
Pagi ini Qania sudah begitu sibuk mengurus anaknya, rasa lelahnya yang kemarin baru saja melakukan penerbangan kini hilang berganti dengan semangat untuk mengurusi anaknya yang sudah ia tinggal selama enam bulan itu. Qania nampak bersemangat menyuapi anaknya makan di gazebo rumahnya.
“Makan yang banyak ya anak mommy, biar cepat gede dan bisa jagain mommy” ucap Qania sambil menyuapi anaknya.
“Mam..mam” ucap Arqasa yang terus bertepuk tangan menerima suapan dari Qania.
“Iya sayang, makan ya” Qania mengacak rambut putranya yang terlihat berwarna merah kecokelatan seperti rambut Arkana.
Arqasa yang belum fasih berbicara itu terus berceloteh dengan menggunakan bahasa bayinya yang hanya sedikit bisa dimengerti oleh Qania. Meskipun begitu, Qania terus saja menjawab ocehan anaknya yang tidak berhenti berbicara dan sayangnya justru terlihat semakin menggemaskan.
“Huaaaa”,.
“Ya ampun Qania, kamu apakan cucu papa” teriak Setya yang baru saja keluar dari mobilnya dan terburu-buru berlari untuk melihat keadaan cucunya itu.
“Hehehe dia sangat menggemaskan Pa, jadi Qania gigit saja pipi gembulnya” kekeh Qania.
“Astagfirullah Qania, kamu menyiksa anakmu itu namanya” protes Setya.
“Kenapa apa papa akan menuntut Qania? Qania juga bisa loh menuntut papa, Qania udah sedikit banyak tahu loh soal hukum” tantang Qania dengan nada bercanda.
Setya yang sedang menggendong Arqasa merasa tergelitik dengan ucapan Qania tersebut.
“Oh ya? Saya ini senior loh dan kamu itu masih anak bawang sudah berani menantang saya” ujar Setya dengan seringai di bibirnya.
“Oh tentu saja bapak Setya Wijaya” ucap Qania dengan tegas.
“Kemari kau anak nakal” seru Setya membuat Qania langsung menghambur memeluk mertuanya itu.
“Rindu Pa, Papa apa kabar?” tanya Qania setelah melepas pelukannya.
“Papa juga merindukanmu nak, dan Alhamdulillah kabar papa baik-baik saja” jawab Setya sambil menurunkan Arqasa dari gendongannya dan mendudukkan cucunya itu di gazebo.
“Syukurlah”,.
Zafran dan Alisha yang kebetulan baru saja keluar langsung melihat Qania dan Setya yang tengah duduk mengobrol di gazebo langsung berjalan mendekati mereka.
“Mas Setya kapan datangnya? Udah sarapan?” tanya Alisha.
“Udah tadi di jalan, aku bahkan belum mampir ke rumah Al karena terburu-buru dari bandara kesini setelah mendapat kabar kalau menantuku sudah sampai” jawab Setya.
“Jadi gimana sama pembukaan hotelnya?” tanya Zafran.
“Alhamudlillah sukses” jawab Setya tersenyu.
“Ya udah yuk masuk ke dalam rumah, kita ngobrol di dalam aja sekalian kamu istirahat” ajak Zafran.
Mereka berlima pun masuk ke dalam rumah dengan Setya yang menggendong Arqasa dan Qania membawa peralatan makan Arqasa.
“Qania, malam ini kamu nginap di rumah mertuamu dulu ya soalnya mama sama papa ada acara selama dua hari di luar kota” ucap Zafran ketika mereka sudah berkumpul di ruang tamu.
“Nggak masalah Pa” sahut Qania yang sedang meninabobokan anaknya.
“Mas Setya sebaiknya istirahat dulu” pinta Alisha.
“Hm sebentar lagi” ucap Setya yang masih betah menatap cucunya itu padahal baru empat hari ia tinggalkan.
“Oh iya mama sama papa berangkatnya jam berapa?” tanya Qania.
“Agak sorean kayaknya” jawab papanya.
“Aku titip Arqasa dulu ya soalnya Qania mau ke makam Arkana dulu setelah Arqasa tidur” ucap Qania.
