Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Sisir


__ADS_3

Qania mengerjapkan matanya menyesuaikan sinar matahari yang masuk ke indera penglihatannya itu. Ia merentangkan kedua tangannyq, menggerakkan sendinya yang mungkin masih kaku setelah ia tidur semalam dan tentu saja ditemani mimpi yang indah.


Qania berjalan ke kamar mandinya, kemudian mencuci muka dan menggosok gigi. Tadinya ia ingin sarapan dulu sebelum mandi, tapi ia ingat bahwa ia akan menghadiri rapat himpunan jadi ia kembali masuk ke kamar mandi dan melakukan ritual mandinya.


Tidak seperti biasanya, Qania kali ini mandi lebih lama sambil bernyanyi riang gembira mengingat kejadian semalam setelah ia dan Arkana masuk.


⚘ Flash back on...


Arkana dan Qania masuk ke dalam rumah masih saling menautkan jari-jari mereka. Namun mereka terkejut karena semuanya masih berada di ruang tamu dan saat ini sedang menatap mereka.


"Duduk" ucap Zafran dingin.


Qania dan Arkana langsung melepaskan tautan jari mereka dan ikut duduk.


"Apa kalian ingin segera menikah?" tanya Zafran.


Keduanya langsung mengangguk lalu berpandangan kemudian secara bersamaan menggeleng.


Terdengar gelak tawa di ruangan itu melihat ekspresi pasangan serasi yang belum halal itu.


"Mana yang benar nih?" goda Setya.


"Kami belum akan menikah jika Qania belum meraih gelarnya ma, pa. Arka akan menunggu hari itu tiba, karena tanpa Arkana paksa pun Qania akan langsung menerima pinangan Arka tanpa ragu dan beban lagi" ucap Arkana membuat semuanya tersenyum puas, apalagi Qania yang sudah merona malu.


"Waw calon mantu gue nih" puji Zafran.


"Anak gue tu" celetuk Setya tak mau kalah.


"Anak kita" Alisha menengahi.


Gelak tawa terdengar di ruang tamu itu.


"Jadi apa rencana kamu Ka?" tanya Zafran.


"Berhubung Qania akan pergi KKN selama dua bulan dan juga akan melaksanakan ujian proposal sebelum KKN, maka Qania pasti dalam waktu enam bulan kedepan akan menyelesaikan studinya dan akan segera mendapatkan gelarnya. Arka berniat untuk bekerja agar supaya nanti Arka melamar Qania dengan uang hasil keringat Arka, selama menunggu itu Arka akan bekerja apapun untuk mengumpulkan uang sendiri dan Qania juga harus fokus pada targetnya" jawab Arkana menjabarkan isi pikirannya.


"Nah tuh kan, calon mantu idaman dia" goda Zafran membuat Arkana malu.


"Gue yang ajarin tuh" timpal Setya.


"Ya kalian berdua biangnya" ejek Alisha.


Lagi, gelak tawa itu terdengar sangat indah. Qania dan Arkana saling mencuri pandang karena mereka duduk berhadapan


"I love you" ucap Arkana tanpa suara.


"I love you too" balas Qania hanya dengan gerakan bibir yang keduanya bisa mengerti maksudnya.


⚘ Flash back off..


Qania turun dari tangga dengan memakai pakaian biasa seperti anak teknik biasanya, ia bergegas menuju ruang makan karena dari tadi alarm di perutnya terus berbunyi.


"Maa.. Aku lapar" rengek Qania sambil membenarkan tatanan rambutnya.


Semua yang ada di ruang makan menoleh ke arah Qania yang sibuk dengan rambutnya, ia sedang menyisir rambut sambil menuruni tangga. Kadang itu menjadi kebiasaannya jika sudah lapar maka ia akan menyisir rambutnya sambil berjalan.


"Astagaa.." pekik Qania saat melihat orang-orang yang ada di meja makan.


Arkana tertawa melihat ekspresi terkejut Qania. Qania berjalan sambil menunduk menahan malu karena dia tidak menyangka disana ada Arkana dan calon mertuanya yang sedang melihat tingkah konyolnya.


