
Tristan mengatur napasnya begitu mereka sudah duduk di dalam warung makan. Bagaimana ia tidak dibuat kacau oleh Qania, jam hampir menunjukkan pukul dua belas siang dan Qania mengajaknya berjalan kaki menuju ke sebuah warung makan yang letaknya hampir satu kilo meter dari tempat tinggal Qania.
"Cemen, baru juga segini. Katanya mau jalan sampai keliling kota," ledek Qania.
"Kamu mungkin biasa tapi aku enggak," ucap Tristan membela diri.
"Dih, laki-laki kok gitu," cibir Qania.
"Biarin. Hah, sepertinya aku harus berlatih berjalan kaki lebih jauh jika ingin kencan denganmu," ucap Tristan membuat Qania yang sedang memesan makanan terkikik geli.
Qania pun kembali duduk bersama Tristan sambil menunggu makanan mereka datang. Ia memperhatikan dengan seksama wajah tampan Tristan yang sedang kelelahan itu.
Benar-benar mirip. Aku kadang sulit membedakan dia itu Tristan atau Arkana.
"Mana panasnya minta ampun," keluh Tristan.
"Lagian kamu tuh kenapa pakai baju seperti ini? Udah kayak CEO aja," nyinyir Qania.
"Tadinya aku tuh mau meeting, tapi entah kenapa aku tergerak untuk mendatangi kontrakan anak sultan ini eh nggak tahunya aku ketemu sama jodohku disana," jawab Tristan.
"Dasar alay," ucap Qania mencebikkan bibirnya. Ia sama sekali tidak tersipu karena sejujurnya hatinya belum yakin ingin membagi dengan pria asing yang berwajah sama dengan suaminya.
Makanan mereka pun datang dan keduanya menyantap dengan khidmat tanpa berbicara sama sekali. Sesekali Tristan mencuri pandang pada Qania yang sudah beberapa kali ia perhatikan saat makan maka Qania hanya akan fokus pada makanannya. Ia jadi tersenyum sendiri melihat Qania yang begitu bersemangat dengan makanan sehingga membuat ***** makannya jadi bertambah.
"Sesekali masakkan aku makanan, masakanmu sangat enak," ucap Tristan disela-sela makannya membuat Qania berhenti mengunyah dan langsung menatap Tristan.
"Nanti," sahut Qania kemudian kembali fokus pada makanannya.
"Kapan?" tanya Tristan antusias.
"Kalau aku ada niat dan minat buat masakin kamu, sampai sekarang aku belum berminat untuk membuat masakan untukmu," sarkas Qania membuat Tristan terbatuk-batuk.
Qania cuek saja, ia kembali melanjutkan makanannya.
****! Dia bahkan nggak peduli gue keselek karena ucapannya. Untung sayang, huhh mulutnya pedas amat ya. Tapi manis bibirnya ... eh ngomong-ngomong soal itu, aku merindukan rasa manis itu. Kira-kira kalau aku melakukannya lagi, dia tidak akan marah padaku kan ya?
Qania mengerutkan keningnya melihat Tristan yang sedang senyam-senyum sendiri sambil mengadukannya makanannya. Qania yang sudah menghabiskan makanannya itu pun langsung bergegas menuju ke kasir untuk membayarnya. Ia masih melihat Tristan terus tersenyum dan itu membuatnya mendapatkan ide.
Melamun apa sih dia? Seperti orang bodoh saja, memalukan. Sebaiknya aku tinggal saja dia.
Qania pun memutuskan untuk meninggalkan Tristan dan langsung pulang menaiki ojek. Ia bukannya egois, hanya saja sedikit menahan hatinya karena tidak siap untuk jatuh terlalu jauh. Ia tidak bisa memastikan takdirnya bersama Tristan karena masih ada satu halangan lagi dan ia pun tidak akan menyingkirkan halangan itu karena ia bukan tipe wanita perebut hak milik orang lain. Ia membiarkan Tuhan yang menentukan jalannya. Ia percaya, semua akan indah pada waktunya.
Qania bukanlah orang yang suka menyembunyikan isi hatinya lama-lama sehingga ia memutuskan untuk mengatakannya kepada Tristan saja. Daripada ia pendam terus dan membuatnya sesak sendiri.
