Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Teman Bahagia


__ADS_3

Qania mengantarkan hasil ujiannya itu tepat dua puluh menit seperti waktu yang diberikan. Pak Haris dan bu Lira yang diminta untuk memeriksa jawaban tersebut karena bu Intan tidak di izinkan oleh pak Bram.


“Sempurna” ucap pak Haris sambil tersenyum bangga.


“Semuanya benar dan tepat pak” ucap bu Lira menatap ke arah pak Bram.


“Ya sudah Qania, kamu boleh duduk kembali bersama teman-temanmu” pinta pak Haris yang diangguki oleh Qania.


Setelah suasana kembali tenang, pak Haris menyerahkan kembali keputusan kepada pak Bram.


“Jadi setelah kita semua tahu hasil dari ujian Qania dan juga tugas besarnya, dapat kita pastikan bahwa nilai Qania itu sudah sangat sempurna. Dan saya meminta nilai mata kuliahnya ini di kasih nilai A dan itu mutlak tidak bisa dibantah” ucap pak Bram.


Semua teman-teman Qania bertepuk tangan sambil memberikan teriakan khas mereka “TEKNIK, TEKNIK, TEKNIK, YES”.


“Dan untuk kamu Larasati Devana Bramantio, setelah mengingat, menimbang semua perbuatan kamu selama ini maka saya selaku rector di kampus ini memutuskan untuk mengeluarkan kamu dari kampus ini. Namun dengan nilai kamu yang memuaskan maka kampus ini juga sudah menghubungi kampus lain agar bisa menerima kamu dengan tidak menyebutkan masalah kamu di kampus ini. Sekarang silahkan kamu keluar dari ruangan ini dan jemput berkas kamu di ruangan administrasi fakultasmu” ucap pak Bram dengan sangat bijaksana dan berkharisma.


Dengan air mata yang berlinang dan juga rasa malu yang tidak ada duanya, Laras melangkah keluar sambil menatap benci pada papanya dan juga Qania yang sedang menatapnya datar.


“Dan untuk kamu bu Intan, saya tidak akan mengeluarkan kamu dari kampus ini” ucap pak Bram menjeda ucapannya.


“Syukurlah, terima kasih pak” akhirnya bu Intan bersuara dan mengangkat kepalanya.


“Tapi sebagai konsekuensinya kamu sekarang harus melepas jabatan kamu sebagai ketua program studi teknik sipil dan juga saya mencabut bea siswa S tiga kamu yang akan di mulai semester depan itu, ini keputusan mutlak dan saya akhiri rapat hari ini. Terima kasih atas waktunya, sekian dan terima kasih” ucap pak Bram kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah pergi dengan raut wajah yang amat pedih.


“Yee selamat Qan” ucap semua teman-temannya di ruangan itu.


“Terima kasih, tanpa kalian ini tidak akan terjadi” balas Qania sambil menitikkan air matanya, ia terharu.


“Selamat Qania” ucap pak Haris.


Qania bergegas berjalan ke arah pak Haris kemudian menciumi punggung tangan dekannya itu.


“Terima kasih pak, ini juga berkat bapak” jawab Qania dengan tulus.


Qania menatap bu Lira yang juga sedang menatapnya dengan bangga. Tanpa ba bi bu Qania langsung berlari dan memeluk bu Lira yang sedang berdiri itu.


“Terima kasih bu, terima kasih banyak” ucap Qania, air matanya sudah mengalir.


“Sama-sama sayang, semua sudah menjadi tanggung jawab ibu. Ibu tunggu kamu di ujian nanti” ucap bu Lira yang juga terharu, ia mengusap punggung Qania.


“Siap bu, mohon bimbingannya” ucap Qania yang sudah tersenyum senang setelah melepaskan pelukannya.


“Tentu” jawab bu Lira sambil tersenyum kemudian ia pergi.


“Qania, maafkan ibu” ucap bu Intan yang menghampiri Qania.


“Saya sudah memaafkan ibu, tetaplah membimbing kami bu. Kami membutuhkan ibu untuk kesuksesan kami” jawab Qania dengan bijak dan itu semakin menohok bu Intan.


“Terima kasih Qania, sekali lagi ibu sangat menyesal” ucapnya kemudian pergi berlalu.


Ruangan itu tinggal menyisakan Qania dan teman-temannya.


“Balik yuk, kita ke himpunan” ajak Cika.


“Ayo” jawab mereka bersamaan membuat Qania tertawa.


 


#Di Hiumpunan


“Anak-anak pada kemana?” Tanya Qania saat keluar dari ruangan rapat itu.


“Semuanya udah balik ke himpunan” jawab Risti yang masih menunggu di luar bersama Yani.


“Ya sudah, yuk balik” ajak Cika.


