Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Witing Tresno Jalaran Soko Kulino


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Syaquile kini tengah dalam perjalanan menuju ke kantor polisi. Sesekali ia melirik kakaknya yang sedari tadi hanya diam saja. Ia pun tidak berniat mengusiknya, ia sadar benar bahwa keadaan ini sangat mendebarkan dan cukup mengguncang sang Kakak. Ditambah lagi nanti kemungkinan yang akan terjadi ketika hasil forensik tersebut sudah keluar.


Syaquile mendesah pelan melihat Kakak-nya yang sesekali melirik ponsel namun enggan membalas pesan yang sedari tadi ia dengan dering notifikasinya. Ia yakin sekali pasti pria itu yang menghubunginya. Sebenarnya menurut Syaquile, sebaiknya Kakak-nya mendekati saja Tristan. Terlepas apakah pria itu Arkana ataupun bukan. Setidaknya wajah mereka sama dan Qania bisa mengobati rasa rindunya ya meskipun Tristan yang akan rugi dalam hal ini, pikir Syaquile.


Tapi ia pun percaya dengan kata 'Cinta hadir karena terbiasa' serta ungkapan Jawa yang sama artinya pun 'Witing Tresno Jalaran Soko Kulino'. Cinta tumbuh karena terbiasa.


Namun memang dasar Kakak-nya yang kepala batu, ia tetap pada pendiriannya padahal sangat nampak bahwa Qania itu mengharapkan Tristan.


"Udah, jangan dicuekin. Ntar ngilang baru nyari-nyari." Akhirnya mulut Syaquile yang sedari tadi sudah gatal ingin menegur Kakak-nya itu pun bersuara juga.


Qania menoleh pada Syaquile, " Maksudnya?"


"Situ sudah S1 Teknik Sipil ya, calon Sarjana Hukum pula. Nggak mungkin lah kalau nggak paham dengan apa yang aku katakan," cibir Syaquile.


"Oh."


"Ck," decak Syaquile. Memang kekeraskepalaan sang Kakak tidak ada obatnya.


"Kak, seandainya dia itu Kak Arkana, apa yang akan Kakak lakukan?" tanya Syaquile.


Qania memutar bola matanya jengah, ia sangat bosan dengan pertanyaan Syaquile yang menurutnya itu-itu saja. Ia malas menjawab dan memilih diam. Dalam hatinya ia memang sangat berharap namun enggan untuk ia ungkapkan.


"Jangan terlalu keras kepala, Kak. Kita pun membutuhkan orang lain untuk berbagi beban. Jangan dipendam sendiri. Ada aku Kak, jika Kakak ingin maka aku akan siap mendengarkan apapun keluh kesah Kakak," ucap Syaquile namun tetap menatap lurus ke depan.


"Kakak hanya takut berharap Dek," ucap Qania lirih.


"Kak, harapan itu akan terus ada jika Kakak percaya. Yakin Kak, yakin kalau usaha itu tidak akan mengkhianati hasil. Jika pun dia bukanlah kak Arkana, apa salahnya menerima dirinya. Tuhan pasti punya maksud tertentu mempertemukan Kakak dengannya. Nggak ada yang kebetulan Kak. Jika hasilnya seperti ini nantinya, maka cobalah membuka hatimu untuknya Kak," nasihat Syaquile, sesekali ia melirik Kakak-nya.


"Tapi dia punya kekasih Dek," ucap Qania seolah tercekat.


"Kak, jika dia mencintaimu maka kau pun harus berjuang sepertinya. Dia bahkan rela meninggalkan kekasihnya untuk Kakak. Kakak tidak ingat bagaimana perjuangannya saat Kakak masuk rumah sakit waktu itu? Apa itu kurang Kak? Dia sama membucinnya dengan kak Arka, apa itu masih kurang. Jangan sibuk memikirkan perasaan orang lain Kak, lebih baik menata perasaan sendiri."


"Tapi Kakak akan terbawa suasana dan menganggapnya sebagai Ark--"


"Witing Tresno Jalaran Soko Kulino," potong Syaquile.


"Hah, lihat nanti lah Dek," ucap Qania pasrah, dalam hati pun ia membenarkan bahwa cinta tumbuh karena terbiasa. Ia bahkan tidak tahu saat ini perasaannya terhadap Tristan itu apakah karena dia memang Tristan atau sosoknya yang sama seperti Arkana.


