
Sudah beberapa hari ini Qania dibuat kesal dengan kedatangan Julius ke kostannya dan itu diwaktu yang tidak bersamaan dimana terkadang Raka yang datang duluan tetapi saat belum lama Raka pulang Julius lah yang datang ataupun sebaliknya.
Qania selalu memarahi keduanya namun mereka tidak kapok karena terus mendapat pembelaan dari nek Nilam. Qania hanya bisa pasrah dan terkadang jika ia sudah kesal maka ia akan meninggalkan keduanya dan membiarkan nek Nilam yang meladeni kedua pria itu dengan segala macam alasan yang Qania buat.
Saat ini, Qania sedang menatap kesal pada Julius yang tengah menyetir mobil. Keduanya saat ini sedang berada di dalam mobil Julius dan entah kemana tujuan mereka.
“Kenapa diam? Rumah pak Agus masih jauh? Atau jangan-jangan nanti naik pesawat lagi baru sampai” sindir Qania.
Qania sudah merasa kesal karena sudah lebih dari dua jam mereka berada di dalam mobil yang tengah melaju di jalan raya yang kata Julius mereka akan menuju ke rumah pak Agus untuk mengurus dan menyerahkan KHS mereka.
Tapi kenyataannya sampai kini mereka masih saja berada di jalanan dan itu membuat Qania semakin kesal pada Julius yang ia yakini bahwa cowok di sebelahnya ini tengah mengerjainya.
“Dikit lagi kok Qan” ucap Julius.
“Dari tadi gitu mulu jawabanmu” ketus Qania.
“Sebenarnya.. emmm, sebenarnya.. gu..gue..”,.
“Sebenarnya gue nggak tahu dimana rumah pak Agus, gue Cuma mau jalan sama lo. Gitu kan maksud lo”,.
Qania memotong ucapan Julius, ia sudah tahu sejak awal kalau inilah yang dimaksud Julius. Dengan wajah syok Julius menatap Qania yang sedang menatap kesal padanya.
“Maaf Qan, elo kok bisa tahu sih?” nampak sekali Julius begitu gugup setelah Qania membuatnya mati kutu.
“Ya sudah aku mau pulang” ucap Qania kemudian melirik ke jendela, enggan menatap wajah memelas Julius.
“Tapi kita singgah makan dulu ya, aku mau minta maaf” ajak Julius.
“Pulang atau aku yang turun?” tegas Qania tanpa menoleh kearah Julius.
Julius mendesah pasrah jika situasinya sudah seperti ini. Ia merutuki kebodohannya yang sudah membohongi Qania. Ia pun memutar arah mobilnya dan tidak berani lagi bersuara sepanjang jalan.
“Harusnya dari awal kamu jujur supaya aku nggak kecewa sama kamu” ucap Qania memecah keheningan diantara mereka dan masih tanpa menoleh pada Julius.
“Maaf Qan, gue Cuma nggak tahu harus pakai cara apa biar lo mau gue ajak jalan” cicit Julius yang sesekali melirik Qania yang sampai saat ini enggan untuk menatapnya.
Qania tertegun mendengar ucapan Julius, jujur saja hatinya terasa sedikit perih karena sudah sejahat itu pada Julius dan Raka yang selalu berjuang mendapatkan hati dan perhatiannya tapi balasan darinya hanyalah kekesalan dan terus bersikap jutek dan cuek.
‘Ya mau gimana lagi, aku hanya tidak bisa move on dari Arkanaku. Hanya itu’,.
Qania menghela napas dan mencoba menstabilkan emosinya. Ia berusaha berdamai dengan situasinya saat ini dan tidak ingin bersikap egois pada Raka dan Julius.
“Ya sudah kita singgah beli makanan dan kalau boleh kita makannya di kostanku saja. Sekalian ada yang ingin aku bahas dan kita bisa ngobrol sambil makan-makan, bukan?” ucap Qania.
Seperti mendapat angin segar, Julius mengangguk antusias. Dengan wajah berseri-seri ia menatap Qania yang saat ini juga sedang menatapnya.
“Baik Qan, kita on the way restoran deh” ucap Julius bersemangat.
