Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Tulus


__ADS_3

Tristan menatap bergantian dua orang yang ada di depannya. Saat ini ia sedang bersama Marsya dan tuan Alvindo di sebuah restoran dalam rangka makan malam. Awalnya Tristan tidak ingin datang, namun mengingat seperti apa jasa dua orang itu kepadanya, akhirnya ia menyanggupi ajak mereka. Ia tidak ingin menjadi kacang yang lupa akan kulitnya.


"Karena kita udah selesai makan, gimana kalau kita langsung ke intinya saja?" tanya tuan Alvindo sambil melipat kedua tangannya di atas meja dan menatap Tristan dan Marsya bergantian.


Marsya tersipu malu, sementara Tristan tiba-tiba merasakan atmosfer di ruangan itu berubah.


Intinya? Maksud om Alvindo apa? Jangan-jangan ...


"Intinya apa ya, Om?" tanya Tristan dengan polosnya, padahal dalam hati saat ini ia sedang gelisah. beribu kemungkinan terburuk sedang bersahut-sahutan di dalam hati dan pikirannya.


"Begini Tristan, beberapa bulan yang lalu bukankah kau pernah mengatakan akan bertunangan dengan Marsya setelah proyek jalan yang aku serahkan padamu sudah selesai?" tanya tuan Alvindo sambil menatap lekat kepada Tristan.


Kaaan, gue bilang juga apa. Pasti sesuatu yang tidak enak di dengar. Ah kenapa dulu gue bisa menjanjikan hal ini ya? Oh iya, dulu kan gue belum sedekat itu dengan Qania. Ah Qania, Lo dimana sih? Udah dua bulan gue nggak bisa nemuin keberadaan elo. Dan Lo tahu, gue rindu banget sama Lo.


"Kenapa melamun, Tris?" tanya tuan Alvindo mengejutkan Tristan.


"Oh iya, Om. Saya ingat akan hal itu," ujar Tristan.


"Lalu?"


"Lalu?" tanya Tristan dongkol.


Tuan Alvindo terkekeh. " Aku bukannya ingin mendesakmu, Tris. Tapi sebagai ayah dari gadis yang kau pacari ini, tentu saja aku tidak ingin putriku satu-satunya ini digantung begitu lama. Kau tahu tidak, kekasihmu ini sangat banyak yang mengincar, kau tidak takut jika dia lepas dari genggamanmu?" goda tuan Alvindo.


"Ih Papa, apaan sih," tegur Marsya yang sudah tersipu malu.


Takut? Gue malah bersyukur kalau ada orang yang mau merebutnya dariku. Aku akan sangat berterima kasih sama orang itu kalau dia bisa melepaskan Marsya dariku. Ayo Om, cepat bawa orang itu di hadapanku.


"Gimana Tristan?" tanya tuan Alvindo.


"Iya, saya paham dengan apa yang Om pikirkan. Bagaimana kalau sebulan lagi?" tawar Tristan untuk menunda waktu.


"Tris, dulu dua bulan dan sekarang sebulan lagi. Nanti kalau udah bulan depan kamu bilangnya setahun lagi," protes Marsya.


"Marsya," tegur tuan Alvindo.


"Maaf Pa," ucap Marsya masih kesal.


"Ya udah kalau kamu maunya tunangan Minggu depan ya ayo. Padahal aku tuh maunya kita tunangan bulan depan supaya bertepatan dengan anniversary kita yang ke dua belas tahun. Tapi ya sudah, kita tunangannya Minggu depan aja," ucap Tristan berpura-pura merajuk.


"Astaga! Ya ampun aku lupa Tris. Maaf banget ya. Duh gimana aku bisa lupa sama anniv kita," pekik Marsya.


"Iya, nggak apa-apa kok. Ya udah kapan kita mulai mengurus persiapan pertunangan kita, hem?" tanya Tristan sambil menatap lekat pada kedua mata Marsya, berusaha terlihat semeyakinkan mungkin.