Benar saja, sesampainya mereka di himpunan, di sana sudah berkumpul semua mahasiswa yang tadi ikut bersama mereka saat demo. Hanya saja sebagian dari mereka sudah ada yang pulang, termasuk senior yang sudah memiliki kesibukannya tersendiri meski pun ada yang belum selesai kuliahnya.


“Abang-abang dan kakak-kakak yang lain kemana?” Tanya Rey yang baru saja duduk di bangku di depan himpunan.


“Mereka sudah balik duluan bang, karena sibuk dengan penelitian. Tinggal kita-kita disini, oh iya katanya beri tahu mereka hasilnya” jawab Kasman.


“Abdi, lo kasih tahu sama kak Syahrul kalau kita berhasil” pinta Prayoga.


“Oke” jawab Abdi.


Di himpunan yang tinggal menyisakan hampir empat puluh orang itu, dimana para junior lah yang lebih banyak dari pada senior yang memiliki banyak kesibukan. Sementara yang lainnya tadi tinggal di kampus karena beberapa dari mereka harus memperbaiki nilai.


Tak berselang lama, sebuah mobil berwarna hitam mengkilap memasuki area himpunan membuat mereka bertanya-tanya siapa yang datang, karena dosen mereka pun tidak ada yang memiliki mobil seperti itu. Qania, hanya dia yang tidak penasaran karena ia sangat tahu siapa pemilik mobil tersebut.

__ADS_1


Pintu mobil terbuka, seorang pria dengan memakai baju kaos berwarna putih dibalut dengan jaket kulit hitam dan juga celana jeans panjang hitam, keluar dari mobil dengan kaca mata yang masih bertengger di hidungnya itu.


“Wah kerenya..”


“Siap ya..”


“Nyari gue tuh..”


“GR banget sih lo, orang dia nyari gue..”


Qania hanya tertawa geli dalam hati mendengar para juniornya yang terpesona akan sosok tunangannya itu, namun ia sama sekali tidak merasa cemburu karena selain Arkana yang sangat memujanya itu, juniornya juga menghormatinya. Jadi tidak ada alasan baginya untuk menaruh rasa cemburu, ia membiarkan saja orang-orang mengagumi kepunyaannya itu selagi dalam batas wajar.


Arkana melepas kacamatanya sembari tersenyum ke arah Qania yang juga menatapnya sambil tersenyum.


“Wah.. asli dia keren dan cakep banget..”


“Dia senyum ke gue tuh..”


“Kepedean lo, orang dia senyum ke gue..”


“Dia kan Arkana..”


“Lo kenal?”


“Iya, dia pembalap yang sering gue ceitain itu..”


Qania lagi-lagi tertawa dalam hati, sementara teman-temannya yang sudah mengetahui Arkana hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah junior mereka.


“Ciee.. Qania di samperin tunangannya” goda Abdi dan Prayoga.


“Ih apaan sih, malu tahu” ucap Qania yang sudah merona.


Arkana berjalan mendekat ke arah mereka, membuat para junior merasa degdegan, namun sayang mereka harus kecewa karena Arkana melewati kumpulan mereka dan mal;ah menuju ke perkumpulan senior mereka. Tatapan mata mereka tak lepas dari Arkana.


“Hallo sayang, hai semuanya” sapa Arkana kemudian duduk di bangku yang sama dengan Qania.


“Hai juga, kok tahu aku di sini?” Tanya Qania.


“Jangan buat live di social media, supaya aku nggak tahu” jawab Arkana menyeringai.


“Hehehe, aku lupa” ucap Qania kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Arkana.


“Yah patah hati deh gue” timpal yang lainnya.


“Tapi mereka serasi, cantik dan tampan” sahut yang lainnya.


“Tuh dengar, kamu udah buat adik-adik aku patah hati” ledek Qania.


“Hahaha, benar tuh Ka” sambung Abid.


“Hahaha, aku tak tahu soal itu. Tapi aku bawa sesuatu buat kalian, pasti capek kak?” Tanya Arkana.


“Banget” jawab mereka kompak.


“Di, boleh minta tolong buat ambilin sesuatu buat kalian di bagasi mobil? Gue nggak kunci kok” Tanya Arkana meminta bantuan.


“Boleh, yuk” ajak Abdi pada Baron, Rey, dan Prayoga.


Ke empatnya berjalan menuju mobil Arkana.


“Waw, ini buat kita nih?” Tanya Abdi berteriak saat melihat ada banyak nasi kotak di bagasi mobil Arkana.


Arkana mengangguk, dengan antusias ke empat orang itu langsung membawa plastic yang berisi nasi kotak itu. Mereka menaruhnya di atas meja bundar yang di dekat mereka.