__ADS_1
“Nggak usah, itu kelamaan dan mahal serta porsinya sedikit. Di warung tenda saja, pesan lima porsi ayam bakar” tolak Qania.
“Ouhh begitu ya?” tanya Julius yang terlihat agak bingung dengan makanan pilihan Qania.
“Kenapa? Mau bilang lagi kalau cewek itu biasanya suka makan di restoran mahal dengan harga fantastis dalam porsi yang sedikit, iya?”,.
“Hehehe, lo tahu aja Qan” kekeh Julius.
“Ya udah kebaca aja dari raut wajahmu. Perlu kamu tahu saja, tidak semua cewek seperti itu. yang biasanya maunya makan di restoran mahal dan milih menu dengan harga yang paling mahal tapi porsinya sedikit itu kebanyakan hanya untuk jaga image atau pun gaya-gayaan doang”,.
“Itu bukan aku, aku ini orangnya suka makan. Keluargaku bukanlah dari keluarga kelas menengah kebawah, bahkan mertuaku orang terkaya di kotaku serta papaku adalah seorang pengusaha sekaligus ketua Dewan, tapi aku lebih suka makan makanan yang tersedia di pinggir jalan. Rasaya tak kalah enak dan yang pasti murah meriah serta porsinya lebih banyak”,.
“Aku nggak suka jaga image di depan makanan atau pun cowok. Aku Cuma ingin orang mengenal aku ya apa adanya aku. Mau suka atau tidak ya aku tidak peduli, toh ini hidupku”,.
Julius tertegun mendengar penuturan Qania tersebut dan juga senang karena baru kali ini Qania banyak berbicara padanya dan lebih terbuka tentang dirinya sendiri. Dan dari semua ucapan Qania tersebut, meninggalkan rasa kekaguman yang besar di dalam hati Julius.
“Aku suka cewek yang apa adanya. Kamu juga benar banget Qan, yang aku lihat dan dengar dari pengalaman teman-temanku memang benar kebanyakan pacar mereka memilih menu mahal dan makan di restoran mewah hanya untuk terlihat bergaya dan sosialita” timpal Julius.
“Hu’um. Makanya kamu kalau cari pacar jangan yang bermuka dua, yang apa adanya saja” ucap Qania.
‘Benar banget Qan, dan cewek itu ada di depan gue. Elo Qania, elo cewek yang gue mau yang pingin gue jadiin pacar gue dan kalau bisa ibu dari anak-anak gue’,.
“Seperti?” pancing Julius.
“Ya aku nggak tahu seperti apa dan siapa, aku mana tahu seleramu seperti apa” jawab Qania.
“Ya kamu doain aja semoga aku bisa mendapatkan pasangan terbaik seperti kamu dan suamimu itu” ucap Julius sengaja menyebutkan suami Qania agar si wanita incarannya itu tidak kesal lagi padanya.
Qania hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan Julius tersebut. Dan tak lama kemudian Julius menghentikan mobilnya di depan warung tenda penjual ayam bakar. Ia meminta Qania untuk menunggu saja di dalam mobil dan biar dia yang turun untuk memesan makanan tersebut.
Saat Julius sedang berada di warung tenda tersebut, Qania langsung menelepon Raka.
“Assalamu’alaikum, kamu lagi dimana Ka?” tanya Qania begitu Raka menjawab panggilannya.
“Gue lagi di jalan Qan, mau ke kostan elo” jawab Raka.
“Eh kamu lagi naik motor?” tanya Qania sedikit gelisah.
“Iya Qan, kenapa?”,.
“Kamu menepi deh, jangan ngobrol di telepon sambil nyetir motor” pinta Qania.
‘Wah rupanya Qania khawatir juga sama gue’ batin Raka.
“Kamu tenang aja Qan, tadi waktu kamu nelepon aku udah menepi dan berhenti kok”,.
“Oh syukurlah. Oh iya Ka, aku emang mau minta kamu datang ke kostan aku. Aku tunggu ya” ucap Qania.
__ADS_1
“Oh oke Qan, gue kesana sekarang ya” ucap Raka bersemangat.
“Jangan lupa mampir di mini market beli camilan” kekeh Qania.
“Siap Salsabila”,.