"Bodoh banget lo Tukiyem, nggak nyadar kalau mereka masih disini" rutuknya.

__ADS_1


"Nggak usah malu-malu, kan kalah udah jadi istri wajah bantalmu pun aku akan lihat" ledek Arkana.


"Ih apaan sih" gumam Qania.


"Mau kemana sayang, tumben sepagi ini?" tanya Zafran.


"Itu pa, mau rapat pelepasan jabatan pengurus himpunan jadi mau LPJ hari ini" jawab Qania sambil mengisi piring makannya.


"Emang Qania pengurus himpunan? Jabatannya apa?" tanya Setya.


"Wakil ketua pa" jawab Qania.


"Wow pantas saja berani mimpin demo" ujar Setya kemudian menyendok makanan ke mulutnya.


"Hehe, harus berani dong" kekeh Qania.


Selanjutnya mereka melanjutkan makan dengan penuh canda tawa, tidak seperti biasanya yang lebih sering diam dan menghabiskan makanan.


"Sayang aku antar ya" ajak Arkana ketika mereka selesai sarapan.


"Masih sejam lagi sayang".


"Terus kamu kok udah siap aja?".


"Ya aku nggak mau nanti Baron nungguin kalau jemput".


"Kak pamit ya, ke sekolah dulu" ucap Syaquile yang kebetulan lewan di ruang tamu.


"Sayang kita anterin syaquile yuk, sambil jalan-jalan" ajak Qania.


"Boleh sayang, tapi mobilnya kan di bawa Rizal sama Fero" Arkana baru teringat akan mobilnya, ia menjadi merasa bersalah tidak bisa mengajak kekasihnya jalan-jalan dan juga gagal mengantar calon adik iparnya.


"Santai kak, aku bisa pergi sendiri" ucap Syaquile dengan ramah, tidak ingin membuat kedua kakaknya itu kecewa.


"Oh iya pa benar juga, aku antar Syaquile dan Qania terus balik lagi kesini buat jemput mereka" Arkana setuju.


"Ya sudah kunci ada sama pak Roni" ucap Zafran kemudian kembali masuk untuk bergabung dengan yang lainnya.


"Makasih pa, ayo kita berangkat" ucap Qania sambil menggandeng Syaquile dan Arkana.


.


.


Setelah mengantar Syaquile, Arkana langsung menuju ke himpunan untuk mengantar Qania. Setelah sampai, Qania belum juga turun, ia berpikir untuk memberitahu Arkana tentang Cika dan Fero.


"Sayang" panggil Qania.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Arkana menatap Qania dengan penuh kasih.


"Semalam aku sama Fero berencana untuk menyatukan kembali Cika dan dia. Sayang mau nggak bantuin?" tanya Qania ragu-ragu.


"Cika? Teman kamu?" tanya Arkana.


"Iya, yang waktu itu video call sama Fero di kafe. Sayang ingat?".


"Oh iya sayang, aku ingat. Yang waktu itu Fero langsung pergi begitu melihat orang yang sedang video call sama dia kan?".


"Iya, rupanya mereka itu pacaran sayang. Mereka hilang komunikasi dari SMA karena Cika pindah rumah dan tidak memberi kabar apa pun. Dan aku salut sama mereka, meski tanpa kabar, keduanya saling menunggu dan setia untuk penantian dan orang yang sama sekali tidak diketahui dimana keberadaannya".


Menghela napas.

__ADS_1


"Makanya aku curiga dan ingin tahu, kebetulan waktu itu Cika datang lebih awal daripada Abdi. Tadinya aku mau nanya lebih dulu, eh aku nggak nyangka dia yang lebih dulu nanya ke aku, makanya dia datang lebih cepat dari waktu yang kami tentukan untuk membahas agenda rapat".


"Aku kepikiran buat rekam tuh pembicaraan kita, dan berhasil sayang. Itu yang aku kasih ke Fero semalam, makanya dia sampai bilang mau peluk aku. Mungkin dia terharu".


