
Arkana mulai gelisah karena waktu sudah menunjukkan pukul empat lewat lima puluh sore hari, namun belum juga ada kabar dari Qania. Berbagai hal buruk menyelimuti hatinya dan kejadian-kejadian buruk terus membayangi pikirannya.
Fero yang baru saja masuk ke ruangan Arkana dibuat heran karena melihatnya mondar-mandir dengan raut wajah gelisah.
"Wooii.. lo ngapain?" tanya Fero mengagetkan Arkana.
"Ah sialan lo, kalau gue serangan jantung gimana?" umpat Arkana kesal.
"Lagian lo sih, mondar-mandir nggak jelas" seru Fero membela diri.
"Gue lagi gelisah aja, Qania sampai sekarang belum ngasih kabar" curhatnya sembari mendaratkan bokongnya di sofa.
"Lah emang dia kemana?" tanya Fero ikut duduk.
"Kampus, tapi udah seharian gini" jawab Arkana gelisah.
"Ya telepon dong, tanyain gitu" saran Fero.
"Eh iya ya, kok gue nggak kepikiran" Arkana merasa dongkol, lalu ia cepat-cepat mengambil ponselnya.
"Gitu aja susah amat" gumam Fero tak habis pikir.
📱📞 Calon Istri 🥰🥰........
Sudah entah kesekian kalinya, namun tidak ada jawaban dari Qania dan hal tersebut semakin menambah kepanikan Arkana.
"Gimana?" tanya Fero.
"Nggak ada jawaban Ro, gue harus susulin nih" Arkana segera meraih kunci motornya di atas meja.
"Lo mau kemana?" cegat Fero.
"Kampus" jawab Arkana sambil berlari keluar.
"Semoga saja tidak ada masalah" gumam Fero, kemudian ia keluar kembali melankutkan pekerjaannya.
............
Arkana baru saja sampai di parkiran kampus, namun tempat itu sudah sunyi bahkan ia tidak menemukan motor Rey ataupun Yani disana.
"Ah sial, gadis itu kemana sih?" gerutu Arkana.
Arkana berjalan menusuri area kampus, ia berniat mencari Qania di seluruh ruangan fakultas Qania meskipun kampus itu sangat luas.
Setelah hampir sejam, namun tidak ada satu pun dari teman-teman Qania disana. Karena lelah, Arkana berjalan ke area kantin.
"Mahasiswa baru dek?" tanya pak Ilon yang mengantarkan jus jeruk untuk Arkana.
"Eh bukan pak, saya hanya sedang mencari tunangan saya yang berkuliah disini" jawab Arkana terus terang.
"Wah, udah jam segini pasti udah pada bubar dek. Ini saja bapak udah mau tutup" kata pak Ilon sembari duduk di hadapan Arkana.
"Mungkin udah pulang pak, saya yang lambat datangnya" kata Arkana kemudian menyesap minumannya sampai habis.
"Emang siapa dek, bapak kenal loh sama anak-anak yang selalu nongkrong di kantin ini?" selidik pak Ilon.
"Namanya Qania Salsabila pak" jawab Arkana sambil mengeluarkan uang untuk membayar.
"Oh neng Qania dari fakultas teknik itu?"
"Iya, bapak tahu?" tanya Arkana penasaran.
"Tahu banget dek, tadi disini sama teman-temannya. Tapi ya marah-marah gitu, lagi kesal kayaknya. Terus dipanggil menghadap dosen, baliknya udah lemas gitu. Terus pergi deh sama teman-teman" cerita pak Ilon.
"Hah yang benar pak? Terus mereka pergi kemana pak?" tanya Arkana lagi.
"Wah kalau itu bapak nggak tahu, tapi kalau tidak salah mereka tadi menyebutkan himpunan dek" jawab pak Ilon sambil berusaha mengingat.
"Ya sudah pak, saya permisi. Sisanya buat bapak saja" kata Arkana bergegas meninggalkan kantin.
🌺 Di Himpunan.
"Jadi semua rencana udah oke nih, ada lagi?" tanya Prayoga selaku pemimpin rapat.
"Kayaknya udah mantap kayak gitu deh" sahut Baron.
"Jadi kalian semua sudah siap buat besok nih?" tanya Prayoga lagi.
"SIAAAPPP" jawab semuanya serempak.
"Oke, jadi besok Emeli yang bakalan mantau situasi kampus karena dia yang paling dekat dari lokasi kampus ya. Dan malam ini kita bakalan rampungin apa-apa saja yang bakalan kita gunakan buat demo besok" kata Prayoga sambil menatap Emeli.
"Siap bang" jawab Emeli, junior yang beda dua angkatan dibawah mereka.
"Oke sip, sepertinya semuanya sudah oke. Kalau begitu rapat sore ini saya tutup, sekian dan terima kasih" kata Prayoga menutup rapat.