Tuan Alvindo terkikik begitu melihat reaksi kaget putrinya. Ia juga tersenyum saat mendengar alasan Tristan, ia yang tadinya ragu kini malah semakin memuji Tristan dalam hatinya.


Semoga Marsya bahagia bersama pria yang selama ini terus menemaninya, batin tuan Alvindo.

__ADS_1


"A-anu Tris," ucap Marsya tergagap.


"Anu apa?"


"Gi-gimana kalau tunangannya bulan depan aja?" tanya Marsya sambil menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap Tristan karena sedang malu.


"Lho, bukannya nggak mau kalau bulan depan?" ejek Tristan.


"Ya aku lupa kalau bulan depan itu kita anniv ke dua belas. Ja-jadi kamu mau kan kita menundanya satu bulan lagi?" tanya Marsya, ia benar-benar bingung saat ini.


"Tapi kalau sebulan lagi ntar kamunya dibawa orang lagi," ucap Tristan sok merajuk.


"Gimana Sya?" tanya tuan Alvindo.


"Bulan depan aja ya, Tris. Please," bujuk Marsya.


"Nggak jadi Minggu depan? Aku sih siap aja kalau kamu maunya Minggu depan. Lagian nggak usah disamain sama hari jadian kita," ucap Tristan berusaha membuat Marsya bimbang, padahal dalam hati ia terus berusaha agar Marsya menundanya hingga bulan depan.


"Tris, kamu ih," rengek Marsya.


Tuan Alvindo yang melihat kalau Tristan sebenarnya sedang mengerjai Marsya pun tak kuasa menahan tawanya.


"Ih Papa jangan ketawa dong, bantuin bujukin Tristan ih," keluh Marsya.


"Itu urusan kalian berdua, Papa nggak mau ikut campur," ucap tuan Alvindo sambil menyeka air matanya karena tertawa berlebihan.


"Tris ...."


Masih bisa serius juga gue ngomong masalay hubungan ke Marsya.


Pipi Marsya bersemu merah, ia speechless mendengar rencana manis Tristan. Ia hanya bisa tersenyum dengan pipi yang sudah memerah. Begitu pun dengan tuan Alvindo yang sangat bahagia melihat putrinya yang terlihat sangat bahagia.


Tanpa kedua orang itu sadari saat ini Tristan sedang menatap datar pada mereka. Ia diam dengan pemikirannya sendiri.


Sebulan lagi ya. Gue pastiin dalam waktu sebulan itu gue bakalan menemukan Qania dan membawanya pergi dari sini. Sepertinya jika dia menolak maka rencana terakhir akan gue gunain. Nggak ada cara lain selain MEMAKSA.


"Ekhmmm ... jadi bulan depan kalian akan bertunangan dan seperti yang kamu katakan tadi, berarti di tahun yang akan datang kalian akan melangsungkan pernikahan. Begitu?" tanya tuan Alvindo memecah kebisuan.


"Iya Om," jawab Tristan mantap.


Perasaan bahagia Marsya semakin menjadi-jadi setelah Tristan langsung mengiyakan akan menikahinya.


"Makasih Tris, aku sayang kamu," ucap Marsya sambil bergelayut manja di lengan Tristan.


Tristan tersenyum mengangguk, kalau saja tuan Alvindo tidak sedang memperhatikan mereka, ia tidak ingin membelai rambut Marsya seperti saat ini.


"Oh iya Tris, karena pertunangan kita bulan depan, aku boleh nggak minta izin buat pergi ke luar negeri selama dua minggu? Aku ada janji buat bertemu dengan designer, kamu tahu sendiri kan aku sedang senang-senangnya menggeluti dunia fashion," ucap Marsya pelan-pelan, takut Tristan tidak menyetujuinya.

__ADS_1


Tristan mengernyit. "Dua minggu? Lama juga ya. Emang kamu berani gitu pergi sendiri? Aku nggak bisa menemanimu karena banyak kerjaan yang nggak bisa ditinggal. Gimana kalau di tunda aja dulu sampai aku nggak sibuk? Aku khawatir kamu kenapa-kenapa disana," ucap Tristan khawatir. Ya, hati kecilnya masih begitu peduli dengan Marsya. Rasa cinta itu mungkin mulai pudar namun tidak seinstan itu.


