
Arkana sampai di rumah Qania tepat setelah Qania selesai mandi dan memakai pakaiannya. Senyum manis tergambar di wajah Qania saat ia melihat dari jendela kamarnya Arkana membuka helmnya dan itu terlihat keren baginya.
Qania bergegas keluar dari kamarnya untuk menyambut Arkana yang sudah terlebih dulu masuk dan sedang berbincang di ruang keluarga bersama Syaquile dan kedua orang tuanya.
"Arkaa.." panggil Qania saat ia sudah turun dari tangga dan berjalan mendekati keluarganya.
"Tadi saja sedihnya bukan main, eh sekarang bahagianya kelewatan. Dasar budak cinta" Syaquile membatin sambil memperhatikan kakaknya yang sudah duduk di sebelahnya.
"Kakak tahu kamu pasti lagi ngejelekin kakak dalam hati kan" bisik Qania.
"Tau aja" jawab Syaquile kemudian tertawa pelan.
"Tadi aja pingin ketemu, eh giliran ada orangnya kok malah asyik sama adiknya. Gimana sih?" ledek papanya.
"Iya nih" mamanya ikutan.
"Hehehe, apaan sih ma, pa" Qania malu.
"Ya ampun, giliran ada kak Arkana aja langsung berubah jadi kucing rumah" cibir Syaquile, kemudian bergegas pergi karena tahu pasti sebentar lagi kakaknya akan kesal dan memarahinya.
"Syaquileee....."
Kan benar apa kata Syaquile, untung saja ia segera berlari dan tertawa di kamarnya. Kalau tidak, ia harus menghadapi kemarahan kakaknya dan berujung nasihat pedas dari kedua orang tuanya.
"Hei sudah dong, ada tamu juga" lerai Alisha.
"Iya nih ma, nggak malu sama calon suami" timpal papanya menggoda Qania.
"Ih papa... Qania kan malu" Qania menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona di wajahnya.
Arkana sedari tadi hanya diam mengamati interaksi yang terjadi di rumah ini, sesekali ia tersenyum sambil melirik Qania. Dalam hati ia merasa begitu beruntung bisa mendapatkan keluarga sehangat ini, keluarga yang bida dikatakan kaya namun terlihat begitu sederhana.
"Tuh lihat, Arkana jadi terabaikan" ucap Zafran sembari menatap ke arah Arkana.
"Eh nggak kok om, santai aja" kata Arkana.
"Ya sudah, tante sama om ke dalam dulu. Kalian ngobrol aja" kata Alisha kemudian berdiri dari duduknya diikuti oleh sang suami.
"Iya om, tante" jawab Arkana.
🌺 Di ruang keluarga
"Kamu kenapa, hemm?" tanya Arkan setelah tinggal keduanya yang berada disana.
"Aku takut" jawab Qania lirih namun masih menundukkan kepalanya.
"Takut apa?"
Qania tidak menjawab, ia takut jika ia mengatakannya maka ia tidak sanggup mengontrol air matanya.
"Hei, sayang. Kamu kenapa? Ada apa?" tanya Arkana sambil bergeser ke sebelah Qania.
Namun Qania masih enggan bicara, matanya mulai berkaca-kaca. Arkana yang mengerti kalau sang pujaan hati tengah bersedih langsung menariknya masuk ke dalam dekapannya, membuat kepala Qania bersandar di dadanya.
"Katakan" ucap Arkana dengan lembut.
"Aku takut" lirih Qania.
"Apa yang membuatmu takut, hemm?"
"Aku takut kehilangan kamu".
__ADS_1
Tik..
Setetes air berhasil lolos dari mata Qania.
"Hei sayang aku ini hanya mencintai kamu. Buang jauh-jauh pikiranmu itu" Arkana terkekeh, merasa lucu karena Qania begitu takut kehilangannya.
"Ada yang lucu?" Qania melepaskan diri dari Arkana, kemudian menatap kekasihnya dengan aura yang begitu dingin.
Mencekam..
Itulah yang di rasakan oleh Arkana.
"Ya nggak ada yang lucu sayang, hanya saja aku kaget karena kamu itu sedih cuma karena berpikir takut kehilangan aku, itu doang kok, jangan marah" kata Arkana sembari mencoba menarik kembali tubuh Qania agar kembali bersandar di dadanya.
Namun tanpa Arkana duga Qania justru menepis tangannya dan langsung berdiri.
"Itu doang? Cuma? Kamu pikir aku sedang bercanda Arkana? Kamu pikir ini hal sepele? Disaat aku begitu takut kehilangan kamu, kamu malah menganggap aku seolah berlebihan, hahh?" Qania sudah tidak mampu lagi menahan perasaannya, sehingga tanpa sadar ia berteriak histeris di depan Arkana.
"Hei sayang kamu...."
"Dua kali, dua kali aku mimpiin kamu mati Arkana. Dua kali aku mimpiin kamu meninggal di depan mataku. Dua kali aku harus merasakan ketakutan yang luar biasa di mimpiku dan di alam sadarku. Terus dengan gampangnya kamu nyepelehin perasaan aku kayak gini hah?" teriak Qania dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
"Aku nggak tahu sayang" lirih Arkana.
