Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Drama di bus


__ADS_3

Qania berdiri di luar gerbang penginapannya sambil menunggu ojek datang. Menurut informasi yang ia terima dari tukang kebun penginapan itu, biasanya tukang ojek banyak yang lewat di depan penginapan sekitaran jam sepuluh pagi.


Qania tersenyum lebar saat sebuah motor berhenti di depannya.


"Ojek non?" tanya pria bertubuh kurus dengan kulit agak gelap dan usianya sekitar empat puluhan tahun.


"Iya pak, ke terminal ya" jawab Qania sembari memberitahu tujuannya.


"Baik non, ongkosnya dua puluh lima ribu ya" ucap tukang ojek tersebut sambil menyodorkan helmet pada Qania.


"Siap pak" jawab Qania bersemangat, kemudian menaiki motor matic tersebut.


"Aku pikir naik ojek ke terminal ongkosnya mahal, ternyata segitu. Syukurlah, uangku sepertinya cukup untuk pulang" batin Qania.


Qania saat ini sudah berada di terminal, ia mencari bus yang bertujuan ke kotanya. Dan setelah beberapa menit mencari akhirnya ia menemukannya dan segera naik. Ia mendaptkan kursi yang bersebelahan dengan seseorang yang tengah tidur sambil menutupi wajahnya dengan jaket kulit berwarna hitam.


Sedikit rasa takut menyelinap di hati Qania, karena ini pertama kalinya ia naik bus dengan rute yang cukup jauh bahkan ia harus berada di dalam bus berjam-jam tanpa seseorang yang ia kenali. Qania menguatkan hatinya, ia harus berani jika ingin pulang ke rumahnya.


Bus akhirnya melaju membelah jalan, dimana Qania memilih untuk menikmati perjalanan dengan mendengarkan musik melalui ponselnya dengan menggunakan headset. Sebenarnya ia ingin menikmati pemandangan sekitar, namun kursinya tidak berada di dekat jendela.


Ditengah perjalanan, seorang pria datang menghampiri Qania dan memegang pundaknya. Sontak Qania yang tengah menikmati musik dengan memejamkan matanya terkejut bukan main.


"Hai neng, namanya siapa sih" ucap pria bertubuh besar dengan perut buncit, berkulit gelap dan rambutnya agak gondrong.


"Apaan sih pak, jangan macam-macam ya" ancam Qania yang sebenarnya juga takut.


"Santai neng, abang cuma mau kenalan doang kok" lanjutnya sambil berusaha menyentuh wajah Qania namun buru-buru ditepis oleh Qania.


"Jangan macam-macam ya pak. Nanti suami saya bangun dan langsung menghajar bapak" ucap Qania asal karena sudah gugup bukan main.


"Emang yang disitu suaminya ya? Kok abang nggak percaya sih neng, jangan ngarang dong. Saya perhatiin dari tadi kalian diam-diaman aja tuh" ucap bapak tersebut membuat Qania hilang akal.


"Dia lelah dan sedang tidur" jawab Qania asal.


"Masa sih neng?" bapak itu semakit menatap Qania dengan liar dan penuh hasrat.

__ADS_1


"Tidak ada cara lain" pikir Qania yang semakin ketakutan.


Tanpa pikir panjang dan meminta izin, ia langsung memeluk tubuh pria disampingnya yang masih menutupi wajahnya dengan jaket itu.


"Sayang bangunlah" ucap Qania sambil mengguncangkan tubuh pria disebelahnya.


Pria disebelahnya perlahan terbangun karena merasa seseorang menyentuh tubuhnya, ia langsung membuka jaketnya dan spontan pria yang menggoda Qania itu langsung berlutut.


"Maafkan saya mayor, saya tidak bermaksud menggoda istri anda. Sekali lagi maafkan saya" ia memohon sambil bersujud di kaki pria itu.


"Hah?" pria yang masih setengah sadar itu merasa kebingungan.


"Saya mohon maaf, saya akan pergi dari sini sekarang. Maafkan saya nyonya, tolong katakan pada suami anda untuk mengampuni saya" pintanya.