Semua mahasiswa teknik sipil keluar dari ruangan rapat di himpunan tersebut, mereka hanya berjumlah puluhan karena banyak yang belum hadir namun sudah diberi tahu soal rencana besok.
"Hah udah mau magrib" desah Qania ketika keluar dari ruangan rapat bersama Yani.
"Yuk pulang" ajak Yani.
"Eh aku bareng Arkana.. Astaga, aku lupa ngabarin" pekik Qania kemudian bergegas mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Tuh kan dia udah nyariin" sesal Qania, ia bergegas menelepon Arkana.
📱📞 My Beloved .....
"Akhirnya Qaniaaa... kamu darimana saja hah? Aku tuh khawatir nyariin kamu dan mikirin kamu yang nggak ngasih kabar. Kamu dimana sekarang?" begitu lah rentetan pertanyaan Arkana yang akhirnya mendapat telepon dari Qania, ia baru saja akan melajukan motornya meninggalkan area kampus, namun dering ponselnya membuatnya terhenti.
__ADS_1
"Maaf sayang" cicit Qania.
"Kamu dimana?"
"Di himpunan, kamu kesini deh"
"Emang ngapain disana sampai lupa ngabarin dan nggak jawab telepon aku hemm?"
"Ada rapat sayang, maaf ya" kata Qania memelas.
"Oke aku ke sana sekarang, tungguin" Arkana tersenyum lega saat tahu Qania baik-baik saja, ia bergegas melajukan motornya.
Qania bernapas lega karena Arkana tidak mengomelinga panjang lebar dan juga merutuki dirinya sendiri karena sampai lupa mengabari tunangannya itu.
"Gimana Qan?" tanya Yani.
"Kamu duluan aja deh, aku nungguin Arkana di sini" jawab Qania.
"Oke, bye"
"Hati-hati"
"Yoi"
Setelah Yani pergi, Qania ikut bergabung bersama yang lainnya di bangku taman di depan ruang himpunan dimana Abdi tengah bermain gitar dan yang lainnya ikut bernyanyi.
"Aku request lagu dong" pinta Qania yang baru saja duduk di dekat Cika.
"Boleh dong, lagu apa tuh?" tanya Risti.
"Emm saat bahagia deh by andin feat ungu" jawab Qania
"Oke, tapi kamu bagian ceweknya ya Qan" ucap Abdi.
"Sipp"
Abdi mulai memainkan gitarnya diikuti Qania yang turut menyanyi bersama seakan mereka adalah pasangan duet.
💐Abdi
Saat bahagiaku duduk berdua denganmu
Hanyalah bersamamu
💐Qania
Mungkin aku terlajur
Tak sanggup jauh dari dirimu
Ku ingin engkau selalu
💐Qania & Abdi
Ku ingin engkau mampu
Ku ingin engkau selalu bisa
Temani diriku sampai akhir hayatmu
Meskipun itu hanya terucap
Dari mulutmu uuu…
Dari dirimu yang terlanjur mampu
Bahagiakan aku hingga ujung waktuku
Selalu…
..............
Arkana baru saja sampai di himpunan dan tak sengaja mendengar suara Qania bernyanyi, ia membuka helmnya dan benar saja bahwa Qania lah yang sedang bernyanyi. Ia memicingkan matanya, ada rasa kesal dan cemburu ketika melihat Qania sedang bernyanyi bersama Abdi namun karena tidak mengenal Abdi sebelumnya makanya ia berpikir negatif.
"Qan, tunangan lo" kata Abdi yang menyadari kehadiran Arkana di dekat mereka.
Qania menolah dan langsung tersenyum manis ke arah Arkana dan memintanya mendekat. Arkana dengan malas berjalan ke arah Qania.
"Cieee...." ledek mereka membuat Qania merona malu.
"Siapa namanya Qan?" goda Cika.
"Tuh makanya kemarin itu hadir dong waktu di undang" kesal Qania.
"Ya lo sendiri tahu kalau kita lagi liburan kemarin" ucap Risti membela.
"Sayang, kenalan yuk sama teman-teman aku" kata Qania sambil menggandeng tangan Arkana.
"Hallo semua, saya Arkana" katanya sembari tersenyum.
"Oh Arkanaa..." ucap semuanya menggoda.
"Duduk Ka, kita akhirnya nih lihat langsung tunangan Qania yang jadi topik hangat di himpunan" ajak Abdi.
Arkana tertawa kemudian ikut duduk bersamaan dengan Qania.
"Maaf ya kita nggak datang kemarin waktu kalian tunangan" lanjut Abdi.
"Iya, nggak masalah. Tapi kalau acara nikahnya datang ya" canda Arkana.
__ADS_1
"Pastinya" jawab Abdi diselingi canda.
"Sayang kita kapan?" tanya Risti, teman sekelas Abdi sekaligus pacarnya.
