
Hening, tidak ada suara lagi setelah Qania mengutarakan maksudnya pada kedua pria itu. bahkan Lala sampai dibuat bungkam dengan kata-kata penolakan Qania yang terdengar jelas namun juga tetap menjaga perasaan kedua pria yang menyukainya itu. Ya walaupun tetap saja melukai perasaan kedua pria itu.
“Gue nggak masalah elo nolak gue Qan. Gue bakalan tetap jadi sahabat elo seperti awalnya kita bersama. Gue juga berterima kasih karena elo sudah mau jujur dan menyadarkan gue kalau gue nggak akan pernah berhasil. Terima kasih karena elo sudah mengutarakan isi hati lo Qan, dengan begini gue lega. Setidaknya gue nggak bakalan terlalu berharap sama lo dan nggak akan berujung rasa sakit” ucap Raka memecah kebisuan.
Air mata Qania menetes dengan sendirinya begitu Raka menanggapi pernyataannya tadi, ia lalu tersenyum sambil menyeka air matanya.
“Jangan nangis dong Salsabila” goda Raka membuat Qania tertawa.
“Gue sebenarnya sangat sakit Qan dengan pernyataan lo tadi. Tapi ya gue bisa apa kalau elo udah ngomong kayak gitu. Gue juga nggak bakalan jauhin elo tapi sepertinya mungkin akan sedikit berbeda karena gue butuh waktu untuk memulihkan cedera hati gue. Secara Qan, elo itu cinta pertama gue dan nggak bisa gue dapatin. Hmm, kok rasanya sakit ya Qan” ucap Julius dengan penuh kejujuran sambil memegangi dadanya.
Qania tersenyum miris mendengar kejujuran Julius yang jujur saja dia sangat menyukai sifat pria di depannya itu yang selalu berkata jujur tentang isi hatinya dan tidak menyembunyikan perasaannya.
‘Aku sangat menghargai kejujuranmu Julius dan aku suka itu. Kalau kamu yang pertama kali bertemu denganku dan bukan Arkana, mungkin saja aku akan jatuh cinta padamu’,.
‘Dan kamu Raka, aku yakin apa yang kamu ucapkan itu tidaklah sepenuhnya benar. Aku yakin kamu hanya ingin mencoba menyenangkanmu. Jika sakit maka katakanlah saja itu sakit, jangan sok kuat hanya karena kamu lelaki’,.
“Terima kasih Julius, aku senang kamu berkata sejujur itu padaku. Dan aku pasti akan mengerti jika ada perubahan dalam dirimu. Bagaimana pun rasanya patah hati itu tidak enak. Dan aku sangat tahu perasaan itu tidak akan mudah berubah semudah kita membalikkan telapak tangan. Aku akan memaklumi perubahanmu nanti” ucap Qania sembari tersenyum hangat menatap Julius.
“Tapi tenang aja Qan, perubahan gue nggak bakalan parah kok, gue nggak bakalan sampai berubah jadi power rangers kok” gurau Julius membuat Qania tertawa sementara Lala malah melotot menatap Julius.
“Uhh garing-garing” cibir Raka.
“Ya garing-garing gitu Qania juga tertawa kan” sungut Julius.
“Kepaksa dia mah ketawanya”,.
“Ya elo aja yang datar kayak tembok, nggak bisa becanda”,.
“Oh hei kalian berdua jangan mulai deh” ketus Lala.
“Noh itu tuh si Lala, lo move on aja ke dia” ucap Raka pada Julius sambil menunjuk Lala dengan dagunya.
Julius menatap datar pada Raka membuat Raka terkekeh.
“Lala nggak bisa diganggu, dia udah di jodohin” celetuk Qania kemudian memasukkan makanan ke mulutnya.
“Appaa dijodohin?” pekik Lala, Raka dan Julius bersamaan.
“Ciee kompak” ledek Qania.
Ketiganya saling menatap lalu saling memelototkan mata mereka, kemudian menatap horror pada Qania.
“Hehe santai dong”,.
