Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Memori masa lalu (2)


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian, Alisha akhirnya melahirkan anak perempuan yang tidak lain adalah Qania Salsabila, nama tersebut diberikan langsung oleh Ayu saat Alisha baru saja selesai melakukan persalinan secara normal.


“Cantiknya calon mantu mama” ucap Ayu sambil menimang bayi Alisha yang baru saja diberikan oleh suster.


“Makasih loh mbak, ternyata dugaan kamu benar anak kita berlawanan jenis kelamin” ucap Alisha.


“Aku sudah begitu yakin, kamu sih ragu-ragu” ledek Ayu. “Oh iya, siapa namanya Al?” tanya Ayu lagi.


“Aku sama mas Zafran belum menyiapkan namanya mbak” jawab Alisha dengan polosnya.


“Aku yang beri nama boleh nggak?” tanya Ayu.


“Hei ma itu anak Zafran sama Alisha, kok kamu yang pertama nimang dan ngasih nama sih” tegur Setya yang tengah menggendong Arkana.


“Hahaha nggak apa-apa bro, dia kan dari awal sudah menjodohkan keduanya dari masih janin” ucap Zafran.


“Yey, baiklah. Kalau gitu aku namain dia Qania Salsabila” ucap Ayu kemudian mencium bayi mungil itu.


“Nama yang cantik” ucap Alisha.


“Secantik orangnya” sambung Setya.


___


Tidak terasa waktu berjalan dan kini dua bayi itu sudah memasuki usia satu tahun dan kedua orang tua mereka selalu menghabiskan waktu bersama setiap liburan, namun kedua ibu mereka hampir setiap hari menghabiskan waktu bersama.


“Mbak nggak kerasa ya udah setahun aja dua bayi ini” ucap Alisha, kedua orang tua tersebut tengah berada di rumah Alisha bersama kedua bayi mereka.


“Iya nih, nggak kerasa ya. Seperti baru kemarin kita melahirkan mereka” sahut Ayu.


“Oh iya mbak, titip Qania dulu ya. Aku mau ambil minum sama camilan buat kita” pinta Alisha.


“Baiklah, aku juga merasa haus” jawab Ayu sembari tersenyum.


Alisha berjalan kearah dapur untuk mengambil camilan dan menyiapkan minuman untuk keduanya. Sementara Ayu bermain di ruang bermain anak Alisha bersama kedua anak itu.


“Ya Tuhan, mengapa sakit ini datang disaat seperti ini” ucap Ayu sembari memegangi perutnya yang amat nyeri.


“Ku mohon izinkan aku untuk tetap kuat demi anakku ya Tuhan”..


Wajah Ayu kini terlihat begitu pucat karena sakit yang tiba-tiba kambuh. Ia bahkan tidak dapat memperhatikan kedua bayi yang tengah bersamanya karena rasa sakit yang menderanya. Alisha yang datang dengan membawa nampan berisi dua jus jeruk dan dua toples camilan langsung terkejut melihat Ayu yang bersandar di dinding sambil memegangi perutnya. Dengan cepat ia menaruh nampannya di atas meja dan mendekati Ayu.


“Mbak Ayu kenapa mbak?” Alisha sangat khawatir.


“Aku hanya sakit perut Al” kilah Ayu.


“Nggak mbak, mbak jangan bohong. Bukan hanya sekali ini aku melihatnya, aku sudah lama memperhatikan mbak kesakitan. Ayo kita ke rumah sakit, aku akan mengantarkan mbak sekarang juga” paksa Alisha, namun tangannya langsung di tarik Ayu.


“Aku ingin pulang ke rumah Al, boleh kah?” tanya Ayu dengan suara yang semakin lemah.


“Aku akan mengantar mbak ke rumah sakit dulu, tolonglah mbak aku sangat khawatir” bantah Alisha.

__ADS_1


“Tolong Al” ucap Ayu sebelum semuanya menjadi gelap dan ia tak sadarkan diri.


___


 


Alisha menggendong Qania kecil sambil menunggu di depan ruang IGD bersama sang suami yang tengah menggendong Arkana dan Setya yang sedang mondar-mandir gelisah menunggu dokter yang sudah hampir dua jam belum juga keluar.


“Setya, duduklah” pinta Zafran.


“Aku nggak bisa duduk tenang sementara istriku.. Entah apa yang terjadi padanya” ucap Setya sambil menjambak rambutnya.


“Kita berdoa semoga saja Allah melindungi mbak Ayu” ujar Alisha.


Tak lama kemudian dokter keluar, Setya, Zafran dan Alisha langsung menghampirinya.


“Bagaimana keadaan istri saya dok?” tanya Setya begitu terlihat panik.


“Kita harus bicara, boleh ikut ke ruangan saya?” ucap dokter tersebut dan di jawab anggukan oleh Setya.


Setya mengikuti dokter Lisman hingga ke ruangannya dan kemudian ikut duduk berhadapan dengan sang dokter yang seusianya itu.


“Man gimana istri gue?” tanya Setya, dokter Lisman merupakan sepupu Setya.


“Setya apa kamu tahu penyakit Ayu selama ini?” tanya Lisman dengan raut wajah penasaran.


“Penyakit? Ayu tidak sakit Man” jawab Setya yakin.


“Maksud kamu?” tanya Setya semakin panik.