"Iya iya, sana pergi" ucap Qania ketus, namun dalam hatinya merasa sangat lega.


"Sekarang jelaskan" pinta pria itu setelah bapak itu pergi.


"Hehe, maaf ya mas sebelumnya. Tadi bapak itu mencoba melecehkan saya dan menggoda saya. Saya tidak tahu harus apa, jadi saya bilang saja kalau mas itu suami saya. Dia awalnya nggak percaya, tapi setelah saya memeluk mas dan mas bangun entah mengapa dia langsung takut" cerita Qania.


"Sekali lagi maaf ya mas, dan terima kasih" ucap Qania tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih, giginya yang ginsul itu membuat senyumannya sangat manis.


Pria dihadapannya terhipnotis sesaat dengan senyuman indah dari gadis di depannya, namun ia segera tersadar dan langsung mengambil sikap.


"Oh seperti itu, ya sudah tidak perlu minta maaf" katanya kemudian kembali duduk menghadap kedepan.


"Mas mau kemana?" tanya Qania mencoba berteman.


"Ke rumah saudara" jawabnya simpel.


"Ohh" Qania mengangguk-anggukkan kepalanya, ia enggan bertanya kembali karena pria disebelahnya terlihat seperti kulkas, dingin.


Beberapa jam kemudian mobil tersebut sudah berhenti di terminal kota Qania, keneknya menagih ongkos pada Qania dan pria itu.


"Kurang mas" tegur kenek itu pada pria di sebelah Qania.

__ADS_1


"Loh biasanya kan segitu mas" jawabnya heran.


"Lah istrinya nggak dihitung mas?" tanya keneknya.


Qania dan pria itu saling bertatapan, mata Qania seolah memohon agar memaafkan sikapnya tadi sehingga kenek tersebut menganggapnya istri dari pria itu dan menagih ongkos padanya.


"Nanti aku ganti di luar" begitulah isyarat yang Qania berikan.


Ia menarik napas panjang, kemudian merogoh kantong celananya dan memberikan sejumlah uang.


"Gitu dong mas, masa istrinya nggak dibayarin sih. Nanti sampai di rumah nggak dapat jatah tuh" ucap kenek tersebut kemudian pergi meninggalkan mereka.


Qania cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Maaf mas, ini uangnya saya ganti" ucap Qania sambil menyodorkan beberapa lembar uang.


"Tidak perlu, nanti kamu nggak ngasih jatah lagi di rumah" ucapnya tersenyum kemudian berdiri dan meninggalkan Qania untuk turun dari bus.


"Appaaa?" teriak Qania saat mendengar ucapan pria itu.


Qania mengejar pria itu, hampir saja ia terjatuh dari bus kalau saja ia tidak menabrak tubuh kekar pria itu.


"Maaf mas" ucap Qania sambil memegangi dahinya yang sedikit sakit itu.


"Kamu hati-hati dong, kalau mau nyosor ntar di rumah aja" ledeknya kemudian melangkah turun meninggalkan Qania.


"Ih ngeseliin, dasar orang asing" teriak Qania kemudian turun juga dari bus tanpa melihat-lihat, ia langsung saja melangkah dan ternyata tangga bus itu agak tinggi sehingga Qania kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan posisi duduk.


"Aww sakitnya, sial banget sih hari ini" teriak Qania berusaha berdiri menahan sakit dan malu.


Sementara pria itu tak bisa menahan tawanya, sehingga ia memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa berlebihan. Saat Qania menatapnya dengan tatapan horor, barulah ia menghentikan tawanya.


"Dasar pria nyebelin, bukannya tolongin malah nertawain" teriak Qania kesal.


Namun si pria malah berbalik badan dan pergi meninggalkan Qania begitu saja membuat Qania semakin naik darah. Setelah merasa kuat untuk berjalan, ia segera mencari angkutan untuk kembali ke rumahnya yang tidak begitu jauh jika ditempuh dengan menggunakan mobil atau motor.

__ADS_1


......


__ADS_2