
Qania tersenyum menyambut kedatangan Raka yang sedang menenteng kardus di tangannya. Ia bukan tersenyum pada Raka sebenarnya, melainkan pada kardus yang ada di tangan Raka.
Aku sangat penasaran dengan isinya, gumam Qania dalam hati.
"Selamat sore Qan, gimana kabar Lo, udah baikan?" tanya Raka begitu ia duduk di kursi di samping ranjang Qania. Ia memangku kardus tersebut.
"Alhamdulillah udah baikan kok. Rencana besok pingin keluar aja. Kalau nggak dikasih aku bakalan maksa," jawab Qania dengan candaan.
"Dasar pemaksa," cibir Raka dengan diakhiri kekehan.
"Biarin."
"Oh iya Qan, ini kardus Lo emang isinya apa sih? Gue belum sempat buka soalnya," tanya Raka yang memang penasaran.
"Rahasia. Siniin. Dan makasih ya udah mau simpan paket dari aku. Dan maaf karena aku kamu dan Julius jadi hqrus menginap di kantor polisi," ucap Qania tak enak hati.
Raka menyerahkan kardus tersebut dan Qania langsung meletakkannya di atas pangkuan.
"Jangan minta maaf. Orang itu yang salah, dia udah kurang ajar sama Lo," ucap Raka tulus.
Saat Raka dan Qania tengah berbincang, Syaquile datang dan Qania memintanya untuk menyimpan kardus tersebut di dalam lemari. Meskipun bingung, Syaquile tetap menurut sambil terus menerka apa isi dari kardus tersebut.
Syaquile pun turut bergabung dan mereka larut dalam perbincangan mereka. Sesekali terdengar tawa hingga Qania tertidur karena tadi ia meminum obat. Syaquile dan Raka memutuskan untuk bermain game.
Ketika hari mulai senja, Raka pamit pulang bersamaan dengan datangnya Papa Setya yang entah darimana saja seharian ini.
"Oh terlihat sangat lelah," ucap Syaquile saat papa Setya duduk di sampingnya.
"Sangat. Apalagi si Handoko itu tadi membuat Om jengah. Gimana keadaan kakakmu?" tanya Papa Setya.
"Dia sepertinya baik Om. Dia memaksa untuk pulang besok," jawab Syaquile kemudian menghela napas.
"Yang benar saja. Enggak, dia harus dirawat sampai benar-benar sembuh," tolak Papa Setya.
"Tapi Qania bosan di rumah sakit Pa," seru Qania yang ternyata sudah bangun.
"Nurut sama Papa. Kalau enggak ya nanti kita tanya langsung ke dokter saja besok bagaimana-bagaimananya," ucap Papa Setya.
"Hmm." Qania hanya menjawab sekenanya.
__ADS_1
Papa Setya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian bersama dengan Syaquile ia pergi ke musholla yang ada di rumah sakit tersebut.
"Pa, aku nitip roti, camilan sama ayam bakar dan nasi ya Pa," ucap Qania sebelum mertua dan adiknya pergi.
"Iya Nak," jawab Papa Setya sambil tersenyum.
"Dek, temenin Papa ya," ucap Qania.
"Siap Kak. Kalau gitu kami pergi sholat dulu ya Kak," ucap Syaquile.
Bukan tanpa alasan Qania meminta hal tersebut dari adik dan mertuanya. Setelah keduanya pergi, Qania bergegas mengambil kardus di dalam lemari dengan berjalan sambil membawa infusnya. Ia meletakkan kardus tersebut di atas ranjangnya dan mulai mengeluarkan satu per satu isinya.
Qania terpaku melihat foto dari pemilik dokumen yang ada di dalam kardus tersebut.
"Wajahnya familiar. Tapi aku melihatnya dimana?" gumam Qania.
Qania menepis keinginannya untuk terus mengingat, ia membaca satu demi satu dokumen yang ada di hadapannya. Sesekali ia membulatkan mata karena membaca isinya. Disana juga ada sebuah flash disk yang membuat Qania penasaran dengan isinya.
"Gila, ini benar-benar gila. Mereka rupanya bermain kotor untuk bisa mencapai puncak. Dan nama ini, sangat mengganjal dipikirkanku. Mana mungkin! Aku yakin disini ada yang salah. Ada yang mencoba mengubah jalan ceritanya.
"Jika disana sudah berhasil dibuktikan, maka tinggal kebenaran ini lagi. Tapi ada hubungan apa dengan wanita itu? Apa dia yang mengubah semua jalan ceritanya? Ini semakin membuatku penasaran. Dan juga semakin membuatku yakin kalau Arkanaku masih hidup," lirih Qania diakhir kalimatnya.
Qania memutuskan untuk menghubungi Mamanya dan anaknya karena ia sangat merindukan Arqasa. Mereka melakukan panggilan video cukup lama.
Melihat pintu terbuka Qania langsung mengalihkan pandangannya. Ia tersenyum melihat kedua pria yang ia sayangi itu masuk sambil menenteng kantung plastik.
"Ma, Ar, udah dulu ya. Waktunya makan malam. Assalamu'alaikum," ucap Qania menyudahi panggilan video tersebut.