Lagi pula aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku tidak memintanya untuk memutuskan Marsya dan juga tidak menyuruhnya untuk menjadi kekasihku. Hanya sebatas memberitahu saja, karena sumpah, rasanya memendam rasa itu nyesek banget. Kan kalau udah diungkapin kayak gini jadi lega, ucap Qania membatin sepanjang perjalanan pulang di atas motor.
Sementara itu, Tristan yang tak sadar karena terus melamun dikejutkan oleh salah satu pelayan di warung makan tersebut.
"Mas, melamun ya?" tanya anak lelaki berusia sekitar delapan belas tahun, mungkin anak pemilik warung.
"Eh ...."
__ADS_1
"Maafkan saya sudah mengagetkan," ucapnya dengan sopan dan dijawab dengan senyuman oleh Tristan.
Setelah pelayan itu pergi, Tristan menatap lurus ke depannya dan terkejut lagi karena tidak melihat keberadaan Qania.
"Qania kemana?" tanya Tristan bingung.
Tristan memutuskan untuk menunggu sesaat, ia mengira Qania sedang berada di toilet. Namun sampai sepuluh menit ia pun tak kunjung melihat Qania. Ia kembali gusar, ia pun memutuskan untuk bertanya kepada pelayan tadi.
"Oh, nona itu sudah pulang dari tadi, Mas," jawaban itu sukses membuat Tristan terkejut.
"Pu-pulang?" pekik Tristan.
"Iya, Mas. Permisi," ucapnya kemudian pergi melanjutkan pekerjaannya.
Tristan pun bergegas membayar makanannya dan kaget ternyata Qania pun sudah membayar makanannya sendiri. Ia pun bergegas keluar dan mencari taksi.
Setelah membayar ongkosnya, Qania turun dari motor dan mendapati Raka yang sudah duduk di kursi teras kontrakannya. Ada rasa lega karena ia tadi tidak pulang bersama Tristan. Dengan menormalkan raut wajah terkejutnya, Qania menghampiri Raka.
"Raka," sapa Qania.
"Hai. Kamu darimana sih Qan, siang bolong gini?" tanya Raka yang melihat Qania memakai topi dan turun dari ojek.
"Tadi aku dari warung makan," jawab Qania ikut duduk di sebelah Raka.
"Kenapa nggak naik motor sendiri?" tanya Raka lagi.
"Lagi malas aja," jawab Qania.
Disaat keduanya sedang berbincang, ada mata yang menatap dengan sorot mata bak elang dari dalam taksi. Ia mengepalkan tangannya melihat kedekatan Qania dengan pria lain.
Tristan pun memutuskan untuk mengintai dari dalam mobil. Ia mengedipkan sebelah matanya begitu bertatapan dengan mata Qania yang diam-diam juga sedang mengawasinya. Qania sampai menatap horor padanya dan itu membuatnya terkekeh.
"Oh ****! Cukup Qania, jangan tertawa bersama pria lain, aku tidak suka melihatnya," umpat Tristan yang terus memperhatikan interaksi Qania dan Raka yang saat ini sedang mengobrol sambil bercanda.
Sementara Qania, ia sesekali melirik ke arah Tristan yang terlihat mengenaskan dari dalam taksi yang kacanya terbuka dan menampilkan wajah Tristan. Niat untuk membuat Tristan kesal pun seketika muncul di benak Qania. Ia semakin serius mengajak Raka mengobrol.
Biar panas sekalian, hehehe, Qania membatin.
Qania pun mengajak Raka masuk agar Tristan bisa kembali ke mobilnya. Khawatir kalau seandainya sekarang Tristan sedang ada pekerjaan penting dan tidak bisa pergi karena hanya bersembunyi di dalam taksi. Lagi pula Raka pun dari tadi kebingungan melihat Qania yang terus melirik ke arah lain.
Saat melihat situasi aman untuk berpindah ke mobilnya, Tristan pun bergegas turun dari taksi dan langsung menuju ke mobilnya yang tidak jauh dari depan kontrakan Qania. Ia ingin mendengar lebih jelas apa yang dibicarakan oleh Qania dan Raka. Ia tidak ingin sampai kecolongan jika Raka tiba-tiba saja melamar Qania, sungguh pikiran yang konyol. Dia hanya tidak tahu saja pria yang sedang ia umpati itu sudah berjuang cukup lama untuk menjadi pendamping Qania.