“Emang aku udah dijodohin kak? Sama siapa? Kok aku nggak tahu ya?” tanya Lala dengan polosnya.
“Ada deh”,.
“Ihh kakak” pekik Lala namun Qania cuek-cuek saja.
*
Perkuliahan sudah mulai berjalan seperti biasa dan bahkan saat ini sudah masuk ke pertengahan perkuliahan. Seperti yang sudah Julius katakana, ia akan sedikit berbeda dan benar saja hal tersebut dibuktikannya dengan sedikit menjaga jarak dan irit bicara dengan Qania. Ia juga hanya sesekali mengirim pesan pada Qania.
__ADS_1
Qania kadang hanya bisa tersenyum miris ketika Julius hanya menganggapinya sekadarnya saja. Namun Qania tidak protes dengan sikap Julius karena bagaimana pun itu resiko yang harus ia tanggung.
Rosa yang melihat ada jarak diantara Qania dan Julius pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menghujat Qania. Namun beberapa kali Julius masih tetap membela Qania dan lagi-lagi Rosa merasa kesal pada Qania.
Begitu pun dengan Raka, ia hanya seminggu sekali mendatangi Qania di kostannya. Ia hanya sering mengirim pesan dan itu pun tidak sepanjang dulu. Raka sekarang sangat sibuk dengan perkuliahannya sehingga sangat jarang bisa mengobrol dengan Qania karena ia menjadi salah satu asisten dosen. Namun perhatiannya tetap seperti biasa pada Qania, mungkin perasaannya juga masih sama.
Qania sangat memaklumi kesibukan Raka, ia tahu bagaimana sibuknya seorang asisten dosen. Ia sangat bersyukur karena Raka tetaplah menjadi Raka yang ia kenal, hanya saja Qania tetap merasa bersalah pada Raka karena menolak perasaannya.
*
Lala sudah sangat kesal sedari tadi mengetuk pintu kamar dan memanggil-manggil Qania namun tidak ada sahutan dari dalam. Nek Nilam yang melihat Lala sedang mengomel di depan kamar Qania pun menghampirinya dan menyarankan untuk membuka saja pintu kamar itu jika ada kepentingan.
Awalnya Lala ragu karena ia tidak berani masuk tanpa permisi dulu, tapi karena nek Nilam sudah menyuruhnya maka ia pun langsung memutar gagang pintu kamar Qania yang rupanya tidak terkunci itu.
Lala berdecak sambil berkacak pinggang saat melihat Qania yang ternyata sedang mengetik di laptop sambil mendengarkan musik melalui headphonenya. Ia pun berjalan kearah Qania yang sedang berbaring tengkurap di tempat tidur.
Qania terkejut saat Lala duduk di sampingnya dan ia pun langsung melepas headphonenya dan duduk.
“La kok kamu di kamar kakak?” tanya Qania.
“Ya iya kak, aku tuh udah lelah ngetuk pintu kakak dan manggil-manggil kakak tapi nggak ada jawabann dari tadi” ucap Lala sebal.
“Hehe maaf La, kakak nggak dengar” ucap Qania, Lala pun mendengus kesal.
“Oh iya ada apa La?” tanya Qania lagi.
“Oh ya? Dimana siapa yang ngisi seminarnya?” tanya Qania antusias.
“Emm di hotel Z kak, dan yang ngisi seminar itu, emmm, umm..” Lala ragu-ragu mengatakannya, ia memainkan jari-jarinya sambil menatap Qania.
“Siapa La?” tanya Qania penasaran.
“Hm Tristan Anggara kak” jawab Lala kemudian membuang muka.
Qania menghela napas setelah mendengar jawaban Lala. Bagaimana pun ia belum bisa lupa dengan sikap angkuh Tristan Anggara yang mengusirnya hanya karena datang terlambat. Lala hanya bisa melirik Qania yang nampak sedang berpikir sambil memangku dagunya dengan tangan yang bertumpu di pahanya.
