Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Dipercepat


__ADS_3

Tok ... Tok ... Tok ...


“Qania, Papa boleh masuk?” tanya Papa Setya dari balik pintu.


“Masuk aja Pa, nggak di kunci,” jawab Qania yang sedang sibuk dengan skripsinya, ia sedang duduk di sofa sambil memangku laptopnya.


Papa Setya membuka pintu, yang pertama ia lirik adalah Arqasa yang sudah terlelap di pukul delapan malam ini. Kemudian ia berjalan ke arah sofa dimana Qania sudah meletakkan laptopnya di sisinya dan memberi ruang untuk Papa Setya duduk.


“Ar udah tidur aja. Ini kan malam Minggu. Kalian nggak keluar?” tanya Papa Setya.


“Ar tadi kecapaian setelah bermain di pantai Pa. Jadinya cepat tidur. Syaquile membawanya bermain di pantai sampai sore,” jawab Qania kemudian melirik sekilas pada anaknya.


“Pantas. Oh ya, besok Papa akan pergi ke kota Y. Sidang keduanya di majukan hari Selasa. Tadi Erlangga telepon Papa. Kamu mau ikut?” tanya Papa Setya yang membuat Qania sedikit terkejut.


“Dimajukan Pa?” tanya Qania mengulang ucapan Papa Setya.


“Ya.”


Beberapa jam yang lalu ....


Papa Setya sedang mempelajari kembali kasus Pak Handoko dan Alvindo. Ia tidak ingin melewatkan satu hal pun dan ia ingin agar nanti ia memenangkan kasus tersebut. Kasus yang begitu besar dan sangat rumit serta tersembunyi dengan begitu rapat hingga tidak bocor jika Qania tidak masuk ke kantor itu untuk magang.


Teringat kembali hal itu membuat Papa Setya geram. Ia kali ini benar-benar ingin membuat Pak Handoko tidak mendapat kesempatan untuk membela diri. Apa yang ia lakukan pada Qania harus dibayar mahal.


“Ada begitu banyak kasus dan pelaku hanya keduanya. Ada berapa nyawa melayang dan ada berapa orang yang menderita karena kehilangan akibat ulah mereka dan keduanya malah sibuk berbangga diri dan menjalani hidup dengan nyaman dan bergelimang harta. Sangat ironi sekali,” ucap Papa Setya sambil membaca bukti-bukti berupa dokumen tersebut.


Selanjutnya ia menonton beberapa video kejahatan mereka yang lainnya ia pun kembali mengumpati kedua orang itu.


Saat tengah fokus, ponselnya berdering dan nama Erlangga tertera disana.


“Assalamu’alaikum Erlang,” sapa Papa Setya.


Pak Erlangga saat ini tengah duduk di meja kerjanya sambil memegang sebuah surat.


“Wa’alaikum salam, Setya. Apa saya mengganggu malam-malam begini?” tanya Pak Erlangga dengan ekspresi datar masih menatap surat tersebut.


“Tentu tidak. Ada apa?”


Pak Erlangga menghela napas, “Surat panggilan untuk sidang kedua sudah ada di tangan saya,” jawab Pak Erlangga.


“Ah, begitu. Jadi sidangnya dipercepat,” ucap Papa Setya mencoba bersikap biasa saja padahal ia sendiri sedang berperang dengan pikirannya. Instingnya sebagai seseorang pengacara bekerja cepat bahwa ada yang tidak beres dengan kasus ini.


“Ya. Dan menurut sumber terpercaya yang saya minta untuk mengawasi, rupanya mereka bergerak cepat dan berhasil membungkam para saksi sekaligus korban,” jawab Pak Erlangga kemudian ia meremas kertas tersebut.


“Apa?! Tapi bagaimana bisa? Bagaimana dengan keluarga yang waktu itu saya titipkan pada kalian?” tanya Papa Setya menahan gemuruh di dadanya. Ternyata firasatnya memang benar.


“Hah, waktu itu orang saya lalai menjaga mereka hingga orang-orang mereka berhasil membawa Pak Jayadi bersama cucunya. Mereka menahan sebagai jaminan agar kita tidak berani bersuara di pengadilan. Makanya untuk sidangnya justru di percepat. Bisa jadi kita lah yang akan kalah,” tutur pak Erlangga lesu.


Papa Setya menghela napas berat. Ia pun sekarang tidak mendapat ide.


“Bertenanglah dulu. In sya Allah kalau memang kita berada di jalan yang benar pasti Tuhan akan membukakan kita jalan untuk membela mereka yang menjadi korban,” ucap Papa Setya bijak.

__ADS_1


“Kau benar. Tapi semoga Tuhan melihat kita yang sedang memperjuangkan keadilan ini,” ucap Pak Erlangga pun berusaha bersabar.


“Ya sudah, besok saya akan berangkat ke sana. Sama-sama kita pecahkan masalah ini,” ucap Papa Setya.


“Baik. Selamat beristirahat. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam.”


 


Flashback off ....


 


Qania mengangguk paham dengan cerita Papa Setya tersebut. Ia bisa menarik kesimpulan bahwa ada kemungkinan mereka lah yang akan berada diposisi bersalah nanti di persidangan.