“Kamu mau papa antar?” tanya papanya.
“Enggak pa, Qania naik motor aja” jawab Qania.
“Ya sudah, sepertinya anakmu itu sudah tidur. Bawa ke kamar gih sekalian kamu siap-siap biar nanti mama yang jagain di kamar” ucap mamanya yang langsung diangguki oleh Qania.
*
“Assalamu’alaikum suamiku” ucap Qania sambil menatap sendu pusara yang bertuliskan nama Arkana Wijaya itu.
Qania menaburi bunga diatas makam Arkana kemudian membacakan doa-doa untuknya.
“Sayang aku merindukanmu, sangat banyak merindukanmu dan saat ini kamu udah nggak bisa membantahku lagi dengan mengalahkan perasaan rinduku padamu” kekeh Qania namun air mata sudah membasahi pipinya.
“Kau tahu sayang, di kampusku yang baru banyak loh pria yang mendekatiku dan memintaku menjadi kekasih mereka tapi kamu tenang aja karena aku menolak mereka semua dan hatiku tetap untukmu”,.
“Aku tahu kamu sedang merasa senang dan menang mendengar ceritaku ini, tapi itu kebenarannya. Aku kadang berpikir jika kamu ada bersamaku dan mengetahui banyak pria yang mendekatiku maka mereka akan habis babak belur di tanganmu” ucap Qania tertawa.
Qania mengusap pusara Arkana dengan penuh kelembutan, mata sembabnya menunjukkan betapa besar ia merindukan pujaan hatinya itu dan tiada yang bisa ia lakukan untuk mengobati rindunya kecuali datang ke tempat ini dan mencurahkan segala isi hatinya seolah-olah Arkana ada di depannya sedang menemaninya mengobrol.
“Oh ya sayang, kamu jangan cari bidadari dulu disana, kamu harus tungguin aku sama anak kita”,.
“Dan ya, aku mau protes! Kamu kenapa nggak pernah datang dimimpiku, hm? Dulu saja meskipun kita udah seharian menghabiskan waktu bersama tapi dalam mimpiku pun kamu tetap datang. Mengapa sudah dua tahun ini kamu nggak pernah sekalipun datang ke mimpiku? Apa kamu sudah menemukan bidadari surga?” tanya Qania dengan wajah ditekuk,.
“Tapi nggak mungkin anak balapan liar yang kerjanya berantem dan membuat onar seperti kamu bisa langsung lulus seleksi masuk surga dan bertemu bidadari disana” sambung Qania diakhiri kekehan.
Qania terus bercerita di makam Arkana itu hingga berjam-jam tanpa merasa lelah seolah Arkananya sedang ikut menjawab setiap pertanyaan dan menyahuti tiap ocehannya. Bedanya kali ini Qania sudah tidak terlalu menangisi kepergian Arkana dan lebih banyak tertawa dalam setiap cerita yang ia sampaikan di makam itu.
__ADS_1
“Hah sayang nggak kerasa loh udah hampir tiga jam aku disini. Memang ya jika bersamamu waktu nggak berasa” ucap Qania setelah melirik jam tangannya.
“Udah hampir jam tiga sore sayang, aku balik dulu ya. Pasti anakmu sedang mencariku saat ini. Kamu baik-baik ya disini, aku pergi dulu dan aku bakalan datang lagi” pamit Qania kemudian mengecup nisan Arkana.
*
Qania membuka pintu kamar Arkana, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang sama sekali tidak berubah itu dan tetap bersih karena bi Ochi setiap hari menjaga kebersihannya meski pun tidak ditempati.
Qania masuk dan langsung duduk di sofa yang menghadap ke jendela, kenangan manis dimana ia berciuman dengan Arkana langsung terbayang diingatannya membuat bibir Qania melengkung.
Qania sama sekali tidak membawa barang apapun ketika datang ke rumah ini karena barang-barangnya dan Arqasa juga tersedia di rumah Arkana ini.
“Hm sebaiknya aku turun ke bawah untuk membantu bi Ochi menyiapkan makan malam” ucap Qania kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah keluar kamar.