Marsya tersenyum. "Nggak bisa Tris, aku udah janjian dari beberapa bulan yang lalu. Lagian aku pergi bersama Valeri, dia menemaniku," jawab Marsya.


"Tetap saja kalian berdua itu sama-sama wanita. Tunda aja dulu ya, atau kamu ajak beberapa penjaga di rumah buat menjaga dan mengawasi kalian," ucap Tristan keukeuh.


"Tapi Tris-"


"Jangan membantah Marsya. Kamu lupa kejadian dua tahun lalu waktu kamu maksain buat pergi ke luar negeri dan apa yang terjadi, Milka meninggal kan karena nyelamatin kamu dari orang jahat itu," ucap Tristan penuh penekanan.


Marsya pun teringat akan Milka, sahabat sekaligus asistennya. Ia teringat hari dimana ia memaksakan untuk pergi ke luar negeri padahal Tristan melarang keras. Dan hasilnya ia harus kehilangan sahabatnya yang mengorbankan diri tertusuk oleh belati saat preman di kota itu mengganggu mereka.


Marsya tertunduk, kenangan pahit itu seakan menampar keras pipinya. Tanpa terasa air matanya sudah menetes membasahi pipinya.


"Ingat kan sekarang?" tanya Tristan dengan nada suara rendah, ia iba melihat kesedihan Marsya. Bagaimana pun kejadian hari itu sampai saat ini masih sering terbayang oleh Marsya.


Tristan tahu sampai saat ini Marsya tidak memiliki teman setulus Milka yang mengerti dengan sifatnya. Milka adalah sahabat terbaik Marsya, keduanya saling mengerti sisi baik dan buruk mereka. Itu yang membuat mereka bisa bersahabat dari bangku SMP.


"Maaf," cicit Marsya.


"Aku nggak maksud membuatmu bersedih Sya. Aku juga minta maaf, tapi ini semua aku lakukan karena aku khawatir padamu. Mengertilah," ucap Tristan merasa bersalah.


"Iya, aku mengerti. Maafkan aku, aku nggak akan pergi deh," ucap Marsya.


"Good girl," puji Tristan sambil menepuk pelan puncak kepala Marsya.


"Ya sudah, lebih baik kita pulang saja. Atau kalau kalian ingin jalan ya itu terserah kalian," ucap tuan Alvindo menengahi.


"Maaf Om tapi setelah dari sini saya masih harus ke resto di daerah C. Ada masalah sedikit disana," ucap Tristan.


"Ya sudah, kamu selesaikan masalah di sana. Dan kamu Marsya, mari pulang bersama Papa," ucap tuan Alvindo.


"Iya Pa. Aku duluan sama Papa ya, Tris. Kamu hati-hati," ucap Marsya.


.... . . ...


Tristan memukul stir mobilnya, ia saat ini sedang mengurung diri di dalam mobil setelay mencari lokasi sepi untuk berdiam diri.


"Bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa gue memberi harapan palsu ke Marsya sih? Tapi tadi itu bentuk perhatian yang tulus dari gue. Gue jadi bingung sendiri sebenarnya gue ke Marsya itu gimana dan ke Qania itu gimana. Nggak mungkin kan gue suka kedua-duanya?"


Tristan terus mengumpati dirinya, ia benar-benar bingung dengan situasi saat ini. Memang benar sesuatu yang baru itu berpotensi mengalihkan perhatian, namun yang lama pun tidak seinstan itu untuk dilupakan. Melupakan dan mengabaikan orang yang sudah bertahun-tahun bersama itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Jangankan yang sudah hitungan tahun, yang sesaat namun mengesankan pun tidak mudah dilupakan. Butuh waktu yang lama bahkan bisa jadi seumur hidup jika hati sudah terpaut olehnya.


Lantas cinta seperti apakah yang dimaksud Tristan untuk Qania?


Dan perasaan seperti apa yang ada di dalam hati Tristan untuk Marsya?


.... . . ...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2