Tristan dan langsung membayar helm yang sudah ia pakai itu.
“Yuk,” ajak Qania menarik tangan Tristan.
Tristan tersentak. “Udah? Aku bayar dulu, kamu tunggu disini.”
“Udah aku bayar, buruan,” ucap Qania menarik tangan Tristan.
“Kamu ini gimana sih Qania? Pakaian beli sendiri, motor pun beli sendiri, dan sekarang helmnya juga beli sendiri. Terus apa gunanya gue sih, Qania?” Keluh Tristan saat mereka berjalan menuju ke parkiran motor.
“Cukup diam dan perlihatkan wajah tampanmu itu dengan sedikit senyuman padaku,” jawab Qania dengan cepat namun tidak begitu jelas terdengar oleh Tristan.
“Apa? Kamu bilang apa tadi?”
“Aku bilang nanti aku akan menagih padamu setelah ini. Ayo buruan, kita pergi ke toko bangunan kemudian kita jalan-jalan. Memangnya kau tidak ingin menikmati kebersamaan kita ini? Besok aku balik loh ke lokasi KKN dan setelah KKN aku bakalan balik ke kampungku dan kita tidak akan bertemu lagi,” ucap Qania panjang lebar, ia berusaha menakan perasaannya saat ini.
“Apaaa?” Tristan terkejut, hatinya langsung terasa ngilu begitu mendengar bahwa ia tidak akan bertemu Qania lagi.
“Sudah nggak usah kaget, cepat kita jalan mumpung masih ada waktu. Mungkin saja nanti malam kita tidak akan bisa bertemu lagi,” ujar Qania yang membuat Tristan membelalakkan matanya.
Baru saja Tristan ingin bersuara, Qania langsung menatap horror padanya sehingga ia pun langsung naik ke atas motor. Setelah itu Qania naik dan tanpa disuruh langsung melingkarkan tangannya ke perut Tristan sehingga membuat Tristan tersenyum dan tanpa buang masa langsung membawa motor tersebut melaju di atas aspal.
‘Setidaknya sebelum kita tidak bertemu lagi dan aku tidak bisa menikmati wajah tampan suamiku lagi aku akan membuatmu senang dan akan membuat senang hatiku sendiri tentu saja.’
Tristan dan Qania pun sampai di toko bangunan dan langsung membeli kebutuhan yang diinginkan Qania. Tristan meminta agar barang tersebut di antar ke desa X di rumah kepala desanya. Setelah memastikan semuanya sudah di bereskan, Tristan langsung mengajak Qania jalan-jalan.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1