Qania menceritakannya panjang lebar, Arkana mendengarkan dengan baik namun ia terus menatap wajah Qania dengan tatapan lain.


Dan.


Cup..


Ketika Qania selesai menceritakannya, Arkana langsung mencuri ciumannya. Ia mencium bibir Qania secepat kilat sehingga membuat Qania terkejut dan terdiam.


"I miss my candy" ucap Arkana sambil tersenyum menggoda.


"Arkanaaaa..." Qania kesal bercampur malu.


"Apa sayang, hemm?" ledek Arkana.


"Aku kesal sama kamu, dasar bang Toib" gerutu Qania sambil mencubit pinggang Arkana.


"Awwhh sakit sayang, ampun" rintih Arkana.


"Kamu kan tahu sayang kalau pagi aku nggak lengkap kalau nggak buat kamu kesal dan sekarang udah. Aku jamin hari ini pasti akan menyenangkan" ucap Arkana tanpa menatap Qania, ia tidak mengetahui wajah orang yang ada di sebelahnya ini sudah merah padam menahan rasa marah dan kesal.


"Aku keluar, kamu pulanglah" ucap Qania pelan, mencoba menahan kekesalannya.


"Ya kali aku udah mau marah-marah masih pagi gini. Aku harus tenang dan berusaha santai, kalau aku udah mengeluarkan tenaga ekstra masih pagi gini yang ada aku nanti jadi nggak fokus buat hadapi pertanyaan-pertanyaan menjebak dari mereka saat sidah LPJ. Meskipun kita semua saudara ya tetap aja mereka bakalan serius saat sidang dan pasti ada yang mau ngerjain kita supaya nanti nggak fokus dan nggak tenang saat menjawab pertanyaan mereka. Tenang Qania, tenang" pikirnya.


Qania berusaha tersenyum semanis mungkin pada Arkana sebelum keluar dari mobil. Baru saja Qania akan membuka pintu, Arkana langsung menghentikannya.


Bughh...


Arkana memeluk erat tubuh Qania, sementara Qania yang kaget langsung mengumpulkan kesadarannya dan ikut membalas pelukan itu.


"Aku merindukanmu sayang" lirih Arkana.


"Kau terus saja merindukanku, seakan aku akan pergi meninggalkanmu" ledek Qania, ia juga tidak bisa memungkiri kalau hati dan tubuhnya sangat merinduka kekasihnya itu "Aku juga sangat merindukanmu" batinnya.


"Bukankah seminggu lagi kau akan pergi KKN?" tanya Arkana.


"Iya, kita bahas nanti" jawab Qania masih enggan bicara lebih banyak, ia masih ingin berdiam diri di dalam dekapan pujaan hatinya ini.


Setelah hampir lima menit dalam posisi berpeluka dan tanpa suara, Arkana mengecup puncak kepala Qania dan mereka saling melepaskan pelukannya.


Arkana menangkup kedua pipi Qania dan mulai mencium kedua pipinya, mata, hidung, dagu dan sedikit ******* di bibir Qania, dan terakhir ia mengecup mesra kening Qania.


"I love you"


"I love you too"


"Ya sudah masuk sana" ucap Arkana.


"Iya, aku masuk ya. Kamu pulang dan hati-hati" Qania tersenyum sendu pada Arkana yang tersenyum manis padanya.


Saat Qania membuka pintu mobil, ia berhenti dan berbalik ke arah Arkana. Qania memeluk erat tubuh Arkana seakan takut kehilangan. Qania menciumi wajah Arkana sama seperti yang Arkana lakukan tadi padanya. Kemudian Qania memeluk erat lalu melepaskannya kembali.


"Hati-hati" ucap Qania sembari tersenyum lirih dan turun dari mobil setelah Arkana mengangguk.


Qania menatap mobil yang dibawa oleh Arkana pergi sampai tak nampak lagi. Ia memutuskan untuk masuk ke area himpunan.


"Kenapa aku merasa begitu khawatir dan takut kehilangannya" gumam Qania.

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...


__ADS_2