Qania merasa pusing sendiri jika mencoba mengartikan bentuk perasaannya terhadap Tristan. Kadang ia merasa cinta namun kadang ia berpikir ia hanya sekadar terbawa perasaan.


Tak ada obrolan lagi sampai akhirnya Syaquile memarkirkan mobil di depan kantor polisi. Ia menatap Qania seolah menanyakan apakah Kakak-nya sudah siap atau belum dan Qania pun mengangguk pasti. Keduanya pun turun dan berjalan bersama-sama masuk ke dalam kantor polisi tersebut.

__ADS_1


Mereka pun langsung menemui polisi yang sedang berjaga dan memberitahukan maksud kedatangan mereka.


"Bukankah kasus ini sudah lama?" tanya polisi yang bernama Hardi dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Iya Pak, tapi saya sebagai istrinya masih belum puas dengan hasil lima tahun lalu. Ditambah lagi sampai sekarang pelakunya pun tidak diketahui keberadaannya. Masa tidak aneh menurut Bapak?" ucap Qania menahan emosinya, dia cukup risih dengan tatapan polisi tersebut yang seolah-olah meremehkannya.


"Tapi tuan Setya Wijaya tidak memberitahukan apa-apa tentang ini," ucapnya.


"Ya makanya saya datang mewakilinya. Anda tahu seperti apa kesibukan Ayah mertua saya itu dan tadi saja ia baru berangkat bersama kedua orang tua saya dan anak saya ke luar kota. Kami sudah mendiskusikan ini sebelumnya, jadi dimohonlah kerja samanya," ucap Qania sedikit berbohong.


"Anda tidak sedang berbohong bukan? Jangan mengambil kesempatan ya karena kami tahu memang kasus ini sampai sekarang belum selesai," hardiknya.


Brakkk ....


Qania menggebrak meja dengan sangat keras sehingga membuat Syaquile dan polisi di depannya terkejut.


"Anda pikir saya disini datang untuk bercanda ha? Ini semua menyangkut suami saya. Saya Qania Salsabila Sanjaya, anak Bupati Zafran Sanjaya, apa menurut anda saya datang mengada-ada disini? Saya ini anak Bupati jadi tidak mungkin akan mempermalukan Papa saya," bentak Qania hingga membuat polisi tersebut gelagapan.


"A-anak pak Zafran?" tanyanya terbata saking terkejutnya.


"Iya, dia Qania Salsabila Sanjaya. Anak dari Zafran Sanjaya dan menantu dari Setya Wijaya. Dan saya Syaquile Sanjaya, adiknya. Apa masih ada yang ingin anda ketahui?" timpal Syaquile.


"Ti-tidak. Kalau begitu saya akan buatkan laporannya. Akan saya siapkan timnya hari ini juga dan kalau bisa tolong Anda yang menghubungi penjaga makam agar bisa membantu menggali kubur," ucapnya menyetujui.


"Dari tadi kek," dengus Qania.


"Ya sudah, sekarang kami akan melakukan apa yang anda katakan dan kami akan menunggu di lokasi. Lebih cepat lebih baik," ucap Syaquile penuh penekanan. Ia sangat sadar dengan jabatan yang dimiliki Papa-nya, ia mampu menekan oknum tertentu untuk meluruskan niatnya dan ia pun paham ada juga yang dapat diberikan imbalan jika tahu siapa yang menyuruh mereka.


"Tentu," jawab pak Hardi memasang senyuman terbaiknya.


Setelah mendapatkan kesepakatan, Qania dan Syaquile pun pamit pulang sesaat sebelumnya mereka meninggalkan nomor telepon masing-masing.


.... . . ....


Qania dan Syaquile kini telah sampai di pemakaman. Syaquile memutuskan untuk mencari orang yang bertugas mengurus pekuburan tersebut sementara Qania memilih untuk mengunjungi makam Arkana.


"Hai, kamu. Aku nggak tahu apakah kamu adalah Arkanaku atau bukan. Yang pasti saat ini aku ingin menyapamu. Aku terbiasa mendatangimu dengan membawa semua keluh kesah ku. Tapi hari ini aku datang dengan keadaan yang berbeda dimana ada keraguan di hatiku tentang kamu yang berada di dalam makam ini.