"Abis video call sama Mama, Kak?" tanya Syaquile sambil mengatur makanan untuk Qania dan untuk dirinya. Sementara Papa Setya sudah mulai melahap makanannya.
"Iya Dek," jawab Qania kemudian menerima makanan yang diberikan Syaquile sesuai pesanannya.
Syaquile menarik kursi di samping ranjang Qania kemudian ia pun mulai melahap makanannya. Qania menghirup aroma ayam bakar tersebut.
Ayam bakar akan selalu mengingatkan aku padamu Arkana Wijaya.
Qania menyantap sesuap demi sesuap sambil menahan rasa sesak di dada karena kenangan demi kenangannya bersama Arkana terus berputar bak film di benaknya. Untung saja ia tak sampai menangis atau menitikkan air mata dan lebih untung lagi karena tidak ada yang memperhatikannya. Baik Syaquile maupun Papa Setya sama-sama menikmati makanan mereka.
Jika di rumah sakit keluarga Qania tengah menikmati makan malam, lain halnya di kantor polisi. Pak Handoko tiada hentinya berteriak frustasi karena harus terkurung di balik jeruji besi. Sesuatu yang tak pernah ada dalam mimpinya sekalipun.
__ADS_1
"Awas saja kau Qania, setelah aku keluar nanti, tidak akan ada kebahagiaan yang akan kalian rasakan. Ini lagi asisten Revan kemana? Sudah mendapatkan pengacara sehebat diriku, belum sih? Aku tidak tahan berlama-lama disini," gerutunya.
"Heh berisik. Mau Lo kalau kita hajar?" sentak salah satu tahanan yang berbadan kekar serta di lengannya terdapat beberapa bekas luka sayatan dengan wajahnya yang begitu sangar.
Pak Handoko ingin meladeni namun ia urungkan karena ia yakin jika melawan maka dirinya lah yang akan menuadi sasaran empuk mereka. Belum hilang luka dan rasa sakit kemarin, ia tak ingin menambah lagi.
Dengan terus mengumpat dalam hati, Pak Handoko akhirnya diam dan duduk di lantai sambil bersandar di dinding menunggu kedatangan asisten Revan yang ia harap membawakannya kabar baik.
.... . ....
Marsya membuka kedua matanya, ia sudah melihat orang-orang yang berada di ruangan itu namun satu sosok tak ia temukan.
"Papa menyuruhnya kembali lebih dulu. Ada masalah besar yang harus ia selesaikan disana. Maaf jika keputusan Papa membuatmu sedih," ucap tuan Alvindo begitu melihat gerakan mata Marsya yang sedang mencari Tristan.
Marsya diam tak menanggapi. Ada sejuta kecemasan dalam benaknya. Apalagi membiarkan Tristan jauh dari pengawasannya itu akan membuatnya tak bisa mengetahui apakah Tristan berhubungan dengan Qania atau tidak.
"Maafkan Papa. Tapi kali ini benar-benar dalam keadaan darurat," ucap lirih tuan Alvindo.
Marsya meliriknya. "Apakah benar-benar sangat fatal?" tanya Marsya.
"Kemungkinan terburuknya adalah Papa akan kehilangaj semuanya, semua yang Papa miliki," jawabnya lesu.
Marsya tersentak, apa iya sampai segitunya, pikir Marsya.
"Papa tidak sedang bercanda, kan?" tanya Marsya tidak percaya.
"Jika Tristan bisa mengatasinya maka masih ada kemungkinan menyelamatkan beberapa."
"Kenapa bukan Papa saja yang mengurusnya?" tanya Marsya antara peduli dan juga kesal.
"Papa baru saja sampai dan langsung mendapatkan kabar itu. Lagi pula selama ini Tristan yang sudah membantu Papa. Dia juga sudah sangat paham tentang bisnis Papa. Jadi Papa percayakan padanya," jawab tuan Alvindo masih bersikap tenang.
"Aku akan sangat membenci Papa jika kejadian waktu itu kembali terulang," ucap Marsya memperingati.
Tuan Alvindo tak menanggapi, ia kemudian beranjak dari kursinya dan kembali duduk di sofa sambil memeriksa perkembangan kasus Pak Handoko.
Marsya pun merasa bersalah karena sudah berbicara kasar kepada Papanya. Mungkin karena rasa traumanya dan juga ia yang baru saja bangun namun tak mendapati Tristan di dekatnya.
Aku tidak ingin terjadi untuk kedua kalinya. Aku bakalan menahannya dan aku nggak mau kalah untuk kedua kalinya. Jika sampai itu terjadi aku lebih baik mati saja. Tristan, aku sangat mencintaimu. Dulu dan sekarang bagiku sama saja, aku tetap mencintaimu walau semuanya aku tahu sangat berbeda dan bukan hal yang benar. Tapi dari usiaku belasan tahun aku hanya mengenal satu cinta dari satu nama pria yang menempati hatiku, yaitu kamu Trostan Anggara. Jika saja ada Tristan Anggara yang lain maka aku mungkin nggak akan sesedih ini dan salah dalam melangkah. Tapi sudah seperti ini juga, aku akan tetap meneruskannya, batin Marsya terisak.
__ADS_1