“Pa, aku mau nunjukin sesuatu sama Papa,” ucap Qania dengan lembut sementara mertuanya itu menatap Qania dengan lembut.


“Apa, Nak?”


Qania pun mengambil ponselnya yang berada di atas nakas di dekat tempat tidurnya.


“Papa coba dengar ini deh,” ucap Qania kemudian memutarkan audio dari ponselnya.


Papa Setya mendengarkan dengan saksama, ia pun menatap Qania dengan tatapan sulit di artikan.


“Pa, aku ini calon pengacara. Bagaimanapun aku harus sedia payung sebelum hujan. Dan aku tidak akan melangkah sembarangan ke tempat yang menjadi bagian dari kasus yang ingin aku pecahkan. Bagaimana, aku sudah pantas menjadi penerus Setya Wijaya SH., LLM, nggak?” ucap Qania sambil menarik turunkan kedua alisnya.


“Sangat pantas. Anak mantu Papa emang yang paling cerdas. Dengan bukti rekaman pembicaraan kalian ini, kita bisa memperkuat bukti-bukti kita yang lainnya. Papa sangsi mereka bisa menang, kita memiliki banyak bukti yang sangat akurat. Itu akan terjadi jika Tuhan berkehendak saja,” ucap Papa Setya bersemangat.


Arkana, lihat Nak menantu yang kau pilihkan untuk Papa. Dia sangat cantik dan manis. Pesonanya mematikan dan kecerdasannya sangat membanggakan. Terima kasih karena kamu tidak salah memilih menantu untuk menggantikan posisimu di rumah ini, Nak. Semoga kamu tenang di alam sana dan Papa akan menjaga kedua berlianmu ini, Papa janji.


“Oh iya Pa, masih ada satu lagi. Kita harus menemukan keluarga asisten Sudirman yang konon meninggal karena unsur kesengajaan dari Pak Handoko yang tidak ingin ada orang lain yang menyimpan rahasia kebusukannya,” ucap Qania yang baru teringat akan kasus itu.


“Benar. Makanya besok Papa akan berangkat supaya masih punya kesempatan untuk mencari bukti yang lain,” ujar Papa Setya.


“Iya Pa.”


“Gimana, kamu ikutan ke sana nggak?” tanya Papa Setya.


“Aku akan ikut Pa. Ar biar sama Mama Alisha. Dia bakalan ngerti kok,” jawab Qania.


“Ya sudah besok pukul sembilan pagi kita akan berangkat. Sekarang kamu istirahat ya Nak,” ucap Papa Setya seraya berdiri lalu meninggalkan Qania yang masih tersenyum pada mertuanya itu.


Setelah Papa Setya keluar dan menutup pintu, Qania pun merapihkan kembali berkas-berkasnya dan juga menyimpan laptopnya. Ia belum naik ke tempat tidur, ia mengambil ponselnya dan melihat melihat pada kontak yang ia blokir.


Maaf Tristan, beberapa hari ini aku perlu berdamai dengan hatiku. Disini saat bersama anakku, semua yang aku perlukan adalah kebahagiaan anakku. Aku melupakan bahwa ada pria yang ingin bahagia bersamaku. Maaf. Jika kau pun sampai pada batas lelahmu, menyerah lah. Perjuanganmu tidak sia-sia sebagai seorang Tristan karena jujur aku sudah menempatkanmu di hatiku. Namun jalan takdir kita tidak sampai di tujuan utama para pasangan kekasih. Aku sudah cukup bahagia dengan melihat kebahagiaan anakku. Kau, cukup aku simpan di dalam hati sebagai kenangan manis yang bisa ku sebut sebagai ‘serendipity’ kebetulan yang menyenangkan. Tapi jika nanti hasil itu keluar dan terbukti bahwa kau adalah Arkanaku maka jangan salahkan aku jika terus membayangimu kemanapun agar kau mau kembali padaku. Bencilah dulu padaku, nanti aku yang akan mengejarmu jika benar kau Arkanaku.


Setelah bermonolog dalam hati, Qania pun beranjak ke tempat tidur. Ia merapihkan selimut yang menyelimuti Arqasa kemudian ia masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajah.


 

__ADS_1


. . .


 


Tristan kembali setelah mengisi perutnya dengan sarapan pagi. Ia melihat di ruangan Marsya sudah ada dokter yang memeriksa bersama dua suster yang mengikutinya. Ia pun berjalan mendekati mereka dan memperhatikan kegiatan mereka.


“Baik, semua sudah cukup baik hari ini. Besok pagi jika kondisinya tetap stabil maka siangnya bisa pulang,” ucap dokter tersebut seraya tersenyum.


Marsya membalasnya dengan senyuman tipis, “Apa tidak bisa hari ini, Dok?” tanya Marsya.