Setelah memutus panggilan dengan Raka, tak lama kemudian Julius pun datang dan langsung meletakkan makanannya di jok belakang lalu melajukan mobilnya ke kostan Qania.
*
Mobil Julius masuk bersamaan dengan motor Raka yang juga berhenti tepat disamping mobil Julius. Qania kemudian turun dan langsung mengajak kedua pria yang nampak sedang berperang dingin itu untuk masuk.
“Assalamu’alaikum. Nek, Lala, ayo kita makan malam” teriak Qania yang berjalan ke dapur untuk mengambil peralatan makan.
Lala yang baru saja keluar dari kamarnya yang memang terletak di dekat dapur pun langsung membantu Qania membawa beberapa piring dan gelas serta sendok dan air obokan.
“Kak emang mau makan dimana dan kenapa ada banyak peralatan makan?” tanya Lala sambil berjalan bersama Qania ke ruang tamu.
“Nanti juga kamu tahu” jawab Qania.
Di ruang tamu sudah ada nek Nilam yang sedang duduk bersama Raka dan Julius. Lala nampak kaget melihat ada banyak makanan dan juga camilan di atas meja. Qania menyikut lengan Lala yang tengah syok melihat banyaknya makanan itu.
“Hehe, maaf kak” kekeh Lala.
*
Ruang tamu sudah bersih dan kini tinggal Qania, Raka, Julius dan Lala yang berada di ruang tamu sambil menikmati camilan. Nek Nilam tadi sudah pamit untuk beristirahat dan masuk ke dalam kamarnya.
“Jadi aku meminta kalian berdua untuk datang kesini karena ada yang ingin aku bicarakan. Aku akan mengutarakan maksudku dan aku harap kalian berdua bisa menyimaknya dengan baik dan setelah itu kalian berdua akan bersikap dewasa dan legowo” ucap Qania.
Qania melirik Raka dan Julius yang terlihat tegang dan serius menunggu ucapan Qania, sementara Lala hanya fokus pada makanan di tangannya.
“Aku tahu kalian berdua memiliki perasaan lebih padaku, aku sangat berterima kasih akan hal itu. Aku juga tahu kalian berdua berusaha bersaing untuk merebut perhatianku dan aku pun merasa sangat tersanjung dengan itu semua. Tapi maaf, aku tidak bisa membalas perasaan kalian berdua karena kalian tahu alasannya. Aku tidak ingin menggantikan posisi suamiku dengan siapapun meskipun aku akan menjadi janda seumur hidupku”,.
“Aku sudah memiliki seorang anak dan itu sudah cukup untukku. Aku tahu kalian akan bilang kalau aku suatu saat nanti akan membutuhkan pendamping dan aku tidak menyalahkan pendapat kalian itu. Aku tidak masalah kalian menyukaiku, tapi aku juga tidak bisa membuat kalian berharap pada sesuatu yang tidak pasti. Aku tidak bisa memastikan perasaanku dan apakah aku bisa membuka hatiku”,.
“Mungkin kalian akan berkata akan berjuang untuk menungguku, tapi aku tidak ingin kalian melakukan itu. Itu menjadi beban tersendiri dalam hidupku”,.
“Aku ingin kita memulai ini dengan persahabatan. Raka, kamu temanku, sahabatku dan aku tidak ingin kehilangan sosok sahabat sepertimu hanya karena rasa yang lebih di dalam hatimu. Jika kau ingin memutuskan pertemananmu denganku, ya itu hakmu. Aku tidak bisa melarang meskipun aku berharap kau tidak akan melakukan itu”,.
“Dan kau Julius, aku selama ini menganggapmu sebagai adikku karena aku melihat sifat adikku di dalam dirimu. Bahkan kau lebih muda dari adikku. Jadi jangan menyalahartikan perhatian dan sikap ramahku padamu sebagai sinyal ataupun kode-kode rahasia kalau aku membuka hatiku padamu. Dan jika kau pun ingin menjauhiku, itu adalah hakmu”,.
“Maaf, tapi lebih baik aku mengatakannya daripada kalian nanti lelah berusaha namun tidak membuahkan hasil. Jangan sampai karena mengejarku kalian mengabaikan cinta yang sudah menunggu kalian”,.
...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗
__ADS_1