"ST dulu gue" jawab Abdi asal.
"Nyebelin" dengus Risti kemudian mengerucutkan bibirnya.
"Ciee ngambeekk.." ledek Qania dan yang lainnya.
"Ya Tuhan kuatkan aku" doa Risti memasang wajah teraniaya membuat yang lainnya tertawa.
"Balik yuk sayang, udah mau magrib" ajak Qania.
"Terserah kamu aja sayang" jawab Arkana, ia merasa mulai nyaman berada di dekat teman-teman Qania dan tentunya lega karena yang bernyanyi bersama Qania tadi yaitu Abdi ternyata sudah memiliki pacar yang sejurusan dan sekelas juga.
"Kita balik dulu ya guys, nanti malam ketemu lagi" pamit Qania.
"Oke, hati-hati" seru mereka.
"Bye.."
"Arkana titip Qania ya, dia salah satu berlian kami" teriak Prayoga.
"Pasti" jawab Arkana sembari tersenyum, "duluan ya" lanjutnya.
Qania dan Arkana kini sudah berada di jalan, Arkana tiba-tiba teringat akan kata-kata Qania tadi sehingga ia menghentikan motornya tepat di taman dekat rumah Qania.
"Kok berhenti sayang?" tanya Qania heran.
"Aku mau nanya, bentar malam mau ngapain?" ucapnya tanpa menoleh.
"Oh, mau kumpul di himpunan buat ngurus kegiatan besik" jawab Qania santai.
"Kegiatan dimana?" alis Arkana terangkat sebelah.
"Kampus" jawab Qania singkat.
Qania tahu Arkana sedang penasaran dan khawatir saat ini. Tapi ia pun tidak ingin mengatakan kegiatannya yang tidak lain adalah berdemo. Ia tidak ingin menambah kekhawatiran Arkana.
"Sayang?" panggil Qania.
"Ya..?" jawab Arkana akhirnya menoleh.
"Bisa anterin aku ntar malam nggak?" tanya Qania dengan sangat lembut.
"Pasti sayang, kita lanjut ke rumah kamu dulu. Nanri aku jemput lagi" kata Arkana dengan penuh semangat.
"Jam setengah delapan ya"
"Oke calon istriku"
............
"Semua udah beres, yuk balik" ajak Baron saat mereka sudah merampungkan perlengkapan demo mereka.
"Eh tapi aku masih penasaran deh dengan alasan bu Lira" gumam Qania.
"Sama Qan" sambung Cika.
"Atau lo coba tanya sama bu Lira aja" saran Abdi.
"Boleh juga tuh Qan" timpal Risti.
"Oke deh" setuju Qania.
Baru saja ia akan menghubungi bu Lira, sebuah panggilan masuk atas nama "Dosen Wali Aqoeee"
"Eh bu Lira nelepon" ucap Qania memberitahukan.
"Cepat angkat Qan" perintah Prayoga.
Qania menjawab telepon dari bu Lira, ia mengernyitkan keningnya, namun terus mengatakan oke bu, iya bu dan siap bu. hanya seperti itu namun menimbulkan rasa penasaran pada teman-temannya.
"Gimana?" tanya Prayoga saat Qania sudah selesai teleponan.
"Bu Lira nyuruh kita buat sediain pengeras suara atau sejenisnya buat mutar audio nanti, katanya dia mau ngirim audio sama video buat kita jadikan senjata nanti kalau demo di tolak" jelas Qania.
"Kira-kira apa ya?" pikir Risti.
"Eh ini udah masuk" kata Qania dengan cepat membuka file kiriman bu Lira.
Qania memutar audio tersebut, dan itu membuat semua yang ada di ruangan tersentak kaget bahkan tidak percaya. Namun beberapa saat kemudian mereka tertawa.
"Gila mantan lo Yog" ledek Baron.
"Eh dia bukan mantan gue Ron" bantah Prayoga kesal.
"Oh jadi si Laras itu mantan lo Yog?" tanya Cika penasaran.
"Nggak sih, cuma waktu SMA dia suka banget sama Laras" cerita Baron kemudian ia tertawa.
"Itu kan dulu, lagian kita kan cuma taruhan doang" Prayoga mengelak.
"Iya deh, tapi gue nggak habis pikir alasan dia buat nyogok bu Intan dan bu Intan juga beraninya dia mau gantiin jabatan bu Lira. Dia nggak mikir lawannya itu siapa, berani benar" ungkap Baron, ia bahkan sampai bergidik ngeri mengingat tatapan bu Lira.
"Kayaknya lo dapat saingan deh Qan" gumam Cika.
"Hajar Qan" Abdi memprovokasi.
__ADS_1
"Hahaha, ada-ada saja kamu Di" tawa Qania, padahal dalam hati ia sudah merasa geram.
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...