“Tadi aku lihat di video kalian jumlahnya sekitar seratusan makanya aku beli nasi kotak itu lebih dari seratus kotak dan juga itu dari mama dan papa Qania serta ayah mertua Qania yang sudah melihat video itu, kok tinggal segini?” Tanya Arkana.


“Yang lain lagi pergi, ada urusan. Paling nggak lama lagi pada balik lagi ke sini” jawab Baron.


“Oh, kalau begitu kalian bagi-bagikan saja sama yang ada di sini, sisanya simpan buat mereka” ucap Arkana yang lebih dulu mengambil dua kotak.


“Oke, adik-adik yuk gabung ini ada nasi kotak” teriak Rey.


Semuanya datang mengerumuni kumpulan Abdi and the geng, baik yang berada di dalam himpunan mau pun yang ada di luar. Dengan bersemangat mereka mengantre satu per satu seperti biasanya.


“Kamu ngapain ngambil dua?” Tanya Qania melirik nasi kotak yang dipegang Arkana.


“Yang satu buat kamu dan satu buat aku lah” jawab Arkana sambil menyerahkan sekotak nasi itu pada Qania.


Qania mengangkat sebelah alisnya.

__ADS_1


“Sekali-sekali makan bareng kamu dan teman-teman” ucap Arkana yang mengerti maksud tatapan Qania.


“Benar banget tuh” sambung Baron yang sedang mengunyah.


“Mari makaaan” teriak Yani dengan antusias.


Mereka pun makan dengan sesekali bercanda, karena mereka sudah terbiasa saat makan bersama pasti bercerita.


“Astaga sayang apa ada air minumnya?” Tanya Qania yang baru tersadar saat ia merasa haus.


“Oh iya aku lupa sayang, airnya ada di dalam mobil di kursi belakang kemudi” jawab Arkana sambil menepuk jidatnya.


“Biar gue dan Rey yang ambil” ucap Prayoga yang baru akan memulai makan setelah tadi ia sempat ke toilet dulu dan Rey baru saja menerima telepon dari kekasihnya Mita. “Yuk Rey” ajak Prayoga yang sudah berjalan lebih dulu kemudian di susuli Rey.


Setelah selesai makan, mereka kembali bersantai seperti biasanya di bangku itu dengan Abdi yang setia bersama gitarnya dan Risti yang duduk di sebelahnya.


“Pinjam boleh?” Tanya Arkana pada Abdi.


“Tentu bro” jawab Abdi sambil mengulurkan gitar tersebut.


“Buat Qania Salsabila Wijaya” ucap Arkana yang sudah dengan posisi akan memainkan alat music tersebut


“Cieee…” teriak mereka menggoda Qania yang sudah merona.


Arkana pun mulai memainkan alat music tersebut dengan pandangan tertuju padanya.


Tak kan pernah terlintas, Tuk tinggalkan kamu


Jauh dariku, kasihku


(Arkana menatap Qania sambil tersenyum manis dan itu membuat Qania tersipu malu, dan para gadis yang ada di sana ikut meleleh)


Karena aku milikmu, Dan kamu milikku


Separuh nyawaku, hidup bersamamu


Berdua kita lewati, Meski hujan badai takkan berhenti


Sehidup semati, Mentari pun tahu ku cinta padamu


Percaya aku takkan kemana-mana


Aku kan selalu ada , temani hingga hari tua


Percaya aku takkan kemana-mana


Setia akan ku jaga, kita teman bahagia


Tak pernah ku lupa, kamu yang ku cinta


Dari ujung kaki hingga ujung kepala


(Arkana berhenti sejenak, tanpa terduga ia mengecup dahi Qania yang sedang duduk menatapnya dan hal itu membuat Qania melotot kaget sementara yang lainnya berteriak “Ciee.. so sweet”)


Aku ingin kamu, kamu yang ku mau


Belahan jiwaku, kamu masa depanku


Berdua kita lewati, Meski hujan badai takkan berhenti


Sehidup semati, Mentari pun tahu ku cinta padamu


Percaya aku takkan kemana-mana


Aku kan selalu ada , temani hingga hari tua


Percaya aku takkan kemana-mana


Setia akan ku jaga, kita teman bahagia


Ohhh..hoo…..


Arkana terus menatap Qania dengan tatapan sayang dan memuja dengan senyum yang terus terbit dari bibirnya itu, sementara Qania terbuai dengan lagu yang ARkana nyanyikan seolah lagu itu mengutarakan isi hatinya dan juga isi hati Arkana.


“I love you Qania” ucap Arkana menyudahi lagunya


“Cieee….” Lagi dan lagi Qania di soraki dengan kata itu dan itu sukses membuat wajahnya memerah malu.


“I love you too Arkana” balas Qania tanpa malu kali ini.

__ADS_1


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


__ADS_2