Dokter tersebut tersenyum lagi. “Jangan menekan pikiranmu dulu. Bertenang lah dulu. Jika sudah tenang pasti pikiran positif dan energi positif akan membantu pemulihanmu. Hari ini cukup berpikir yang baik-baik saja dan jangan memaksakan kehendak dulu ya. Kemarin kamu drop dan tubuhmu kemarin begitu lemah. Saya khawatir jika kamu memaksa pulang hari ini dan menempuh perjalanan hampir sehari semalam itu justru membuat kondisimu memburuk. Maka hari ini saya sarankan untuk berjalan-jalan saja di dekat rumah sakit dan menghirup udara segar. Hari ini kau harus benar-benar memulihkan tenaga dan pikiranmu agar besok siap untuk perjalanan jauh.”


Marsya tersenyum mendengar penjelasan dokter tersebut. “Benar juga sih Dok, kelelahan pun juga bisa memicu stress. Baiklah, hari ini saya akan berusaha agar pulih benar dan mengisi pikiran saya dengan hal-hal yang positif. Terima kasih dokter,” ucap Marsya.


Dokter itu mengangguk lalu berpamitan kepada Marsya dan Tristan. Tristan yang sedari tadi hanya menyimak saja pun menjadi lebih bersemangat karena besok akan segera pulang. Sebuah kabar baik yang melegakan, pikirnya.


“Tris, aku mau keluar jalan-jalan. Kau mau membawaku?” tanya Marsya dengan manja.


“Ah ya, tentu. Aku ambil kursi roda dulu ya,” jawab Tristan dan Marsya pun mengangguk setuju.


Marsya akhirnya bisa menghirup udara segar di taman setelah lamanya ia terkurung dalam ruang rawatnya. Kondisinya yang harusnya lebih cepat pulih pun selalu kembali kambuh karena seringnya ia merasa sedih dan bahkan bukan hanya luka tembakan itu yang membuatnya sakit melainkan pikirannya yang selalu mendorong agar ia berpikir tidak baik tentang Tristan ataupun papanya sehingga beberapa kali kondisinya menurun.


Marsya dan Tristan mengobrol di taman dengan semua topik yang merangsang agar pikiran Marsya semakin dipenuhi dengan aura positif. Lebih dari sejam mereka menikmati suasana di taman tersebut kemudian Marsya meminta untuk masuk karena ia sudah merasa lelah.


 


. . .


 


Qania dan Papa Setya mengantar Arqasa ke kediaman keluarga Zafran Sanjaya, setelah berdiskusi panjang dengan sang buah hati akhirnya Qania mendapat izin untuk kembali lebih cepat ke kota Y.


“Mami ingat ya janjinya, nggak lebih dari dua minggu. Ar hitung lho harinya.”


Seperti itu lah ucapan Arqasa kala Qania membujuknya dengan mengatakan tidak akan lama dan tak akan lebih dari dua minggu hingga akhirnya Ar setuju untuk mengizinkan Maminya kembali.


Qania berpamitan dengan keluarganya dan memeluk lama tubuh kecil Arqasa. Arqasa berusaha menahan air matanya dengan terus memeluk erat sang Mami.


Qania melepaskan pelukannya kemudian menyeka air mata di pipi gembul Arqasa.


“Mami janji ini nggak akan lama. Doakan saja ya, semoga Mami bisa kembali lebih cepat,” ucap Qania menahan sesak di dadanya melihat mata bening anaknya kini meneteskan air mata.


Arqasa hanya menjawab dengan anggukan, tidak bisa bersuara lagi. Qania pun menciumi seluruh wajah Ar sebelum akhirnya benar-benar pergi bersama Papa Setya ke bandara di antar oleh Pak Anwar.


 


Hari berlalu begitu cepat, satu hari terakhir tepatnya saat Papa Setya dan Qania sampai mereka tidak langsung beristirahat melainkan semakin disibukkan dengan kasus itu. Bahkan Papa Setya pun harus begadang dan lagi-lagi mempelajari apa yang sudah ia pelajari dari masih di rumahnya. Pak Erlangga dan para saudaranya pun turut serta membantu. Mereka mencoba mencari keberadaan keluarga Pak Jayadi namun nihil mereka tak berjejak bahkan Papa Setya sudah mengarahkan orang-orang yang ahli dengan tak ragu mengeluarkan uang banyak namun tetap saja nihil. Pak Nizar pun menutup komunikasi mereka dan tidak bersedia di temui di lapas. Ia hanya berpesan jika Qania datang maka sipir cukup mengatakan untuknya berhenti saja jika tidak ingin masalah semakin besar.


Qania hilang harapan lagi, ia berjalan gontai dan tidak menentu kemana arah ia memacu motornya. Sekarang sudah pukul empat sore dan besok sidang kedua akan digelar. Ia takut, ia tidak mau kalau sampai mereka yang sudah menderita semakin menderita dan tidak mendapatkan keadilan. Ia begitu terbayang akan wajah bocah yang bernama Aarav itu. Ia mengaitkan dengan kisah Arqasa yang kehilangan sosok Ayah sejak masih dalam kandungan sementara Aarav harus berpisah dengan sang Ayah karena ulah manusia kejam nan serakah.


“Aku tidak ingin melihat anak lain merasakan kepedihan Ar. Ya Allah, tolonglah kami,” lirih Qania yang kini meneteskan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2