"Kau tahu, aku sangat berharap kalau dirimu itu bukanlah Arkanaku. Ya, aku mengatakan semuanya padamu karena aku yakin kamu tidak akan memberitahukan kepada siapapun tentang ungkapan hatiku ini. Selama ini, aku selalu menutupi perasaanku yang sebenarnya dan kali ini aku akan membaginya denganmu. Denganmu yang selalu menjadi tempat berkeluh-kesahku.


"Ya, memang benar kalau aku sangat berharap kalau kau itu bukanlah Arkana. Dan aku memang sangat berharap bahwa si Tristan Anggara itu adalah suamiku, Arkana Wijaya. Tapi aku tidak ingin mengutarakannya pada siapapun karena aku takut harapanku tidak sesuai kenyataan dan aku paling tidak suka melihat orang menatap penuh kesedihan kepadaku. Aku tidak suka itu," cerita Qania panjang lebar.

__ADS_1


"Kau tahu tidak, ketika ekspektasi tidak sesuai realita itu sangat nyesekin. Dan itu yang aku nggak pingin makanya aku seperti ini. Aku memilih diam menunggu hasil, aku takut berekspektasi tinggi, aku takut terhempas saat realita menamparku. Tidak ada yang memikirkan soal itu, buka? Hanya aku, hanya aku yang memikirkan perasaanku sendiri. Aku sudah menatanya sejak lama, aku tidak ingin memporak-porandakannya lagi."


Qania langsung menormalkan kembali mimik wajahnya begitu tak sengaja melihat Syaquile berjalan ke arahnya. Ia berpura-pura sedang bercerita di depan makam tersebut dengan wajah yang terlihat cukup ceria.


"Kak," panggil Syaquile saat ia sudah berjongkok di samping Kakak-nya.


"Eh ... gimana Dek?" tanya Qania berpura-pura kaget.


"Udah beres Kak, nanti sekitar pukul dua siang pihak forensik dan petugas penggali kuburan akan berkumpul disini. Kakak mau pulang atau?" tanya Syaquile.


"Antarkan Kakak ke rumah Papa Setya," sahut Qania.


"Baik Kak," jawab Syaquile.


"Nah sayang, aku pamit dulu ya," ucap Qania sambil mengelus pusara tersebut.


Syaquile sebenarnya merasa risih dengan sikap Kakaknya namun ia tidak bisa mengungkapkannya karena bagaimanapun belum ada kejelasan tentang siapa yang berada di dalam makam ini.


Keduanya pun berjalan beriringan menuju ke arah mobil, kemudian masuk ke dalamnya dan Syaquile langsung mengemudikan mobil menuju ke rumah Setya Wijaya.


"Kak, nanti sore sebaiknya Kakak nggak usah ikutan. Biar aku sama tim forensik aja. Kakak lebih baik mikirin tuh si Tristan yang katanya bakalan bertunangan besok," saran Syaquile.


"Lho, kok gitu sih Dek?" protes Qania.


"Nggak ada ngebantah. Kakak mau dia tunangan besok terus nanti hasilnya ternyata dia adalah Kak Arkana, mau? Setidaknya bantulah mencegah sampai hasilnya keluar. Gimana sih, katanya cinta sama kak Arkana," cibir Syaquile.


"Hmmmm ... baiklah," ucap Qania pasrah.


.... . . . . ....


"Akhirnyaaaa ... gue sampai di kota Lo Qania. Semoga Lo nggak terkena serangan jantung dadakan saat ngelihat gue di depan Lo sebentar lagi."


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


Aku baru Up? Iya setelah berjanji Up beberapa hari yang lalu, maaf.


Aku baru aja tersadar setelah ditampar oleh realita. Beberapa waktu lalu aku sempat berekspektasi tinggi dan beberapa hari yang lalu pula aku ditampar oleh realita yang ngebuat gue nggak bisa fokus dan terus aja berkubang di titik terendah gue.


Curhat? Iya, aku curhat. Maaf ya 😁😁😁


Terima kasih sudah membaca 🤎🤎🤎

__ADS_1


...I love you all...


...Je T'aime...


__ADS_2