“Emm kalau kakak nggak mau ya nggak apa-apa kak” ucap Lala pelan.
Qania melirik Lala, ia tersenyum tipis/
“Jam berapa?” tanya Qania datar.
“Jam sembilan pagi kak” jawab Lala.
“Oke, kamu jangan telat bangun lagi dan kakak nggak bakalan nyuruh kamu berhenti lagi” ucap Qania dengan sorot mata bak elang yang membuat Lala sedikit bergidik ngeri melihatnya.
“Oke kak. Oh ya kakak sedang apa nih?” tanya Lala lagi.
“Oh kakak lagi ngerjain makalah kakak” jawab Qania kemudian mengambil laptopnya dan meletakkannya di atas pangkuan.
“Oh iya kak, aku ke kamar dulu ya. Udah ngantuk banget nih” pamit Lala.
“Oke La, tolong tutup pintunya ya La” pinta Qania.
__ADS_1
“Iya kak, selamat malam kak Qania”,.
“Selamat malam juga La”,.
Setelah kepergian Lala, Qania menutup Laptopnya sambil menatap kosong pada dinding kamarnya itu.
“Lihat saja kamu Tristan Anggara, kali ini aku nggak bakalan telat tapi aku jamin saat sesi tanya jawab aku akan menyulitkanmu bahkan kalau bisa sampai kau malu” tekad Qania.
Qania pun kembali melanjutkan mengerjakan makalahnya hingga larut malam barulah ia tidur.
*
“Momm..mmyy..”,.
“Da..dadd..dyy..”,.
“Da..dadd..dyy..”,.
“Aqa daddy mommyy..”,.
“Nek, daddy Aqa nek”,.
Alisha menggeliat begitu merasakan tubuhnya diguncang-guncang. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan melihat cucunya lah yang sedang membangunkannya. Dengan penuh kasih Alisha memeluk cucunya itu, membawanya kedalam pelukannya sambil berbaring. Arqasa yang tadinya duduk kini kembali berbaring dalam dekapan neneknya.
“Kenapa cucu tampan nenek sudah bangun? Ini masih tengah malam nak” tanya Alisha sambil membelai rambut Arqasa.
Saat ini hanya ada Alisha dan Arqasa di dalam kamar karena Zafran sedang melakukan perjalanan keluar kota.
“Mommy Aqa nek” ucapnya lagi.
Arqasa yang beberapa bulan lagi akan genap berusia dua tahun sedikit banyak sudah mulai bisa menyambung kata meskipun masih belum begitu jelas.
“Mommy Arqa sedang bobo sekarang sayang. Besok aja ya nenek telepon Mommy” bujuknya.
“Daddy.. daddy Aqa” ucapnya lagi dengan wajah berseri-seri.
Alisha bungkam, ini pertama kalinya Arqasa menyebut-nyebut sang Ayah dengan sangat antusias. Biasanya hanya jika ia melihat foto Arkana saja baru ia akan memanggil daddy.
“Daddy baik-baik saja sayang, dia sudah tenang di alam sana” ucap Alisha menyeka air matanya.
“Noooo.. daddy.. daddy Aqa” ucapnya lagi seolah tidak senang mendengar ucapan neneknya itu.
“Apakah sekarang Arkana sedang merindukan Arqasa sehingga anaknya begitu antusias menyebutnya? Ataukah Arqasa terbangun karena memimpikan Arkana? Ah bisa jadi dia tadi bermimpi bertemu dengan daddynya. Hmm, sungguh kasihan kamu nak” isak Alisha semakin mempererat dekapannya.
Alisha tak kuasa menahan air matanya, cucunya itu tidak berhenti menyuarakan daddynya dan terus memberitahunya. Ia hanya terus mendekap cucunya itu sambil berusaha menidurkannya kembali.
“Sebaiknya tidak perlu memberitahu Qania soal ini, dia pasti akan sangat sedih jika mengetahuinya” gumam Alisha setelah Arqasa sudah tertidur dalam pelukannya.
...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗
__ADS_1