Di bawah terlihat pak Anwar dan Setya tengah bermain bersama Arqasa dengan banyak macam permainan yang dibelikan oleh kakeknya itu. Nampak ketiga pria berbeda usia itu sangat serius bermain membuat Qania tersenyum lalu ia melangkah menuju dapur dimana bi Ochi tengah sibuk menyiapkan bahan masakan.
“Bi Ochi mau masak apa nih?” tanya Qania.
“Eh nak Qania bikin bibi kaget saja” ucap bi Ochi yang sedang mencuci sayuran.
“Hehehe habisnya bibi terlihat sangat serius” kekeh Qania.
“Nak Qania kapan datangnya?” tanya bi Ochi yang sudah selesai mencuci sayuran.
“Kemarin bi” jawab Qania sambil membantu bi Ochi menyiapkan bahan masakan.
“Gimana nak kotanya pasti bagus dan banyak gedung-gedung tinggi kan?” tanya bi Ochi antusias yang juga ikut duduk bersama Qania.
“Iya bi, nanti kalau Qania wisudah bibi sama pak Anwar datang ya. Nanti Qania sampaikan sama papa” ucap Qania yang langsung membuat bi Ochi menghentikan aktivitasnya.
“Nak Qania nggak salah nih?” tanya bi Ochi.
“Iya bi, itu ekspresinya biasa aja” ledek Qania membuat bi Ochi malu.
“Makasih banyak nak’ ucap bi Ochi terharu.
“Iya bi sama-sama, kita kan sudah menjadi keluarga meskipun kita nggak sedarah” ucap Qania tulus.
Bi Ochi tersenyum senang, baik Arkana maupun Qania tidak pernah merendahkan statusnya dan selalu membuatnya merasa bukanlah asisten rumah tangga melainkan orang tua mereka. Bi Ochi juga sangat bersyukur karena Arkana mendapatkan Qania sebagai istrinya meskipun Arkana sudah tiada.
Setelah masakan siap, Qania berpamitan untuk melaksanakan sholat Magrib dan sudah tidak melihat lagi Arqasa dan kakeknya disana.
“Mungkin sudah berada di kamar papa” ucap Qania sembari menaiki anak tangga.
*
Qania dengan penuh kasih sayang dan kelembutan menidurkan anaknya dan karena sudah sangat mengantuk tak butuh waktu lama Arqasa pun langsung tertidur.
Qania melepaskan pelukannya dan membiarkan Arqasa tidur dengan posisi kaki yang mengangkang dan kedua tangan ke atas, pose yang sangat menggemaskan menurut Qania dan tentunya tak luput dari kamera ponselnya.
“Tempat tidur ini begitu luas dan hanya ditempati kita berdua yang bertubuh mungil” gumam Qania.
Qania melirik ke samping kanannya dimana bantal itu selalu pada posisinya seperti waktu pertama ia menghabiskan malam pertamanya dengan Arkana.
“Aku jadi ingin tertawa jika mengingat malam bersejarah itu” kekeh Qania.
Malam itu….
Setelah kepergian Rizal, Fero dan Syaquile, Arkana dan Qania masih belum juga tidur. Awalnya Qania sudah merasa enakan sehingga ia memutuskan untuk mengganti pakaiannya dengan memakai kaos Arkana dan tentu saja ****** ***** yang sempat ia buka sebelum ia dimandikan tadi oleh Arkana.
“Sayang aku rasanya sudah mengantuk, bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Arkana sambil mengambil satu bantal di atas tempat tidurnya.
“Udah enakan kok” jawab Qania yang memperhatikan Arkana.
“Bantalnya mau dibawa kemana?” tanya Qania melirik Arkana.
“Aku tahu kamu belum siap sayang, jadi aku tidur di sofa dulu” jawab Arkana sambil meletakkan bantalnya di sofa.
Qania yang sedang duduk di atas ranjang langsung berdiri dan berjalan lalu mengambil kembali bantal yang sudah Arkana letakkan di atas sofa itu.
“Kita sudah sah sebagai pasangan suami istri baik secara agama maupun hukum ya jadi nggak ada tuh kamu tidur di sofa” ucap Qania kesal sambil meletakkan bantal itu di sebelah kanannya.