Hampir setengah jam Tristan menguping pembicaraan Qania dan Raka hingga akhirnya Raka dan Qania pun keluar dari dalam rumah. Mereka tadi pun hanya duduk di ruang tamu yang bisa Tristan lihat dengan jelas dan duduknya pun berjauhan membuat lega sedikit di hati Tristan.
"Jangan lupa ya Qan, ntar malam gue jemput kita makan di luar," ucap Raka mengingatkan sambil memakai helmnya.
"Pasti," jawab Qania.
"Ya udah kalau gitu gue jalan dulu. Kamu baik-baik di rumah," pamit Raka dan Qania pun mengangguk.
Begitu Raka hilang dari pandangan Qania, dengan tergesa-gesa Tristan turun dari dalam mobil. Ia juga membanting keras pintu mobilnya membuat Qania terkejut.
"Qania," panggil Tristan, namun Qania acuh saja dan memilih masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Tidak ingin semakin penasaran, Tristan menyusul Qania. Ia menarik lengan Qania sehingga membuat Qania menoleh padanya.
"Kau!" rujuk Tristan.
"Apa sih?" tanya Qania.
Tristan menatap lekat kedua netra Qania sehingga membuat Qania sedikit gugup. Tanpa sadar Qania berjalan mundur dan Tristan melangkah maju hingga akhirnya punggung Qania terbentur dinding.
Tristan menyeringai melihat kegugupan di wajah Qania. Ia pun mengurung Qania dengan kedua tangannya yang ia sandarkan di dinding.
"Aku tidak suka melihatmu tertawa bersama pria lain, Qania," ucap Tristan sambil menatap tajam pada Qania.
"Maaf," cicit Qania, entah mengapa ia mengucapkan kata maaf.
"Kau akan pergi kemana dengannya nanti malam, hem?" tanya Tristan menginterogasi.
"Restoran C," jawab Qania spontan.
Tristan tersenyum miring. "Apa dia akan menjemputmu?"
Qania mengangguk seperti sedang dihipnotis saja.
"Kalau begitu katakan padanya kalau kau akan datang sendiri. Aku, aku yang akan mengantarmu kesana," perintah Tristan.
"Ta-tapi-"
"Tidak ada tapi- tapian. Sekarang kirim pesan padanya kalau kau akan datang sendiri dan kalian akan bertemu disana," ucap Tristan.
"Kalau aku tidak mau?" tantang Qania.
"Jangan menguji kesabaranku Qania. Lakukan sekarang," perintah Tristan menahan kesalnya.
"Kau tidak berhak melarang ku tuan Tristan Anggara," ucap Qania menantang.
"Aku berhak. Kalau kau tidak mau melakukannya maka jangan salahkan aku jika aku menculikmu lalu membawamu ke hadapan penghulu detik ini juga," ancam Tristan.
"Coba saja kalau bisa," tantang Qania.
"Kau!"
Cup ...
Qania terkejut bukan main begitu Tristan dengan secepat kilat mengecup bibirnya. Mata Qania terbelalak saat melihat Tristan menyeringai puas.
"Dasar mesum, beraninya kau mencuri ciumanku. Pergi kau dari sini," usir Qania yang sudah sangat kesal.
"Itu belum seberapa Qania, jadi jangan coba-coba untuk menantang ku. Ingat Qania, nanti malam aku yang akan mengantarmu entah kau suka atau tidak," ucap Tristan kemudian meninggalkan Qania yang sedang mengumpatinya.
Sambil bersiul Tristan berjalan masuk ke dalam mobilnya kemudian membuka kaca mobilnya begitu melihat Qania keluar dari dalam rumah. Sebelum pergi pun Tristan sempat memberikan kiss bye pada Qania yang sedang menatapnya di teras dan itu membuat Qania bergidik ngeri.
"Dia membuatku teringat akan Arkana Wijaya, si pria pemaksa. Pembalap liar yang sayangnya begitu aku cintai. Ah kan, aku jadi merindukan suamiku. Arkana, maafkan aku yang lalai menjaga hati dan diriku. Aku harap kamu bisa memakluminya karena kau pun tahu alasannya mengapa aku sampai seperti ini. Dia begitu mirip denganmu, setiap kali aku bersamanya aku merasa seolah sedang bersamamu," ucap Qania sambil menatap mobil Tristan yang semakin menjauh.
.... . ....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 🤎🤎🤎
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...