“Dia menderita penyakit selama ini, itu disebabkan karena dia mengandung padahal rahimnya tidak dapat menerima hal tersebut karena sangat berdampak padanya dan dia tahu semua itu. Tapi Ayu memang keras kepala dan menyembunyikannya darimu. Dan aku memohon maaf, kondisinya sangat kritis. Aku tidak tahu apakah dia dapat bertahan, hanya keajaiban Tuhan yang dapat menolongnya, aku sungguh minta maaf atas hal ini” ungkap Lisman sambil menatap nanar kepada Setya yang tanpa sadar sudah menitikkan air matanya.


“Kenapa dia menyembunyikan itu semua dariku? Arrggghhhh” teriak Setya sambil melayangkan tinjunya ke udara.


“Kamu harus tahu kalau Ayu menderita penyakit..”


“Jangan sebutkan penyakitnya, itu hanya akan menyakitiku. Tolong Man, sembuhkan Ayu. Aku mohon padamu, kasihan Arkana masih sangat kecil” pinta Setya yang kini sudah menangis sejadi-jadinya.


“Aku akan berusaha unt..” belum sempat Lisman menyelesaikan ucapannya, telepon di ruangnya berbunyi dan ia segera mengangkatnya.


“Hallo” sapa Lisman.


“Dok pasien di IGD atas namanya nyonya Ayu mengalami kejang” jawab suster tersebut terburu-buru yang masih terdengar oleh Setya.


“Baik saya segera kesana” ucap Lisman kemudian dengan kasar meletakkan kembali telepon tersebut dan menatap Setya yang terdiam mendengar ucapan dari telepon tersebut.


“Aku mohon bersabarlah dan berdoalah” ucap Lisman sambil menepuk pundak Setya lalu pergi meninggalkan sepupunya itu dengan berlari.


Setya yang sempat terdiam langsung sadar dan mengejar Lisman. Di ruangan tersebut terlihat beberapa dokter dan suster yang sibuk keluar masuk, membuat Alisha dan Zafran bertanya-tanya. Sampai akhirnya Setya datang dengan wajah yang basah oleh air mata dan duduk bersandar lemah di depan pintu ruangan IGD.


“Mas ada apa? Apa kata dokter? Dan mengapa mereka begitu sibuk?” tanya Alisha yang terlihat sangat panik.

__ADS_1


Setya hanya menggeleng dengan air mata yang kembali mengalir deras. Melihat hal tersebut Zafran langsung melirik Alisha dan mengisyaratkan agar tidak bertanya apapun untuk saat ini.


__


 


Satu jam berlalu, dokter maupun suster belum ada yang keluar dari ruangan tersebut. Zafran meminta Alisha untuk pulang dan menidurkan kedua bayi itu, namun Alisha menolak karena ia ingin berada disini untuk Ayu.


“Tolonglah pa, mama hanya ingin disini sampai mbak Ayu sadar dan dokter mengatakan bahwa dia baik-baik saja” bujuk Alisha dengan air mata yang juga sudah menetes.


“Jangan keras kepala Al, kasihan kedua bayi ini” ucap Zafran masih kekeh menyuruh istrinya pulang.


“Tapi..”


Belum sempat Alisha melanjutkan kata-katanya, pintu ruangan terbuka dan dokter Lisman keluar. Setya yang duduk bersandar di depan pintu itu langsung berdiri dan memegang pundak Lisman.


“Gimana Ayu, Man?” tanya Setya seakan ingin menghajar Lisman jika kabar buruk yang ia terima.


Lisman menatap Setya, kemudian ia menggelengkan kepalanya dan mendekap sang sepupu.


“Sabar dan ikhlaslah Setya, dia kini sudah tidak sakit lagi. Maaf kami tidak dapat menyelamatkannya” ucap Lisman dengan menitikkan air mata.


Bagai disambar petir, hancurnya hati Setya. Ia mempererat dekapannya pada Lisman, menahan sakit yang mendera jiwanya. Ia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan sang sepupu.


“Nggak mungkin” lirih Alisha.


Alisha berjalan menuju ke arah Zafran yang tengah menggendong bayi Arkana yang sudah tertidur lelap. Ia mengelus lembut pipi bayi itu, merasakan sakit akan kehilangan sang ibu.


“Sungguh kasihan kamu nak, tante janji akan menjaga dan menyayangimu seperti Qania” lirih Alisha.


Suasana haru menyelimuti area tersebut, isak tangis mereka begitu terdengar lirih di telinga. Kedua bayi itu tertidur lelap dalam dekapan hangat Zafran dan Alisha.


___


 


“Aku pamit ya, nanti saat anak kita sudah besar aku akan datang lagi dan melamar anakmu” ucap Setya yang kini akan masuk ke dalam mobilnya sambil menggendong Arkana.


“Setya, baru sebulan kepergian Ayu dan kamu juga akan meninggalkan kami?” tanya Zafran yang terlihat tidak merelakan keputusan Setya untuk pergi ke luar kota.


“Disini terlalu banyak kenanganku bersama Ayu, aku akan sulit melepaskannya. Sebaiknya aku mencari suasana baru bersama anakku, agar aku bisa merelakan semuanya. Kita masih bisa saling menghubungi, aku akan sering datang ke kota ini untuk mengunjungi Ayu” ucap Setya meyakinkan dua sahabatnya itu.


“Kalau itu keputusanmu kami tidak bisa menghalanginya. Tapi ingatlah jangan lupa untuk menghubungi kami” ucap Alisha yang mengelus wajah Arkana.


“Aku pamit ya, jaga diri kalian” ucap Setya yang kemudian menutup pintu mobil, ia duduk di kursi penumpang karena ia memakai supir untuk pergi ke kota tujuannya.


Alisha dan Zafran melambai hingga mobil Setya tak terlihat lagi.


 


Flashback off.....

__ADS_1


_____


__ADS_2