“Kamu tidurnya di sebelah kanan karena aku suka menghadap ke sebelah kanan kalau tidur dan supaya aku bisa menatapmu setiap mau tidur dan saat aku bangun dari tidur” ucap Qania yang sudah merebahkan tubuhnya.
Arkana tersenyum dan langsung berjalan mendekati Qania dann ikut merebahkan tubuhnya di samping Qania, keduanya saling bertatapan dengan Qania yang berada di dalam dekapan Arkana.
“Bagaimana nanti kalau aku sampai kelepasan sayang?” tanya Arkana.
“Ya itu urusan nanti” jawab Qania yang mulai merasa tidak tenang.
Arkana bisa merasakan bahwa Qania kembali merasakan reaksi obat itu meskipun sudah berkali-kali dimandikan dan bahkan saat ini sudah hampir pukul dua dini hari.
“Sayang ini sudah subuh dan aku nggak mau kamu sakit jika harus mandi lagi” ucap Arkana mendekap erat tubuh Qania.
“Terus gimana dong sayang, hikkss?” tangis Qania, ia semakin merasa tubuhnya seolah terbakar karena rasa panas.
__ADS_1
“Kamu izinin aku buat sentuh kamu dan memilikimu seutuhnya?” tanya Arkana sambil menangkup kedua pipi Qania, pandangan mereka beradu.
Sorot mata Qania menyiratkan kebimbangan, namun beberapa detik kemudian ia mengangguk pasti.
“Toh semua sudah menjadi hakmu” ucap Qania.
“Maafkan aku sayang, aku sebenarnya ingin melakukannya nanti saat acara kita yang sebenarnya sudah dilaksanakan. Tapi kita tidak tahu akan ada kejadian seperti ini, sekali lagi maafkan aku” ucap Arkana sungguh-sungguh.
“Kau terlalu banyak bicara, cepat lakukan” protes Qania lalu mengerucutkan bibirnya.
Seringai muncul di wajah Arkana membuat Qania bergidik ngeri.
“Kau yang memintanya baby” ucap Arkana dengan suara berat.
Qania menggigit bibir bawahnya begitu Arkana mulai mencumbui leher putihnya. Desiran kenikmatan bercampur rasa geli mulai dirasakan Qania.
‘Baiklah Qania, kau tidak boleh kekanak-kanakan karena Arkana sudah sah menjadi suamimu dan setiap yang ada ditubuhmu ini sudah menjadi miliknya. Mari kita melakukan ibadah malam ini’ gumam Qania meyakinkan dirinya sendiri dalam hati.
Qania menatap Arkana yang sedang menatapnya dengan sorot mata yang sudah terbakar hawa napsu.
“Bolehkah?” tanya Arkana, napasnya sudah tidak teratur lagi, debaran jantungnya semakin cepat dan juga suaranya begitu berat.
Qania tersenyum lalu mengangguk membuat Arkana langsung menyambar bibir Qania dan keduanya saling berpagutan cukum lama. Arkana melepaskan pagutannya lalu menciumi setiap inci wajah Qania sementara tangannya sudah berhasil masuk kedalam kaos longgar miliknya yang dikenakan oleh Qania.
“Aku mencintaimu” ucap Arkana kemudian memagut kembali bibir Qania dengan kedua tangannya terus mer@mas dua gundukan di dalam kaos yang dikenakan oleh Qania.
Desahan demi desahan lolos dari mulut Qania membuat Arkana semakin terbakar napsu. Tak butuh waktu lama keduanya pun sudah tidak mengenakan sehelai benangpun dan di dada Qania sudah penuh dengan kissmark hasil karya Arkana.
“Kau siap sayang?” tanya Arkana, meskipun ia sudah tidak bisa menahan rasa sakit dibawah sana ia masih tetap menanyakan kesiapan Qania untuk memberikan satu-satunya yang paling berharga dalam dirinya.
“Aku siap” jawab Qania lirih.
“Ini akan sakit sayang, kau boleh menjambak rambutku, menggigit bahuku atau apapun itu saat aku sudah mulai melakukannya” ucap Arkana yang dijawab anggukan oleh Qania.