"Sekarang udah tahu kan" balas Qania sambil menatap sinis ke arah Arkana.
Arkana tertunduk, ia tidak tahu harus berkata apa lagi disaat Qania dalam keadaan emosi dan ketakutan seperti ini.
Qania menjatuhkan dirinya di atas sofa di samping Arkana.
"Hah, aku tahu ini hanya mimpi. Tapi aku juga takut jika ini menjadi pertanda" ucap Qania lirih sambil meremas rambutnya.
"Aku sayang banget sama kamu, aku takut kehilangan kamu. Aku memang berlebihan, tapi ini karena aku punya rasa yang begitu besar terhadap kamu Arkana Wijaya" ucap Qania sambil memukul-mukul dada Arkana.
"Aku tahu sayang, aku tahu. Maaf karena membuatmu marah, dan terima kasih karena sudah begitu mengkhawatirkanku" ucap Arkana kemudian mengecup rambut Qania berulang kali.
"Kamu tahu apa yang kita alami beberapa hari belakangan ini. Dengan hobi kamu yang selalu membuatku khawatir, di tambah lagi sama orang psikopat yang selalu membuntuti kita kemana saja dengan hal-hal tak terduga yang dia lakuin. Gimana aku nggak semakin takut coba" ucap Qania kemudian menyandarkan punggungnya di sebelah Arkana sambil mengusap air matanya.
"Aku janji akan lebih berhati-hati dan akan mengganti hobiku dengan yang lain" hibur Arkana.
"Benar?" selidik Qania.
"Iya sayang" jawab Arkana membalas tatapan Qania.
"Kalau melanggar?".
"Nggak akan".
"Aku akan jadi ekor kamu, aku ingin ikutin kamu kemana pun kalau begitu. Hanya untuk memastikan" ucap Qania.
"Jangan jadi ekorku, kamu akan berjalan di belakangku. Tetaplah disisiku, aku mau kamu selalu di sampingku, berjalanan sejajar dan beriringan bersamaku" ucap Arkana serius.
"Gombal" ledek Qania namun wajahnya sudah memerah.
"Hei, aku serius ini" bantah Arkana tak terima.
"Iya deh" kata Qania datar.
"Oh sudah bisa bikin kesal ya" Arkana mengangkat senelah alisnya.
"Menurut lo?" Qania balas dengan mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
"Wah.. jadi lo gue nih sekarang hah?" tanya Arkana yang kemudian langsung menggelitik perut Qania.
"Hahaha... ampun sayang.. hahahah... sudah, berhenti..." Qania tertawa geli.
Keduanya tertawa, seakan kesedihan itu hilang seketika dari hati dan pikiran Qania. Sementara Alisha dan Zafran yang mendengar tawa dari kedua anak tersebut langsung bernapas lega.
"Haih lihat ma, dia penyebab kesedihan dan dia juga obat penawarnya" ucap Zafran sambil menggelengkan kepalanya.
"Benar pa, mama jadi gemas sama mereka berdua. Kenapa kita nggak langsung nikahin aja keduanya ya" ucap Alisha sambil memikirkan ucapannya.
"Mereka masih muda ma, nanti saja" kata Zafran kemudian berlalu masuk ke kamar mandi.
"Iya juga sih pa" kata Alisha, ia kemudian kembali membaca majalahnya.
Sementara di luar, Arkana dan Qania sudah kembali berbincang dengan sesekali melempar canda, tidak ada lagi raut wajah sedih di wajah Qania.
"Arkana, kamu awan gelap juga pelangiku" batin Qania.
"Aku tahu aku tampan" ucap Arkana yang mendapati Qania yang terus menatapnya.
"Narsis" cibir Qania kemudian mengalihkan pandangannya.
"Sayang" panggil Arkana.
"Hemm.."
"Sayang.."
"Apa?"
"Qania Salsabila Wijaya" panggil Arkana gemas.
"Iya sayang, ada apa?" tanya Qania akhirnya menoleh.
"Give me a candy" pinta Arkana.
"Mesum".
"Sayang please" rengek Arkana.
Pletaakk...
"Aaawwhh" ringis Arkana.
"Rasain, berani-beraninya mesum di rumah aku" ucap Qania kemudian mengusap-usap dahi Arkana yang memerah akibat sentilannya.
"Berarti kalau nggak di rumah kamu aku boleh mesum dong?" goda Arkana membuat Qania membelakanginya.
"Tau ah, gelap" ketus Qania.
"Arkana, yuk ke masjid" ajak Zafran yang baru saja datang sudah dengan pakaian sholatnya.
"Ayo om, aku pergi dulu ya sayang" pamit Arkana yang kemudian berdiri.
"Iya" jawab Qania sembari tersenyum.
Arkana dan Zafran pergi ke masjid bersamaan, meninggalkan Qania sendiri yang masih terus menatap ke arah pintu.
"Aku ragu si pembalap liar itu tahu bacaan sholat" gumamnya, kemudian tertawa.
.....................
__ADS_1