Beberapa kali Arkana harus menghentikan aksinya karena tidak sanggup melihat Qania yang terus merintih kesakitan. Ia lebih memilih menahan sesaknya dibandingkan harus melihat air mata Qania yang terus menetes karena rasa sakit yang ia berikan.
“Sayang aku akan baik-baik saja, sebaiknya kau jangan memikirkan aku yang kesakitan karena akan terus tertunda dan mengulur waktu” ucap Qania yang sudah kasihan melihat Arkana.
“Tapi sayang kau kesakitan” lirihnya.
“Katamu tadi hanya sakit sebentar. Bukankah kau sudah berpengalaman soal membuka keperawanan” cibir Qania.
“Ya ampun sayang jangan menyindirku seperti itu. Itu kan dulu sebelum aku sama kamu. Tapi ya anehnya waktu itu aku nggak peduli mereka merasakan sakit. Tapi melihatmu meneteskan air mata membuatku juga ikut merasakan sakit” tutur Arkana sambil membelai pipi Qania.
“Sudah lakukan saja dan jangan membuatku kesal dengan kau menceritakan pengalamanmu menyetubuhi wanita lain” kesal Qania.
“Perasaan dia yang mulai, kok jadi aku yang salah. Hah, dasar wanita” gumam Arkana.
“Aku mendengarnya” ketus Qania.
“Ya sudah ayo kita lakukan baby, siapkan dirimu untuk rasa sakit dan kenikmatan yang tiada duanya” ucap Arkana dan langsung mengejutkan Qania dengan hentakannya.
Jleebbbb
“Arghhhh” teriak Qania saking sakitnya dan juga terkejut dengan Arkana yang bergerak tiba-tiba.
Arkana meringis ketika Qania menjambak kuat rambutnya, namun wajahnya menjadi sendu melihat air mata yang kembali lolos dari kedua netra milik istrinya itu.
“Maaf sayang” lirih Arkana kemudian menciumi setiap inci wajah Qania.
Qania menjawabnya dengan anggukan, kemudian Arkana menyeka air mata Qania. Setelah ia merasa Qania sudah tidak merasakan kesakitan seperti tadi ia pun memulai aksinya hingga pelepasan terjadi dan keduanya terkulai lemas.
“Aku sangat lelah” ucap Qania dengan napas yang terengah-engah.
“Tidurlah sayang, terima kasih untuk semuanya dan aku berjanji akan menjagamu seumur hidupku” ucap Arkana sambil mengangkat kepala Qania dan meletakkannya di atas lengannya yang ia jadikan bantal untuk Qania.
Tak sampai dua menit Qania sudah tertidur membuat Arkana tersenyum sambil mengingat kejadian panas mereka tadi. Arkana mengecup seluruh wajah Qania dan pelan-pelan ia bangun untuk membersihkan tubuh bagian bawah Qania.
Arkana tersenyum melihat bercak darah yang membasahi tempat tidurnya, kemudian ia berdiri dan mengambil tisu basah di laci meja riasnya lalu dengan telaten dan perlahan ia membersihkan tubuh Qania.
“Aku mencintaimu Qania” ucap Arkana lalu mengecup kening Qania.
Arkana menarik selimut dan menyelimuti tubuh mereka lalu membawa Qania kedalam pelukannya dan ikut tertidur bersama Qania.
Perlahan-lahan Qania membuka matanya lalu mencuri ciuman di bibir Arkana.
“Aku juga mencintaimu Arkana Wijaya” bisik Qania membuat bibir Arkana melengkung.
“Aku tahu kau belum tidur, apa kau masih ingin mengulangnya” goda Arkana dengan mata terpejam.
“Kauu…”,.
“Sudah cepatlah tidur sebelum aku..”,.
Qania dengan cepat memeluk Arkana dan menenggelamkan wajahnya di dada Arkana dan langsung memejamkan matanya. Arkana terkekeh dengan tingkah Qania, kemudian ia mengecup puncak kepala Qania lalu memejamkan matanya.
Saat ini…
“Sungguh itu adalah ingatan dan kenangan termanis yang hanya akan aku lakukan dengan satu orang saja, kamu Arkana Wijaya’,.
__ADS_1
...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